
Ayah Bayu menarik tangan Bunda Lusi, kemudian menghentakkannya dengan keras di luar hotel. Suasana malam hari membuat hotel sedikit lebih sepi dari biasanya, karena para tamu lebih memusatkan dirinya pada kegiatan di dalam hotel. Dan keluarga inti memang belum kembali pulang, baik Mama Mira, Papa Alex, Geri, Bunda Lusi dan Ayah Bayu sama-sama belum kembali. Mereka semua masih menikmati suasana kekeluargaan di hotel yang sudah di siapkan sebelumnya.
Kembali pada Ayah Bayu dan Bunda Lusi. Keduanya terlibat adu mulut satu sama lain.
"Kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa Mas." ucap Bunda dengan raut wajah kesal. "Kamu gak berhak mencampuri urusan aku lagi." lanjut Bunda.
"Dengar Lusi, selama masih ada hubungannya dengan Senja, selama itu juga aku akan selalu ikut campur dalam urusan apapun." Ayah Bayu menatap tajam Bunda Lusi.
Bunda Lusi hanya menggelangkan kepala tak setuju dengan ucapan Ayah Bayu.
"Jauhi laki-laki itu Lusi." ucap Ayah Bayu.
"Sudah aku bilang jangan campuri urusan aku!" Bunda Lusi menolaknya dengan keras.
"Kamu tahu betul dia laki-laki yang sudah beristri, bahkan dia juga sudah memiliki 2 orang anak, jangan jadi penghancur rumah tangga orang lain Lus." ucap Ayah Bayu.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan Mas, jangan pernah kamu lupakan, kamu sendiri yang membuat aku masuk ke dalam lubang hitam ini." napas Bunda mulai berpacu lebih cepat dalam kemarahan.
"Aku sudah minta maaf Lus, aku bahkan sudah memintamu untuk menjauhi laki-laki itu." sanggah Ayah Bayu.
"Maafmu tidak mengembalikan semuanya Mas. Karena ulah bodohmu itu aku seperti ini, kamu pikir mudah untuk aku keluar dari lubang yang kamu dan dia ciptakan, kamu gak tau apa-apa Mas, jadi berhenti untuk ikut campur." ucap Bunda Lusi dengan raut wajah marah.
"Aku seperti ini karena aku peduli dengan kamu Lusi. Apa kamu tega membuat Senja menanggung malu karena ulah kotormu, bagaimana nanti tanggapan keluarga Mas Alex jika tau kamu memiliki skandal seperti ini." ucap Ayah Bayu. Kembali mencoba membujuk Bunda Lusi.
"Jangan bawa-bawa Senja dalam urusan kita Mas, sejak awal kamu tidak lebih pantas dari aku untuk disebut orang tua. Kita sama-sama buruk, bahkan kamu jauh lebih buruk. Aku tahu apa yang harus aku lakukan, jadi berhenti bawa-bawa Senja dalam urusan kita!" ucap Bunda Lusi menekankan kembali ucapannya.
"Kamu egois Lusi, terlalu mementingkan ego kamu dari pada kebahagian anak-anak." ucap Ayah Bayu.
"Tau apa kamu tentang kebahagian anak-anak Mas, selama ini aku yang merawat dan membiayai semua pendidikan mereka, ketika kamu jauh lebih mementingkan diri sendiri dan anak angkatmu itu." ucap Bunda masih dengan marahnya.
"Jangan kamu kira berlagak menjadi ayah yang baik buat anak-anak, mereka akan lupa dengan semua temperament kamu itu, sekali lagi aku tekankan, jangan campuri urusan pribadiku, urusan kita hanya sebatas mantan suami istri, kamu hanya berkepentingan dengan anak-anak, tidak dengan aku." Setelahnya Bunda langsung pergi meninggalkan Ayah Bayu yang terdiam mendengarkan amarah Bunda.
Sementara itu Senja hanya mampu membekap mulutnya sendiri melihat pertengkaran kedua orang tuanya. Menangis dalam diam tanpa mampu mengutarakan apa yang ia inginkan.
Beberapa menit yang lalu, ketika ia dan Reyhan sedang memesan makanan, Senja tidak sengaja melihat Ayah Bayu yang tengah menarik tangan Bunda Lusi. Merasa ada yang tidak beres, Senja meminta izin pada Reyhan dengan alasan ingin ke toilet. Padahal ia izin untuk melihat apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Dan begitulah kejadian selanjutnya, Senja mengetahui semua percakapan dan pertengkaran yang sudah biasa ia dengar, namun selalu terdengar menyakitkan baginya.
Tak sanggup melihat lebih lanjut, Senja memutuskan kembali. Tapi sebelumnya ia benar-benar pergi ke toilet untuk membersihkan sisa-sisa air mata yang ia keluarkan tadi.
***
"Maaf lama Mas." ucap Senja sembari mendudukkan diri di hadapan Reyhan.
"Tidak apa-apa." ucap Reyhan. Ia sedikit memperhatikan bekas air mata yang menetes di jilbab Senja. Sangat kontras terlihat, karena Senja kini sedang menggunakan jilbab berwarna biru muda.
"Di habiskan makanannya, kalau tidak suka kita bisa ganti menu lainnya." ucap Reyhan.
"Eh, gak perlu Mas, ini sudah cukup kok, lagian Senja suka sama makanannya." ucap Senja dengan tersenyum dan memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya. Melahabnya dengan tersenyum menunjukkan pada Reyhan bahwa dia menyukai menu yang di pesankan Reyhan.
Namun sekuat apapun ia menutupinya, pikiran lelah Senja tak mampu membuat senyumnya merekah begitu lama. Ucapan kedua orang tuanya yang tengah bertengkar menbuatnya tak bisa menikmati acara makan malamnya.
"Kamu sakit Senja?" tanya Reyhan.
"Gak Mas." jawab Senja dengan tersenyum.
Reyhan tak lagi bertanya, sepertinya ia sedikit mulai mengenal Senja. Seorang perempuan dengan kepribadian tertutup.
"Sayangnya Mama." suara teriakan nyaring membuat para tamu hotel menoleh ke sumber suara.
Begitu juga dengan Reyhan dan Senja sama-sama menoleh ke sumber suara. Terlihat Mama Mira sedang berjalan cepat dengan sedikit berlari menuju meja mereka. Wajah penuh senyum dengan memanggil nama Senja.
"Sayangnya Mama, kangen deh." peluk Mama Mira pada Senja. Senja yang sedang murung dan bersedih seketika tertawa kecil mendapat perlakuan manis dari Mama Mira.
"Gimana kabarnya Bro?" tanya Geri iseng.
Reyhan tak menjawab, ia hanya memberikan tatapan malas pada Geri, kemudian mengalihkan pandangannya pada Mama Mira dan Senja yang sedang bergurau.
"Senja kira Mama, Papa dan Kak Geri sudah pulang." ucap Senja.
"Belum dong sayang, Mama kan masih mau nemenin menantu kesayangan Mama." ucap Mama Mira membuat Senja tersipu.
"Mama, Papa dan Kak Geri mau pesan makanan apa? Biar Senja pesankan." ucap Senja dengan menatap ketiganya secara bergantian.
"Kami tadi sudah makan Senja, kalian terlalu lama di dalam, makanya kami makan duluan." ucap Geri mendapat anggukan dari Senja.
"Mama gak bisa lama-lama sayang, karena nanti kami sudah harus pulang, kita bertemu lagi setelah kalian pulang dari hotel." ucap Mama Mira.
"Iya Ma." Senja mengangguk dengan tersenyum.
Papa Alex menyenggol lengan Reyhan, membuat Reyhan menoleh dengan mengerutkan keningnya.
"Ikut Papa, ada yang mau Papa bicarakan." ucap Papa Alex dengan suara pelan. Sehingga Mama Mira dan Senja tidak terganggu.
Senja memperhatikan Reyhan yang berjalan mengekori Papa Alex, di sana Mama Mira tersenyum dengan menggenggam tangan Senja.
"Urusan laki-laki, kamu tenang saja sayang." ucap Mama Mira menenangkan Senja.
Senja mengangguk dengan tersenyum pula, namun kemudian matanya menatap Geri yang sedang memainkan ponselnya sambil menyesap jus alpukat milik Reyhan.
"Kalo dia bukan laki-laki sayang." ucap Mama Mira yang masih di dengar Geri.
"What!" Geri terkejut mendengarnya. Walaupun ia fokus dengan ponselnya, namun ia masih peka dengan sekitarnya, jadi ketika Mama Mira dan Senja mengobrol ia masih bisa mengikuti kemana alur keduanya.
Senja yang mendengar ucapnya Mam Mira tertawa pelan, ia begitu terhibur dengan kedatangan keluarga Reyhan dalam hidupnya, terutama Mama Mira.
"Assalamu'alaikum." Bunda Lusi datang dan menyapa ketiganya yang sedang asik mengobrol.
"Wa'alaikumsalam." jawab ketiganya bersamaan.
"Bunda." Senja berdiri dan memeluk Bunda Lusi dengan erat dan hangat. "Mbak pikir Bunda pulang." lanjutnya dengan membawa Bunda untuk duduk.
"Bunda pulang setelah ini Mbak." ucap Bunda dengan tersenyum, kemudian menatap Geri dan Mama Mira bergantian lalu menyapanya.
"Pulang bareng kami saja Mbak." tawar Mama Mira.
"Terimakasih Mbak Mira, tapi tidak apa-apa, nanti ada yang menjemput saya pulang." tolak Bunda dengan halus.
Senja yang mendengarnya jelas tau apa yang dimaksud Bundanya. "Bunda pulang bareng Mama saja, bareng-bareng, biar terjaga." ucap Senja.
"Mbak gak usah khawatir." Bunda tersenyum menenangkan Senja. Dan dibalas anggukan dengan Senja.
"Mas Bayu dimana Mbak?" tanya Mama Mira.
"Pamit pulang tadi, katanya ada urusan, titip salam dan permintaan maaf untuk semuanya" jawab Bunda. Memang pada kenyataannya Ayah Bayu langsung pulang setelah pertengkarannya dengan Bunda Lusi. Ia tidak ingin raut wajah marahnya terlihat oleh semua orang, apalagi Senja, makanya ia memilih untuk langsung pulang.
Mama Mira mengangguk paham, sedangkan Senja menatap kosong pada Bunda Lusi. Geri yang memperhatikannya hanya bisa menerka-nerka dalam pikirannya, tanpa ujung yang jelas.
"Kamu penuh dengan misteri Senja." batin Geri menatap intens Senja.
***
Happy Reading Readers, semoga ceritanya menghibur dan banyak disukai. Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen, karena DD sangat bahagia ketika membaca banyak masukan dari kalian semua. Jangan sungkan-sungkan untuk memberikan saran ataupun kritik. Terimakasih (^~^)