Better Days

Better Days
Bagaimana Masa Lalu Senja



Berat, tapi mau bagimana lagi, Senja sudah membulatkan tekadnya untuk mengatakan semua pada Reyhan. Lagipula bukankah sejak kecil nasibnya memang tidak selalu baik. Memiliki keluarga yang lengkap tapi tidak utuh. Orang tua yang saling memusuhi dan berimbas pada anak-anaknya. Menjadi penampung beban kedua orang tuanya, dan berusaha tegar meskipun sakit menyayat hatinya.


Pantaskah ia mengeluh? Jelas tidak, sesulit apapun hidup tetap tidak boleh membuatnya mengeluh, bahkan ketika rasa sakit itu semakin dalam setelah malam itu. Ada harapan besar ketika ia memilih menerima lamaran Mama Mira dan Reyhan, rasanya seperti memiliki keluarga baru yang mengerti dan menghargai kehadirannya. Keluarga yang peduli dan menyayanginya.


Namun sayang, kebahagian itu lagi-lagi harus menghilang ketika ia menyadari kebohongannya harus terungkap, dan senyumnya tidak lagi bisa lagi menutupi semuanya. Ia harus jujur dan menerima resiko atas rasa sakit yang sudah ia tahan selama ini, dan mungkin kali ini akan menjadi lebih sakit. Senja hanya bisa menahan rasa kecewa dan sakitnya pada Tuhan.


"Ya Allah, apa aku tidak berhak bahagia seperti kebanyakan orang di luar sana?" gumamnya menatap langit yang penuh bintang. Merasakan kepedihan dan keinginannya.


"Astaghfirullah, bahkan semua yang ada pada diri hamba adalah karunia-Mu, ampuni aku Ya Allah, aku hanya ingin tahu rasanya bahagia."


Rasa nyaman yang berubah menjadi cinta pada Reyhan pertama kali ia rasakan pada lawan jenisnya. Tak pernah ia rasakan sebelumnya bagimana debaran dan gugupnya ketika bersentuhan dengan lawan jenis. Cintanya pada Reyhan membawanya pada ketakutan jika akhirnya berujung pada perpisahan, meskipun cinta pertama ini yang ia harapkan akan menjadi cita terakhir baginya.


"Ya Allah... aku hanya ingin bahagia, hidup bersama orang yang aku cintai, Mas Reyhan. Andai aku katakan kejujuranku apa dia akan menerimanya? Aku takut dia membenciku karena membohonginya, mencelaku, kemudian mengusirku dan mengakhiri pernikahan ini."


Senja kembali kehilangan kepercayaan dalam dirinya. Ia memilih untuk menikmati saat-saat bahagia bersama Reyhan sebelum semuanya berakhir.


Ia ingin berbagi suka duka kehidupannya pada Reyhan, seperti kebanyakan pasangan lainnya yang berada di dalam kisah dongeng. Namun ketika ia membayangkan sesuatu yang membuatnya bahagia, kenyataan kembali merenggut ketidakpercayaan dalam dirinya. Ia ingat jika Reyhan selalu merasakan kebahagiaan dalam hidupnya, dibuktikan dengan cara Mama Mira dan Papa Alex menyayanginya yang notabene bukan anak kandungnya. Jadi bagaimana bisa Senja membagikan dukanya pada Reyhan.


"Apa yang kamu harapkan Senja, Mas Reyhan pasti akan segera menceraikanmu, dan kembali mengejar gadis yang dia cintai. Meskipun kami kembali dipertemukan oleh takdir." Senja menyeka air matanya, kembali tersenyum dan menetralkan ekspresi wajahnya ketika melihat Mama Mira, Papa Alex dan Reyhan kembali pulang setelah melaksanakan shalat tarawih berjamaah di masjid.


Senja kembali masuk ke dalam kamar, memoleskan sedikit bedak agar tidak terlihat jika habis menangis. Dia berdiri di depan pintu kamar menyambut kedatangan Reyhan.


Reyhan tersenyum saat membuka pintu ketika wajah manis penuh senyuman dari Senja menyambutnya. Ia langsung memeluk Senja dan mengecup keningnya.


"Mau kopi atau teh Mas?" tanya Senja, keduanya berjalan menuju sofa, kemudian duduk berdampingan.


"Teh saja." ucap Reyhan.


"Biar Senja buatkan dulu." Senja bangkit dan segera membuatkan segelas teh hangat untuk Reyhan.


Selang beberapa menit Senja sudah kembali dengan segelas teh hangat di tangannya.


"Ini Mas." Ia meletakkannya di meja.


Reyhan mengambilnya dan meminumnya. "Enak, rasanya pas." ucap Reyhan memuji teh buatan Senja.


"Mas." panggil Senja menatap Reyhan.


"Iya." Reyhan mengalihkan pandangannya menatap Senja dengan tersenyum.


"Sesuai janji saya, akan saya ceritakan mengenai kebohongan dan masa lalu saya." ucap Senja dengan satu tarikan napas.


"Juga dengan identitas laki-laki yang pernah datang ke rumah, karena saya tahu Mang Ujang pasti sudah memberitahukannya pada Mas Reyhan." lanjutnya.


"Kalau saya katakan saya tidak mau mendengarnya bagaimana?" tanya Reyhan.


Senja menatapnya dengan bingung. "Mas harus mendengarnya, saya sudah siap dengan semua resikonya." Senja tersenyum menatap Reyhan


"Karena saya terlalu biasa untuk merasakannya." Dan ini hanya kalimat yang mampu ia ucapkan di dalam hatinya.


"Sebentar." Reyhan berdiri dan berjalan menuju tas kerjanya, ia mengambil sebuah amplop coklat, kemudian meletakkannya di atas meja, di hadapan Senja.


"Saya tidak memaksa kamu untuk menceritakan tentang masa lalu kamu, atau tentang laki-laki tempo hari. Hanya saja, sebagai seorang istri, meskipun itu sebuah kejujuran yang pahit, harus kamu katakan kepada saya. Karena dalam pernikahan, kejujuran menjadi salah satu pondasi keutuhan rumah tangga." ucap Reyhan dengan serius.


Senja mengangguk paham, ia setuju dengan apa yang dikatakan Reyhan, tapi kejujuran yang akan ia katakan bisa berakibat fatal bagi pernikahannya.


"Setelah ini, aku ikhlas dengan semua keputusan yang Mas berikan." ucap Senja dengan tersenyum.


Apa lagi yang bisa ia tunjukkan selain tersenyum pada semua orang.


"Kejadian ini sudah hampir 2 tahun berlalu, namun masih tidak bisa untuk saya lupakan. Seandainya kejadian ini terjadi saat saya masih kecil, mungkin rasanya tidak akan sesakit ini, dan mungkin ingatan masa kecil itu bisa hilang dengan seiring waktu. Tapi berbeda ketika saya yang sudah dewasa mengalami hal itu, masih sangat jelas membekas di dalam ingatan saya." ucap Senja sebagai permulaan dalam kejujurannya.


"Saya tidak minta dikasihani Mas, jadi jangan kasihani saya saat kejujuran ini terkuak. Sejujurnya saya bukan wanita suci atau wanita baik seperti yang kalian semua lihat selama ini." Reyhan menautkan kedua alisnya mendengar sepenggal ucapan Senja yang belum usai.


"Saat itu pukul sepuluh malam, Bunda memiliki pesanan kue untuk di antar ke suatu desa, yang terletak di perbatasan hutan, lebih tepatnya hutan mangrove. Karena saya tidak bisa menggunakan motor, saya memesan goes car untuk mengantar pesanan. Pukul delapan malam saya sampai di lokasi, mengantar pesanan di tempat hajatan dengan jalan kaki, melewati jalan setapak. Saat itu jalanan masih sangat ramai karena masih jam nya anak muda untuk nongkrong, hanya saja, ketika jam sepuluh malam, desa itu tiba-tiba berubah menjadi sangat sepi. Ada kekhawatiran saat itu, namun tetap saya beranikan diri untuk menyusuri jalan setapak itu, karena goes car yang saya pesan tidak bisa masuk ke dalam gang jalan setapak itu. Hingga saya menyadari bahwa di hadapan saya saat itu sudah berdiri tiga orang laki-laki yang siap melakukan hal keji pada saya."


Reyhan diam membisu, tidak percaya jika kejujuran yang ia dengar akan sepahit ini.


Senja tersenyum getir dalam diamnya, ia masih tidak menatap Reyhan, takut jika menatapnya akan membuat air mata yang ia redam mengalir tanpa ampun, karena pada dasarnya, menangis di depan orang yang dicintai begitu sakit.


"Seperti yang bisa Mas pikirkan, saya berlari dan berteriak meminta tolong, berharap ada seseorang yang membantu saya, tapi nyatanya, teriakan saya seakan tertelan kesunyian malam, tidak ada ada yang mendengar atau menolong saya. Saya putuskan untuk berlari, hingga masuk ke dalam hutan mereka masih mengejar, bahkan menjadi lebih menakutkan. Mereka berhasil menangkap saya, membius saya, dan membawa saya entah kemana, dan di tempat itu semuanya terjadi."


Senja menarik napas dalam-dalam, air mata yang ia tahan tak kuasa untuk tidak mengalir. Hingga membasahi gamis biru yang ia kenakan. Reyhan melihatnya namun hanya diam.


"Jika Mas bertanya kenapa saya tidak berusaha untuk kabur, maka jawabannya karena kaki dan tangan saya diikat di setiap sisi ranjang. Satu orang bertugas mengambil kehormatan saya, dan dua lainnya menjaga pintu di luar, dan di sanalah semuanya bermula." Senja menarik napas lagi. "Maaf saya tidak mampu menjelaskan keseluruhan, namun satu yang bisa Mas simpulkan, saya bukanlah seorang gadis, saya hanya perempuan kotor yang tidak bisa menjaga diri saya sendiri." ucap Senja dengan menyeka air matanya.


"Kenapa saya bisa keluar dari tempat itu, karena laki-laki itu melepaskan ikatan di tangan kanan saya, hingga saya mampu melepaskan ikatan di tangan kiri dan kedua kaki saya. Saya berusaha untuk kabur ketika mereka bertiga tangah tertidur. Saya pulang ke kosan, tidak berani pulang ke rumah, saya menelepon Bunda, mengatakan jika ada tugas yang harus saya kerjakan." ucap Senja.


"Dan laki-laki yang sudah merenggutnya, adalah laki-laki yang waktu itu datang ke rumah. Saya tidak tahu namanya, siapa dia pun saya tidak tahu Mas, saya juga terkejut ketika laki-laki itu bisa datang ke rumah."


"Fino." desis Reyhan pelan, sangat pelan hingga Senja tidak mendengarnya. Ia mengepalkan tangannya menahan marah di dalam dirinya.


Sedangkan Senja hanya bisa menangis di hadapan Reyhan yang ia cintai, lelaki yang ikut menitikkan air mata melihat Senja mati-matian menahan tangis hingga tubuhnya bergetar.


"Tapi sungguh Mas, tidak ada maksud untuk menipu Mas Reyhan, saya hanya berpikir untuk menutupi aib yang saya miliki, bukankah seorang ulama pernah berkata bahwa 'jika kamu menikah maka tutup aibmu dari suamimu' karena Allah sudah menutupnya." Senja terus bicara dengan isakan yang ia tahan.


Kini Senja duduk di lantai, meraih tangan Reyhan dan menciumnya dengan linangan air mata yang tak kunjung surut.


"Rasanya lega Mas, kini Mas boleh melakukan apapun pada saya, saya ikhlas. Jika Mas meminta saya untuk pergi dari kehidupan Mas Reyhan akan saya lakukan, bahkan jika Mas Reyhan menikah lagi dan menjadikan saya sebagai seorang pembantu saya juga ikhlas, anggap saja ini hukuman yang pantas saya terima." ucap Senja masih tetap menundukkan kepalanya, takut menatap Reyhan.


Reyhan menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Senja. Ia merengkuh Senja, membawanya ke dalam pelukannya, memeluk Senja hingga suara tangis Senja pecah dan begitu menyakitkan bagi Reyhan. Tubuh terguncang menandakan rasa sakit yang dalam. Merasa sakit melihatnya, ia tidak bisa menyalahkannya atau bahkan mencela Senja, karena ini bukan kesalahan Senja, ia hanya korban di sini, yang harus mendapat hukuman ialah Fino, laki-laki brengsek yang telah berbuat keji padanya.


"Saya bukan istri yang baik Mas, maafkan saya." ucap Senja melepaskan pelukannya pada Reyhan.


"Siapa yang bilang hm? Saya memaafkan kamu, saya akan menutup aibmu, sebagimana seorang istri yang menutupi kekurangan suami, begitu juga dengan saya. Saya katakan pada kamu, saya ikhlas menerimanya Senja. Toh kamu tidak dengan sengaja menodai diri kamu Senja." ucap Reyhan.


"Mas tahu laki-laki itu telah menjamah tubuh saya, saya bukan perempuan baik-baik Mas, bahkan seseorang mengatakan saya wanita murahan." ucap Senja pelan. Ia masih tidak merasa percaya diri meskipun Reyhan berkata ikhlas.


Reyhan memejamkan matanya menahan rasa marahnya, bukan untuk Senja, tapi untuk Fino, rasa marahnya semakin bertambah ketika mengetahui bahwa Fino telah datang ke rumahnya dan membuat Senja mengingat masa lalunya itu.


"Akan saya hapus semua jejak laki-laki itu Senja. Saya menerima masa lalu kamu, karena saya tahu kamu perempuan terbaik yang dikirim Allah untuk saya. Tak ada perempuan manapun di dunia ini yang mau sesuatu dalam dirinya di renggut paksa. Saya menikahi kamu karena akhlak kamu, karena kepribadianmu, bukan karena kamu masih perawan atau tidak." ucap Reyhan.


"Apa Mas tidak jijik ketika melihat saya?" tanya Senja lagi.


"Kenapa saya harus jijik? Justru saya ingin menjaga kamu, memperlakukan kamu dengan istimewa. Keperawanan adalah izzah dan menjaganya adalah iffah. Kehormatan wanita itu sendiri adalah akhlak, memiliki rasa malu, ketika seorang wanita memiliki rasa malu maka dirinya akan takut melakukan hal yang bisa menghilangkan iffah mereka. Dan semua yang terjadi pada kamu bukan karena kamu telah kehilangan kehormatanmu, ingat itu! Saya katakan kepadamu Senja, saya menerima kamu, menerima masa lalu kamu, dan menerima kekuranganmu, karena saya juga jauh dari kata sempurna untuk mencela kamu." jelas Reyhan membuat Senja tersentuh, dan semakin terisak mendengarnya.


"Terimakasih Mas." isak Senja, ia kembali berhambur ke pelukan Reyhan.


"Tapi sungguh Mas, jika Mas ingin menikah lagi saya ikhlas, atau jika Mas ingin menceraikan saya, saya juga ikhlas." ucap Senja.


"Apa sih... tidak pernah terpikir oleh saya untuk melakukan poligami Senja." Reyhan terkekeh dengan memeluk Senja. "Satu istri saja saya lemah apalagi dua, tanggungjawabnya tidak semudah yang terlihat, cukup kamu saja, tidak mau yang lain." ucap Reyhan mencium kedua mata Senja yang bengkak karena menangis.


"Mata kamu bengkak, nanti Mama memarahi saya, karena telah membuat kamu menangis." ucap Reyhan dengan suara lucu.


Senja memukul pelan dada bidang suaminya, ia terkekeh malu mendengarnya sembari membayangkan wajah lucu Mama Mira ketika marah. Sementara Reyhan kembali tertawa.


Ia masih tidak menyangka jika kebenaran di balik kejujuran Senja begitu sangat menyakitkan. Mengingat senyum manis Senja yang selama ini ditampilkan hanya sebuah topeng. Ia semakin yakin bahwa pilihan sang Mama memang tidak pernah salah. Jodoh yang didatangkan untuknya adalah bidadari surga yang sangat istimewa. Dan soal Fino ia berjanji akan membalaskan semuanya.


*


*


*


Thanks to Reading ...