Better Days

Better Days
Sudah SAH!



Hari H sudah tiba, hari pernikahan Reyhan dan Senja. Pernikahan dilaksanakan di halaman bagian belakang restauran milik Mama Mira. Dengan tama out door, menggunakan perpaduan warna putih dan hijau.


Ada beberapa kolega bisnis Papa Alex dan keluarga besar Alfarisi yang diundang. Selain itu, keluarga besar Senja termasuk Bintang adik Senja yang berada di Jawa pun ikut hadir ke pernikahan Senja. Fara yang sudah diundang pun jelas datang, ia harus menyaksikan sendiri bagaimana sahabatnya itu menikah dan bahagia.


Keluarga besar kedua belah pihak sedang duduk mendengarkan ceramah singkat dari ustadz Kamil yang diundang juga dalam acara pernikahan Reyhan.


Sementara itu para perempuan yang terdiri dari Mama Mira, Bunda Lusi, Fara dan Bintang sedang menemani Senja yang kini tengah di rias.


"Cantiknya yah Mbak anak kita." Mama Mira tersenyum menatap Senja dan Bunda Lusi bergantian. Bunda Lusi pun tersenyum dengan menganggukkan kepala. Sementara Senja tersenyum mendengar pujian Mama Mira.


"Yasudah, Bunda dan Mama ke depan dulu yah sayang, Nak Fara sama Bintang temenin Senja yah." ucap Bunda. Kini panggilan Tante Mira pun sudah diganti dengan panggilan Mama.


"Iya Bun." jawab keduanya serentak.


Setelah kedua wanita yang tak lagi muda itu keluar, kini Fara dan Bintang langsung mendekati meja rias Senja.


"Senang deh lihat Mbak menikah, itu artinya sudah ada yang bisa jaga Mbak setelah ini, Bintang gak perlu khawatir Mbak sendirian terus." ucap Bintang dengan tersenyum pada Senja.


"Kalau pun Mbak gak menikah, kan masih ada Bunda sama kamu yang nemenin Mbak, lagian Mbak sudah besar, gak perlu penjagaan juga." jawab Senja.


"Beda dong Bil, ini mah namanya teman seumur hidup, jagain kamu. nemenin kamu, jadi tempat bersandar kamu, pokonya mah ini beda." ucap Fara menyangga ucapan Senja.


"Eh aku belum lihat loh gimana calon suami Mbak, Mbak Fara tahu?" tanya Bintang.


"Tahu dong, namanya Pak Reyhan, orangnya tinggi, ganteng, pinter, dosen muda yang berprestasi, pokonya sempurna deh Bintang." Fara menjawab dengan penuh ekspresi.


"Lebay deh, Pak Reyhan biasa aja kok, kayak bapak-bapak di luar sana." ucap Senja.


"Ngawur kamu, kalau Pak Reyhan dengar gimana coba?" Fara menggelengkan kepala mendengar ucapan Senja.


"Kayaknya Mbak suka banget yah sama yang namanya Pak Reyhan itu, jadi gak sabar pengen lihat orangnya." ucap Bintang menjahili Senja.


"Eh... kata si..."


Belum sempat Senja melanjutkan ucapannya, Fara sudah memotongnya. "Bener banget tuh Bintang, Mbak kamu ini yah udah sangat tergila-gila sama Pak Reyhan, dia aja yang kegedean gengsi." ucap Fara ikut menjahili Senja.


Senja menggelangkan kepala mendengad ucapan Bintang dan Fara. Keduanya sama-sama menyebalkan jika sudah menjahili Senja.


Melihat situasi di luar, para tamu undangan sedang fokus mendengarkan ceramah singkat dari ustadz Kamil.


"Hadirin yang di Rahmati Allah SWT. Pernikahan atau nikah gunanya adalah terkumpul dan menyatu. Menurut hukum Islam pernikahan adalah akad antara wali wanita calon istri dengan pria calon suaminya. Akad nikah itu harus diucapkan oleh wali si wanita dengan jelas berupa ijab dan terima oleh si calon suami atau qabul dan dilaksanakan di hadapan dua orang saksi yang memenuhi syarat."


"Ada yang tahu dengan kalimat ini 'Jika seseorang telah menikah, berarti ia telah menyempurnakan separuh agama.' Dalam hal ini, Nabi Muhammad SAW pun pernah bersabda, "Apabila seorang hamba menikah maka telah sempurna separuh agamanya, maka takutlah kepada Allah SWT untuk separuh sisanya" (HR. Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman)."


"Ini merupakan isyarat tentang keutamaan nikah, yaitu dalam rangka melindungi diri dari penyimpangan, agar terhindar dari kerusakan. Karena yang merusak agama manusia umumnya adalah ******** dan perutnya. Dengan menikah, maka salah satu telah terpenuhi".


"Pernikahan merupakan ibadah yang bertujuan untuk menjaga kehormatan diri dan terhindar dari hal-hal yang dilarang agama. Menikah juga dapat membuat kita lebih mudah untuk menundukkan pandangan sehingga lebih mudah terhindar dari zina."


"Setelah mengetahui bagaimana pengertian dan tujuan pernikahan, selanjutnya ini yang terpenting bagi kedua mempelai, hak dan kewajiban setelah menikah. Bagi seorang istri yaitu: Pertama, Mahar. Mahar ini menjadi hak sepenuhnya seorang calon istri untuk menentukan besar dan bentuknya, juga penggunaannya menjadi hak sepenuhnya seorang istri. Kedua, Nafkah hidup, ini merupakan kebutuhan untuk kehidupan sehari-hari, seperti makan, tempat tinggal, sandang, pendidikan, dan kesehatan. keduanya merupakan hak yang berhubungan dengan benda."


"Lalu bagaimana dengan kewajiban seorang istri, ada begitu banyak, apalagi kalau kita mau membaca buku-buku seputar pernikahan, yaitu: taat kepada suaminya dalam hal-hal yang tidak maksiat, menjaga dirinya dan harta suami dari hal-hal yang membahayakan serta menimbulkan kecemburuan suaminya, meminta izin kepada suami saat hendak mengerjakan amalan-amalan sunnah , seperti npuasa sunnah. Dan lain sebagainya yang masih banyak lagi."


Ustadz Kamil menjeda materi ceramahnya, ia mengambil air mineral yang disiapkan untuknya, kemudian meneguknya beberapa kali.


"Lalu ustadz bagaimana dengan hak dan kewajiban seorang suami?" tanya seorang tamu undangan pada ustad kamil.


"MasyaAllah, begitu semangatnya jamaah pernikahan kita ini yah, saya serasa sedang mengisis kajian dia acara besar begitu." ustadz Kamil tersenyum. "Saya minum dulu yah Pak, Buk, nanti kan gak lucu kalau saya keselek atau lidah saya tepelintir ketika menyampaikan kajian." para tamu undangan terkekeh pelan dan tertawa mendengar ucapan ustadz Kamil.


"Baiklah, begini para haidirin. Adab suami terhadap Istri, yakni: memberikan mahar dan nafkah, berinteraksi dengan baik, bertutur kata yang lembut, menunjukkan cinta kasih, bersikap lapang ketika sendiri, tidak terlalu sering mempersoalkan kesalahan, memaafkan jika istri berbuat salah. Kemudian juga menjaga harta istri, tidak banyak mendebat, mengeluarkan biaya untuk kebutuhan istri secara tidak bakhil (pelit), memuliakan keluarga istri, senantiasa memberi janji yang baik, dan selalu bersemangat terhadap istri."


"Dan banyak sekali bagaimana kewajiban masing-masing pasangan, baik buruknya kita bisa menilai, apalagi kita orang islam, pasti tahu mana yang sesuai dengan agama dan syariat, dan mana yang melanggar. Baca buku atau artikel juga bisa sangat membantu untuk menambah khazanah pengetahuan kita."


"MasyaAllah, kayaknya kelewat banyak yah waktu yang saya gunakan, padahal saya masih banyak yang mau dibicarakan baik-baik nih sama para hadirin, misal tentang bayaran saya gitu." ustadz Kamil terkekeh diikuti para tamu undangan. "Baiklah begitu saja ceramah atau kajian singkat yang bisa saya berikan untuk para hadirin tamu undangan, khususnya bagi kedua mempelai yang sebentar lagi akan melaksanakan akad nikah, saya tutup wassamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Ustadz Kamil menutup ceramah singkatnya, ia kembali ke tempat duduknya telat berada di samping ustadzah Hana.


Ustadzah Hana menyambut sang suami, dengan tersenyum lembut dan menganggukkan kepala, seperti tengah memberikan kode.


***


Jam 16:00 WIB acara dimulai, sengaja memilih sore haru untuk mendekati waktu berbuka. Mengingat pernikahan ini dilakukan ketika bulan Ramadhan


Reyhan berjalan dengan diapit kedua orang tuanya menuju meja, tempat ia akan melangsungkan ijab kabul di sana.


Ayah Bayu dan beberapa pakde Senja sudah menunggu sebagai wali dan saksi nikah. Reyhan mendudukkan dirinya, berhadapan langsung dengan Ayah Bayu.


Doa dan shalawat pun di bacakan sebagai permulaan akad, Ayah Bayu kemudian diminta untuk menjabat tangan Reyhan, dan keduanya harus saling bertatapan. Ijab kabul pun terdengar, Reyhan dengan lugas dan tegas menyambut jawaban ijab dari Ayah Bayu. Hingga kemudian para saksi mengatakan SAH!.


"Alhamdulillah." semua mengucap syukur mendengarnya.


Senja memejamkan matanya dengan mengucap kalimat-kalimat syukur. Ia langsung di tuntun dan melangkah anggun ditemani Bunda Lusi dan Bintang menuju ke sisi Reyhan. Dan untuk kedua kalinya tangan mereka bersentuhan, kali ini secara sadar keduanya begitu tegang dan canggung.


Senja menyalimi tangan Reyhan, menciumnya dengan lembut punggung tangan kanan Reyhan. Kemudian Reyhan mencium kening Senja dengan lembut pula, dan cukup lama ketika menyalurkan apa yang ia rasakan, sembari membacakan doa-doa di kepala Senja.


Para tamu undangan tersenyum melihat kedua mempelai. Apalagi ketika Reyhan mencium kening Senja dengan khidmat, dan ketika melihat Senja yang hanya tertunduk malu mendapat perlakukan manis dari Reyhan di depan orang banyak.


Keduanya pun menandatangani berkas-berkas yang berkaitan. Dan acara berlanjut dengan pesta sederhana, para tamu undangan mulai menikmati acara, dan sebagian ada tengah berbincang ringan dengan kedua mempelai.


"Kalau capek kita bisa istirahat di dalam." ucap Reyhan yang melihat Senja hanya diam sedari tadi, kecuali ketika bersama tamu undangan ia akan tersenyum sembari menjawab pertanyaan ringan mereka.


Senja menoleh kemudian menatap Reyhan dengan menggelangkan kepalanya. "Tidak Pak, saya memang jenuh dan bosan, tapi gak enak kalau masuk ninggalin tamu undangan." ucap Senja.


"Tidak apa, yuk masuk, kita istirahat." Reyhan langsung menggandeng tangan Senja, menuntunnya masuk ke dalam ruangan istirahat yang sudah di siapkan di dalam restauran.


"Ma, aku sama Senja masuk duluan, sepertinya Senja kelelahan, biar dia istirahat dulu." ucap Reyhan pada Mama Mira.


Mama Mira mengangguk dan tersenyum. "Istirahat yah sayang, jangan capek-capek." Senja tersenyum dan mengangguk.