Better Days

Better Days
Jodoh Terbaik



"Assalamu'alaikum." Reyhan berjalan masuk ke dalam rumah. Tangan kanannya menenteng tas, sedangkan tangan kirinya membawa sekantong kresek berisi beberapa camilan untuk Senja.


"Wa'alaikumsalam." Senja menyambut kedatangan Reyhan, ia langsung mengambil alih tas Reyhan dan mencium punggung tangan kanan Reyhan.


"Mama sudah pulang?" tanya Reyhan.


"Sudah Mas, beberapa menit yang lalu sebelum Mas pulang." jawab Senja.


Mereka berjalan beriringan menuju kamar. Senja langsung meletakkan tas Reyhan di atas meja kerja Reyhan.


"Ini." Reyhan memberikan kantong kresek tadi.


"Untuk apa makanan ringan sebanyak ini Mas?" tanya Senja dengan kening berkerut, membuka kantong kresek tersebut.


"Katanya perempuan itu kalau lagi datang bulan pengennya ngemil terus, moodnya juga sering gak ke kontrol, makanya saya belikan makanan ringan untuk ngemil kamu di rumah." ucap Reyhan.


"Makasih Mas." Senja tersenyum sembari meletakkan camilan tersebut di atas meja.


"Mas mau langsung mandi?" tanya Senja.


"Iya, soalnya waktu itu ada bilang sama saya kalau gak boleh mandi malam hari, gak baik buat kesehatan." ucap Reyhan membuat Senja tertawa.


"Yaudah, Senja siapkan air hangatnya, Mas tunggu di sini." Senja kemudian berlalu menyiapkan air hangat untuk Reyhan.


Beberapa saat kemudian.


"Sudah siap Mas." ucap Senja.


Reyhan mengangguk dengan tersenyum.


"Boleh minta tolong?" tanya Reyhan.


"Boleh dong Mas, apapun InsyaAllah Senja bisa bantu." ucap Senja.


"Tolong ambilkan buku-buku yang ada di ruang perpustakaan, bukunya semalam udah saya letakkan di atas meja." ucap Reyhan.


"Baik Mas."


Reyhan berlalu ke kamar mandi, sementara Senja menyiapkan baju ganti Reyhan, baru kemudian dia pergi mengambil buku-buku yang diinginkan Reyhan.


"Ini mungkin yah." monolognya menatap tumpukan buku yang berada di atas meja.


"Iya kayaknya ini deh." Senja kemudian mencoba mengangkat buku-buku tersebut.


BRAK!


Beberapa berkas di sebelah tumpukan buku tersebut terjatuh. Senja kembali meletakkan buku-buku yang ia bawa tadi. Kemudian berjongkok mengambil berkas-berkas yang jatuh.


"Teledor banget sih kamu Senja." omelnya pada diri sendiri.


Satu per satu berkas ia rapikan, dan ia kembalikan ke tempat semula. Hingga netranya menatap salah satu berkas dengan map plastik berwarna putih.


"Cv? Ta'aruf?" kening Senja berkerut menatapnya.


"Mas Reyhan pernah ta'aruf yah."


Perlahan Senja membuka berkas tersebut. Matanya membuat melihat berkas CV ta'aruf miliknya dulu.


"I-ini, Ya Allah." Senja membekap mulutnya terkejut melihat berkas tersebut.


"Ternyata Mas Reyhan." desis Senja terduduk di lantai.


Tak ingin ketahuan Reyhan, Senja segera merapikan berkas-berkas yang jatuh, ia mencoba untuk menetralkan dirinya, agar Reyhan tidak bertanya atau curiga


Senja masuk ke dalam kamar dengan buku-buku di kedua tangannya. Melihat Reyhan yang sudah selesai berganti pakaian.


"Ini Mas buku-bukunya." ucap Senja sembari meletakkan buku-buku tersebut di meja kerja Reyhan.


"Terimakasih istriku." ucap Reyhan dengan tersenyum manis, kemudian datang menghampiri Senja dan ikut mendudukkan diri di sofa.


"Sudah minum obat?" tanya Reyhan.


"Sudah."


"Masih merasa pusing? Atau ada keluhan lain?" tanya Reyhan lagi.


"Gak ada Mas, sudah sembuh." ucap Senja.


Reyhan mengusap kepala Senja kemudian mengecup kening Senja.


"Jangan sakit-sakit lagi, nanti saya ikut sakit juga." ucap Reyhan.


Senja diam menatap Reyhan. Ia masih teringat dengan berkas yang ia temukan di ruang perpustakaan tadi.


"Bagaimana bisa aku tidak mengenalimu Mas, aku menjauhimu, tapi Allah mendekatkan kamu padaku."


Tatapan Senja begitu dalam, kini matanya mulai berembun manahan tangis yang ia tahan sejak tadi.


"Kamu kenapa Senja?" tanya Reyhan dengan lembut.


Senja menggelengkan kepalanya, dan mengusap air matanya sebelum menetes.


"Hei kamu kenapa? Apa ada yang sakit? Bagian mana yang sakit? Bilang sama saya Senja." ucap Reyhan khawatir.


"Gak ada yang sakit Mas, saya hanya merasa bahagia, karena Allah mengirimkan Mas sebagai laki-laki terbaik dalam hidup saya." ucap Senja dengan tersenyum dan mata yang berkaca-kaca.


"Saya juga bahagia karena Allah mengirimkan salah satu bidadarinya untuk menjadi istri saya." ucap Reyhan dengan lembut.


"Jangan menangis." lanjutnya dengan mengecup pipi Senja, membuat Senja malu dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Reyhan.


Reyhan tertawa melihatnya.


"Mas kenapa jadi aneh semenjak menikah?" tanya Senja sembari melepaskan pelukannya.


"Apanya yang aneh? Bukannya saya memang begini? Apa wajah saya ada yang berubah?" tanya Reyhan.


"Dulu raut wajah Mas itu datar, dingin, menakutkan, tapi setelah menikah malah jadi lebih sering tersenyum dan tertawa." ucap Senja.


"Bagus dong, itu tandanya suami sayang istri." ucap Reyhan.


Senja menganggukkan kepala dengan tersenyum.


"Ya Allah, udah jam setengah enam sore." ucap Senja terkejut. Senja dengan cepat langsung berdiri dan akan pergi ke dapur.


"Kita makan di luar saja yah, bukber." ucap Reyhan menahan tangan Senja.


Senja terlihat menimbang-nimbang permintaan Reyhan.


"Iya Mas." Senja tersenyum dan menganggukkan kepala. "Yaudah Mas siap-siap dulu." lanjutnya.


"Bentar manis, sini duduk dulu." Reyhan menarik Senja untuk mendekat dan kembali duduk di tempat semula.


"Kenapa Mas? Sebentar lagi waktunya berbuka." ucap Senja bingung.


"Sampai kapan jilbab ini menutupi rambut kamu hm?" tanya Reyhan membuat bulu kuduk Senja merinding.


"Mau ditutupi sampai kapan?" tanyanya lagi dengan mengangkat kedua alisnya.


"Boleh saya buka?" Reyhan mulai menyentuh jarum pentul yang mengaitkan jilbab Senja.


Senja menelan salivanya dengan susah payah.


"Tenang Senja, dia Mas Reyhan, suami kamu, bukan laki-laki brengsek itu."


Tidak mendapat jawaban dari Senja membuat Reyhan tersenyum, itu artinya Senja tidak melarangnya, jadi dia boleh membukanya.


Jarum pentul itu sudah terlepas, memperlihatkan leher Senja yang selama ini tersembunyi. Reyhan perlahan mengangkat jilbab panjang tersebut, membuat detak jantung Senja semakin berpacu lebih cepat.


Reyhan menyingkirkan jilbab panjang itu, dan meletakkannya di atas meja. Senyum manis terbit di bibirnya ketika melihat Senja yang menunduk malu. Ia mengambil jepit rambut milik Senja, membuat rambut yang menggulung itu terurai panjang sampai ke pinggul. Hitam, lebat dan halus, Reyhan berucap kagum melihatnya.


"MasyaAllah."


Senyum manisnya belum menghilang, kini ia mengangkat dagu Senja, membuat netra hitam itu bertatapan dengan netra coklat milik Reyhan.


"Ma-as." panggil Senja dengan terbata. Ia melihat Reyhan yang tak kunjung memberikan reaksi apapun.


"Mulai hari ini, jangan pernah disembunyikan lagi ." ucap Reyhan mengusap lembut kepala Senja.


Senja mengangguk pelan.


"Jadi bukber di luar?" tanya Senja mengalihkan pembicaraan, agar Reyhan juga tidak terus memandanginya.


"Jadi dong, kita belum pernah makan berdua di luar kan, kita siap-siap sekarang." ucap Reyhan.


Senja mengangguk, ia kemudian mengambil jepit rambutnya kembali berniat menjepit rambutnya yang panjang itu.


"Biar saya yang jepitkan." Reyhan mengambil alih jepit rambut milik Senja. Ia membalikkan tubuh Senja, dan mulai menjepit rambut Senja yang panjang itu.


"Gak susah merawat rambut sepanjang ini?" tanya Reyhan.


"Biasa aja sih Mas, soalnya gak ada perawatan yang aneh-aneh." jawabnya dengan lembut.


"Sudah."


Senja tersenyum membalikkan tubuhnya.


"Senja mau ganti baju dulu." ucapnya langsung berlari menghindari Reyhan.


Reyhan tersenyum melihatnya, ia tahu Senja sedang malu saat ini. Sudah ia mantapkan hatinya untuk Senja. Dan menerima bagaimana kekurangan maupun kelebihan Senja, begitulah kira-kira yang sedang Reyhan kiatkan saat ini.


***


"Suka seafood?" tanya Reyhan sambil menyetir mobil, melajukannya dalam kecepatan sedang.


"Suka, suka semua." ucap Senja.


Reyhan mengangguk mengerti, ia akan mengajak Senja ke salah satu restauran khusus yang menyediakan makanan seafood ter enak di kita itu.


Senja menikmati similir angin dari jendela mobil yang yang terbuka, ia menatap rumah-rumah warga di pinggi jalan, terkadang juga akan melewati perkebunan sayuran. Matanya berbinar ketika melihat matahari terbenam dengan senja yang begitu indah.


"Indah seperti namamu." ucap Reyhan.


Senja menoleh tersenyum menatap Reyhan.


*


*


*