
3 hari kemudian.
DUGH
"Aduh!"
Senja mengaduh kesakitan karena jatuh tertabrak seseorang.
"Eh maaf-maaf, maaf saya tidak sengaja." ucapnya pada Senja yang masih menundukkan kepalanya, tangannya mengusap gamisnya yang kotor.
"Em iya tidak apa-apa." Senja menegakkan tubuhnya, setelah selesai membersihkan gamis miliknya.
"Mari saya antar Nona sebagai tanda permintaan maaf saya karena sudah menabrak Nona." ucapnya pada Senja. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh tangan Senja.
"Eh jangan sentuh saya!" ucap Senja dengan sedikit berteriak karena kaget pria itu menyentuh tangannya.
"Maaf-maaf, bukan maksud saya bertindak kurang ajar, hanya saja saya ingin mengajak Nona untuk ikut bersama saya, biar saya antar Nona ke tempat tujuan Nona." jelasnya pada Senja yang tengah memundurkan langkahnya dengan raut wajah yang ketakutan.
Senja menatapnya dengan tatapan ketidaksukaan, terlihat juga ia ketakutan ketika tangannya dipegang oleh pria tersebut.
"Saya tidak minta untuk diantarkan, dan terimakasih sudah berniat baik pada saya." Senja kemudian membalikkan tubuhnya meninggalkan pria yang telah menabraknya itu.
Pria itu tersenyum miring melihat reaksi yang dikeluarkan Senja.
"Padahal kali ini aku berniat baik padamu Senja." gumamnya dengan menatap kepergian Senja.
***
"Dari mana aja kamu Bila." ucap Fara. "Ini lagi, kenapa gamis kamu kotor?" lanjutnya dengan membolak-balikkan tubuh Senja.
"Ya Allah Fara, ih.. pusing aku kamu putar-putarin kayak gini." ucap Senja.
"Aku kan khawatir sama kamu." ucap Fara.
"Aku dapet insiden kecil tadi, makanya gamis aku kotor, tapi gak apa-apa kok, buktinya aku baik-baik aja kan." ucap Senja menjelaskan semuanya yang telah terjadi.
"Kecelakaan?"
"Insiden Fara, bukan kecelakaan." ucap Senja.
"Sama aja." ucap Fara.
"Mau ganti baju dulu gak?" tanya Fara. "Aku antar ke kosan yah untuk kamu ganti baju, masa mau ketemu dosen penting pakaiannya kotor kayak gini." lanjut Fara memberikan usulan.
"Dosen penting siapa sih Far, palingan juga dosen muda biasa." ucap Senja. "sudahlah, pakaian aku juga gak kotor-kotor banget." lanjut Senja.
"Ini nih kalau tidak memperhatikan ketika dosen menjelaskan kemarin. Dia itu dosen muda dengan segudang prestasi Senja, dia juga yang akan menjadi pengisi materi di seminar yang kita nanti." ucap Fara menjelaskannya pada Senja.
"Sungguh?" ucap Senja dengan wajah terkejut.
"Menurut kamu? ya iyalah Senja.... sudah-sudah ayo kita pulang sebentar, selagi ada waktu sebelum jam 10." ucap Fara dengan mendorong tubuh Senja ke arah parkiran.
Fara dan Senja segera kembali ke kosan, untuk berganti pakaian.
***
"Selamat datang Pak Reyhan." sambut salah satu dosen pada Reyhan yang baru saja memasuki sebuah ruangan.
"Terimakasih atas sambutannya Pak Agung." ucap Reyhan dengan tersenyum tipis. Ia juga memberikan salam pada seluruh dosen yang telah menyambutnya.
Sementara itu Senja dan Fara berjalan tergesa-gesa dengan setengah berlari menuju ruangan dosen. Karena tamu undangan yang akan menjadi pengisi materi di seminar mereka telah tiba.
"Ya ampun Senja, Fara, kalian dari mana saja?" tanya dosen wanita pada Senja dan Fara.
"Maaf Ibuk kami terlambat." ucap Senja.
"Sudah-sudah, tidak ada waktu lagi, tamunya sudah menunggu di dalam." ucap Ibuk itu.
"Baik Buk."
Senja dan Fara memasuki ruangan yang dimaksud.
"Assalamu'alaikum." ucap keduanya.
Senja dan Fara tersenyum ketika pak Agung menyambut mereka.
"Pak Reyhan, perkenalkan ini Senja, dan ini Fara." ucap Pak Agung memperkenalkan Senja dan Fara pada Reyhan.
"Mereka adalah mahasiswi berprestasi di kampus kami, yang mengusulkan penyelenggaraan seminar ini." lanjut Pak Agung dengan tersenyum.
Reyhan mendengarkan dengan tersenyum dan menganggukkan kepala paham.
"Dan ini Pak Reyhan, dosen muda yang akan menjadi pemateri dalam seminar kita nanti." ucap Pak Agung memperkenalkan Reyhan pada Senja dan Fara.
"Baiklah saya rasa cukup untuk sesi perkenalan diri, saya tinggal dulu yah Pak Reyhan, untuk kejelasan seminar bisa Pak Reyhan tanyakan pada kedua mahasiswi saya, saya mohon undur diri Pak." ucap pak Agung pada Reyhan.
"Terimakasih Pak Agung." ucap Reyhan.
Pak Agung keluar ruangan meninggalkan Senja dan Fara bersama Reyhan.
"Silahkan duduk." ucap Reyhan mempersilakan keduanya untuk duduk.
Senja dan Fara berada di hadapan Reyhan.
"Baiklah Pak Reyhan, izinkan kami untuk menjelaskan tentang seminar yang akan kami selenggarakan."
Reyhan mengganggukkan kepala, tanda mengiyakan ucapan Senja.
"Ini proposal seminar kami, boleh Bapak baca terlebih dahulu." ucap Fara memberikan proposal yang telah dibuatnya.
Reyhan mulai membacanya dengan seksama. Terlihat kerutan di keningnya ketika membaca proposal tersebut.
"Apa alasan kalian menyelenggarakan seminar dengan tema ini?" tanya Reyhan.
"Jadi ......."
2 jam berlalu.
Waktu yang cukup lama untuk mendiskusikan masalah seminar yang akan diselenggarakan kampus. Senja dan Fara juga bekerja keras akan hal itu. Menjelaskan semua yang ditanyakan Reyhan, sampai Reyhan puas dengan jawaban mereka. Ini lebih terlihat seperti ujian lisan.
"Bagaimana Pak Reyhan? Apakah seminar kami bisa kami selenggarakan? Dan apakah Bapak bersedia untuk menjadi pengisi materi dalam seminar kami?" tanya Senja.
"Bawa proposal yang telah diperbaiki ke kampus tempat saya bekerja agar saya bisa menandatanganinya." ucap Reyhan kemudian ia pergi meninggalkan Senja dan Fara yang terbengong mencerna ucapannya
"Bil, Bila, Pak Reyhan menerimanya kan? Impian kita untuk menyelenggarakan seminar bisa terwujud kan?" tanya Fara dengan raut wajah gembira.
"Yah aku rasa begitu, kita harus segera menyelesaikan revisi proposal ini, dan menyerahkannya pada Pak Reyhan, sebelum dia berubah pikiran." ucap Senja.
"Iya kamu benar."
Berita bahagia tersebut segera tersebar di kalangan dosen-dosen prodi dan fakultas. Banyak juga pujian-pujian yang dilontarkan untuk Senja dan Fara.
"Terimakasih Senja, Fara, berkat kalian kita bisa menyelenggarakan seminar ini, apalagi dengan pemateri Pak Reyhan, dosen muda yang berprestasi." ucap Pak Agung.
"Sama-sama Pak, kami pasti akan mengusahakan bagaimanapun caranya agar seminar kita ini bisa terlaksana dengan tanpa hambatan sedikitpun." ucap Fara.
"Sekali lagi terimakasih Nak."
***
"Namanya Senja, baru beberapa hari yang lalu aku tidak sengaja bertemu dengannya, dunia sempit sekali." gumam Reyhan sambil menyetir mobil.
"Suaranya tidak asing, seperti Mauraku, tapi tidak mungkin itu dia, namanya saja Senja, bukan Maura." monolognya.
Drrtttzzz
"Halo, ada apa Rik?" tanya Reyhan.
"Kau dimana? Susah sekali aku menghubungimu, cepat kemari, aku sudah menemukan Maura yang kamu cari." ucap Riko di seberang telepon.
"Benarkah?" tanya Reyhan tak percaya.
"Iya benar, cepatlah kemari." ucap Riko kemudian langsung mematikan telepon.
Dengan wajah yang berseri-seri Reyhan melajukan mobilnya ke tempat Riko berada. Ia sudah tidak sabar untuk bisa mengetahui dimana Mauranya saat ini. Melihat wajahnya, dan bisa meminangnya. Itulah yang sedang ia pikirkan saat ini, terlalu banyak bayangan indah yang ia pikirkan.