
Reyhan terduduk di lantai dengan tangan yang terkepal.
"Mengapa sampai bertindak sendirian Sayang." lirihnya.
Ia mengusap wajahnya dan memukul dinding menggunakan tangannya yang terkepal.
Keputusan sepihak Senja menjadi pukulan telak bagi Reyhan. Apa ia selemah itu hingga Senja memilih untuk menyelesaikannya sendiri? Atau apa ia tidak ada artinya bagi Senja, hingga Senja mampu untuk pergi meninggalkannya bersama Fino.
Reyhan kembali membaca surat yang ditinggalkan Senja untuknya. Ia terdiam ketika membaca kalimat terakhir yang Senja tulis. Nama panjang Senja yang selama ini tidak ia pedulikan, karena pernikahan yang mendadak mmebuatnya tidak begitu memperdulikan siapa Senja.
"Senja Maura Tsalsabila." terus menerus Reyhan mengulang nama tersebut. Hingga matanya terpejam dan ingatannya melayang pada berkas cv ta'aruf milik gadis yang ia cari selama ini.
Dengan membawa kertas pesan Senja, Reyhan berlari menuju ruang kerjanya. Ia membuka pintu dengan cepat dan terburu-buru. Memeriksa semua berkas yang berada di ruang kerjanya.
Semua berserakan, tak bisa lagi membedakan mana yang penting dan mana yang tak penting. pikiran Reyhan saat ini hanyalah menemukan berkas cv ta'aruf milik gadis bernama Maura yang ia cari selama ini.
"Ketemu!" serunya.
Reyhan langsung membuka cv tersebut, ia melihat nama yang sulit terbaca di luar map.
"Senja, dia, dia Maura...Ya Allah." Reyhan luluh di lantai, ia menangis membacanya.
***
"Jadi benar Ustadz?" tanya Reyhan.
"Kamu baru tahu Rey?" tanya balik Ustadz Reyhan, sambil membaca berkas cv ta'aruf milik Senja atau Maura.
Reyhan mengangguk mengiyakan. Dapat Ustadz Kamil lihat sisa-sisa air mata yang masih membekas di kedua mata Reyhan.
Setelah mengetahui fakta yang selama ini ia cari, Reyhan segera pergi menemui Ustadz Kamil untuk memastikan semuanya.
"Senja memang Maura, gadis yang dulu pernah melakukan proses ta'aruf denganmu, namun karena sesuatu hal yang saya dan istri saya tidak ketahui dia meminta dan memohon untuk menghentikan proses tersebut. Itulah sebabnya, 2 tahun yang lalu saya menghubungi kamu untuk memberitahukan semuanya. Kecuali data diri Senja, karena dia menolaknya."
Reyhan terdiam mendengarnya, ia ingat ketika Senja menceritakan masa lalunya. Semuanya seolah berputar di dalam kepalanya. Bagaimana ia mencari gadis bernama Maura, kemudian ia dipertemukan oleh Senja dalam proyek seminar kampus, dan akhirnya menikah tanpa cinta hingga cinta itu datang dengan sendirinya.
Kini ia tahu apa penyebab Senja memutuskan proses ta'aruf sepihak saat itu. Karena Senja mengalami hal yang membuatnya terpuruk, sakit, trauma, dan merasa kehilangan kepercayaan dirinya. Merasa hina dan tak pantas untuk melanjutkan proses ta'aruf bersama Reyhan dulu.
"Kami tidak bisa menjanjikan apapun ketika kamu meminta kami untuk memberitahukan identitas asli Maura karena permintaan Senja yang tidak menginginkan itu. Hingga takdir Allah jauh lebih baik, kalian kembali dipertemukan, bahkan dalam ikatan yang lebih baik, yaitu pernikahan."
"Saya kira dengan adanya pernikahan kalian, kalian sudah saling mengenal dan mengetahui masa lalu masing-masing, terutama tentang proses ta'aruf itu."
Ustadz Kamil tersenyum menjelaskan semuanya.
"Saya yang terlalu bodoh Ustadz, bahkan nama lengkap Senja baru saya ketahui hari ini." ucap Reyhan dengan tersenyum miris.
"Padahal ketika ijab kabul aku menyebut namanya dengan pasti dan tak ada keraguan sedikutpun, tapi aku tidak menyadarinya." batin Reyhan, mengingat moment pernikahannya dengan Senja.
"Temui Senja, dan katakan semuanya, ini adalah hal baik yang harus kalian ketahui." ucap Ustadz Kamil.
"Iya Ustadz, terimakasih, saya pamit dulu Ustadz, assalamu'alaikum." Reyhan berpamitan pada Ustadz Kamil.
"Wa'alaikumsalam."
***
"Hey Bro, kok gak kasih kabar dulu kalau mau ke sini." ucap Riko menyambut kedatangan Reyhan di perusahaannya.
Reyhan langsung mendudukkan dirinya di sofa.
"Kenapa kusut tuh muka?" tanya Riko.
"Gampang ini." Riko membacanya dengan seksama. "Emang ini mobil siapa Rey?" tanyanya.
"Seseorang Rik, udah pokoknya cari keberadaan mobil itu saat ini juga." Riko mengangguk dengan cemberut, ia kemudian mulai melacak keberadaan mobil tersebut.
"Gimana?" tanya Reyhan setelah beberapa menit kemudian.
"Ini, ketemu!" seru Riko.
"Kirim lokasinya ke nomor aku." Reyhan langsung bangkit untuk menuju lokasi mobil tersebut.
"Mau kemana?" tanya Riko.
"Ke lokasi mobil itu." jawab Reyhan dengan tetap berjalan.
"Ikut." Riko berlari mengejar Reyhan.
Akhirnya Riko ikut Reyhan menuju keberadaan mobil tersebut.
Sementara itu mobil yang membawa Senja sudah sampai pada lokasi tujuan. Fino segera turun untuk membuka pintu mobil untuk Senja.
"Silakan Baby." ucap Fino dengan tersenyum.
Senja hanya diam dengan wajah datarnya, sungguh jika bisa ia ingin lari saat ini. Senja menatap sekeliling, melihat rumah di depannya, juga melihat lingkungan di sekitarnya. Nampak seperti perumahan elit, bukan tempat dimana ia dulu pernah diperko**.
"Ini rumah baru untuk kita." ucap Fino dengan tersenyum menatap Senja yang tengah sibuk melihat sekeliling.
Ukuran rumah yang lebih kecil dari milik Reyhan, namun cukup besar kalau hanya dihuni satu keluarga. Berwarna putih, dengan pagar tinggi yang sepertinya mengelilingi rumah ini. Begitulah yang Senja lihat.
Senja diam mendengarnya, ia sangat risih mendengar semua ucapan-ucapan manis dari Fino. Mau selembut ataupun semanis apapun Fino berbicara, tetap tidak akan pernah menghilangkan tabiat buruknya apalagi menghilangkan memori trauma dalam diri Senja.
Fino tetap mengajak Senja mengobrol, sekalipun Senja tidak pernah meresponnya, yang penting baginya Senja sudah berada bersamanya, dan ia berhasil memisahkannya dari Reyhan.
Senja memasuki rumah itu, ia disambut dengan senyum orang-orang yang tidak ia kenal. Mereka berpakaian seragam, untuk perempuan menggunakan baju putih dengan rok hitam dibawah lutut, sedangkan laki-lakinya menggunakan pakaian seperti seorang bodyguard.
Fino mulai memperkenalkan Senja pada semua pekerjanya. "Dia adalah Nyonya di rumah ini, hormati dia, jaga dan lindungi dia, tugas kalian adalah melayaninya, apapun yang ia minta kalian harus memenuhinya." ucap Fino.
"Baik Tuan." ucap mereka serentak.
"Ayo Baby aku antar ke kamar kamu." ucap Fino mengajak Senja.
Kamar dengan ukuran besar, nuansa putih, terlihat indah, namun ini adalah penjara bagi Senja.
"Di dalam lemari ini semua pakaian untuk kamu sudah siap." Fino membuka pintu lemari satu persatu.
Memperlihatkan banyaknya gamis dan baju potongan dengan lengan panjang juga rok panjang. Selain itu ada beberapa pakaian dalam disediakan untuk Senja.
"Aku cukup tahu selera kamu Baby, dan semua ukurannya, semoga ini pas untukmu." ucap Fino.
"Jika ada yang kamu butuhkan panggil saja para pelayan tadi." ucapnya lagi masih terus mengajak Senja mengobrol.
"Bisa tinggalkan saya sendiri? Saya butuh istirahat." ucap Senja dengan nada suara dingin tanpa menoleh sedikitpun pada Fino.
"Baiklah." Fino mengangguk paham, ia cukup mengerti Senja perlu istirahat karena tubuhnya pasti sangat lelah.
Sepeninggalan Fino, Senja mendudukkan dirinya di sisis ranjang, matanya terpejam sejenak dengan helaan napas berat.
"Ampuni hamba Ya Allah, ampuni dosa hamba yang pergi tanpa izin dari suami hamba, bahkan hamba pergi bersama laki-laki lain."
"Mas... aku rindu... maafkan aku Mas.... semoga Allah selalu melindungi cinta kita." gumamnya dengan tetesan air mata.