Better Days

Better Days
Perangkap



"Senang berbisnis dengan anda Tuan Felix." ucap Fino, ia menjabat tangan Felix dengan tersenyum senang. Siapa yang tak senang jika gadis yang ia jadikan barang lelangan terjual dengan harga yang sangat fantastis.


Riko hanya tersenyum dengan menjabat tangan Fino. Senyum di bibirnya hanya pemanis, sementara dalam hati ia sangat mengutuk Fino.


"Saya jamin dia mampu memuaskan Tuan Felix, apalagi dia masih perawan, tentu rasanya berbeda. Berbeda dengan wanita-wanita biasanya. Tian Felix pasti paham." ucap Fino dengan nada sensual, ia bahkan tertawa tanpa beban, nampaknya hal seperti itu bukan yang tabu di hidupnya.


"Bajingan! Masyarakat sampah! Dia pikir lucu menjadikan harga diri manusia sebagai ajang jual beli." Riko menggeram tertahan, ia masih mempertahankan senyum manisnya, seolah-olah ia adalah orang yang suka bermain dengan wanita.


"Tentu, gadis itu pasti mampu membuat saya puas." ucap Riko dengan tersenyum miring.


"Hahaha." Fino tertawa senang. "Tuan Felix ini pasti seumuran dengan saya, nampaknya akan menjadi hal luar biasa jika kita mampu bekerja sama." lanjutnya dengan tersenyum pongah. Ia sangat meyakini bahkan Riko merupakan pengusaha dengan total kekayaan yang tidak main-main. Dibuktikan dengan Riko mampu membayar mahal gadis lelangan malam ini.


"Hm, bekerja sama dalam memasukkan laki-laki brengs*k kayak lo ke jeruji besi di penjara." batin Riko geram.


"Yah boleh, Tuan Fino bisa menghubungi asisten saya nanti." jawab Riko dengan tetap tersenyum.


"Baiklah saya pasti akan menghubungi asisten Tuan Felix. Oh iya Tuan, maaf, tapi saya baru pertama kali melihat Tuan dalam acara seperti ini." ucap Fino.


"Ini kali pertama saya mengikuti acara seperti ini. Saya tahu acara ini dari kenalan saya, dia bilang banyak barang-barang bagus di sini. Dan ternyata dia benar, saya bisa mendapatkan mainan baru disini." jawab Riko dengan tenang.


Fino tersenyum mengangguk. "Kalau begitu maukah Tuan saya ajak berkeliling, sekalian melihat barang-barang yang saya jual." ucap Fino menawarkan diri.


"Kesempatan yang bagus. Ikuti ajakan dia Riko, dan kabarkan kepada Tim khusus dimana lokasi dia menyimpan barang-barang miliknya." ucap Kombes Burneo melalui earbuds yang ia gunakan.


"Baiklah, boleh, saya mau melihat-lihat, siapa tahu ada barang yang saya sukai, dan mungkin ini bisa menjadi kesempatan kita untuk melakukan kerjasama." ucap Riko dengan senang hati.


***


"Baiklah semua Tim dengar instruksi dari saya. Pasukan segera mengambil posisinya masing-masing. Masuk dan ringkus semuanya. Sebelum keadaan kembali kondusif, baiknya menyerang sekarang." ucap Kombes Burneo


Mendapat perintah dari Kombes Burneo, semua tim pasukan segera melaksanakan tugasnya. Ketika semua orang tengah asik berpestas merayakan lancarnya acara, mereka tidak sadar jika ruangan yang mereka tempati saat ini telah dikepung. Bahkan beberapa orang telah dilumpuhkan, tinggal ketua-ketua dari kelompok masing-masing penjahat.


Mereka menikmati minuman dan obat-obatan terlarang dengan bebas, belum lagi ditemani dengan wanita-wanita penghibur yang selalu menempel pada mereka.


"Angkat tangan kalian!!"


"Jangan ada yang bergerak!!"


Suara jeritan para wanita-wanita penghibur menggema, mereka ketakutan sehingga berlindung di balik tubuh tuannya.


DOR!


"Aaakkhhh." terikan menggema ketika salah satu tim D-2 menembak lengan salah satu ketua penjahat yang mencoba mengambil pistol di atas meja.


Jeritan lagi-lagi terdengar.


"Jangan coba-coba melakukan tindakan yang merugikan diri kalian!"


"Ringkus mereka!"


Segera mereka memborgol tangan ketua-ketua penjahat tersebut.


DOR!


DOR!


DOR!


Pertarungan sengit tak terelakkan. Akibat tembakan tersebut tiga orang polisi mengalami luka di tembak di dadanya, dan berapa orang berhasil kabur, mereka berlari menuju pintu belakang. Keadaan yang tadinya kondusif malah menjadi berantakan.


Sementara itu, di ruangan lain, Riko dan beberapa tim khusus yang menyamar sebagai pengawal Riko kini Tenga mengikuti ajakan Fino untuk melihat-lihat barang yang dijual Fino.


"Kita sudah sampai." ucap Fino


"Ini dia salah satu barang yang kami jual juga Tuan Felix. Organ-organ dalam manusia, ada berbagai ukuran, dari anak-anak sampai dewasa." ucap Fino tersenyum bangga.


Riko menatap beberapa organ-organ tersebut, semuanya berada di dalam sebuah toples, berisikan sebuah cairan guna mempertahankan kesegaran dan fungsi organ tersebut. Belum lagi Fino meletakkannya jauh dari ruangan bawah tanah sebelumnya, di sini merupakan ruangan pendingin dengan kadar suhu ruangan di bawah rata-rata.Tidak banyak, hanya ada 5 toples yang Fino tunjukkan.


"Hanya ini Tuan Fino?" tanya Riko sambil berjalan untuk melihat-lihat.


"Untuk saat ini kami cuma punya stok 5 buah Tuan, dan ini semua cuma ginjal dan jantung. Namun untuk organ-organ lainnya, kami sudah memiliki cadangan manusia yang akan menjadi pendonor jika dibutuhkan." ucap Fino menjelaskan.


"Termasuk anak-anak?" tanya Riko.


Kamera kecil di kancing tim khusus merekam semua yang Fino ucapkan, tak terlewatkan sedikitpun. Bahkan seluruh pergerakan Fino terekam, ini bisa menjadi bukti kejahatan untuk memberatkan hukuman Fino.


"Iya, termasuk anak-anak, banyak orang di dunia ini yang membutuhkan organ-organ tubuh mereka dengan harga yang fantastis, ini ladang bisnis, selama bisa dimanfaatkan, kenapa tidak ya kan?" Fino berbicara sambil tertawa keras tanpa beban.


"Caranya?" tanya Riko.


"Oh..., sangat mudah, ini bukan rahasia lagi, tapi sudah menjadi kemampuan umum untuk orang-orang seperti kita ini. Kami mendirikan panti sosial dan panti asuhan. anak-anak ini kami dapatkan dengan cara menculik, atau mengajak anak-anak jalanan untuk masuk ke dalam panti asuhan. Saat ada pesnaan, baru kami eksekusi." ucap Fino menjelaskan semua detail tentang cara dia mendapatkan organ-organ tubuh manusia tersebut.


"Begitu juga orang dewasa?" tanya Riko lagi.


"Yah, caranya kurang lebih sama, tapi mereka jauh lebih bodoh, mereka sangat mudah ditipu." jawabnya dengan tersenyum.


"Bos ada polisi!" teriak anak buah Fino menghampiri Fino dengan berlari.


"APA?!"


***


Bella berhasil menemukan tempat persembunyian Senja. Dengan kasarnya ia membuka paksa penutup kotak tersebut, sehingga mampu membuat Senja berteriak ketakutan.


"Lepaskan Bella!" Bella tetap menarik kuat tangan Senja, dan tak mengindahkan ucapan Senja.


"Diam!" bentaknya dengan keras. "Kalau lo gak mau ikuti apa yang gue mau, lo akan melihat tubuh Bintang adik kesayangan lo dan Bunda lo itu mati mengenaskan." ancamnya membuat Senja langsung diam dan mengikuti kemana Bella menariknya pergi.


Reyhan, Geri dan Bimo kini harus berhadapan dengan para penjaga di rumah itu yang kian bertambah, karena sebelumnya Bella telah melihat kedatangan Reyhan dan Geri sehingga memanggil beberapa anak buah Fino untuk membantu melawan mereka.


"Rey, kamu masuklah, biar mereka urusan aku dan Bimo juga anak buahku, kamu fokus mencari Senja, dapatkan dia den bawa kembali dengan selamat." ucap Geri.


"Baik Kak."


Kembali ke situasi yang buruk, Bella mampu membuat Senja masuk ke dalam mobilnya. Mereka sebelumnya berjalan lewat samping, sedangkan posisi Reyhan dan Geri sudah berada di dalam rumah, sehingga tidak melihat Bella yang sudah membawa Senja pergi.


"Diam dan berhentilah menangis Senja! Mau sampai lo menangis darah sekalipun, gak ada yang mampu menyelamatkan lo." ucap Bella dengan sinisnya.


Bella lalu menunjukkan video Bunda Lusi yang tergesa-gesa ketika berada di bandara.


"Bunda." lirihnya menatap layar ponsel itu. "Jangan sentuh Bundaku Bella!" ucap Senja dengan wajah marah.


"Makanya, lo sebagai anak yang berbakti, cukup ikuti apa yang gue mau." ucap Bella sembari melajukan mobilnya meninggalkan rumah tersebut.


Beberapa jam yang lalu, Bella sengaja mengabari Bunda Lusi, memberikan video dimana Senja mengalami pelecehan, dan dimana Senja dengan sukarela mengikuti kemauan Fino untuk ikut bersamanya. Untuk apa? Yah untuk melemahkan Senja, lagipula urusannya dengan Bunda Lusi belumlah usai, ia juga ingin melihat wanita tua itu tersiksa karena melihat anak yang dia sayangi dan dia cintai mengalami hal-hal yang menyakitkan.


Hingga keputusan tiba-tiba dari Bunda dilakukan, yaitu mencari penerbangan tercepat di malam takbiran. Bisa tidak bisa Bunda memaksa, ia terkejut, syok, dan yang paling ia rasakan adalah rasa sakit yang hanya seorang ibu lah yang mampu merasakannya. Melihat wajah ketakutan, teriakan dan tangisan dari Senja, semakin membuatnya sakit pula. Ia memaksa untuk kembali ke menemui Senja, melihatnya putri sulungnya yang selalu diam dan tersenyum tanpa membagikan rasa sakitnya.


" Lo pasti terkejut bukan?" sinis Bella, menatap Senja yang berada di bagian belakang melalui kaca mobil.


"Kesalahan apa yang keluarga aku lakuin ke kamu Bella?" tanya Senja dengan suara pelan, nyatanya tubuhnya begitu lemas saat ini.


"Banyak, banyak banget, sampai-sampai gue maunya kalian mati, terutama lo dan Bunda kesayangan lo itu." Bella terdiam sejenak.


"Kehadiran Bunda lo, menjadi benalu dalam hubungan kedua orang tua gue, dan kehadiran lo, menjadi penghalang dalam rencana gue untuk mendapatkan Kak Reyhan. Gara-gara Bunda lo itu, orang tua gue pisah, dan gara-gara lo gue gak bisa miliki Kak Reyhan. Dan satu-satunya cara adalah dengan menghilangkan lo dari dunia ini. Dengan begitu semuanya akan kembali ke posisi semua. Kak Reyhan akan menjadi milik gue, dan Bunda lo akan merasakan sakit yang gue rasakan selama ini." ucap Bella tanpa rasa bersalah. Ia tertawa keras mengakhiri ucapannya.


Sementara Senja hanya mampu terdiam mendengarkan semua yang Bella ucapkan. Senja tidak menyangka hancurnya hubungan Bunda Lusi dan Ayah Bayu mengakibatkan hancurnya hubungan keluarga lainnya. Kedekatan Bunda Lusi dan Dokter Pram juga pernikahan Senja dan Reyhan semakin membuat Bella menaruh kebencian dan dendam yang dalam.


"Mari sudahi semua ini Bella." lirih Senja, menatap Bella melalui kaca mobil, mencoba mencari sisi hati nurani milik Bella.


"Cih!" Bella tersenyum sinis mendengarnya.


"Dendam gak akan menyelesaikan masalah Bel." ucapnya lagi.


"Dan kematian keluarga lo adalah penyelesaiannya, makanya dendam ini harus segera di tuntaskan." ucap Bella dengan tersenyum sinis.


Bella kemudian menambahkan kecepatan mobilnya, ia mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan. Menganggap remeh jalanan yang sepi karena waktu tengah malam.


"Astaghfirullah Bel, Bella jangan seperti ini Bel." teriak Senja. Tubuhnya terhempas ke arah samping akibat belokan yang tajam dengan kecepatan mobil Bella yang di atas rata-rata.


Sedangkan Bella hanya tertawa keras menanggapinya, ia seperti orang gila yang kesetanan. Bahkan kini ia tidak memikirkan dirinya sendiri apabila sampai terjadi kecelakaan.


Senja beringsut ke depan, ia mencoba menahan tubuhnya agar tidak kehilangan keseimbangan akibat mobil yang meliuk-liuk di jalanan. Dengan tangan yang masih terikat Senja berpindah tempat duduk menjadi di depan, tepat di samping Bella.


"Ada cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah ini Bel, hidup dalam lingkaran dendam tidak akan membuat hidup kamu bahagia." ucap Senja mencoba mengetuk hati Bella.


Bella tertawa keras, ia mengejek Senja di sela-sela tawanya. Bahkan masih tidak mengurangi kecepatan mobilnya. Tangannya begitu lihat mengendarai mobil kesayangannya.


"Lo kalau mau ceramah di masjid sana, gue gak mau dengar apapun dari mulut lo." bersamaan dengan itu pedal gas semakin diinjak oleh Bella, kecepatan mobil semakin tidak wajar.


Hingga tanpa Bella sadari di tikungan depan sebuah truk melaju dengan kencang pula. Dan kecelakaan pun tak dapat dihindari.


"Bella awas di depan!!" teriak Senja.


***