Better Days

Better Days
Bertanya



Kecanggungan tercipta di dalam mobil selama perjalanan menuju kosan Senja. Pada dasarnya keduanya memang tidak bisa dikatakan saling mengenal hanya dengan beberoaa kali jumpa, apalagi berjumpa hanya karena masalah kerjaan, contohnya seminar, kuliah, dan buka bersama, itupun atas ide Tante Mira.


Sifat dingin dan kaku Reyhan membuat Senja tidak bisa mengakrabkan diri seperti saat bersama Tante Mira. Entah dari mana asal sifat Reyhan ini, pikir Senja. Lagipula, Senja sendiri pun sudah sangat menarik diri dari interaksi lawan jenis, ia hanya beberapa kali berjibaku dengan lawan jenis jika mendesak, seperti saat ini. Jelas ini bukan keinginannya, kalau bukan karena tidak ingin melihat Tante Mira sedih dan sifat Senja yang tidak enakan, mungkin saja Senja akan bisa pulang naik taksi. Tanpa perlu merasakan atmosfer aneh ketika bersama Reyhan.


Merasa tidak nyaman dengan suasana canggung di dalam mobil, Reyhan akhirnya memilih untuk memulai percakapan terlebih dahulu.


"Masih kosan yang sama?" tanya Reyhan basa basi untuk memulai obrolan.


"Iya Pak." Senja menjawab dengan singkat.


"Apa saya se-tua itu sampai kamu harus memanggil saya 'Pak'? Bahkan saat di luar jam kampus seperti ini." ucap Reyhan yang kurang suka mendengar panggilan dari Senja. Kesannya ia jadi lebih tua dari Papanya. Papanya saja dipanggil Om, lah ini dia dipanggil Pak.


Senja mengerutkan keningnya, bingung mendengar pertanyaan Reyhan, yang menurutnya aneh. Apa yang salah dengan panggilan 'Pak' untuk Reyhan?


"Kan Bapak memang lebih tua dari saya, lagipula Bapak adalah seorang dosen yang harus saya hormati, sekalipun Bapak tidak sedang mengajar di kampus tempat saya kuliah." jawab Senja.


"Umur kita hanya terpaut sedikit, saya rasa tidak sampai 10 tahun untuk kamu bisa menjadikan itu alasan memanggil saya 'Bapak'." ucap Reyhan. "Saya memang dosen, tapi ketika di luar kampus bukankah saya dan kamu sama saja? Jadi tidak ada salahnya jika kamu memanggil saya dengan panggilan lain." lanjutnya lagi.


"Bapak mau saya panggil Om?" tanya Senja gamblang, pertanyaan aneh yang membuat Reyhan sampai mengerem mendadak.


"Kamu!" Reyhan sudah akan memarahi Senja, namun ia hanya bisa menahan kekesalan melihat raut wajah polos Senja.


"Apa yang salah? Tadi dia tidak mau dipanggil Bapak, dipanggil Om juga tidak buruk-buruk amat." batin Senja bingung ketika Reyhan memberikan respon mendadak seperti ini.


"Panggil 'Pak' saja." Reyhan mulai melajukan mobilnya kembali, ia sudah tidak mempermasalahkan panggilan dari Senja. Dari pada dipanggil Om, akan menjadi lebih aneh menurutnya.


Senja hanya menganggukkan kepala mendengar ucapan Reyhan. Hening beberapa saat, sampai Reyhan kembali bertanya pada Senja.


"Apa hubungan kamu dengan Mama saya? Kenapa kalian bisa sedekat itu?" tanya Reyhan tanpa mengalihkan pandangannya pada jalanan yang mulai lenggang di malam hari ini.


Senja terdiam mendengar pertanyaan Reyhan. Harus ia jawab apa? Apa ia harus bilang jika selama ini Tante Mira selalu memberikan label calon menantu pada dirinya? Atau jawaban sebatas orang asing? Kalau orang asing buktinya ia dan Tante Mira bisa sedekat itu hanya dalam hitungan minggu. Senja menghela napas pelan, ia bingung sekarang.


"Kenapa diam?" Reyhan menunggu jawaban Senja tentang yang ia dengar tadi sore, kalimat yang diucapkan Mamanya, yaitu Senja sebagai calon menantunya.


"Sebenarnya saya juga bingung Pak, pada awalnya saya dan Tante hanya bertemu tidak sengaja di pasar, lalu entah bagaimana caranya kami saling bertemu dan menjadi sedekat sekarang. Sepertinya hubungan kami ini bisa dikatakan sebagai persahabatan beda usia." jawab Senja dengan tersenyum, walaupun Reyhan tidak melihat senyumnya itu.


Senja lebih memilih untuk menjawab hubungannya dengan Tante Mira sebagai sahabat beda usia, dari pada mengatakan bahwa selama ini Tante Mira selalu memanggilnya dengan sebutan calon mantu. Bisa-bisa Reyhan tertawa mendengarnya. Senja tidak ingin jika sampai Reyhan menganggap dirinya sebagai perempuan yang mendekati Tante Mira karena sesuatu.


"Oh... saya kira kamu melakukan hal aneh yang membuat Mama saya bisa sedekat itu dan se-perhatian itu sama kamu." ucap Reyhan dengan suara datar. Ia tidak membahasnya lebih lanjut, sepertinya memang Senja tidak terlalu peduli dengan panggilan tadi, hanya dirinya yang terlalu menganggap ucapan Mamanya terdengar aneh dan mencurigakan.


"Aku harus bertanya langsung pada Mama."


Seperti yang diperkirakan Senja, Reyhan mengira dirinya memiliki maksud tertentu kepada Tante Mira, setidaknya itulah yang Senja simpulkan.


Tak terasa mobil sudah berhenti tepat di depan gerbang kosan Senja. Senja segera turun dengan membawa dua paper bag yang telah disiapkan oleh Tante Mira tadi. Tak lupa ia mengucapkan terimakasih pada Reyhan sebelum masuk ke dalam kosan dan mobil milik Reyhan meninggalkan halaman kosan.


***


"Senja tahu soal perjodohan ini Ma?" tanya Geri.


Setelah mengantar Bella, Geri segera pulang untuk memberikan pertanyaan beruntun pada Mamanya. Mumpung Reyhan lagi mengantar Senja, begitulah pikirnya.


"Baik Reyhan maupun Senja tidak ada yang tahu, tapi setelah ini Mama berniat memberitahukan Reyhan." jawab Mama Mira.


"Terus bagaimana keluarga Senja?" tanya Geri.


"Mama sudah tahu dimana rumahnya, besok Mama mau menemui keluarganya, semoga saja Mama bisa menjadikan Senja sebagai menantu Mama." jawabnya lagi.


"Senja perempuan baik-baik kan Ma?" tanya Geri lagi.


"Kamu ini yah udah kayak wartawan aja, tanya-tanya terus deh." ucap Mama Mira dengan raut wajah dibuat kesal.


"Bukan seperti itu Ma, Geri hanya tidak ingin pilihan Mama salah, Mama baru kenal dia beberapa minggu dan menurut cerita Papa, sejak pertemuan pertama antara Mama dan Senja, Mama langsung mengklaim bahwa Senja adalah calon menantu Mama, apa itu tidak berlebihan Ma." ucap Geri memberikan alasan logis pada Mamanya.


Tante Mira terdiam mendengar ucapan Geri, anak sulungnya ini memang banyak berubah sejak pilihan jalan hidupnya yang sempat membuat keluarganya syok.


Astaga! Geri menepuk keningnya, ia menatap Mamanya gemas. Dipikiran Mamanya sekarang hanya ingin Senja menjadi menantunya. Apa boleh buat Geri akhirnya menganggukkan kepala, mengiyakan permintaan sang Mama.


"Mama juga harus menyelidiki sendiri, besok Mama mau ke rumah Senja kan? Ajak Reyhan besok Ma, biar dia ikut untuk mengenal keluarga Senja, tanpa disengaja." ucap Geri.


"Itu memang tujuan Mamamu Ger, entah jadi apa nanti kalau sampai keinginannya tidak terwujud, dan di luar ekspetasi dia." ucap Papa Alex yang dari tadi hanya diam menyimak obrolan istri dan anak sulungnya itu.


"Dari yang aku lihat, sepertinya akan sulit untuk membuat mereka dekat Ma, Senja perempuan yang tertutup, baik dari pakaiannya maupun dari karakternya, sedangkan Reyhan, dia juga memiliki sifat yang dingin dan kaku, Mama tahu itu kan." Geri mencoba membuat mata batin Mamanya terbuka agar bisa melihat kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kedepannya.


"Berarti harus ada jebakan yah?" tanya Mama Mira dengan senyuman aneh.


"Ma, jangan melakukan hal yang aneh-aneh deh." Papa Alex memperingatkan Mama Mira.


"Gak aneh-aneh Pa, yang penting mereka segera halal, kalau bisa di bulan yang penuh berkah ini." ucap Mama Mira dengan ceria.


Obrolan penting mereka terhenti ketika mendengar suara langkah kaki yang begitu familiar, siapa lagi kalau bukan Reyhan, sang tokoh utama dari topik utama yang mereka bahas.


"Senjanya aman? Gak lecet kan sampai tujuan?" tanya Mama Mira langsung. Bahkan Reyhan belum memberikan salam dan mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga.


"Biarin Reyhan duduk dulu dong Ma." ucap Papa Alex.


Reyhan langsung mendudukkan dirinya sambil mengucapkan salam, kemudian menjawab pertanyaan sang Mama.


"Dia aman sampai tujuan, tidak lecet sedikutpun sesuai pesan dari Nyonya Alfarisi." jawabnya dengan malas.


"Anak pulang bukannya yang ditanya keadaannya anaknya ini malah nanya anak orang lain." gumam Reyhan yang masih di dengar oleh anggota keluarga lainnya.


Plak!


Mama Mira baru saja memukul lengan Reyhan, sambil memberikan tatapan horor.


"Mama sudah lihat badan kamu masih utuh, kepala kamu juga masih di tempatnya, kalau Senja kan Mama gak tahu dia gimana, jadi wajar dong Mama tanya keadaan Senja. Siapa tahu kamu macam-macam kan sama anak gadis Mama." kalimat terakhir Tante Mira membuat rahang ketiganya hampir saja merosot bebas.


Tak mau ambil pusing baik Reyhan maupun Geri langsung bergegas pergi meninggalkan ocehan Mamanya yang mulai tidak jelas.


"Heh! Kalian berdua mau ke mana? Mama belum selesai bicara, kembali Geri, Reyhan." terikan Mama Mira hanya dianggap angin lalu oleh kedua putranya itu. Mereka terus berjalan tanpa memperdulikan panggilan Mama Mira.


"Sudah Ma, mending kita tidur, udah malam, yuk, Papa ngantuk, mau tidur sambil peluk Mama." Mama Mira tersenyum lembut dengan menganggukkan kepala. Akhirnya Mama Mira tidak melanjutkan ceramahnya pada Geri dan Reyhan.


***


"Sial! Sial! Sial!"


"ARGH!"


Bella menghancurkan apapun yang terlihat, bahkan kamar miliknya terlihat seperti kapal pecah saat ini.


"Dasar perempuan murahan! Setelah Ibunya menghancurkan keluargaku, aku tidak akan membiarkan dia mengambil apa yang sudah seharusnya menjadi milikku." Bella menggeram marah, kulit wajahnya yang putih kini memerah karena emosi yang yang ia tahan sejak di rumah Tante Mira tadi.


"Bella, apa yang terjadi Nak." seorang wanita seumuran Bunda dan Tante Mira datang dengan raut wajah khawatir.


"Mama gak usah ikut campur, urusan keluarga kita saja Mama tidak bisa mengatasinya, apalagi urusan pribadiku." ucap Bella dengan nada sinis. Ia tidak berkata lembut seperti anak pada umumnya.


"Kak Bella kenapa?" seorang gadis kecil berusia 10 tahun berlari menghampiri Mamanya sambil menatap Bella.


"Lo mending bawa perempuan tua ini keluar dari kamar gue sekarang juga!" ucap Bella dengan kasar. Kemudian menghampiri Mama dan adiknya dengan mendorong keras tubuh mereka keluar dari kamarnya.


BRAK!


Pintu tertutup dengan keras, Bella meluapkan emosinya ke apapun yang terlihat di depan matanya.


"Mama yang sabar, Kak Bella pasti berubah." ucap gadis kecil itu.


"Iya sayang."