Better Days

Better Days
Bertemu seorang Senja



Pelayan mengetuk kamar Senja, ia tahu jika Senja tengah puasa. Melihat pakaian yang Senja kenakan ia jadi begitu yakin bahwa tebakannya tidak akan salah.


Senja yang mendengar ketukan pintu dan suara pelayan membuka pintu kamarnya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menatap pelayan seolah tengah bertanya.


"Maaf Nona mengganggu waktunya, sebentar lagi adzan maghrib, saya ingin bertanya, Nona ingin berbuka di ruang makan atau di kamar?" tanya pelayan itu dengan sopan. Nampaknya ia baik dan ingin bisa akrab dengan Senja.


"Di kamar." jawabannya yang singkat membuat pelayan itu sedikit kikuk.


"Baik Nona, nanti saya antarkan makanannya ke sini."


Setelahnya ia meninggalkan kamar Senja, bersamaan dengan Senja yang menutup pintunya rapat-rapat dan langsung menguncinya.


Senja melihat sekeliling, sejak ia datang ia belum memeriksa kamar yang ia tempati. Setelah lelah menangis Senja langsung ketiduran, dan baru bangun ketika matahari hampir tenggelam.


"Astaghfirullah....." Senja menghela napas pelan saat mengingat bahwa dirinya meninggalkan shalat dzuhur karena ketiduran.


Ia lantas melihat jam dinding di dalam kamar itu, menunjukkan waktu pukul 17:45 WIB. Ia langsung bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan shalat ashar.


***


Sementara itu Riani yang telah menyelesaikan urusannya dengan Fino kini berkeliling rumah untuk mengisi kekosongan, sambil melihat jika ada celah untuk ia bisa melarikan diri dari kurungan Fino.


"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya seorang pelayan datang menghampiri Riani.


"Kalian mau kemana?" tanya Riani melihat ketiga pelayan lainnya yang seperti tengah terburu-buru.


"Kami mau memasak Nona, soalnya Nona Senja sedang puasa, dan sebentar lagi waktunya berbuka puasa." jawab salah satu pelayan.


"Oh.." Riani menganggukkan kepala paham. "Yaudah, masak sana, nanti yang ngantar makanan biar aku, panggil aku jika sudah siap." ucapnya dan segera pergi.


Para pelayan terdiam dan saling melirik, kemudian dengan acuhnya kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Cukup menjadi buta dan tuli ketika bekerja dengan Fino, maka hidup mereka akan selamat.


***


"Aku sudah menghubungi Bimo, dia bilang sudah 3 hari Fino tidak datang mengunjungi desa itu, bahkan hari ini, perempuan yang dijadikan budak seksnya pun dibawa pergi entah kemana oleh orang kepercayaan Fino." jelas Geri.


Sebelumnya ia sudah menghubungi Bimo, mata-mata yang ia tugaskan ke desa itu.


"Kalau kita laporkan ke polisi?" tanya Riko yang sedari tadi menyimak.


"Gak bisa Rik, masalahnya semua bukti menunjukkan jika Senja pergi atas keinginannya sendiri, dan hal ini bisa membuat nama baiknya tercoreng, alhasil polisi pun akan meragukannya, dan yang bisa kita tebak adalah masyarakat akan men-cap Senja sebagai perempuan buruk karena meninggalkan suaminya bersama laki-laki lain." jelas Geri.


Riko mengangguk paham, ia tadi tidak memikirkan akibat yang akan ditimbulkan.


"Papa punya seseorang yang bisa dipercaya?" tanya Reyhan kemudian, setelah mendengarkan semua solusi yang masih belum menemukan titik terangnya.


"Setidaknya kita harus memiliki polisi berpangkat tinggi yang siap membantu kita." lanjutnya menatap semua orang.


"Papa ada kenalan." ucap Papa Alex. Ia kemudian bangkit dan menghubungi seseorang.


Sementara Papa Alex sedang menghubungi seseorang, ketiganya kembali berdiskusi.


"Apa tidak sebaiknya beritahukan saja soal penculikan Senja ini ke tante Mira. Kalau sampai tante Mira tahu tapi terlambat ia pasti akan jauh lebih sedih dan kecewa." ucap Riko.


Geri melirik Reyhan yang diam dan tetap tenang seperti tidak memiliki kekhawatiran. Kemudian mengalihkan pandangannya pada Riko dengan mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.


"Senja terlihat sukarela ketika memasuki mobil Fino Rey? tanya Geri.


"Em." Reyhan hanya berdehem. "Bisa minta Bimo untuk datang ke sini Kak?" tanya Reyhan.


"Bisa, diusahakan, tapi mungkin tidak bisa bisa hari ini, karena tidak mudah untuk keluar dari desa itu."


Papa Alex datang setelah beberapa saat menelepon seseorang.


"Bagaimana Pa?" tanya Reyhan.


"Bisa, Kombes Burneo yang akan membantu kita, esok ia akan datang ke rumah, kalian berikan bukti-bukti apa saja yang kalian punya sebagai penguat dalam penyelidikan dan pencarian Senja, agar semuanya semakin mudah. Akan ada beberapa tim kepolisian yang juga akan ikut datang bersama komber Burneo esok, jadi persiapkan semuanya." jawab Papa Alex.


"Kombes Burneo adalah teman Papa, jadi jangan khawatir, dia akan membantu kita." lanjutnya menatap Reyhan, Geri dan Riko bergantian.


"Jangan khawatir Rey, tetap berdoa agar Senja dapat menjaga dirinya meski jauh darimu. Papa yakin Senja akan baik-baik saja, buktinya dia mampu menahan rada takutnya selama ini." Papa Alex tersenyum lembut menepuk lengan Reyhan dengan pelan ketika melihat Reyhan yang tengah melamun.


Reyhan hanya mengangguk dengan senyum tipisnya.


"Pa." Papa Alex menatap Geri. "Mama bagaimana?" tanya Geri.


"Papa yang akan mengatakannya. Yaudah Papa mau ke atas dulu." Papa Alex bangkit dan meninggalkan ruang keluarga.


"Om Alex terlihat sangat tenang." gumam Riko yang dapat di dengar Geri.


"Kekhawatirannya hanya Papa yang tahu, agar dapat melakukan hal dengan maksimal, Papa harus menjernihkan pikirannya." ucap Geri menjawab pertanyaan Riko yang masih memandang kepergian Papa Alex.


"Aku ingin menemui Heru dan Joni." ucap Reyhan.


***


Tok! Tok! Tok!


Riani benar-benar menggantikan tugas pelayan untuk mengantar makanan berbuka puasa Senja. Ia mengetuk pintu kamar Senja, menunggu Hingg Senja membukakan pintu kamarnya. Pandangan keduanya bertemu, Senjap menatap dengan tatapan datarnya, sedang Riani menatap dengan penuh senyuman.


"Hai." sapa Riani dengan kaku namun tetap tersenyum.


Senja menatap Riani, melihat pakaian Riani yang berbeda dengan pelayan sebelumnya. Jika sebelumnya dengan pakaian khas pelayan, kali ini pakaiannya jauh lebih sexy. Dress mini berwarna merah dengan sepatu high heels berwarna merah pula.


"Boleh masuk? Aku membawa makanan untuk kamu berbuka puasa." Riani mencoba mengakrabkan diri dengan Senja.


Senja yang tidak tahu siapa wanita di hadapannya, mau tidak mau mempersilakannya masuk "Silakan."


Riani masuk dan meletakkan nampan berisi makanan untuk Senja di atas meja, sedangkan ia mendudukkan diri di sofa.


Senja juga mendudukkan dirinya di sofa, berhadapan dengan Riani.


Riani menatap Senja yang tengah diam juga menatapnya. Ia tahu Senja sedang memasang kewaspadaannya terhadap kehadiaran dirinya. Wajar saja, berada di tempat yang tidak Senja kenal, pasti akan memasang tingkat kewaspadaan.


Riani memperbaiki cara duduknya, ia berusaha untuk memanjangkan mini dressnya agar menutupi pahanya yang terekspos. Melihat baju gamis dan jilbab panjang milik Senja, ia merasa malu.


"Ekhmm." Riani berdehem mengalihkan pandangannya dari tatapan Senja.


"Kamarmu luas, Fino tidak tanggung-tanggung memberikan kamar yang terbaik untukmu." ucap Riani membuka pembicaraan.


Senja masih diam, ia memang tidak bisa tiba-tiba mengobrol dengan orang yang tidak ia kenal, apalagi ini kali pertama ia melihat Riani.


"Oh iya, kita belum kenalan, kenalkan namaku Riani, kita pakai panggilan aku kamu aja yah, biar lebih akrab." ucap Riani dengan tetap tersenyum.


"Aku Senja." Senja juga menyebutkan namanya, apalagi ketika Riani sudah mengulurkan tangan untuk berkenalan dengannya.


"Gak usah takut, aku orangnya baik kok, kita sama di sini, tapi mungkin nasib kita yang sedikit berbeda." ucap Riani dengan tersenyum tipis.


"Ini alat pendeteksi kamera tersembunyi, siapa tahu kamu takut untuk bergerak bebas di dalam kamar ini. Kamu bisa gunakan alat ini, untuk melihat apakah ada kamera tersembunyi di sini." Riani meletakkan alat tersebut di atas meja.


"Yaudah aku keluar dulu, kamu bisa mencariku jika bosan di rumah ini, kapan-kapan kita ngobrol lagi." Riani kemudian meninggalkan kamar Senja. Cukup baginya melihat bagaimana Fino menculik Senja karena ketertarikannya pada wanita muslimah. Atau mungkin karena alasan lainnya, Riani tidak mau memusingkan itu. Yang Riani tau, Fino sudah sangat keterlaluan karena menculik dan menipu semua gadis-gadis sejak dulu.