Better Days

Better Days
Joni dan Heru



"Ini." Geri memberikan berkas dan flashdisk kepada Reyhan.


Reyhan menerimanya, membuka berkata yang diberikan Geri dengan wajah serius, karena sebelumnya mereka memang sedang membahas cara menangkap Fino.


"Semua bukti-bukti yang kita butuhkan untuk memenjarakan Fino, dalam jangka waktu yang panjang." ucap Geri.


"Ada beberapa nama yang aku curigai berkaitan dengan kejahatan Fino dan permasalahan Senja."


Reyhan mengangguk mendengarkan penjelasan Geri, sambil membaca dan melihat profil orang-orang yang Geri curigai. Di dalam berkas itu ada foto setiap nama dan skandal-skandal yang pernah mereka lakukan.


"Orang-orangku sudah menangkap dua curut yang sangat andil berperan dalam masalah Senja. Dia kaki tangan Fino, tidak perlu aku jelaskan kamu pasti tahu siapa yang kumaksud Rey." ucap Geri.


"Kapan aku bisa bertemu mereka?" tanya Reyhan.


"Sekarang juga bisa, lebih cepat lebih baik." ucap Geri.


"Hm." Reyhan berdehem dengan wajah datarnya.


"Ini berkas yang baru dikirim oleh detektif." ucap Reyhan memberikan berkas pada Geri.


Geri menerimanya dan mulai membacanya.


"Agen penipu." gumam Geri ketika membaca berkas yang Reyhan berikan. "Kita harus menyelidiki setiap desa-desa ini dan desa lainnya yang berpotensi menjadi tempat mereka untuk menipu para gadis." ucap Geri.


Reyhan tersenyum miring mendengar ucapan Geri.


"Aku ingin meminta bantuan anak buah Kakak untuk mencari tahu ke desa-desa itu." ucap Reyhan.


"Pasti." ucap Geri. "Aku sudah memasukkan beberapa orang ke dalam desa mati itu, untuk menjadi mata-mata, mereka menyamar dan bekerja di rumah itu juga." ucap Geri.


"Detektif bilang ada perempuan yang juga sering datang ke rumah itu, namun ia kesulitan mencari identitasnya, bisa Kakak minta mata-mata itu mencari tahu siapa perempuan itu?" tanya Reyhan.


"Kita akan tahu secepatnya Rey." ucap Geri.


"Thanks Kak." ucap Reyhan menatap Geri dengan tersenyum tipis.


"Inilah yang dinamakan saudara Rey, masalahmu menjadi masalahku, dan pasti kita akan temukan solusianya bersama-sama." ucap Geri dengan menepuk pundak Reyhan.


"Oh iya, ada informasi tambahan, Martin dan Lucas, salah satu penjabat sipil daerah turut andil menjadi salah satu dalang semua kekacauan ini." ucap Reyhan membaca lembar berkas yang diberikan Geri tadi.


"Kita butuh bukti yang konkrit Kak, mengandalkan bukti-bukti ini tidak akan mampu menjerat mereka semua, hukum pun bisa mereka beli, kita butuh para gadis yang menjadi korban dalam tindakan kriminal yang mereka lakukan." ucap Reyhan.


"Mau terjun langsung?" tanya Geri dengan tersenyum miring.


Reyhan pun menatapnya dengan tersenyum miring.


***


Reyhan menatap kedua pria yang tengah tertidur dalam keadaan terikat. Tubuh penuh luka lebam yang Reyhah yakini bekas penyiksaan oleh anak buah Kakaknya. Ia menatap dengan penuh kebencian dengan tangan terkepal.


"Bangunkan keduanya." ucap Geri memberi perintah pada anak buahnya.


BYUUR!


Air es membasahi tubuh keduanya yang terikan di lantai kotor. Mata keduanya terbuka, pandangan yang buram mencoba menatap orang-orang yang tengah berdiri di hadapan keduanya.


Merasa geregetan, Geri menendang kaki Keduanya, hingga keduanya mengaduh kesakitan.


"Bangun breng*ek!"


Keduanya mencoba menegakkan tubuhnya, meski sulit karena tubuh mereka begitu sakit akibat pukulan yang diberikan oleh anak buah Geri.


"Si-siapa kalian?" tanya salah satunya.


"Malaikat pencabut nyawa." jawab Geri dengan suara yang begitu dingin. Ia menatap tajam pada keduanya.


"Siapa nama kalian!" tanya salah satu anak buah Geri dengan memberikan tamparan pada salah satunya.


"Jo-joni."


"Heru."


Jawab keduanya dengan ketakutan.


"Sebenarnya kami punya salah apa dengan kalian?" tanya Heru mencoba memberanikan diri, menatap Geri dan Reyhan yang terlihat membenci keduanya. Pasalnya baru kali ini mereka bertemu dengan Reyhan dan Geri, jadi mereka butuh alasan kenapa mereka di sekap, dan disiksa.


"Aku keluar Kak, takut tidak bisa mengontrol diri." ucap Reyhan, ia langsung meninggalkan ruangan itu.


Ia sudah sangat menunggu untuk melihat wajah orang-orang yang ikut andil membangun trauma dalam hidup Senja. Kebencian dan kemarahan bercampur menjadi satu. Ketika ia membayangkan tawa bejat keduanya dan tangisan Senja. Mengingat kejujuran menyakitkan yang Senja katakan semakin membuat darahnya mendidih.


Takut jika ia akan melakukan hal-hal di luar kendalinya, Reyhan lebih memilih untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum bertanya hal-hal yang akan membuat dirinya marah.


Geri berjongkok di hadapan Joni dan Heru, memberikan bogeman di wajah keduanya.


"Masih tanya kesalahan apa? Jelas-jelas kesalahan kalian itu banyak! Apalagi dengan gadis yang sudah kalian lecehkan!" ucap Geri sedikit menaikkan nada suaranya.


Keduanya terdiam, memang benar apa yang dikatakan Geri. Mereka sering ikut Fino dalam menipu para gadis desa, dan sebagian juga mereka lecehkan.


"2 tahun yang lalu, desa Xx yang menjadi desa mati dan hutan mangrove, gang sempit, malam hari, kalian melecehkan seorang gadis." ucap Geri.


PLAK!


PLAK!


Tamparan keras mendarat di masing-masing pipi kiri mereka.


Mendengar ucapan Geri keduanya menunduk dan terdiam, seketika ingatan-ingatan malam itu kembali bermunculan. Bagaimana bejatnya kelakuan mereka, hingga menimbulkan bekas yang menyakitkan bagi Senja.


"Ingat? Atau masih lupa? Perlu timah panas untuk melelehkan otak kalian supaya mengingatnya?"


Keduanya langsung memohon ampun pada Geri, bersujud di kaki Geri.


Geri bangkit dengan sengaja menginjak jari-jari tangan Joni, kemudian memberikan perintah pada anak buahnya untuk melanjutkan penyiksaan pada keduanya, sementara dirinya akan keluar sejenak untuk menemui Reyhan. Ia ingin Reyhan sendiri yang menginterogasi keduanya, apalagi hal ini bersangkutan dengan Senja.


***


"Fara dipilih juga Nak, ambil mana yang Fara mau, sekalian belikan untuk orang tua di rumah." ucap Mama Mira.


Saat ini Mama Mira, Senja dan Fara sedang berbelanja keperluan menjelang lebaran. Tadinya hanya ingin berdua, namun Senja tiba-tiba ingin mengajak Fara. Lagipula mereka berdua sudah jarang bertemu sejak libur kuliah.


"Terimakasih Tante, ini sudah banyak." ucap Fara sambil mengangkat beberapa paper bag.


"Ya ampun Nak, ini masih sedikit, tidak apa-apa pilih saja." ucap Mama Mira.


Senja tersenyum mendengarnya, ia jadi teringat ketika Mama Mira pertama kali kenal dengan Senja, ia juga meminta Senja mengambil barang apapun yang Senja mau, bahkan jika menolaknya, ia akan tetap memaksa, dan memilihnya sendiri. Bahkan sampai sekarang, Mama Mira masih suka meminta Senja membeli apapun yang Senja inginkan, meskipun barang itu hanya digunakan sebagai pajangan.


"Jangan sungkan sama Tante." ucap Mama Mira.


"Iyakan aja." bisik Senja.


"Tapi ini udah banyak Bil." jawab Fara dengan berbisik pula, kemudian tersenyum kaku pada Tante Mira.


"Ma, biar Senja ajak Fara masuk lihat-lihat butik yah, siapa tahu ada yang Fara suka." usul Senja.


Fara yang mendengarnya menyikut mangan Senja, dengan tetap tersenyum pada Tante Mira.


Mama Mira mengangguk dengan tersenyum. "Iya sayang, kamu juga beli yang yang kamu suka yah, Mama tunggu di sini." ucap Mama Mira dengan tersenyum.


"Iya Ma, kami tidak akan lama Ma."


Senja langsung menggandeng tangan Fara, keduanya berjalan beriringan memasuki toko butik yang berada di mall.


"Itu sudah banyak Bila, apalagi yang mau di beli coba." ucap Fara sambil berjalan mengikuti Senja.


"Ambik satu barang saja, yang penting Mama Mira gak sedih." ucap Senja. "Gak baik nolak pemberian orang lain, apalagi Mama Mira bolak balik minta kamu untuk membeli barang lagi kan...." lanjutnya dengan tersenyum.


"Yaudah deh, satu ini aja lagi kan...., aku gak enak loh, padahal bukan siapa-siapa, dia baik banget, padahal baru beberapa kali ketemu sama Tante Mira." ucap Fara.


"Itu salah satu bentuk rezeki dari Allah, karena kita dikelilingi oleh orang-orang baik." ucap Senja. "Udah pilih yang mana kamu suka, nanti aku ajak Mama untuk langsung pulang, muka kamu lucu kayak ketakutan gitu." ucap Senja diselingi candaan diakhir kalimat.


"Iya sangking takutnya berasa pengen menghilang." ucap Fara dengan terkekeh.


Senja mengajak Fara berbelanja di dalam butik, tidak butuh waktu lama hanya sekitar 10 menit keduanya sudah menyelesaikan kegiatan berbelanja nya, dan keluar hanya dengan membawa dua paper bag.


"Sudah selesai sayang? Cepat sekali belanjanya." ucap Mama Mira.


"Sudah Ma, karena sebentar lagi ashar jadi belanjanya buru-buru, Fara kan jauh rumahnya Ma." ucap Senja.


"Yaudah, Nak Fara, kapan-kapan belanja bareng lagi yah." ucap Mama Mira.


"Hehe iya Tante." Fara tersenyum menatap Tante Mira.


Setelah menghabiskan waktu bersama di luar dengan berbelanja dan jalan-jalan di tempat wisata, kini ketiganya memutuskan untuk pulang. Namun sebelum kembali ke rumah, Mama Mira mengantar Fara untuk sampai ke rumahnya.


"Terimakasih Tante." ucap Fara ketika sudah sampai di rumah.


"Sama-sama Nak, titip salam untuk orang tua kamu yah." Fara mengangguk dengan menyalimi tangan Mama Mira.


Kemudian berganti memeluk Senja. "Ketemu lagi pas lebaran yah, nanti aku main ke rumah kamu." ucap Fara, kemudian melepaskan pelukannya.


Senja tersenyum dengan menganggukkan kepala.


"Daaahh, hati-hati di jalan." Fara melambaikan tangannya ketika mobil sudah meninggalkan rumah.


Di mobil.


"Sayang." pangggil Mama Mira, membuat Senja menoleh menatap Mama Mira.


"Iya Ma?"


Mama Mira mengambil tangan Senja, meletakkannya di atas pangkuannya.


"Berjanji sama Mama sayang, apapun yang terjadi jangan pernah pergi dari kehidupan Reyhan, ataupun dari kehidupan Mama dan Papa. Dari awal Mama kenal dengan kamu, Mama udah anggap kamu sebagai putri kandung Mama, hingga kamu menjadi menantu Mama membuat Mama bahagia karena apa yang Mama inginkan, dan Mama panjatkan dalam doa Mama terkabulkan."


"Apapun masalah kamu, kondisi kamu, tidak akan mengurangi sedikutpun rasa sayang Mama." lanjutnya dengan suara lembut, tanpa mengalihkan pandangannya dari Senja.


"Ma."


"Senja juga jangan sungkan-sungkan untuk cerita dengan Mama, semua keluh kesah Senja, masalah Senja, ceritakan saja sayang, anggap Mama seperti ibu kandung Senja. Mama ingin sekali kamu membaginya dengan Mama, karena Mama selalu siap pasang badan untuk putri Mama." ucap Mama Mira dengan menitikkan air mata.


"Ma." Senja berhambur memeluk Mama Mira, mereka menangis berdua di dalam mobil. Pak supir yang melihatnya pun ikut menitikkan air mata, merasakannya hangatnya interaksi mertua dan menantu.


"Janji yah sayang, bagi apapun masalah Senja sama Mama." ucap Mama Mira dengan sesenggukan, ia masih menangis di dalam pelukan Senja.


Senja mengangguk dengan menangis pula, ia tak bersuara namun air matanya mengalir.


"Makasih Ma, sudah menerima Senja menjadi menantu Mama, menyayangi Senja seperti putri kandung Mama. Senja juga sayang sama Mama, sayang sekali." ucap Senja.


Keduanya melepaskan pelukannya dengan tersenyum menatap satu sama lain.


"Mama cengeng yah." ucap Mama Mira terkekeh, dengan mengusap air matanya.


Senja hanya tersenyum mendengarnya. Rasanya terharu dan bahagia ketika mendengar ucapan Mama Mira. Entah kenapa itu seperti seolah Mama Mira mengetahui apa yang sedang terjadi dengan Senja, begitulah yang ia pikirkan.


Banyak yang Senja syukuri, nikmat yang Allah berikan tak terbatas, begitu banyak hingga ia tak mampu menghitungnya. Dan sekali lagi, dibalik duka yang dulu menimpanya, Allah selalu memberikan kebahagian setelahnya.


Mengirimkan Reyhan sebagai suami yang tidak pernah menghakiminya, mencelanya, bahkan berkata kasar pun tidak pernah sekalipun. Meskipun pernikahan ini awalnya tanpa cinta, namun karena keikhlasan di antara keduanya, Allah tumbuhkan cinta dan kasih untuk keduanya, hingga perasaan itu menbuat Senja dan Reyhan saling menjaga dan tak ingin kehilangan.


Kemudian Allah berikan mertua yang begitu menyayanginya, menganggapnya seperti putri kandung mereka sendiri, siapa lagi kalau bukan Mama Mira dan Papa Alex. Rasa sayang yang diberikan membuat Senja merasa nyaman berada di antara keluarga Alfarisi, hingga kadang ia merasa tak pantas mendapatkan kebahagiaan seperti ini.


Kini Mama Mira dan Senja hanyut dalam obrolan ringan. Setelah puas menangis, keduanya asik mengobrol kegiatan sehari-hari, selain itu diselingi dengan candaan, membuat keduanya tertawa, dan pak supir pun ikut tertawa sebab ikut sesekali mengobrol bersama.