
Reyhan kembali masuk ke dalam gudang ketika rasa marah yang menyelimutinya mulai reda. Geri pun ikut masuk dan memilih duduk memantau Reyhan.
Reyhan berjongkok di hadapan Heru dan Joni. Matanya menatap tajam kedua pria dengan kondisi mengenaskan itu. Wajah mereka penuh luka, bagian mata lebam, sementara hidung dan bibir mengeluarkan darah. Geri tidak main-main ketika meminta anak buahnya untuk menghajar Heru dan Joni.
Melihat Heru dan Joni yang sudah melemah tak ada rasa kasihan sedikitpun dari Reyhan. Justru bayang-bayang Senja yang menangis dan meminta pertolongan semakin menggema di pikirannya, memunculkan rasa benci dan marah pada para pelaku.
"Katakan!" ucap Reyhan.
"Ma-afkan kami Tu-an." ucapnya terbata-bata. Matanya terpejam merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
"Lihat foto ini." ucap Reyhan dengan meletakkan foto Senja yang tersenyum.
Dengah bersusah payah keduanya membuka mata dan melihat foto yang diberikan Reyhan.
"Kalian tahu siapa dia?" tanya Reyhan dengan suara datar.
Heru dan Joni mengangguk.
"I-iya." ucapnya dengan takut-takut.
"Apa yang sudah kalian lakukan padanya?" tanya Reyhan dengan mengepalkan tangannya, memedam bom yang seakan ingin meledak.
"Kami hanya membantu Bos kami Tuan." ucap Heru.
"Malam itu kami dapat telepon untuk melakukan misi, baru kami tahu misinya adalah menjebak seorang gadis." ucap Joni menimpali.
"Ceritakan detailnya." ucap Reyhan.
"Bos kami memerintahkan untuk mensetting tempat agar gadis itu tak curiga. Kami hanya melakukan apa yang dieprintahkan, karena kami bekerja dengan Bos kami. Sesuai perintahnya kami dan beberapa orang mensetting desa mati yang memang tidak berpenghuni untuk membuat seolah desa itu seperti desa pada umumnya." ucap Heru.
"Jadi sebenarnya acara di desa itu pun palsu. Gadis itu mengantar pesanan kue yang telah di pesan oleh teman perempuan Bos kami. Kami tidak tahu siapa perempuan itu, tapi dia lah yang mempelopori hal itu. Dia ingin kami melecehkan gadis itu. Katanya, orang tua gadis itu sudah menghancurkan hidupnya, makanya ia dendam dan meminta bantuan Bos kami untuk membalaskan dendamnya melalui gadis itu." lanjutnya.
"Kami berdua dengan Bos kami berpura-pura mabuk, kemudian membius gadis itu dan membawanya ke rumah gubuk yang berada di dalam hutan mangrove. Di tempat itulah Bos kami melecehkan gadis itu." timpal Joini dengan takut-takut.
Geri menaham rasa marahnya, ia sudah sangat ingin menghajar Heru dan Joni. Baru ia tahu ternyata Fino tidak bekerja atas keinginannya sendiri, tapi ada orang lain yang menyuruhnya. Juga desa itu ternyata memang sudah di setting agar terlihat seperti desa pada umumnya, dan yang pasti agar Senja tidak curiga.
Reyhan memejamkan matanya dengan membaca istighfar agar tak kelepasan menghajar Heru dan Joni.
"Siapa Bos kalian? Dan siapa perempuan itu?" tanya Reyhan dengan suara tenang namun tetap tak ada keramahan.
"Fi-fino nama Bos kami, dan perempuan itu kami tidak tahu." jawab Joni.
"Tapi dia sering datang ke rumah di dalam di desa itu bersama Bos Fino." timpal Heru.
"Rumah yang mana?" tanya Reyhan berpura-pura tidak tahu.
"Di dalam desa itu ada rumah dengan dua lantai, dan hanya rumah itulah yang terawat."
Reyhan mengangguk, ternyata memang benar apa yang dikatakan Detektif sewaannya.
"Kenapa kalian sampai tidak mengetahui nama perempuan itu?"." ucap Reyhan.
"Perempuan itu selalu menggunakan masker, topi dan jaket hitam, untuk menutupi dirinya. Dia sama sekali tidak ingin kami tahu siapa dia." jawan Heru.
Reyhan mengangguk kembali.
"Kalian masih aktif bekerja dengan Fino?" tanya Reyhan.
"Ma-masih Tuan."
"Bagus, dengar baik-baik, sebelum masalah ini tuntas kalian tidak akan pernah saya lepaskan, dan selama itu pula kalian harus memberikan semua informasi yang kalian ketahui." ucap Reyhan.
"Gadis yang kalian jebak itu adalah istriku, dan siapapun yang menyakitinya tidak akan hidup dalam kedamaian." ucap Reyhan dan segera bangkit meninggalkan keduanya.
Sementara itu Heru dan Joni tercekat mendengar ucapan Reyhan.
Reyhan berjalan menuju Geri.
"Sudah?" tanya Geri.
"Belum, tetap tahan mereka di sini Kak, banyak informasi yang bisa kita gali dari mereka." ucap Reyhan.
"Minta anak buah Kakak untuk menginterogasi mereka lebih lanjut, nanti aku juga minta Detektif untuk datang dan melihat mereka." ucap Reyhan.
"Oke."
"Aku pulang." ucap Reyhan dengan suara datar, kemudian berjalan meninggalkan Geru yang sedang duduk menikmati momen Heru dan Joni yang mendapatkan hukuman.
Geri menghembuskan napas pendek, menatap punggung Reyhan. Kemudian mengalihkan pandangannya pada Heru dan Joni yang menyandarkan tubuhnya dengan rintihan sakit.
"Obati mereka, pastikan mereka tidak mati sebelum waktunya." ucap Geri memberikan perintah pada anak buahnya.
"Siap Bos."
***
Mobil Reyhan memasuki pekarangan rumah kediaman Alfarisi. Turun dari mobik ia memberikan kunci pada petugas untuk memarkirkan mobilnya, sedangkan ia berjalan masuk ke dalam rumah.
Ia menyapa dan menyalimi Mama dan Papanya yang tengah duduk santai di ruang keluarga.
"Lancar semuanya Rey?" tanya Papa Alex.
"Alhamdulillah Pa, sudah menemukan titik terang." jawab Reyhan.
"Senja ada di kamar." ucap Mama Mira, seolah paham apa yang Reyhan cari.
"Em, aku ke kamar dulu Pa, Ma." ucapnya kemudian melangkah menuju kamar.
Reyhan membuka pintu kamar dengan perlahan, matanya menelisik mencari Senja, dan tersenyum ketika melihat sang istri tercinta tengah berdiri di ayas balkon menikmati similir angin.
"Sayang." bisiknya dengan memeluk Senja dari belakang.
"Mas, sudah pulang." Senja membalikkan tubuhnya menatap Reyhan.
Reyhan kembali memeluk Senja dengan hangat, menumpukan kepalanya pada bahu Senja.
"Mas kenapa?" tanya Senja dengan khawatir.
Ia melihat wajah lelah Reyhan ketika menatapnya, belum lagi penampilannya yang berantakan membuat Senja semakin khawatir.
"Biarkan seperti ini dulu, aku sakit, dan obatnya hanya kamu." ucap Reyhan dengan suara berat dan pelan.
Senja pun mengangguk, ia mengusap lembut punggung Reyhan, membuat Reyhan nyaman.
Cukup lama Reyhan memeluk Senja dan tidak melepaskan pelukannya. Ia benar-benar merasa sakit selama menginterogasi Heru dan Joni. Semakin banyak yang ia tanyakan, semakin banyak pula sakit yang ia rasakan. Tidak bisa ia bayangkan betapa sulitnya Senja ketika melawan rasa sakit, takut dan traumanya ketika mengingat kejadian itu.
Pernah beberapa kali Reyhan menyadari bahwa ketika tidur Senja sering bergumam dengan keringat di keningnya, dan setiap hal itu terjadi ia akan memeluk Senja, membisikkan kata-kata yang membuat Senja merasa aman, hingga mimpi buruk itu pun hilang dan Senja kembali tidur dengan nyenyak. Sampai saat ini, terkadang Senja masih suka bermimpi tentang kejadian kelam di masa lalu itu, hanya saja ia tidak menyadarinya, karena Reyhan sudah lebih dulu membuatnya merasa nyaman dan aman ketika tidur.
Hal inilah yang semakin membuatnya sakit, dirinya terluka ketika Senja terluka dan akan merasakan sakit yang sama saat rasa sakit itu dirasakan Senja. Memberikan hukuman dan balasan untuk Fino akan ia lakukan dengan secepatnya, ia juga tidak akan melibatkan Senja secara langsung, bahkan sejak malam pengakuan itu Reyhan sama sekali tidak pernah menyinggung tentang masa lalu Senja. Dan selama proses penyelidikan ini berlangsung ia juga tidak akan melibatkan Senja, akan ia usahakan Fino dan seluruh orang yang bersangkutan mendapatkan hukuman atas tindakan mereka.