
Suara adzan maghrib berkumandang. Sebagian anak-anak panitia yang belum pulang ikut melaksanakan shalat berjamaah di masjid, bersama pak Agung, pak Tio, pak Herman dan Reyhan, termasuk juga Fara. Sedangkan Senja tidak ikut melaksanakan dikarenakan tamu bulanannya.
"Mau makan bareng?" tanya Pak Agung pada anak-anak panitia, setelah selesai melaksanakan shalat berjamaah.
"Tenang, untuk urusan makan malam ini Bapak traktir kalian semua." lanjut Pak Agung dengan diiringi anggukan dan sorakan kegembiraan anak-anak karena akan makan gratis.
Waktu menunjukkan pukul 19:00 WIB, makanan yang dipesan pak Agung lewat goes food sudah tiba sejak beberapa menit yang lalu. Dan tersaji rapi di atas lantai. Kini mereka akan makan dengan lesehan, karena memang tidak ada meja di ruang auditorium.
Reyhan hanya diam sedari tadi, tak berniat untuk mengobrol atau berinteraksi lebih dengan orang-orang disekitarnya.
"Silakan-silakan." Pak Agung mempersilakan semuanya untuk menyantap makanan yang telah dipesan.
Reyhan merogoh saku jas miliknya, mencari sesuatu.
"Dimana? Bukannya sudah ku masukkan?" gumamnya bertanya pada diri sendiri.
"Nyari apa Pak?" tanya mahasiswa di sampingnya.
"Handphone saya tidak ada." jawab Reyhan.
"Mungkin masih tertinggal di dalam gedung tempat seminar tadi Pak." ucap mahasiswa itu, membuat Reyhan mengangguk.
"Assalamu'alaikum." sapa dua mahasiswa yang baru saja masuk.
"Wa'alaikumsalam." jawab semuanya serentak.
"Dari mana saja kalian?" tanya Pak Agung.
"Maaf Pak, tadi kami habis mengunci gedung serba guna." jawabnya.
"Apa kalian menemukan handphone saya sebelum mengunci pintunya?" tanya Reyhan.
"Handphone?" mereka berdua saling menatap, sebelum menggelengkan kepala bersamaan.
"Kami tidak sampai memeriksa ke dalam Pak, soalnya di luar hujan deras, dan mati lampu, jadi kami langsung menguncinya." jawabnya dengan jelas.
"Benar Pak, karena disini ada lampu emergensi, jadi buru-buru kami ke sini Pak." sahut mahasiswa satu lagi.
"Boleh saya pinjam kuncinya, saya mau periksa gedung tersebut, barangkali handphone saya memang tertinggal." ucap Reyhan.
"Boleh Pak, ini kuncinya." Mahasiwa itu menyerahkan kunci gedung pada Reyhan.
"Kalian temani Pak Reyhan." ucap Pak Agung memberikan perintah pada mahasiwanya.
"Tidak usah Pak Agung, biar saya sendiri, kasihan jika harus menunda makan hanya karena masalah kecil seperti ini." tolak Reyhan.
Pak Agung mengangguk paham, ia mengiyakan ucapan Reyhan.
Reyhan keluar dengan segera, ia baru memasukkan beberapa suap nasi. Kaki jenjangnya menuju gedung tempat seminar tadi dilaksanakan. Dengan penerangan yang seadanya ia melangkahkan kaki menuju gedung tersebut.
"Gelap sekali, mana hujan lagi." gerutu Reyhan.
***
Senja memundurkan langkahnya dengan meraba-raba sekitarnya. Tangannya menyentuh benda-benda sekitar, berharap bisa segera menemukan dinding agar bisa menuntunnya menuju pintu keluar.
Gelap gulita tanpa sedikutpun penerangan. Bodohnya ia meninggalkan handphonenya di dalam tas Fara, jadi ia tidak bisa menggunakan senter untuk menerangi kesendiriannya.
BRAK!
Suara benda jatuh dengan sangat keras. Senja menegang dibuatnya.
"Siapa disana? Ada orang disana?" Senja bertanya dengan berteriak, namun sepertinya lagi-lagi suara Senja tenggelam dengan derasnya air hujan.
Dinginnya udara malam yang menyentuh kulit Senja membuat Senja merinding. Kilasan ingatan-ingatan kelam itu kembali mengganggunya.
Senja terduduk lemas di lantai, tubuhnya bergetar menahan ketakutan. Air matanya lolos keluar tanpa diminta.
"Pergi! Pergi!" teriak Senja dengan keras. Ia menggelangkan kepala dengan tangan yang menutup kedua telinganya.
"Jangan ganggu saya lagi! Jangan sentuh saya!"
Ia menelungkupkan kepalanya, tangannya memeluk lututnya. "Pergi, saya mohon pergi, jangan ganggu saya lagi." ucapnya dengan suara parau. Isak tangis masih terdengar darinya.
***
"Akhirnya kebuka juga." ucap Reyhan setelah beberapa kali percobaan.
Reyhan memasuki gedung tanpa penerangan tersebut. Ia mengingat-ngingat kira-kira dimana letak posisi dia duduk tadi. Setelah mengingatnya, dengan langkah pasti Reyhan berjalan menuju tempat tersebut.
Tapi tak sengaja kakinya menabrak sesuatu yang menyebabkan dentuman suara yang keras. Reyhan terperanjat kaget mendengarnya, ia menghela napas pelan sambil mengusap dadanya.
"Setidaknya berikan satu lampu emergensi disini." keluhnya dengan tetap berjalan dan meraba sekitarnya.
Masih tetap berjalan, terkadang Reyhan masih suka menabrak kursi-kursi atau benda-benda lainnya.
"Ini tempatnya." monolognya sambil meraba meja tempat ia meletakkan handphone tadi..
"Alhamdulillah ketemu." Reyhan mengucap syukur setelah berhasil menemukan benda pipih yang dicarinya.
Setelah menemukan handphone miliknya, Reyhan segera menghidupkan senter, ia akan segera keluar dari gedung itu sebelum hari semakin malam. Namun langkahnya terhenti kala mendengar suara orang menangis.
"Sebaiknya aku segera pergi, sebelum sesuatu terjadi." gumamnya dengan melangkahkan kaki lebih cepat.
Namun langkahnya lagi-lagi berhenti. Ia seperti menajamkan pendengarannya untuk memastikan sesuatu.
"Itu bukan suara hantu, tapi manusia." Reyhan langsung mencari sumber suara yang mengganggunya.
Reyhan berjalan mengelilingi gedung yang tak begitu luas itu. Bahkan ia sampai mencari di celah-celah kursi agar ketemu dimana sumber suara itu.
"Sudah ku jelajahi tapi masih tidak ketemu." gumamnya dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru gedung. Hingga tatapannya terhenti pada satu pintu yang belum ia buka.
"Apa dari sana asalnya?"
Tanpa menunggu lama, Reyhan segera melangkahkan kaki mendekat, dan segera membuka pintu tersebut. Benar dugaan Reyhan, suara yang ia cari semakin terdengar jelas.
"Pergi! Jangan ganggu saya, pergi!" Senja masih berteriak, apalagi setelah mendengar suara pintu terbuka, disertai langkah kaki seseorang yang semakin mendekat.
Suara tangisnya semakin tidak bisa dihentikan, tubuhnya pun bergetar lebih hebat dari sebelumnya. Ketakutannya kini semakin menjadi setelah mendengar suara laki-laki yang semakin mendekat.
"Siapa di dalam?" Reyhan bertanya sambil berjalan mendekat ke tempat Senja berada.
"Jangan mendekat!" teriak Senja. "Pergi! Jangan ganggu saya!"
Reyhan mengerutkan keningnya, ia melihat Senja yang sedang berjongkok dan menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya. Suara tangisan Senja terdengar ditelinga Reyhan, ditambah tubuh Senja yang bergetar karena takut membuat Reyhan iba melihatnya.
Reyhan menyentuh lengan Senja, namun hal tak terduga terjadi. Senja berdiri dan beringsut menjauh dari Reyhan, terkejut seseorang menyentuhnya.
Kembali Senja berteriak histeris, ia meraih sesuatu, benda keras nan panjang yang ia arahkan ke Reyhan. Lampu senter yang tidak begitu terang, membuat Senja tidak mengetahui bahwa Reyhan lah yang tengah ia todong saat ini.
"Hei jauhkan benda itu, saya tidak berniat melakukan kejahatan kepadamu." ucap Reyhan dengan suara keras, agar Senja bisa mendengarnya di tengah kerasnya suara hujan.
Senja masih waspada, ia pun masih menodongkan sesuatu pada Reyhan.
"Saya Reyhan, pemateri seminar tadi siang." ucap Reyhan kembali dengan suara lebih keras.
Senja terdiam mendengarnya.
"Jangan bohong, saya tahu kamu orang jahat, pergi atau saya akan melakukan hal gila untuk membela diri saya sendiri." ucap Senja dengan suara lebih keras.
"Saya tidak berbohong, saya Reyhan, Reyhan." ucapanya kembali menyakinkan Senja.
Senja tetap tak bergeming, ia masih setia dengan posisinya.
"Baiklah jika kamu tidak percaya, saya bisa tinggalkan kamu sendirian disini, bisa jadi setelah ini akan benar-benar ada orang yang berniat jahat padamu." ucap Reyhan lagi.
"Sekali lagi saya katakan, saya Reyhan, saya tidak ada niatan jahat apapun kepada kamu, saya ke sini hanya untuk mengambil handphone saya yang tertinggal." ucapnya mencoba meyakinkan Senja.
"Kalau kamu percaya saya, ayo ikut saya, kita keluar dari gedung ini, hari semakin larut, apa kamu mau menginap sendirian di sini?" tanya Reyhan dengan menatap lekat Senja yang mencerna ucapan Reyhan.
"Masih tidak percaya? Yasudah saya akan tinggalkan kamu disini, lagian saya mau segera pulang, istirahat." ucap Reyhan dengan menbalikkan tubuhnya meninggalkan Senja sendirian.
"Eh tu-tunggu." Senja berlari mengejar Reyhan, menjatuhkan benda yang ia gunakan untuk menodong Reyhan tadi.
"Sa-saya ikut, saya takut disini." lirihnya, bahkan mungkin tidak terdengar oleh Reyhan.
Reyhan melirik Senja yang berada di sampingnya.
"Tadi dia menangis, berteriak, dan tubuhnya bergetar seperti menahan ketakutan, apa sebegitu takutnya di dalam kegelapan?" pikirnya sambil melirik Senja.
Mereka berjalan sampai di parkiran kampus. Tanpa adanya pembicaraan lebih lanjut. Reyhan yang enggan bertanya, dan Senja yang masih ketakutan tak berniat mengajak Reyhan mengobrol.
"Kamu pulang dengan siapa?" tanya Reyhan.
Senja diam tak menjawab pertanyaan Reyhan. Ia sendiri pun bingung mau pulang dengan siapa. Malam semakin larut, tidak mungkin Fara belum pulang. Itulah yang sedang ia pikirkan. Sementara, jika ia pulang sendirian, ia begitu takut, kilasan-kilasan memori tak menyenangkan itu kembali menguasai pikirannya.
Melihat Senja yang hanya diam saja, membuat Reyhan yakin jika Senja tidak berani pulang sendirian, atau tidak tahu pulang dengan siapa.
Reyhan berjalan mendekati mobilnya, dan membuka pintu mobil miliknya, kemudian memanggil Senja yang tengah melamun.
"Hei kamu." panggil Reyhan. Senja masih tidak fokus. Melihat itu Reyhan menghembuskan napasnya dengan kasar, kemudian berjalan mendekati Senja.
"Mau sampai kapan berdiri di sini?" tanya Reyhan dengan suara keras.
Senja menoleh, menatap dengan raut wajah bingung.
"Bapak bicara dengan saya?" tanya Senja.
"Masuk ke dalam mobil saya." ucapnya dengan siara datar.
"Huh?"
"Saya tahu, kamu tidak tahu mau pulang dengan siapa, jadi sebelum saya menarik kata-kata saya, sebaiknya kamu cepat masuk ke dalam mobil saya." ucap Reyhan dengan suara yang tetap datar. Bahkan wajahnya oun tidak ada senyum sama sekali.
"Ba-baik Pak." Senja langsung memasuki mobil Reyhan, dan menutup pintunya.
"Tunggu di sini, saya mau antar kunci gedung ini, jangan kemana-mana jika tidak ingin bertemu orang jahat di luar sana." ucap Reyhan, sembari membubuhi dengan kata-kata yang membuat Senja takut untuk keluar dari mobil.
"I-iya Pak."