
SET!
BUGH!
KREAK!
Geri membanting lawan dan mematahkan lengannya sehingga membuat lawannya berteriak kesakitan. Sungguh sakit, sebab tulangnya pun sampai keluar dari dagingnya, darah mengalir membasahi lantai.
"Sial! Bau anyir." Geri mengibaskan tangannya yang terkena cipratan darah.
DUGH!
Ia menendang lawannya menjauh.
"Bimo." panggil Geri.
"Iya Bos, semuanya sudah tumbang." lapor nya dengan datang menghampiri Geri.
"Tunjukkan dimana ruangan Fino." ucap Geri.
Ia ingin mencari semua video yang berhubungan dengan Senja, apapun itu, semua copyan nya, bahkan hal-hal kecil pun ia harus mencarinya, dan menghapusnya. Geri tidak akan membiarkan video itu menjadi ancaman bagi Senja dikemudian hari.
"Mari Bos." Geri mengikuti langkah Bimo.
***
"Sial! Bagaimana mungkin polisi mengetahui tempat ini." umpat Fino kesal. Ia yang tak memikirkan hal apapun langsung bergegas meninggalkan tempat tersebut.
"Tunggu Tuan Fino!" cegah Riko.
Fino yang bersiap meninggalkan tempat itu pun menghentikan langkahnya, ia membalikkan tubuhnya seraya tersenyum pada Riko.
"Oh ya ampun, saya hampir melupakan anda Tuan Felix. Ayo, ikut saya, kita harus segera pergi dari tempat ini, sebelum polisi menangkap kita." ajak Fino, sembari kembali melanjutkan langkahnya.
"Kita tidak akan keluar dari tempat ini Tuan Fino." ucap Riko. Kembali menghentikan langkah Fino, membuat Fino membalikkan tubuhnya menatap Riko dengan raut wajah bingung.
"Maksudnya?" tanya Fino dengan menicingkan matanya, sementara Riko hanya tersenyum tipis menatapnya.
"Bos kita harus segera pergi, polisi sudah menangkap beberapa orang, sementara lainnya terlibat baku tembak dengan polisi." ucap anak buah Fino.
"Maaf Tuan Felix, nampaknya kita tidak bisa melanjutkan pembicaraan ini, nanti lain waktu saya pasti akan menghubungi Tuan Felix untuk melanjutkan pembicaraan kita tentang kerjasama yang tertunda ini. Baiklah saya permisi." ucap Fino kemudian membalikkan tubuhnya berniat pergi.
"Sudah saya katakan, tidak akan ada yang keluar dari ruangan ini!" ucap Riko dengan nada suara dingin.
Fino kembali menghentikan langkahnya, kini ia terlihat lebih waspada setelah mendengar nada suara Riko yang terdengar aneh. Perlahan membalikkan tubuhnya dan menatap Riko.
"Apa-apaan ini Tuan Felix, nampaknya anak buah anda sangat tidak tahu aturan." sindir Fino menatap seluruh tim khusus yang tengah menodongkan pistol ke arahnya.
"Tidak ada yang salah di sini Tuan Fino, bahkan mereka sangat mengetahui aturan dan protokol tugas sebagai seorang polisi, itulah sebabnya tugas mereka menangkap anda sangat tepat." ucap Riko dengan tersenyum sinis.
Fino masih mengernyitkan keningnya sesaat sebelum ia mulai memahami situasi yang terjadi saat ini.
"Kurang ajar!" desis Fino menatap tajam Riko yang tengah menyeringai.
"Bagaimana kejutannya Fino?" Riko menyeringai dengan tatapan tajam.
Fino tak kalah sengit menatap Riko. "Siapa lo sebenarnya?" tanya Fino dengan raut wajah penuh kemarahan.
Riko berjalan mendekati Fino, mengambil jarak 2 meter dari Fino. "Menurut lo siapa gue? Mungkin lo ada menyinggung seseorang Fino?" tanyanya dengan tersenyum miring.
Tangan Fino terkepal kuat. Urat-urat di wajahnya pun terlihat.
"Menyerah atau mati." ucap Riko membuat Fino membelalakkan matanya.
Fino yang tak memiliki kesiapan apapun mengepalkan tangannya, jelas ia akan mati dengan mengenaskan jika memaksakan untuk melawan Riko. Tim khusus mengepungnya, ada sebanyak 20 orang yang mengelilingi Fino sekarang. Bahkan anak buahnya pun tak cukup untuk melawan tim khusus, mereka kalah jumlah.
"Sial!" desis Fino pelan. Ia menatap sekeliling, mencoba mencari celah untuk melarikan diri.
Sialnya dia tidak membawa senjata apapun. Fino terlalu mudah percaya kepada orang yang baru dikenal. Melihat Riko dengan lantangnya membayar gadis lelangan dengan harga fantastis Fino menjadi tertarik untuk berkenalan dengan Riko. Pikirnya jika ia dapat menarik minat Riko untuk bekerjasama, maka keuntungan besar akan ia dapatkan. Namun rencananya meleset, bukannya mendapat keuntungan malah dirinya yang terjebak.
"Serang!" teriak Fino dengan lantang.
Enam orang melawan dua puluh orang, jelas Fino kalah jumlah, namun jika tidak nekad maka dirinya harus menyerah dengan sukarela. Jelas ia tidak mau!
DOR!
DOR!
Suara tembakan menggema di dalam ruangan tersebut, enam orang anak buah Fino mati mengenaskan, luka tembak bersarang di tubuh mereka, sebelum mereka berhasil menembakkan peluru ke arah tim khusus kepolisian.
"Terlalu terburu-buru." cibir Riko, ia melihat darah mengalir dari setiap anak buah Fino yang mati tertembak.
"Cuih!" Fino meludah tepat di depan Riko, menataonya dengan penuh amarah. "Satu Lawa satu." ucap Fino menatap remeh Riko.
"Keputusan yang salah." Riko mendengus sinis.
BUGH!
Satu tendangan secara tiba-tiba mendarat tepat di dada Fino, membuat Fino yang tidak memiliki kesiapan langsung tersungkur di lantai. Ia memegangi dadanya yang terasa nyeri.
"Breng*ek! Siapa dia." gumam Fino menatap nyalang Riko yang tengah tersenyum mengejeknya.
"Bangun lemah, ternyata cuma segini kemampuan penjahat kel*min kayak lo." pancing Riko.
"Kurang ajar." teriak Fino. Ia langsung berdiri dan menyerang Riko, mencoba memberikan pukulan ke wajah Riko namun dengan secepat kilat Riko mampu mengelak dan memberikan pukulan kuat ke rahang Fino.
"Akkhh, Ssttt." Fino berteriak kesakitan, ia merasakan rahangnya bergeser akibat pukulan Riko.
"Menyerah saja Fino, lo itu cuma penjahat kelas teri, gak ada apa-apanya." cibir Riko.
Ia kemudian memerintahkan tim khusus kepolisian untuk segera meringkus Fino. Kali ini Fino tidak akan bosa lepas dari jeratan hukum, karna semua bukti sudah sangat jelas.
"Gue pastiin lo akan membusuk di penjara." bisik Riko. "Sebagai balasan atas apa yang udah lo lakuin ke Senja." lanjutnya dengan tersenyum sinis.
Riko tersenyum melihat raut wajah tegang Fino.
Tim khusus kepolisian segera memborgol kedua tangan Fino. Mereka segera membawa Fino.
"Tugas selesai." ucap Riko tersenyum senang, nampaknya ia kembali ke karakter konyolnya.
***
"Bella awas di depan!!" teriak Senja.
Bella membanting setir ke kiri, mengerem mendadak pun tidak bisa, sehingga mobil yang melaju kencang itu menabrak pembatas jalan. Dan berguling masuk ke dalam hutan. Sementara mobil truk tersebut juga mengalami kecelakaan, sang supir menabrakkan truk ke pohon yang berada di sisi kiri.
"Ya Allah."
"Allahuakbar!"
Suara dentuman keras, dan tabrakan keras menggema. Mobil yang dikendarai Bella dan Senja mengalami kerusakan parah. Bella mengalami benturan yang keras dan kakinya terhimpit awak mobil. Tubuhnya masih tertolong karena ia menggunakan sabuk pengaman sebelumnya.
Sementara keadaan Senja begitu mengkhawatirkan. Tubuhnya sempat terbentur keras di dalam mobil. Ia yang tidak menggunakan sabuk pengaman mengalami luka yang serius, tubuhnya terlempar keluar sesaat ketika mobil menggelinding beberapa kali.
"Mas Reyhan, Mas." lirihnya sebelum tak sadarkan diri
Sementara itu Reyhan masih mengejar ketertinggalan jejak mobil milik Bella. Ia menambah kecepatan membelah jalanan yang nampak sepi. Hingga netranya menangkap kecelakaan tragis di pinggir jalan. Ia segera menepikan mobilnya untuk memeriksa.
Entah kenapa saat ini ia merasakan nyeri di dadanya. Kakinya seakan tak bertulang hingga langkahnya melambat. Ia melihat pecahan kaca berserak, dan pintu mobil milik Bella yang terlepas. Netranya menatap sekeliling, mencari sesuatu yang ia yakini ada disekitarnya saat ini. Namun masih berdoa agar apa yang menjadi prasangkanya tidak benar-benar terjadi.
Seiring dengan langkahnya yang kian mendekat, bibirnya pun terus beristighfar, mengucapkan kalimat-kalimat Allah. Hingga tanpa terasa air matanya menetes, melihat sesuatu yang ia tidak harapkan akan terjadi.
"Senja." lirihnya.
Reyhan berlari menghampiri tubuh Senja yang tergeletak di tanah. Air matanya terus mengalir. Dapat ia rasakan darah segar nan hangat mengalir ketika ia meletakkan kepala Senja di dalam pelukannya.
***
"Bunda?" Bintang mengedipkan matanya berulang kali, ia yang tak percaya jika Bunda Lusi berdiri di hadapannya saat ini.
"Siapa Bintang?" tanya Mama Mira dari dalam rumah. Ia datang menghampiri Bintang.
"Loh, Mbak Lusi." sama seperti Bintang, Mama Mira yang terkejut pun hanya mampu membeku di tempat.
Pasalnya saat ini kedua mata Bunda Lusi nampak sembab, memerah, karna habis menangis. Yah memang Bunda habis menangis, bahkan ketika sampai di kediaman Alfarisi air matanya kembali luluh saat tengah memeluk Bintang.
"Kenapa merahasiakannya dari Bunda, kenapa tidak ada yang memberitahukan Bunda, kenapa?" tanyanya sedikit berteriak.
Bintang dan Mama Mira membeku di tempat, dan tanpa dipinta air mata keduanya pun luluh dalam diamnya. Tubuh Bintang pun bergetar dalam pelukan Bunda Lusi.
"Masuk dulu Mbak." ajak Mama Mira pelan.
Bintang mengambil alih koper milik Bunda, sementara Mama Mira merangkul Bunda Lusi sambil berjalan memasuki rumah.
"Diminum dulu Mbak." Bunda menerima air putih yang diberikan Mama Mira dan meminumnya sedikit.
"Jelaskan Mbak, kenapa harus merahasiakannya dari saya." ucap Bunda Lusi saat sudah mulai tenang.
"Seseorang mengirimi saya pesan, mengatakan Senja diculik, benar begitu?" tanya Bunda lagi.
"Kenapa tidak ada yang memberitahukan ke saya, kenapa?!"
"Apa saya tidak berhak tahu? Apa saya orang lain?"
"Jawab Mbak, Senja itu anak saya, kenapa tidak ada yang memberitahukannya? Kalian membiarkan saya bersuka cita di sana, sementara disini tengah berduka, begitu?"
"Jawab Bintang! Kamu mau Bunda bersenang-senang di atas penderitaan Mbak kamu, begitu?"
Tangisnya seketika pecah. Ia berusaha menahannya, namun tetap tidak bisa. Hati seorang Ibu mana yang tak sedih, yang tak menangis mengetahui anaknya sedang salam kesulitan, sedang dalam bahaya. Jelas Lusi tak mampu untuk tak menangis.
Sejak di perjalanan ia tak tenang. Gelisah, khawatir, dan takut, semua perasannya menjadi satu. Lusi mengingat dengan jelas isi pesan yang ia baca, foto Senja yang tengah ketakutan, dan beberapa video Senja yang nampak tengah ketakutan. Video dimana Senja tengah di tekan dan diancam oleh Fino.
Lusi memaksa mencari penerbangan di malam takbiran, malam yang mana sangat kecil kemungkinan adanya penerbangan menuju Bengkulu. Namun seolah Allah mengizinkan, ia bisa kembali ke Bengkulu dalam waktu semalam. Dan disinilah Lusi saat ini, di kediaman Mama Mira.
"Maaf Bunda, maaf." Bintang berhambur memeluk Bunda Lusi. Kini mereka bertiga menangis bersama, sembari menunggu kabar dari Reyhan, Geri, Papa Alex atau Riko.
Yah hanya menunggu yang mampu mereka lakukan saat ini.