
Senja dan Fara sudah sampai di kosan. Keduanya segera pulang setelah persiapan seminar terselesaikan. Niatnya esok mereka akan mengantarkan proposal yang sudah diperbaiki ke tempat Reyhan bekerja.
"Pak Reyhan ganteng yah Bil." ucap Fara sambil senyum-senyum sendiri membayangkan wajah Reyhan.
"Hm." Senja hanya berdeham, menanggapi ucapan Fara. Pikirannya melayang mengingat Reyhan.
"Wajahnya tidak asing, dimana yah?" pikirnya.
"Pasti pasangannya bangga memiliki pak Reyhan." ucap Fara lagi.
Senja tak menanggapinya, ia masih berkelut dengan pikirannya, mencoba mengingat dimana ia pernah bertemu Reyhan.
"Bila!" teriak Fara mengejutkan Senja.
"Ya Allah Fara, kamu ngagetin aja deh." ucap Senja dengan mengusap dadanya.
"Lagian sih kamu gak merhatikan aku." ucap Fara dengan wajah ditekuk.
"Kalau suka sama pak Reyhan yah kejar dong, jangan cuma suka diam-diam." ucap Senja ngawur.
"Mana berani aku, aku cuma kagum aja Bil, dia yang masih muda aja bisa seperti itu, lah aku, sarjana aja belum." ucap Fara dengan sedikit mengeluh.
"Ngeluh terus, jalan cerita orang itu beda-beda loh, jangan dibanding-bandingkan, Allah pasti sudah menyiapkan akhir cerita terbaik bagi hamba-Nya." ucap Senja menasehati Fara.
"Kita mungkin lambat dalam menggapai gelar sarjana ini, atau menggapai cita-cita kita, tapi semuanya kan berproses. Ada yang dipermudah sebagai ujian bagi hamba-Nya, untuk melihat apakah hamba itu akan sombong, takabur atau tetap rendah hati. Dan ada yang dipersulit, sebagai cobaan, untuk melihat apakah hamba-Nya itu bisa tetap sabar, dan mengingat-Nya dalam segala hal apapun, termasuk pendidikan kita ini."
"Jadi stop membanding-bandingkan jalan hidup kita dengan orang lain. Kalau melihat ke atas jadikan motivasi, dan kalau melihat ke bawah jadikan itu sebagai cara kita mengingat Allah dengan selalu bersyukur."
Fara tersenyum hangat mendengarkan nasehat Senja. Ia bahkan tidak menyelanya sedikitpun.
"Kok senyum-senyum sih?" Senja menatap bingung sahabatnya itu.
"Iya ustadzah, terimakasih yah selalu mengingatkanku dalam hal kebaikan. Aku bahagia banget punya sahabat kayak kamu, semoga kita bisa menjadi sahabat selamanya." ucap Fara.
"Aamiin, sahabat til jannah yah." ucap Senja dengan tersenyum.
Fara menggeser duduknya, ia memeluk Senja dengan erat, membuat Senja terkekeh pelan.
***
"Assalamu'alaikum." Reyhan mengucao salam sambil membuka ruang kerja milik Riko.
Ia tadi berjalan dengan tergesa-gesa, sangking bahagianya mendengar Riko mengatakan bahwa ia sudah menemukan Maura yang ia cari selama lebih dari 1 tahun ini.
"Wa'alaikumsalam." ucap Riko. "Wih... sabar Bro, semangat banget nih mau tau gadis pujaannya." lanjut Riko dengan bercanda.
"Pasti lah Rik, 1 tahun nyari dia gak ketemu-ketemu, dan kini setelah usaha yang panjang, aku bisa mengetahui siapa dia." ucap Reyhan.
"Tapi Rey.."
"Kayaknya dia gak sesuai dengan ciri-ciri yang kamu maksud deh." ucap Riko dengan alis yang terangkat.
"Maksud kamu Rik?" Reyhan bertanya dengan wajah bingung.
"Melihat latar bekakang ustadz Kamil dan istrinya, masa sih mereka mencarikan lawan ta'aruf kamu yang kayak gini." lagi-lagi Riko menjawab dengan ragu-ragu, wajahnya sedikit meringis karena hal itu.
"Apaan sih Rik? Dari tadi berbelit-belit, langsung intinya aja, jelasin yang bener." ucap Reyhan yang geregetan karena penjelasan Riko yang setengah-setengah.
"Dia tidak berhijab, pakaiannya juga tidak tertutup, tidak seperti gadis yang ada di dalam bayanganmu atau bayanganku." ucap Riko.
Reyhan terdiam sesaat sebelum menanggapi ucapan Riko.
"Mungkin saja memang dia belum berhijab, tapi akhlaknya baik." ucap Reyhan. "Terkadang berhijab belum tentu baik akhlaknya, yang aku cari dia tak hanya cantik luarnya namun juga di dalam hatinya." lanjutnya.
"Yah aku tahu maksud kamu Rey, tapi dia jauh banget dari ekspetasi aku Rey, gadis yang kamu ceritakan itu selalu aku bayangkan dengan cara berpakaian yang tertutup dan akhlak yang baik." ucap Riko.
"Aku saja belum pernah bertemu dengannya Rik, bagaimana bisa kamu membayangkannya seperti itu." Reyhan menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Riko.
"Hm entahlah, aku hanya melihat dari latar belakang ustadz Kamil dan istrinya, tidak mungkin saja bgiku mereka memberikan kamu lawan ta'aruf yang dari segi auratnya saja tidak tertutup." ucap Riko.
"Sudah-sudah, jodoh itu di tangan Allah, ustadz Kamil dan istrinya sebagai perantaranya, sementara aku yang menerimanya, baik tidaknya dia Allah yang tahu, dan cocok atau tidaknya juga hanya Allah yang tahu." ucap Reyhan mencoba menyudahi perdebatan soal ekspektasi yang tidak sesuai dengan realita.
"Mana sini aku mau lihat gadis yang kamu temukan." ucap Reyhan meminta data-data yang ditemukan Riki.
Riko memberikan laptopnya pada Reyhan. Semua data-data seputar gadis yang bernama Maura itu ada di dalamnya.
"Maura Friskiana." Reyhan membaca nama yang tertera di dalam file tersebut. Ia melanjutkan membaca semua data-data itu, sampai selesai.
"Ada lagi yang namanya Maura?" tanya Reyhan.
"Ada, tapi kayaknya gak mungkin mereka deh, soalnya jarak alamat yang dulu sama sekarang terlalu jauh, cuma satu nama itulah yang memungkinkan." jelas Riko.
"Bisa jadi nama-nama Maura yang lain itulah Maura yang aku cari Rik." ucap Reyhan.
"Bisa jadi sih, yasudah buka file dokumen dengan nama Daftar Nama Maura, di sana lengkap semua yang kau minta." ucap Riko.
"Thank's Rik, kamu sudah membantuku untuk menemukan Maura." ucap Reyhan.
"Santai aja lah Bro, kita ini sahabat juga saudara, saling membantu satu sama lain, lagi pula aku juga sudah tidak sabar untuk melihatmu berbahagia dengan orang yang kamu cintai." ucap Riko membuat Reyhan tersenyum mendengarnya.
"Semua filenya bisa kamu pindahkan ke flashdisk atau kamu bawak laptop aku dulu gak apa-apa kok." ucap Riko.
"Udah aku pindahkan ke flashdisk kok Rik, sekali lagi terimakasih yah sudah bantu aku." ucap Reyhan.
"Iya-iya, udah berapa kali kamu ngomong makasih terus dari tadi, dah sono balik, cari gadis itu, sebelum tante nikahin kamu sama gadis lain." ucap Riko.
Reyhan tersenyum dengan menggelengkan kepala, ia langsung pamit dan segera mencari tahu siapa saja Maura yang berada di dalam file-file itu.