Better Days

Better Days
Bimo



"Sudah ada perkembangan Bimo?" tanya Geri pada orang kepercayaannya yang ia tugaskan untuk menyamar sebagai pengawal yang menjaga rumah di dalam desa itu.


Saat ini Geri sedang menghubungi Bimo, melalui alat komunikasi khusus. Keduanya kerap berkomunikasi diam-diam ketika jam istirahat bagi Bimo.


"Sudah Bos, itu foto perempuan yang berada di rumah itu, dia adalah wanita yang menjadi pemuas nafsu Fino. Awalnya dia sama seperti gadis-gadis lainnya, ditipu oleh Fino hingga terjebak dan tidak bisa keluar dari perangkap. Ia menjadi wanita khusus untuk Fino. Meski mendapat perlakuan buruk dari Fino, ia tetap mendapat perlakuan baik dari seluruh pengawal dan pembantu di rumah itu. Ia seperti Nona muda namun juga tidak berharga bagi Fino." jelas Bimo.


Ia mengirimkan semua file yang dibutuhkan pada Geri, termasuk foto dan daftar anak buah Fino.


"Apa dia bahagia?" tanya Geri.


"Tentu tidak Bos, ia diam di sana karena memang tidak bisa keluar dari rumah itu. Keluarganya menjadi kelemahan baginya. Ia diancam jika keluar atau sekedar mencoba kabur maka keluarganya akan dibunuh." jawab Bimo.


"Mungkin hanya sebuah gretakan." ucap Geri.


"Awalnya saya pikir begitu Bos, namun ketika saya mendapat tugas untuk ikut meringkus salah satu keluarga gadis yang kabur, dan yang saya saksikan adalah pembantaian habis-habisan. Fino tidak menyisahkan satu orang pun bahkan anak kecil pun ia habisi." ucap Bimo.


Geri manggut-manggut.


"Chip nya?" tanya Geri.


"Sedang dalam proses Bos, tidak mudah masuk ke dalam ruangan pribadi milik Fino, penjagaannya begitu ketat." jawab Bimo.


"Secepatnya chip itu sudah harus kamu bereskan." ucap Geri.


"Baik Bos."


"Cari tau ruang bawah tanah di dalam hutan mangrove, atau ruangan tersembunyi di sekitar hutan, saya yakin di sana para gadis itu disekap. Arah barat dari rumah gubuk di dalam hutan." ucap Geri.


"Baik Bos."


Reyhan sudah memberikan informasi mengenai apa yang dilihat dan di dengar oleh Senja. Ia ingin orang-orang Geri segera menemukan gadis-gadis itu, sehingga bisa menjadi bukti kuat menghancurkan Fino. Setidaknya menjadi saksi ketika nanti dipersidangan.


"Hey, siapa di dalam!!"


Suara gedoran pintu dan teriakan dari luar wc membuat Bimo dan Geri menyudahi pembicaraan mereka. Bimo segera menyembunyikan alat komunikasi yang ia gunakan di bawah keramik wc, dan menormalkan dirinya kembali ke dalam mode pengawal.


"Saya HF1." ucap Bimo sembari membuka pintu wc.


"Ngapain kamu di dalam?" tanya pria itu. Dia adalah Alan ketua dari para pengawal atau termasuk orang kepercayaan Fino.


Ia menatap Bimo penuh selidik, matanya menyipit melihat ke dalam wc, mencari hal-hal yang ia curigai. Sementara Bimo memasang wajah datar seolah tidak terjadi apa-apa.


"Siap, saya buang air kecil." jawab Bimo.


"Saya dengar kamu sedang mengobrol." ucapnya dengan wajah mengintimidasi, mencoba membuat Bimo takut.


"Maaf, saya memang biasa ngomong sendiri kalau di dalam wc Pak, seperti tengah syuting." ucap Bimo tanpa menimbulkan kecurigaan dari Alan.


"Jangan membuang-buang waktu." ucap Alan, ia sepertinya paham dengan kebiasaan orang-orang ketika di dalam wc.


"Kembali bertugas." ucap Alan, kemudian meninggalkan Bimo, ia kembali berkeliling memantau pekerjaan anak buahnya.


"Siap Pak." ucap Bimo.


Bimo menghela napas lega, sebelum kembali bertugas ia menoleh ke belakang, memastikan keramiknya tertutup rapi dan tidak bercelah.


Ia langsung pergi menuju hutan mangrove yang lokasinya tidak jauh dari rumah itu.


"HF1, mau kemana?" tanya salah satu pengawal.


"Mau ke hutan mencari ayam hitam, pesanan Nona Riani." jawab Bimo.


Pengawal itu menatap Bimo, seperti tengah melihat kejujuran Bimo, sebelum mengangguk. Karena memang Riani atau wanita yang terkurung di dalam rumah itu meminta salah satu pengawal untuk mencarikannya ayam hitam di dalam hutan. Dan dengan akal ide licik Bimo, ia pun menggantikan pengawal yang bertugas, sehingga bisa pergi ke dalam hutan, mencari tahu soal ruang bawah tanah.


"Pergilah." ucap pengawal itu.


Bimo langsung melanjutkan perjalanannya, ia memang mencari ayam hitam, namun sebenarnya ia sedang mencari tahu dimana letak ruang bawah tanah itu. Atau setidaknya ia menemukan rahasia lainnya.


"Hei! Ngapain kamu di dalam hutan?" tanya seorang pria bertubuh besar, dengan kulit gelap.


Ia datang menghampiri Bimo dengan pisau ditangannya, dan pistol di pinggang sebelah kanannya.


"Saya disuruh Nona untuk mencari ayam hitan di hutan." ucap Bimo.


"Kenapa sulit memasuki hutan ini, dari tadi banyak sekali yang tanya, merepotkan."


"Saya tidak berbohong, kalau tidak percaya kamu bisa menghubungi pengawal Nona, dan tanyakan soal ayam hitam." ucap Bimo.


Pria beetubuh besar itu kemudian menganggukkan kepala, dan membiarkan Bimo lewat.


"Lihat saja, sekali lagi ada yang bertanya, ku penggal kepala mereka." gerutu Bimo.


"Rumah gubuk ini, arah barat." Bimo berjalan mengikuti informasi yang diberikan Geri.


Bimo memperhatikan sekitar, ia melihat apakah ada hal-hal yang mencurigakan atau tidak.


"Ini sudah di ujung, seharusnya tidak sejauh ini." ucao Bimo memperhatikan sekitar. Ia sudah berada di tepi pantai dan masih tidak menemukan ruang bawah tananh atau tempat persembunyian lainnya.


Hutan mangrove ini memiliki jembatan kayu kecil, penghubung, yang begitu panjang, bisa dikatakan mengelilingi hutan ini, karena memang dulunya, hutan ini merupakan tempat wisata, yang kini tidak lagi beroperasi, dan menjadi hutan terbengkalai.


Air pantai yang menggenang terkadang menjadi tempat dimana hewan-hewan air yang berbahaya untuk hidup. Bahkan memang sengaja Fino melepaskab berbagau jenis hewan berbahaya untuk membuat orang-orang takut memasuki desa dan hutan itu.


"Sepertinya harus aku ulangi lagi." Bimo kembali menelusuri jalan yang ka lewati, sambil sesekali memperhatikan keadaan sekitar.


"Selamat siang Nona."


Bimo segera bersembunyi. Ia melihat perempuan bertopi dan bermasker hitam itu dihormati dan disambut oleh anak buah Fino. Bimo terus memperhatikan dengan berjalan mengikuti mereka pelan-pelan.


"Semua sudah siap Nona, menunggu waktu pengiriman nanti malam." ucap salah satu dari mereka, melaporkan semuanya, terlihat seperti ketuanya.


"Pembeli malam ini adalah orang penting, jangan sampai gagal, gadis-gadis itu sudah harus siap dan jangan sampai ada kabur atau membuat masalah, persiapkan gadis-gadis itu dengan baik."


"Siap Nona."


"Anak-anak yang sehat segera ambil organ dalam tubuhnya, karena transaksi akan dilakukan besok." ucapnya lagi.


"Gila mereka! Dasar Biadab."


Tangan Bimo terkepal mendengar setiap ucapan mereka.


"Masih di tempat yang sama Nona?" tanya salah satunya.


"Kamu pikir dimana lagi?" perempuan yang dipanggil Nona itu menatap tajam bawahannya.


"Semua transaksi akan dilakukan di gedung terbengkalai bekas pabrik sawit, sekali lagi ada yang bertany, kalian yang akan saya jual." ucapnya memberikan tatapan tajam.


"Maaf Nona."


Setelah mengatakan semuanya, perempuan itu pergi meninggalkan hutan dan anak buahnya segera menyiapkan hal-hal yang perlu disiapkan. Sebagian pergi meninggalkan hutan dan sebagian lagi memasuki sebuah pintu yang tertutupi dedaunan kering di dalan tanah.


"Ketemu." Bimo tersenyum miring melihatnya.


Ia segera kembali ke rumah itu, dengan membawa ayam hitam yang telah ia dapatkan sebelumnya.


***


"Berikan pada pelayan untuk di masak." ucap Riani, wanita muda yang menjadi mainan Fino.


"Baik Nona." Bimo segera membawa ayam hitam itu untuk di masak.


Ia kemudian kembali ke ruang tamu, ia melihat Riani yang tengah menatap kosong pada jendela kaca besar yang memperlihatkan halaman luas rumah itu. Wajahnya cantik, tubuhnya kecil tapi berisi, bibir kecil, senyum yang menawan dengan kulit putih bersih membuat siapapun yang memandang menjadi terpikat. Ia memang cantik sejak awal, namun menjadi lebih cantik ketika Fino menjadikannya sebagai Nona muda di dalam rumah itu.


Hidup bergelimang harta terlihat begitu menyenangkan, apalagi Fino memang royal dengannya, namun apalah arti hidup dalam kemegahan sementara diri terkekang, dan menjadi robot ketika Fino menginginkannya. Ia seperti seorang pela*** yang menerima bayaran setiap kali berjasil memuaskan pelanggannya. Kepedihan yang ia rasakan kadang menggiringnya untuk melakukan bunuh diri, meski berulang kali ia mencoba selalu gagal.


Bimo berjalan mendekat kemudian berdiri di samping Riani. Selama ia di sini, ia dapat melihat bahwa Riani tidak memiliki semangat hidup, banyak yang ia minta hanya sebagai kesenangan, yang tidak mampu menyembuhkannya.


"Nona." panggil Bimo.


"Ya?" Riani menatap Bimo dengan mendongkkan kepalanya, karena posiis Bimo yang jauh lebih tinggi darinya.


"Apa ada hal lain yang Nona inginkan? Barangkali saya bisa mewujudkannya." ucap Bimo.


Riani tertawa sumbang, sedang Bimo tetap tenang dengan ekspresinya yang datar.


"Kamu Tuhan? Hah? Mewujudkan?" Riani kembali tertawa, miris rasanya mendengarnya.


"Bahkan nyawaku pun tidak ia inginkan." ucap Riani. "Lebih menyenangkan ketika melihatku hancur." lanjutnya dengan menyandarkan dirinya di sofa.


"Nona tidak percaya Tuhan?" tanya Bimo.


Riani menggelang lemah. "Dia yang meninggalkanku, padahal aku selalu meminta padanya." ucap Riani.


"Kalau saya menjadi perantara Tuhan untuk mewujudkan keinginan Nona, apakah keraguan atau ketidakpercayaan itu akan hilang?" tanya Bimo.


"Tau apa kamu? Kamu dan seluruh teman-temanmu sama-sama brengsek, sebrengsek Bos mu itu." ucap Riani.


Bimo diam tak menjawab, nyatanya ia memang sedang menyamar dan bekerja dengan Fino.


"Bawa aku pergi dari sini jika memang kamu bisa mewujudkan keinginanku." ucap Riani kemudian pergi meninggalkan Bimo yang berdiri menatap punggung Riani yang kian menjauh.