
Asisten rumah tangga yang dipekerjakan oleh Reyhan sudah tiba di rumah sejak pukul 7 pagi. Senja menyambutnya ketika Reyhan sudah berangkat kantor pagi-pagi sekali, karena ada rapat mendadak.
"Pagi Non." ucap aisten rumah tangga tersebut.
Seorang wanita yang berusia sekitar umur 50 ke atas. Sengaja Reyhan mempekerjakan yang sudah berumur agar tidak terjadi masalah dalam rumah tangganya. Meskipun Senja tidak pernah mengeluh, ataupun marah padanya, tapi ia sendiri tidak ingin menciptakan masalah baru yang akan membuat Senja menjadi sakit hati di kemudian hari.
"Pagi Buk." Senja tersenyum ramah pada sang asisten rumah tangga.
"Perkenalkan nama saya Saimah Non." ucapnya memperkenalkan diri. "Panggil Bik Imah aja Non." lanjutnya lagi.
Senja mengangguk dengan tersenyum.
"Kalau saya Senja Bik." ucap Senja juga memperkenalkan dirinya.
"Mari Bik saya antar ke kamar." Senja melangkah menuju rumah belakang, tempat dimana para pekerja tinggal. Di dalam rumah belakang ada sekitar 5 kamar yang berukuran sedang, dengan fasilitas yang jauh lebih baik dari pada pekerja seperti biasanya. Sengaja Reyhan desain seperti itu agar para pekerja nyaman.
"Selama di sini Bik Imah akan melakukan perkerjaan seperti asisten rumah tangga biasanya, membersihkan rumah utama, setiap ruangan, memasak, mencuci, dan menyetrika. Kecuali kamar utama, itu biar saya saja yang membersihkannya Bik, juga memasak, saya akan tetap ikut memasak meskipun tidak semuanya saya handle. Jadi nanti untuk buka puasa saya juga akan ikut memasak bareng Bik Imah." ucap Senja.
Bik Imah di samping Senja mengangguk paham dengan tugas-tugasnya.
"Untuk kebun belakang, samping dan depan, sudah ada yang merawatnya, jadi tugas Bik Imah hanya berfokus pada rumah utama saja." lanjutnya dengan membuka pintu rumah belakang.
"Baik Non." ucap Bik Imah dengan mengangguk paham.
"Nah... ini kamar Bik Imah." Senja tersenyum dan mempersilakan Bik Imah untuk masuk.
"Semoga betah yah Bik." ucap Senja.
"Terimakasih Non." ucap Bik Imah dengan tersenyum.
Senja mengangguk dengan tersenyum pula. "Bibik silakan merapikan barang bawaan Bibik, nanti setelah selesai temui saya di rumah utama, kita akan ke supermarket untuk membeli stok bahan makanan." ucap Senja.
"Baik Non."
***
Bella berjalan memasuki perusahaan milik Reyhan, hari ini ia berniat melancarkan rencananya, semua sudah tersusun dengan sempurna, berpikir akan berjalan lancar.
"Permisi ada yang bisa saya bantu." sapa resepsionis wanita yang bertugas.
"Saya ingin bertemu dengan Kak Reyhan." ucap Bella pada resepsionis dengan angkuh.
"Mohon maaf, apa Nona sudah membuat janji?" tanya resepsionis tersebut dengan sopan.
"Katakan saja Bella datang untuk menemuinya." ucap Bella.
"Mohon maaf Nona, kalau tidak membuat janji dengan Pak Reyhan tidak bisa menemui ...."
"Saya bilang katakan saja Bella datang menemuinya! Telpon sekarang Kak Reyhan!" ucap Bella memotong ucapan resepsionis dengan sedikit membentak.
"Jika sampai Kak Reyhan tahu saya diperlakukan seperti ini, saya jamin kamu akan di pecat." ucap Bella kembali membuat resepsionis itu langsung diam tak berani membantah.
"Cepat!"
"I-iya Nona."
Resepsionis itu segera menghubungi Beni, dan segera disambungkan langsung ke Reyhan. Mendapat izin dari Reyhan segera resepsionis tersebut memberitahukan Bella.
***
"Hai Kak Rey." sapa Bella dengan penuh senyuman, sembari membuka pintu ruangan Reyhan.
Reyhan hanya menatapnya tanpa ekspresi, karena memang Reyhan tidak menganggap Bella lebih dari sekedar anak dari teman Mama Mira.
"Duduk Bel." Reyhan mempersilakan Bella untuk duduk.
Dengan senang hati dan wajah yang berseri Bella duduk di hadapan Reyhan. Ia senang setelah sekian lama akhirnya bisa menemui Reyhan lagi.
"Lama tidak jumpa Kak Rey." ucap Bella dengan tersenyum tanpa henti.
Reyhan hanya mengangguk pelan, masih dengan ekspresi datarnya.
"Lain kali kalau datang harus membuat janji dulu Bella, khawatir akan menjadi perbincangan, untuk sekali ini saya maklumi." ucap Reyhan to the point, ia tidak suka dengan kelakuan Bella yang memaksa resepsionis untuk mempersilakannya masuk. Bukan ia tidak tahu, ia tahu semua yang terjadi di dalam perusahaannya.
Wajah berseri Bella seketika memudar, namun dengan cepat ia kembalikan lagi senyum manisnya dengan menatap Reyhan yang tengah fokus pada pekerjaannya dan tidak menatap Bella.
"Iya Kak, untuk kedepannya aku tidak akan melakukan hal itu lagi." ucap Bella.
"Ada perlu apa kamu ke sini?" tanya Reyhan.
"Aku mau tanya soal lowongan pekerjaan Kak, kira-kira Kak Reyhan punya pekerjaan tidak untuk aku di perusahaan Kakak ini?" tanyanya semeyakinkan mungkin.
"Mungkin ada, tapi saya tidak bisa merekomendasikan kamu, saya tidak tahu bagaimana pengalaman dan riwayat pendidikan kamu." ucap Reyhan, menatap sekilas Bella.
"Jadi untuk hal itu kamu bisa langsung ke HRD untuk bertanya lebih lanjut, biar saya hubungi Beni untuk mengantar kamu ke HRD dan kamu bisa menjelaskan semua tentang dirimu agar bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai bidangmu." lanjut Reyhan.
"Iya Kak, dimanapun tempatnya pasti aku terima, yang penting aku ada pekerjaan dan tidak menganggur di rumah." ucap Bella dengan wajah ceria. Ia nampak seperti anak seusianya, tapi siapa yang tahu jika dibalik wajahnya ada wajah lain yang jauh lebih menyeramkan.
"Hm." Reyhan hanya berdehem sebagai responnya.
"Oh iya Kak, aku tadi lihat Senja, istri Kak Reyhan, lagi di supermarket." ucap Bella.
Reyhan yang mendengar nama Senja, langsung memasang telinga untuk mendengar apa yang akan diucapkan Bella.
"Kami sempat mengobrol di dalam supermarket, katanya dia lagi belanja, bersama pembantu barunya. Cuma Kak, yang buat aku merasa aneh tuh gini, masa yah aku lihat Senja ngobrol bareng laki-laki lain di depan supermarket, terus tiba-tiba dia pergi sama laki-laki itu. Kayaknya mereka temenan deh, soalnya terlihat akrab gitu, Senja juga responnya baik." ucap Bella.
"Nah ini fotonya Kak, kami tadi juga sempat foto bareng." Bella menunjukkan foto Senja yang sedang mengobrol dengan laki-laki itu.
Reyhan langsung mengalihkan pandangannya pada foto yang ditunjukkan Bella. Hanya sebuah foto nampak dari belakang, namun Reyhan tahu pasti itu merupakan istrinya, ia paham betul bagaimana perawakan Senja, meskipun hanya terlihat dari belakang. Lagipula Bella juga menunjukkan foto saat ia berselfie bareng Senja dan Bik Imah.
"Laki-laki lain? Teman Senja? Siapa?" Reyhan bertanya di dalam hatinya, tangannya sibuk mengerjakan berkas-berkas, namun hati dan pikirannya sedang memikirkan Senja.
"Teruslah berpikir Kak, aku senang melihatmu seperti itu, dan kamu Senja, kamu akan segera diceraikan Kak Reyhan." Bella tersenyum sinis menatap Reyhan yang begitu fokus menatap foto di layar ponselnya.
"Bukan maksud apa-apa Kak, aku hanya sedang senang saja karena bisa ngobrol bareng sama Senja, makanya aku cerita sama Kak Reyhan." ucap Bella dengan tersenyum.
"Kamu langsung temui HRD saja Bel, saya sedang banyak kerjaan jadi sangat sibuk." Reyhan langusng menekan tombol telepon yang langsung tersambung pada Beni.
"Temui Beni di depan ruangan saya." ucap Reyhan.
"Iya Kak, sekali lagi terimakasih Kak." Bella kemudian keluar dengan perasaan bahagia.
Ia bisa melihat mood Reyhan seketika memburuk ketika mendengar bahwa Senja sedang mengobrol dengan laki-laki lain, dan parahnya obrolan mereka begitu akrab, sampai membuat Senja ikut pergi bersama laki-laki itu.