Better Days

Better Days
Bintang dan Pram



Penasaran, kepo, atau ingin tahu lebih dalam, mungkin itulah yang bisa menggambarkan apa yang dirasakan Bintang sejak hari dimana ia berperilaku seperti seorang pencuri demi informasi tentang hubungan Bunda Lusi dan Pram. Laki-laki beristri yang katanya hanya sebatas seorang Kakak bagi Bunda, tapi Bintang tidak semudah itu untuk percaya.


Bintang berdiri di depan gedung rumah sakit umum di kota tersebut. Ia sudah menyiapkan segala amunisi untuk menyerang Pram dengan berbagai pertanyaan. Ia juga meyakini pada diri sendiri bahwa tidak perlu takut hanya karena Pram adalah laki-laki seusia Bundanya.


"Permisi." Bintang menyapa seorang satpam yang berjaga di pos.


"Iya ada apa dek?" tanyanya menatap Bintang.


"Mau tanya Pak, apa hari ini jadwal praktek Dokter Pram, Pak?" tanyanya.


"Kalau jadwal prakteknya kurang tahu dek, tapi Dokter Pram nya ada, soalnya itu mobilnya terparkir di sana." ucap Pak Satpam itu sambil menunjukka ke arah jejeran mobil yang terparkir


"Mobil yang berwarna abu itu Pak?" tanya Bintang.


"Iya dek." jawabnya dengan mengangguk.


"Baik Pak terimakasih." Bapak itu tersenyum dengan menganggukkan kepala lagi.


Bintang berjalan memasuki rumah sakit, 2 hari yang lalu ia sudah mendaftar menjadi pasien dengan penyakit dalam agar bisa menemui Pram. Karena jika menemuinya tanpa alasan pasti ia tidak diperbolehkan, apalagi ini rumah sakit umum, banyak pasien dari kalangan bawah yang mengantri.


Bintang segera mengkonfirmasikan dirinya menggunakan nomor yang sudah ia dapatkan ketika mendaftar secara onlie.


"Silakan pergi ke poli bedah yah dek, di situ." ucap seorang perawat pada Bintang menunjukkan ruangan yang dimaksud


"Terimakasih."


Bintang langsung mendudukkan dirinya di kursi tunggu, sembari menunggu namanya di panggil.


Jangan tanyakan bagaimana Bintang bisa bebas pergi ke rumah sakit tempat dimana Pram bekerja. Ia terlalu cerdik untuk memberikan berbagai alasan pada sang Bunda. Pergi ke tempat wisata yang ada di Kota itu katanya, atau hanya sekedar berkeliling kota, dan menikmati udara pantai. Bintang jauh lebih mahir dibanding Senja jika menyangkut penggunaan sepeda motor, ia sudah belajar banyak di Jawa, itulah sebabnya ia mampu pergi kemanapun tanpa bantuan siapapun.


Hari ini misisnya adalah menemui Pram dan memberi peringatan jika hubungan keduanya sudah sangat dekat. Namun jika hanya sebatas teman, maka Bintang bisa mentolerir dengan memberikan pesan agar jangan sering main ke rumah. Apalagi Bunda adalah janda yang tinggal sendirian setelah Senja menikah. Kira-kira begitulah rencana Bintang.


Merasa jenuh Bintang mengeluarkan handphonenya, membuka aplikasi chat dan mulai menghubungi Senja.


Mbak Gede 💣 : "Mbak"


Mbak Gede 💣 : "Mbaaaaaaak"


Mbak Gede 💣 : "Mbak Bila yang cantiiiikkkkkk🤪"


Mbak Gede 💣 : "Main yuk, Mbak udah libur ngampus kan?"


Mbak Gede 💣 : "Jahat deh, chat aku gak dibalas"


Mbak Gede 💣 : "Kesel ih😐"


Mbak Gede 💣 : "Aku ngambek nih yah😑"


Mbak Gede 💣 : "Pasti lagi mesra-mesraan sama Kak Reyhan😏"


Mbak Gede 💣 : "Mbaaaakkkkk!!"


Bintang tersenyum melihat isi chat yang ia kirim kepada Senja. Bisa-bisanya ia ingin merajuk hanya karena Senja belum membaca pesannya.


"Ah pasti Mbak benar-benar lagi sibuk, gak apa-apa deh, sepulang dari sini aku akan main ke rumah Kak Reyhan." gumam Bintang sambil mematikan handphone dan meletakkannya kembali ke dalam tas


"Bintang Aula Nabila."


Suara perawat memanggil nama Bintang. Bintang Segera bangkit dan mengambil berkas pendaftarannya, lalu memasuki ruangan yang poli bedah.


Tatapan Bintang berubah menajam, tidak ada lagi keceriaan seperti gadis remaja pada umumnya. Ia seperti siap mengeksekusi lawannya.


"Bintang Aula Nabila?" Bintang mengangguk ketika Pram membaca namanya yang tertera di berkas pendaftaran.


"Keluhannya sakit di pinggang bagian kanan?" tanyanya masih membaca berkas, dan belum menatap Bintang.


"Biasa aja." batin Bintang menatap sinis Pram yang berada di hadapannya. Ia tengah menilai wajah dan penampilan Pram.


"Sudah membacanya Pak Dokter? Saya tidak sedang sakit pinggang." ucap Bintang dengan suara datar.


Pram mengangkat kepalanya menatap Bintang yang tengah menatapnya dengan wajah datar.


"Kenal saya?" tanya Bintang.


"Anak dari Bunda Lusi." ucapnya masih dengan tatapan yang datar.


Pram terlihat sedikit terkejut, namun sedetik kemudian ia tersenyum menatap Bintang.


"Oh..maafkan Om Bintang, Om tidak tahu jika kamu adalah anak Lusi." ucapnya dengan se-ramah mungkin, masih dengan senyuman menatap Bintang.


"Kalau Bintang tidak sakit, kenapa datang ke rumah sakit?" tanyanya dengan ramah.


"Sengaja biar bisa ketemu dengan Pak Dokter." ucap Bintang.


"Panggil Om saja Bintang, Om dan Bunda kamu itu teman dekat." ucapnya dengan tersenyum.


"Tapi saya dan anda tidak dekat, kita juga tidak memiliki hubungan apapun, jadi jangan merasa akrab." ucap Bintang.


Tidak ada keramahan di wajah dan intonasi Bintang, ia terlalu malas dan sudah tidak menyukai Pram semenjak sering datang ke rumah. 1 minggu Bintang di rumah Bunda, ada empat kali Pram main ke rumah, dan itu selalu di atas jam 10 malam, di luar jam bertamu. Bintang sangat tidak menyukainya.


"Kalau boleh tahu, Bintang ada keperluan apa ke rumah sakit menemui saya?" tanya Pram, yang kini telah mengubah kosa katanya ketika berbicara pada Bintang, menjadi lebih formal.


"Saya orangnya gak suka basa-basi, jadi langsung to the point aja." Pram mengangguk dengan wajah ramahnya.


"Apa hubungan anda dengan Bunda saya? Anda tahu Bunda saya seorang janda, dan anda adalah laki-laki beristri." ucap Bintang.


"Kami hanya sebatas teman, saya sudah menganggap Lusi atau Bunda kamu sebagai adik saya sendiri." jawabnya dengan tenang.


"Teman?" Bintang memicingkan matanya dengan terkekeh hambar. Pram mengangguk pelan.


Bintang mengambil handphonenya, dan membuka galeri. Menunjukkan foto bukti isi chatan Bunda dan Pram yang tidak terlihat seperti seorang teman atau kakak adik.


"Seperti ini teman?" tanyanya dengan sinis.


Pram membulatkan matanya menatap layar handphone Bintang. Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Itu...itu adalah salah satu bentuk perhatian seorang teman, tidak lebih." jawab Pram, dengan sedikit gugup.


"Anda tahu, anda telah melewati batas Dokter Pram, jangan samakan saya dengan bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa. Anda pikir saya tidak tahu bagaimana typing seorang teman pada temannya? Atau seorang Kakak pada Adiknya?" lanjutnya dengan menekankan kata-katanya.


Raut wajah Pram mulai berubah, ia menatap tajam Bintang di hadapannya.


"Saya tidak melarang siapapun untuk berteman atau dekat dengan Bunda saya, tapi saya sangat menolak seorang laki-laki beristri yang mendekati Bunda saya. Karena apa? Saya tidak mau sampai Bunda saya dituduh sebagai pelakor, selingkuhan atau istilah lainnya dengan arti negatif."


"Jadi saya mohon dengan sangat, tolong jauhi Bunda saya, atau saya sendiri yang akan membuat Bunda menjauhi anda." Bintang menatap tak berkedip Pram yang tengah menahan rasa kesalnya.


"Saya rasa anda jauh lebih paham dari pada saya, mari hidup tanpa merugikan orang lain, ah satu lagi, jangan mengadu pada Bunda saya. Permisi."


Tanpa menunggu tanggapan dari Pram, Bintang langsung melenggang pergi meninggalkan ruangan Pram.


Pram menghembuskan napasnya dengan kasar, rasa kesal dan marahnya menjadi satu. Baru kali ini ia mendapat teguran dari anak remaja.


***


Pukul 10.00 WIB Reyhan dan Senja sudah kembali pulang ke rumahnya. Meskipun Mama Mira belum puas menghabiskan banyak waktu bersama Senja, namun keputusan Reyhan untuk mengajak Senja pulang sudah bulat. Ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Senja, dan memberikan semua cintanya, agar Senja tidak merasa buruk di hadapannya.


"Sayang handphone kamu bunyi terus itu." ucap Reyhan yang tengah mengerjakan pekerjaan kantor dari Papa Alex.


"Buka aja Mas. " sahut Senja dari dalam kamar mandi.


Mendapat izin dari Senja, Reyhan segera melihat siapa orang yang terus-terusan mengirimi Senja pesan.


Reyhan tersenyum membaca pesan dari Bintang,


"Sayang, Bintang mengirim pesan, dia mengajak kamu untuk jalan-jalan." ucap Reyhan disaat Senja sudah keluar kamar mandi.


"Coba aku lihat Mas." Reyhan mengembalikan handphone Senja. Ia menarik Senja untuk duduk di sampingny.


"Dia sangat manja denganmu." ucap Reyhan.


"Dia adikku Mas, kadang apa yang menjadi kesulitan dalam hidupku ingin ku bagikan kepadanya, namun saat aku mengingat senyuman dan tawa ceria dari dia, aku selalu mengurungkan niatku. Bagiku dia masih belum dewasa untuk mengetahui apapun yang di sekitarnya, dia selalu menjadi adik kecilku." ucap Senja, ia sudah membalas pesan chat dari Bintang.


Reyhan tersenyum dengan merangkul Senja. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Senja.


"Bagikan semua suka dan dukamu kepadaku Senja." ucap Reyhan.


"Kamu terlalu sempurna untuk menerima masalah dariku Mas." ucap Senja.


"Kita saling melengkapi, kamu boleh tidak terbuka pada siapapun, tapi jangan denganku, aku suamimu, aku tidak ingin kamu berikan kebahagian terus-menerus, sementara lukamu semakin dalam." Reyhan memperbaiki posisinya, ia membelai rambut Senja, mengusap pipi, dagu dan kening Senja. Tatapan teduh penuh cinta yang menenangkan Senja.


"Berjanjilah untuk membaginya, apapun itu, aku tidak pernah merasa terbebani dengan kehadiranmu, justru hadirnya kamu menjadi kebahagiaan terbesar dalam hidupku Senja." lanjutnya dengan lembut.


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Ayat Ar-Rahman ini singkrom banget sama kamu Mas, begitu banyak nikmat yang Allah berikan untukku, tapi aku malah sering mengeluh." ucap Senja.


"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. Kamu pasti tahu kutipan ayat itu, Allah memberikan ujian untuk kamu karena Allah tahu kamu mampu sayang."


"Ingat ketika para Nabi terdahulu diberi ujian yang lebih dari kita, mereka tetap sabar dalam menghadapinya, mempercayakan semuanya pada Allah. Ingat kisah Nabi Ayub? Yang diberikan cobaan dengan sangat besar, karena iblis iri dengan ketaatannya, iblis meminta izin kepada Allah untuk menguji ketaatan Nabi kepada Allah. Nabi Ayub yang semula kaya raya dibangkrutkan oleh Allah. Nabi Ayub yang semula mempunyai banyak putra, satu persatu dicabut nyawanya hingga tidak tersisa. Bahkan tubuhnya yang semula gagah dan sehat, ditimpa penyakit yang tidak ada obatnya. Bahkan lebih memprihatinkan, badan Nabi Ayub membusuk sehingga banyak belatung menempel di tubuhnya. Istri-istrinya, satu persatu meninggalkannya. Hanya satu istri yang tetap setia menemani Nabi. Hingga Nabi diasingkan oleh masyarakat dan harus tinggal di dalam gua. Namun Nabi tetap taat kepada Allah, menyembah Allah, dan selalu berdoa meminta kesembuhan kepada Allah."


Senja mendengarkan dengan seksama, ia senang mendengar nasihat dan cerita dari sang suami.


"Jadi apa yang bisa di petik dari cerita Nabi Ayub tadi?" tanya Reyhan di akhir ceritanya.


"Selalu bersyukur dan taat kepada Allah, bersabar dengan ujian dan cobaan yang Allah berikan, ikhlas dan sabar dalam menghadapi cobaan yang Allah berikan, dan tak lupa untuk berserah diri kepada Allah." jawab Senja.


"Semua yang kamu sebutkan, mari kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari." ucap Reyhan.


"Bimbing aku Mas."


Reyhan tersenyum dan mengangguk, kemudian memeluk Senja.


"Banyak kisah-kisah terdahulu yang bisa dijadikan pelajaran." ucap Reyhan.


Senja mengangguk dengan tersenyum di dalam dekapan Reyhan. "Seperti Siti Maryam, ibunda Nabi Isa, banyak yang mencelanya karena hamil tanpa memiliki seorang suami, atas perintah Allah dan demi ketaatannya dia mengandung Nabi Isa. Menjadi salah satu wanita mulia dalam sejarah Islam yang nama disebutkan di dalam Al-Qur'an, bahkan dijadikan nama surah. Apa yang aku lalui sekarang tidak sebanding dengan ketaatannya pada Allah, aku lebih sering mengeluh, padahal hidup di dunia hanyalah persinggahan."


Reyhan mengangguk dengan tetap memeluk Senja.


"Semoga kita termasuk golongan orang yang beriman dan selalu dalam lindungan Allah."


"Aamiin, aku ingin kamu menjadi pasanganku di dunia dan di akhirat Mas."


"Aamiin."


"Bisa-bisa aku khilaf jika terus berdekatan denganmu. Apa lebih baik aku bayar kafarat aja yah." suara Reyhan menjadi lebih serak dari sebelumnya.


"Eh?" Senja menatap Reyhan.


"Tapi kamu juga belum selesai merahnya." ucap Reyhan mencubit gemas hidung Senja.


"Nanti malam kayaknya sudah selesai Mas." bisik Senja pada Reyhan dengan tersipu malu.


Reyhan tersenyum senang mendengarnya, dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Kamu kecil, makanya aku suka peluk kamu." ucap Reyhan.


"Dan aku menjadi sesak napas karenanya." ucap Senja dengan nada kesal.


Reyhan tertawa mendengarnya.


"Siap-siaplah, nanti Bintang ke sini, tadi aku sudah menghubunginya, jadi kalian jalan-jalan bareng. Biar kamu tidak bosan di rumah." ucap Reyhan.


"Makasih Mas." Senja tersenyum dengan mengecup pipi Reyhan.


"Oh.. udah mulai berani yah." Reyhan menatap jahil pada Senja.


Senja tertawa dan segera berlari menghindari Reyhan. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya, sedangkan Reyhan terkekeh melihat kelakuan Senja.


Hubungan keduanya menjadi lebih dekat, Reyhan yang semakin romantis dan Senja yang mulai menunjukkan sifat manjanya pada Reyhan.


*


*


*