
BRAK!
Pintu terbuka dengan kasar, menampakkan wajah kesal dengan posisi berkacak pinggang. Reyhan menoleh sekilas kemudian tetap melanjutkan kegiatannya. Da banyak buku di meja yang harus ia teliti sebagai bahan presentasi di depan para dosen senior nanti.
"Reyhan!" teriaknya dengan suara keras.
"Kamu kalau cuma mau buat ribut mending keluar deh Rik, aku lagi banyak tugas, gak bisa meladeni kegilaanmu." ucap Reyhan dengan nada malas.
"Kau yang gila Rey!" teriak kesal Riko. "Mau nikah gak bilang-bilang." lanjutnya kemudian duduk di hadapan Reyhan.
"Mendadak." ucap Reyhan singkat.
"Kok bisa?" tany Riko yang mulai melunak.
"Rencana Mama, dan berhasil." ucap Reyhan dengan nada malas.
"Kok kamu mau? Maura gimana?" tanya Riko lagi.
"Mau gak mau harus mau kan... lagian sampai saat ini belum ada tanda-tanda hilal dari Maura, kalau jodoh gak kemana." jawab Reyhan sekenanya, ia terlalu fokus untuk meladeni Riko.
Riko diam mendengarkan sambil manggut-manggut.
"Siapa ceweknya?" tanya Riko dengan menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Namanya Senja, mahasiswi semester akhir Universitas Islam, baik kok anaknya, yah itu yang aku lihat, Mama juga yakin banget sama dia." jelas Reyhan tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
"Biasanya pilihan Tante Mira memang gak pernah salah sih." ucap Riko.
"Nah itu tahu."
Reyhan membalikkan buku tebal di tangannya. Mata dan mulutnya terlalu sibuk untuk membaca, dan tangannya digunakan untuk menggaris bawahi bagian-bagian yang dianggap penting dari buku itu.
"Tapi kan ini mendadak banget, mana seminggu lagi akadnya, gila kamu Rey, kenapa gak minta sesudah lebaran aja, kebelet kawin kau hah!" mendengar ucapan Riko, Reyhan melempar pulpen ke kepala Riko.
"Sakit bego!" sungut Riko. "Kasih alasan yang masuk akal, biar aku bisa ngerti kenapa kamu mau nikah seminggu lagi." lanjut Riko sambil memijit keningnya yang terkena lemparan pulpen.
Reyhan menggantikan kegiatannya, ia cukup serius ketika mendengar pertanyaan Riko.
"Gak ada alasan yang masuk akal, intinya aku udah percayain semuanya sama Allah, lewat Mama, Allah kirim Senja untuk jadi jodoh aku, beres kan." ucap Reyhan memberi alasan, kemudian melanjutkan kegiatannya.
"Terus Maura?" tanya Riko lagi, Reyhan menatap dengan memicingkan matanya. "Maksudnya gini, semisal kamu udah nikah sama cewek itu, terus tiba-tiba ada kabar dari ustadz Kamil kalau Maura mau melanjutkan ta'aruf yang gagal dulu, kamu gimana? Mau poligami? Atau menceraikan istri kamu?" tanya Riko dengan wajah serius.
Reyhan menarik napas dan menghembuskan dengan pelan, ia menatap Riko tak kalah serius.
"Gak ada yang tahu perasaan aku kedepannya gimana Rik, entah tiba-tiba aku jatuh cinta sama istri aku, kita gak tahu. Lagi pula, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup, jadi pilihannya adalah aku tidak akan menceraikan istriku, dan tidak akan berpoligami." Reyhan menarik napasnya kembali.
"Jujur aku gak ada planing untuk berpoligami Rik, aku mau seperti Papa, yang menghargai, dan menghormati Mama, lagian bisa dicoret dari KK aku kalau Mama tahu menantu kesangannya dimadu." lanjut Reyhan lagi.
"Semoga aja apa yang kamu bilang gak kamu ingkari Rey." ucap Riko.
"Kamu tahu aku gimana Rik, dah lah balik sana." ucap Reyhan kemudian mengusir Riko dengan maksud bercanda.
Riko mendengus mendengar ucapan Reyhan.
"Ada makanan gak Rey, laper nih." ucap Riko.
"Caria aja di kulkas, biasanya juga kamu langsung ambil tanpa permisi Rik." Reyhan menggelengkan kepala melihat Riko langsung berjalan menuju kulkas, mengambil beberapa camilan dan minuman.
"Jadi penasaran sama cewek yang akan jadi ipar aku." ucap Riko yang sedang memakan camilannya.
Reyhan tidak menanggapi, ia tetap fokus mengerjakan tumpukan buku yang berada di atas mejanya.
"Gantiin Om Alex di perusahaan lah Rey, biarin Om Alex sama Tante Mira menikmati masa tua mereka, kamu gak kasihan apa lihat mereka kerja terus gitu." ucap Riko.
"Belum sekarang, nanti ada waktunya." jawab Reyhan.
Menjadi dosen adalah cita-cita Reyhan. Bukannya tidak ingin melanjutkan kepemimpinan dari Papa Alex, hanya saja untuk saat ini Reyhan masih ingin menikmati pekerjaan yang dia impikan.
Menjadi pembisnis bukan hal mudah bagi Reyhan, walaupun sudah berlatih sejak kecil, tapi ia masih perlu belajar lebih banyak dari Papa Alex. Terjun di dunia bisnis tidak semudah yang dilihat, banyak musuh yang tak terlihat, siapapun bisa menjadi musuh dalam dunia bisnis. Hanya ada persaingan, jarang ada persahabatan dalam dunia bisnis.
***
Senja hanya meringis mendengarnya, entah bagaimana menjelaskan pada sahabatnya tentang perjodohan mendadak ini.
"Jelasin, sekarang!" ucap Fara tak mau tahu.
Senja tersenyum kaku mendengar ucapan Fara.
"Ayo Bila, ceritakan!" ucap Fara lagi.
"Iya Far." Senja menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab permintaan Fara.
"Ini mendadak, dan susah untuk dijelaskan, ini juga karena perjodohan." jawab Senja memelankan kata akhir dalam ucapannya.
"Perjodohan? Kok bisa?" tanya Fara lagi.
"Kamu ingat waktu aku nolak ajakan untuk makan bersama panitia seminar?" tanya Senja, Fara mengangguk mengiyakan. "Aku bilang ada janji dengan seseorang kan? Nah, seseorang itu adalah Tante Mira, Mama dari Pak Reyhan. Baik aku ataupun Pak Reyhan kami sama-sama gak ada yang tahu kalau akan jadi seperti ini." ucap Senja memberikan penjelasan.
"Jadi maksud kamu, kamu kenal sama Mamanya Pak Reyhan, tapi gak tahu kalau itu adalah Mamanya Pak Reyhan, gitu?" Senja menganggukkan kepala pelan.
"Dan perjodohan kalian ini tanpa sepengetahuan kamu dan Pak Reyhan? Jadi secara gak langsung ini rencana Mamanya Pak Reyhan, begitu?" tanya Fara lagi, dan Senja kembali mengangguk.
"Astaga, jinja? Wah, daebak, inilah yang dinamakan jodoh datang di waktu yang tepat bersama orang yang tepat." ucap Fara.
Senja menggelangkan kepala mendengar ucapan Fara.
"Emangnya begitu yah? Datang diwaktu yang tepat, bersama orang yang tepat." pikir Senja setelah mendengar ucapan Fara.
"Seminggu lagi, cepat banget Bil, Pak Reyhan udah kebelet mau nikah yah." celetuk Fara sambil membaca undangan yang diberikan Senja.
Duk!
Senja memukul pelan lengan Fara, membuat Fara cengengesan menatap Senja.
"Maaf Bil, aku kan cuma penasaran aja gitu." ucap Fara.
Senja memilih untuk tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh Fara. Ia membuka tasnya, mengambil netbook dan skripsinya. Kemudian fokus menenggelamkan pikirannya ke dalam skripsi.
"Kalau jadwalnya seminggu lagi, kok kamu bisa ada di sini? Bukannya ada istilah dipingit yah untuk seorang gadis yang mau menikah? Kamu kok masih di kosan sih." tanya Fara.
"Bunda juga sudah pernah bilang sama aku Far, tapi ini gak bisa di tinggal, cuma hari ini aja, setelah semuanya selesai baru aku akan melakukan tradisi pingitan itu. Lagipula, tradisi pingitan bisa menggunakan waktu singkat, tergantung jenis kebutuhan masing-masing, bahkan sekarang sudah ada yang 1-2 hari aja." papar Senja menjelaskan pada Fara. yang manggut-manggut mengerti ketika mendengarkan penjelasan Senja.
***
Bunda sedang duduk di ruang tamu bersama laki-laki yang waktu itu berkunjung menemui Bunda. Entah bagaimana bisa, hubungan keduanya kini terlihat baik-baik saja.
"Kamu jadi mudik lebaran nanti?" tanya laki-laki itu.
"Iya Mas, Mas Pram gak apa-apa kan?" tanya Bunda balik.
Laki-laki yang bernama Pram itu terlihat menganggukkan kepala. Memberikan tanda bahwa ia baik-baik saja walaupun Bunda pergi mudik sebentar lagi.
"Terus Senja gimana?" tanya Pram.
"Seminggu lagi dia menikah, karena itu aku berani meninggalkannya untuk mudik sendirian, sudah ada suaminya yang pasti akan menjaganya." jawab Bunda.
Pram kembali menganggukkan kepala, ia mengambilkan sepotong bolu memasukkannya ke dalam mulut, dengan menyesal kopi hangat. "Siapa calonnya?" tanya Pram lagi.
"Dosen muda, keluarganya juga baik, alhamdulillah mereka juga sayang sama Senja." jawab Bunda.
"Gimana kabar Mbak Yumi sama anak-anak Mas?" tanya Bunda balik, ia menatap laki-laki kepala empat itu.
"Mereka baik." jawabnya dengan singkat, seperti tak semangat mendengar pertanyaan dari Bunda.
Bunda tak lagi bertanya seputar keluarga laki-laki itu. Terlihat jelas bahwa Pram tidak menyukainya. Bunda kembali mengalihkan perhatian Pram dengan mengajaknya mengobrol hal-hal ringan, sedikit diselingi candaan. Keduanya pun hanyut dalam kebahagian yang entah bertahan sampai kapan.