
Sudah seminggu berlalu setelah diterimanya perjodohan antara Reyhan dan Senja yang tergolong terburu-buru. Dan sesuai permintaan Senja, sehari setelahnya keluarga Reyhan lengkap, ada Reyhan, Mama Mira, Papa Alex, dan Geri datang ke tempat Ayahnya Senja untuk melamar Senja, agar menjadi pengikat untuk Reyhan dan Senja.
Lamaran keluarga Alfarisi diterima baik oleh kedua orang tua Senja, bahkan dalam waktu singkat kedua keluarga itu seolah sudah saling mengenal lama. Berbincang hangat, bergurau dengan candaan, kadang diselingi tawa renyah dari anggota keluarga. Hanya ada keluarga inti, karena masing-masing masih belum mengkonfirmasikan hubungan serius Reyhan dan Senja, apalagi ini tergolong begitu mendadak.
Proses penyerahan hantaran dan segala macamnya dilakukan dengan sederhana, semua itu atas permintaan Senja.
"Bisa bertukar nomor telepon?" tanya Reyhan.
Kini keduanya berada di halaman rumah, duduk bertiga bersama Geri yang diminta untuk mengawasi keduanya.
"Untuk apa Pak?" tanya Senja dengan wajah polosnya.
Reyhan menghembuskan napas pelan, beginilah jika ia harus menikah dengan perempuan yang umurnya masih jauh di bawahnya. Sedangkan Geri, dia mengulum senyum melihat raut wajah Reyhan.
"Kita akan segera menikah, tidakkah penting sebuah nomor untuk saling berkomunikasi?" tanya Reyhan.
"Oh.. saya kira Bapak mau pakai nomor saya untuk hal aneh-aneh." gumam Senja.
"Ketik." Reyhan menyodorkan handphonenya. Senja mengambilnya dan segera mengetikkan nomor teleponnya, kemudian mengembalikan handphone milik Reyhan.
"Bapak gak ada niat mau batalin rencana pernikahan kita?" tanya Senja.
"Kenapa? Kamu mau membatalkannya? Tidak akan saya izinkan." ucap Reyhan dengan suara datarnya.
"Saya cuma bertanya Pak."
"Ganti panggilan untuk saya." ucap Reyhan mengalihkan pembicaraan.
"Bapak kan memang Bapak dosen, jadi wajar saya panggil Bapak." ucap Senja.
"Panggilan itu terlalu tua Senja." ucap Reyhan.
"Lagi-lagi Bapak mempermasalahkan tentang panggilan." sungut Senja.
"Karena kamu tidak mau menggantinya sekarang, baiklah saya izinkan, tapi setelah menikah saya mau panggilan itu diganti." ucap Reyhan tak mau dibantah.
Geri yang menjadi pendengar hanya menggelengkan kepala, nyatanya memang watak anak bungsu memang tidak bisa hilang dari Reyhan. Apapun yang diinginkan harus didapatkan, mungkin itulah mottonya.
***
"Jadi kapan tanggal baiknya kita menikahkan putra-putri kita Mbak, Mas." kini Mama Mira mengganti panggilan untuk Bunda menjadi 'Mbak' dan Ayah dengan 'Mas', begitu juga sebaliknya.
"Sebenarnya kami tidak terlalu mengetahui tentang pemilihan hari baik dalam pernikahan Mbak." ucap Bunda.
"Secara pribadi saya pengen anak-anak itu menikah waktu bulan ramadhan ini, biar bukan yang suci, mengikat keduanya dengan hubungan yang suci pula." ucap Mama Mira.
Papa Alex dan Ayah Bayu diam menyimak.
"Gimana Pa?" Mama Mira mengalihkan pandangannya pada sang suami.
"Ngikut saja Ma, ada baiknya kita tanya Reyhan dan Senja, bukan apa-apa, kan mereka yang mau menikah." ucap Papa Alex.
"Benar, saya setuju dengan saran Mas Alex, Senja anak saya yang pertama, saya ingin pernikahannya berjalan lancar sesuai keinginannya." ucap Ayah Bayu.
Obrolan mereka berhenti ketika Senja, Reyhan dan Geri sudah kembali masuk ke dalam rumah.
"Sini sayang, ada yang mau kami bicarakan pada kalian." ucap Mama Mira meminta Senja duduk di sampingnya.
"Kami lagi membahas tentang tanggal pernikahan kalian, tapi menunggu pendapat kalian berdua, kan yang mau menikah kalian berdua, jadi sekarang Mama tanya, kira-kira kapan kalian mau melangsungkan pernikahan. Dan pernikahan yang seperti apa yang kalian impikan?" tanya Mama Mira pada Reyhan dan Senja.
"Reyhan ngikut saja Ma, kapan tanggal dan harinya, atau mau pernikahan seperti apa juga Reyhan serahkan dengan Senja." jawaban Reyhan membuat Senja menundukkan kepalanya.
"Kalau begitu, Senja sayang, kamu mau konsep pernikahan yang seperti apa?" tanya Mama Mira.
Senja tersenyum dengan terikan napas pelan.
"Yang sederhana saja Tante, tidak perlu megah atau mewah, tidak juga pakai orgen tunggal atau ada panggung pestanya. Senja lebih menginginkan acara keluarga yang khidmat dan sakral, yang terpenting semuanya berjalan lancar." ucap Senja.
"Ini kan pernikahan kamu sayang, apa tidak mau membuatnya istimewa?" tanya Bunda menatap Senja.
"Pernikahan memang sesuatu hal yang istimewa Bun, tapi Senja gak suka yang terlalu megah atau ramai, yang terpenting adalah acara intinya, keluarga besar pun tidak jadi masalah, tidak perlu sampai ada pesta." Senja tersenyum lembut menatap Bunda Hana
"Karena tidak ada yang perlu dirayakan dari pernikahan Senja Bun." lanjut Senja, tentu dalam hati.
"Jika itu mau kamu sayang, pernikahan sederhana tapi indah dan tak terlupakan akan segera disiapkan, nanti kita buat konsep outdoor wedding." ucap Mama Mira.
Obrolan masih berlanjut, membahas seputar pernikahan Senja dan Reyhan. Hari dan tanggal sudah di tetapkan. pertengahan bulan ramadhan pernikahan akan diselenggarakan. Karena konsep yang dipilih tidaklah terlalu sulit, maka pemilihan waktu pun bisa di percepat.
Senja tidak bisa menolaknya, apalagi ketika semua orang menyetuji tanggal yang ditetapkan. Asalkan yang lain bahagia Senja pun bahagia, melihat mereka tersenyum ketika bersamanya maka senyum itu pula yang ia berikan, walaupun ia tidak yakin kedepannya akan ada senyuman untuknya lagi atau tidak.
***
"Lo kurang ajar Bel." ucap seorang pria pada Bella.
"Gue gak peduli, Mama juga gak pernah mencoba untuk memperbaiki hubungannya dengan Papa." ucap Bella dengan wajah kesal.
"Tapi dia nyokap lo, mau bagaimana pun, dia tetaplah orang yang berperan besar dalam hidup lo." ucap pria itu.
"Gue bisa ngelakuin apapun, asal apa yang gue mau tercapai, termasuk melawan orang tua gue sendiri, gue gak peduli itu." ucap Bella kemudian menyesap minuman keras itu.
"Gila lo." pria itu hanya menggelangkan kepala.
Bukan jadi rahasia lagi baginya melihat tingkah Bella saat ini. Hal ini masih tidak ada apa-apanya dibandingkan melihat Bella bersikap kejam terhadap orang-orang yang tidak bersalah, termasuk keluarganya.
"Gue butuh file itu, bila perlu lo kasih memori cardnya sama gue." Bella dengan mata sayunya yang mulai mabuk menengadahkan pandangannya menatap pria di hadapannya.
"Mau buat apa?" tanya pria itu curiga.
"Lo tahu apa yang mau gue lakuin." ucap Bella dengan tersenyum sinis. "Jangan coba-coba hancurin rencana gue, atau gue buat hancur hidup lo." lanjutnya lagi.
"Gila lo Bel, lo tahu dia cewek yang gue cintai, dia juga gak bersalah dalam hal ini." ucap pria itu tidak setuju dengan jalan pikiran Bella.
"Gue gak peduli, sejak awal gue ajak lo kerja sama, gue udah bilang jangan sampai bawa perasaan bodoh! Lo itu lemah, apa-apa bawa perasaan, gue gak mau tahu, besok file itu udah harus ada di tangan gue." ucap Bella.
Pria itu mendengus, terlihat wajahnya yang mulai memerah menahan marah. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, ada sesuatu yang menghalanginya, rahasia besar miliknya ada di tangan Bella. Membuatnya selalu diam menuruti keinginan Bella, tanpa bisa membantahnya.
"Gue lupa dimana memori itu, jadi gue cari dulu." pria itu mengambil minumannya kemudian meneguknya dengan perlahan.
"Awas kalau sampai hilang, lo akan berakhir." ucap Bella, kemudian bangkit meninggalkan pria itu dengan jalan sempoyongan, memesan taksi dan kembali pulang.
"Gue akan gagalin rencana lo kali ini Bel, dan gue akan ambil semua file rahasia milik gue." ucapnya sambil menatap kepergian Bella.