
"Senja." Dokter wanita dengan rambut sebahu tersenyum menyambut Senja, ia langsung memeluk hangat Senja.
"Dokter Rubi apa kabar?" tanya Senja.
"Baik, Senja sendiri gimana?" ucap Dokter Rubi sambil melepaskan pelukannya.
"Alhamdulillah, jauh lebih baik dari sebelumnya." jawab Senja dengan tersenyum.
Dokter Rubi tersenyum mengangguk, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Fara yang mengamati interaksi keduanya.
"Ini siapa?" tanya Dokter Rubi dengan tersenyum.
"Kenalin Dok, ini Fara saudari Senja." ucap Senja mengenalkan Fara pada Dokter Rubi.
Fara dan Dokter Rubi saling berjabat tangan, keduanya berbagi senyum ramah.
"Senang deh lihat Senja bawa temen ke sini, biasanya sendirian." ucap Dokter Rubi sambil mengajak Senja dan Fara duduk di sofa.
Ruangan Dokter Rubi memang terlihat seperti ruang kerja pribadi, karena memang rumah sakit ini milik keluarga Dokter Rubi. Di dalamnya terdapat sofa dan peralatan lainnya yang membantu memudahkan pekerjaan Dokter Rubi atau hanya sekedar untuk mempercantik ruangannya saja. Luasnya sama dengan dua kali ruangan dokter biasanya. Itulah yang membedakan ruangan milik Dokter Rubi dengan ruangan lainnya.
"Lama gak ke sini, Dokter pikir Senja sudah tidak akan pernah datang lagi." ucap Dokter Rubi dengan tersenyum. "Padahal Dokter sudah sangat senang loh Senja gak dateng lagi, karena artinya trauma itu sudah hilang." lanjutnya dengan membuka buku catatan di atas mejanya.
Senja tersenyum simpul dengan menganggukkan kepala.
"Sebenarnya ada hal lain yang membuat Senja datang lagi ke sini Dok, ada banyak hal juga yang ingin Senja konsultasikan ke Dokter. Makanya Senja datang ke sini lagi, kebetulan kan waktu itu Dokter pernah bilang untuk datang kembali ke sini karena masih ada beberapa hal yang ingin Dokter evalusikan pada Senja." jelas Senja dengan tersenyum
Fara diam menyimak apa yang Senja sampaikan pada Dokter Rubi.
"Boleh Senja ceritakan dulu apa yang mau Senja sampaikan ke saya?" tanya Dokter Rubi.
Obrolan santai pun berjalan, Senja menceritakan semua yang ia rasakan dan ia alami selama beberapa hari terakhir. Bagaimana ia menikah dengan Reyhan namun dengan semua ketakutan dan kekhawatirannya. Kemudian trauma mimpi buruk yang masih sering muncul, namun semenjak bersama Reyhan sudah jarang terjadi.
Senja tidak menceritakan kedatangan Fino ke rumahnya, laki-laki yang sudah menyebabkan ia memiliki trauma. Ia hanya menceritakan masih menjaga jarak dan bersikap menjauh dari orang yang tidak ia kenal terutama teman laki-lakinya karena rasa takutnya.
Dokter Rubi menganggukkan kepalanya mencoba memahami apa yang Senja ceritakan. Ia tidak melepaskan pandangannya pada Senja, menatap mata Senja yang menyimpan banyak kesedihan di dalamnya, meskipun bibirnya berkata dengan tersenyum.
"MasyaAllah, ternyata Senja duluin Dokter yah, sudah menikah, selamat yah Senja, saya ikut bahagia mendengarnya." ucap Dokter Rubi memberikan respon pertama dari cerita Senja.
"Terimakasih Dok." ucap Senja dengan tersenyum.
"Mau di tes seperti biasa dulu? Atau langsung mengevaluasi semua cerita kamu?" tanya Dokter Rubi.
"Tes aja dulu Dok, lihat seberapa parahnya trauma ini, masih ada atau sudah menghilang." ucap Senja.
Dokter Rubi mengangguk dan mengajak Senja menuju tempat biasanya Dokter Rubi memeriksa pasiennya.
Senja duduk di kursi dengan merilekskan tubuhnya, ia mengikuti instruksi Dokter Rubi untuk menarik napas dan membuangnya dengan perlahan selama beberapa kali. Ketika sudah tenang dan rileks, Senja diminta untuk menyandarkan tubuhnya.
Selanjutnya Dokter Rubi memakaikan alat-alat yang dibutuhkan di kepala Senja dan pergelangan tangan Senja. Hingga perlahan Senja tertidur karena obat penenang yang sudah disuntikkan sebelumnya.
"Apakah alat-alat itu menyakitkan Dok?" tanya Fara menatap iba pada Senja.
Dokter Rubi tersenyum menatap Fara. "Alatnya tidak menyakitkan, tapi isi pikiran dan trauma dari Senja yang mungkin menyakiti Senja." jelas Dokter Rubi.
Fara mengangguk paham.
2 menit berlalu, reaksi awal yang ditunjukkan Senja adalah tersenyum bahagia, begitu damai untuk dilihat.
"Itu kenapa Dok?" tanya Fara.
"Biasanya pasien melihat atau mengalami sendiri hal-hal yang membuatnya bahagia." jawab Dokter Rubi.
5 menit berlalu kini senyuman Senja menghilang, berganti raut wajah ketakutan dengan keringat yang ditampilkan Senja. Fara yang khawatir mendekat dan menyentuh tangan Senja. mengusapnya dengan lembut.
"Iya bisa jadi, hanya Senja yang tahu apa yang ia alami." ucap Dokter Rubi.
Ia terlihat tenang dengan tetap mengamati setiap perubahan yang Senja tunjukkan. Berbeda dengan Fara yang semakin khawatir saat Senja mulai meneteskan air mata dengan isakan yang menyedihkan.
"Dok, apa gak sebaiknya semua alat ini dilepaskan? Saya khawatir dengan keadaan Bila." ucap Fara dengan keringat dingin.
"Fara tenang yah, tetap dampingi Senja." ucap Dokter Rubi, ia masih perlu melihat bagimana keadaan Senja, guna mengevaluasi lebih jauh.
Fara mengusap peluh keringat di kening dan pelipis Senja, ia juga mengusap lembut air mata yang masih menetes dari kedua mata Senja yang terpejam.
"Ya Allah Bil..."
Fara banyak-banyak menyebut asma Allah untuk menghilangkan kecemasan dalam dirinya. Sesekali ia bisikkan bacaan ayat-ayat Al-Qur'an ke telinga Senja. Ia berharap Senja bisa sedikit terbantu ayat-ayat yang ia bacakan.
Melihat Senja yang mulai tenang, Dokter Rubi segera melepaskan alat-alat yang terpasang di kepala dan pergelangan tangan Senja.
"Kenapa Senja belum sadar juga Dok?" tanya Fara, masih dengan raut wajah khawatirnya.
"Tunggu sebentar lagi yah Fara, Senja masih dalam pengaruh obat penenang yang saya suntikkan tadi." ucap Dokter Rubi membuat Fara menghela napas lega.
***
"Seperti yang susah saya jelaskan Senja, kamu memang belum sepenuhnya sembuh, namun reaksi yang kamu berikan tadi tidak separah ketika terakhir kali kamu ke sini. Kamu sudah bisa tersenyum ketika dalam alam bawah sadarmu, dan merespon orang lain. Buktinya saat kamu sedang ketakutan, Fara mampu menenangkan kamu, dengan berbagai cara, dan respon terbaikmu adalah saat mendengar bacaan ayat-ayat Al-Qur'an."
"Melihat hal itu, saya ingin kamu menerapkannya Senja, pertama, perbanyak membaca Al-Qur'an, dia obat paling ampuh dalam segala hal. Kedua, dekati hal-hal yang membuat kamu bahagia, saya perhatikan, kamu jadi lebih bahagia setelah menikah, dan suami kamu bisa menjadi obat penyembuhan kamu. Ketiga, mencari kesibukan yang bisa membuat kamu mengalihkan pikiran kamu, dan mencoba sedikit demi sedikit untuk berbaur dengan sekitar, terutama hal-hal yang kamu hindari sebelumnya."
"Kamu boleh berbagi masalah kamu Senja, jangan terlalu memendam semuanya sendirian, itu tidak baik. Kamu bisa membaginya dengan Fara, atau dengan suami kamu, saya tahu kamu masih tidak bisa mempercayai siapapun saat ini, termasuk orang tua kamu, tapi untuk kedua kandidat yang saya sebutkan InsyaAllah mereka bisa menenangkanmu."
Fara tersenyum dengan meraih tangan Senja, dan menggenggamnya.
"Baik Dok."
"Dan hal-hal lainnya masih sama seperti yang biasa saya jelaskan, saya yakin kamu pasti bisa, meskipun itu sangat menyakitkan, saya tahu kamu perempuan kuat Senja." ucap Dokter Rubi.
"Ini resep obatnya, jangan lupa diminum." ucap Dokter Rubi sambil memberikan resep obat yang ia tulis.
Kemudian ia menjelaskan berbagai hal mengenai kondisi Senja, dan bagaimana cara-cara yang harus Senja lakukan kedepannya. Selain mengobrol santai dengan Dokter Rubi, Senja juga masih membutuhkan orang lain untuk menceritakan masalahnya, dan apa yang mengganggunya.
Mungkin efek Fino yang pernah datang ke rumahnya lah yang membuat trauma Senja menjadi memburuk. Padahal di pemeriksaan terakhir sebelumnya, trauma itu sudah semakin membaik.
"Terimakasih Dok." ucap Senja dengan tersenyum.
"Jadwalnya seperti biasa yah, kita bisa pantau bagaimana perkembangan selanjutnya." ucap Dokter Rubi.
"Baik Dok."
Keduanya pun pamit untuk pulang, hasil yang lumayan memuaskan bagi Senja, karena ia sudah mampu mengontrol dirinya, meskipun butuh bantuan orang lain.
"Kalau mau ke sini lagi kabari aku yah, aku siap nemenin kamu kapanpun juga." ucap Fara dengan tersenyum, mengandeng tangan Senja melewati koridor rumah sakit.
"Apa yang kamu lihat tadi Senja?" tanya Fara.
"Apa yah?" Senja terlihat berpikir mengingat apa yang ia lihat ketika dalam keadaan tidak sadar.
"Pertama aku melihat Mas Reyhan yang mengajakku melihat bukit berbunga, indah sekali makanya aku begitu damai saat itu. Namun setelahnya laki-laki itu datang, menyerang dan menyakiti Mas Reyhan, hingga Mas Reyhan terluka parah, dan dia berhasil membawaku , meninggalkan Mas Reyhan yang terus memanggilku." ucap Senja menceritakan apa yang ia lihat sebelumnya.
"Pantas saja kamu tersenyum bahagia, lalu ketakutan, dan kemudian menangis." ucap Fara. "Aku khawatir banget Bil, aku gak tahu gimana sulitnya kamu selama ini, tapi aku akan bantu kamu melewati ini bersama." ucap Fara dengan tulus.
Senja tersenyum dengan menganggukkan kepala.