
"Biar Senja yang pakaikan."
Senja tersenyum dengan mengambil alih dasi tersebut dari tangan Reyhan. Ia menarik tangan Reyhan dan membawanya ke arah sofa, kemudian mendudukkan Reyhan di sofa.
"Jadi gak pengen masuk kerja deh." keluh Reyhan dengan wajah cemberut.
Senja tersenyum menanggapinya.
"Sayang... aku cuti aja yah hari ini." ucap Reyhan lagi.
Senja merapikan dasi yang ia pasangkan. Kemudian mengalihkan pandangannya, menatap Reyhan yang tengah menatapnya.
"Aku sih gak masalah kalau Mas mau cuti, tapi yang jadi masalah adalah, Mas sebagai seorang pemimpin harus memberikan contoh yang baik kepada karyawan Mas, jadi alangkah baiknya kalau Mas bisa masuk kerja hari ini. Lagipula, memangnya Mas mau ngapain kalau gak kerja hari ini, hm?" ujar Senja dengan lembut.
Reyhan tersenyum dengan memeluk Senja.
"Mau manja-manja sama kamu, rasanya aku tuh gak mau jauh-jauh dari kamu sayang." ucap Reyhan dengan lembut.
"Gini deh, sesuai agenda Mas hari ini, Mas berangkat kerja ke perusahaan Papa, menyelesaikan tugas yang memang seharusnya diselesaikan, nanti siang aku main ke kantor Mas, nemenin Mas sampai waktunya pulang, gimana?" ucap Senja memberikan tawaran.
Reyhan terlihat berpikir, sebelum kemudian tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Kenapa gak ikut dari pagi aja sayang?" tanya Reyhan.
"Baru mau Senja jelaskan, jadi gini Mas, boleh gak kalau Senja main ke rumah Ayah?" tanya Senja.
Reyhan mengangguk dengan tersenyum.
"Boleh dong, yaudah nanti setelah kamu mengunjungi Ayah, langsung minta supir untuk ngantar ke kantor yah." ucap Reyhan.
"Iya, makasih Mas." ucap Senja.
Mereka kembali berbincang sampai tiba waktunya Reyhan untuk berangkat ke kantor.
***
"Sudah siap Rey?" tanya Papa Alex.
"Reyhan selalu siap Pa." jawab Reyhan.
Papa Alex tersenyum dengan menepuk pundak Reyhan, kemudian mengalihkan pandangannya pada sekretarisnya.
"Bagaimana persiapannya?" tanya Papa Alex.
"Seluruh dewan direksi sudah berkumpul di ruangan meeting Tuan." ucapnya pada Papa Alex.
Hari ini adalah penyerahan posisi CEO kepada Reyhan di hadapan seluruh dewan direksi. Hal ini sudah disepakati oleh Reyhan dan Papa Alex dalam waktu yang terbilang lebih cepat dari pada perkiraan. Awalnya begitu sulit bagi Reyhan untuk terjun ke dunia bisnis secara langsung, karena selama ini ia terlalu nyaman dengan dunia mengajarnya.
Namun setelah mengetahui masa lalu Senja, Reyhan justru ingin lebih cepat menggantikan posisi Papa Alex. Selain untuk meringankan beban Papa Alex, ia juga ingin menyelidiki tentang masa lalu Senja, menghukum orang-orang yang telah menyakiti Senja. Dengan memiliki kekuasaan, setidaknya ini membuatnya mudah untuk melakukan apa yang dia inginkan.
Reyhan dan Papa Alex berjalan beriringan menuju ruang meeting. Sepanjang perjalanan banyak karyawan yang mengalihkan fokusnya pada Reyhan. Wajah tampan dan tubuh tegap Reyhan membuat karyawan wanita memandangi kagum padanya.
KLIK
Pintu ruangan terbuka, Reyhan menjadi sorotan utama dari jajaran dewan direksi. Sosok Reyhan sudah banyak di kenal oleh seluruh anggota dewan, karena secara tidak langsung Reyhan lah yang membantu keberlangsungan perusahaan selama ini, meskipun hanya bekerja di belakang layar.
Reyhan duduk di hadapan seluruh dewan. Wajahnya yang tegas, dingin dan tatapannya yang tajam membuatnya tak mampu terintimidasi oleh tatapan sengit dari beberapa anggoda dewan. Di sebelah kanannya terdapat Papa Alex dengan wajah tegas dan cenderung bijaksana. Sedangkan di sebelah kirinya, sekretaris setia dari Papa Alex berdiri dengan tegap menunggu setiap instruksi dari Papa Alex.
"Selamat pagi semuanya, terimakasih sudah hadir, karena memang sebetulnya ini adalah sebuah perintah bukan sebuah ajakan untuk berkumpul." ucap sang sekretaris yang bernama Beni.
"Langsung saja, seperti berita yang kalian dengar sebelumnya, hari ini adalah penyerahan posisi pimpinan dan pelantikan untuk pimpinan baru. Kepada Tuan Alex, waktu dan tempat di persilakan." ucap Beni.
Papa Alex berdiri tegap menatap tajam ke seluruh anggota dewan.
"Kehadiran kalian adalah sebuah keharusan, dan persetujuan kalian bukan prioritas atau suara utama di sini. Jadi meskipun kalian menolaknya, saya akan tetap melantik putra saya menjadi pemimpin baru di perusahaan saya." ucapnya membuka suara.
"Dia Reyhan, putra bungsu saya yang akan menggantikan kepemimpinan saya di sini. Sepak terjangnya di dunia bisnis memang belum sekuat para pimpinan lainnya, namun kinerja kerjanya tidak bisa diragukan, karena selama ini, di setiap masalah perusahaan bantuan Reyhan selalu menjadi kebutuhan."
Tak ada yang membantah, karena memang begitu adanya, bantuan Reyhan menjadi kebutuhan bagi perusahaan.
"Rey, sini." panggilnya pada Reyhan.
"Hari ini di hadapan kalian semua, saya Alex Alfarisi, menyerahkan posisi kepemimpinan pada putra saya Reyhan Alfarisi." Papa Alex merangkul Reyhan dan memberikan berkas penandatanganan seputar pergantian kepemimpinan.
Dihadapan seluruh anggota dewan direksi Reyhan menandatangani berkas pengalihan kepemimpinan. Ini memang sudah menjadi kesepakatan bersama. Jika hanya pengalihan secara ucapan maka di takutkan bahwa yang diberi tanggungjawab tidak bisa menjalankannya, itulah dibuat berkas guna menjadikannya mengingat tugas dan kewajibannya.
"Terimakasih atas pelantikannya. Saya yakin kalian semua sudah mengenal siapa saya, jadi tidak perlu lagi bagi saya untuk memperkenalkan diri. Selanjutnya saya akan mengambil alih seluruh jajaran dewan direksi dan melakukan perubahan besar-besaran di dalamnya." Reyhan menatap seluruh anggota dewan. "Besok kita akan adakan rapat, siapkan laporan perusahaan untuk saya periksa." lanjutnya dengan tegas.
Banyak bisik-bisik dari para anggota dewan, tatapan bingung, serta sengit dari mereka. Namun Reyhan tak ambil pusing, baginya perlu merubah tatanan perusahaan, dan mungkin akan ada beberapa orang yang harus meninggalkan perusahaan jika terbukti melakukan penggelapan dan kecurangan terhadap perusahaan.
***
"Pak kita nanti masuk ke gang itu yah." ucap Senja memberikan petunjuk jalan menuju rumah ayah Bayu.
"Sebelah kiri kita berhenti yah Pak, rumah yang berwarna hijau." ucap Senja.
"Siap Non."
Mobil memasuki halaman rumah milik ayah Bayu. Di sini ayah Bayu tinggal berdua bersama anak angkatnya, Dandra namanya. Dia sudah menjadi anak angkat ayah Bayu dari sebelum ayah Bayu menikah dengan Bunda.
"Bapak tunggu di sini yah." ucap Senja pada pak supir.
"Baik Non."
Tok Tok Tok
"Assalamu'alaikum, Ayah."
Senje mengetuk pintu rumah, sembari mengucapkan salam. Pintu terbuka menampakkan sosok Dandra, kakak angkat Senja.
"Ayah ada?" tanya Senja langsung.
Karena memang sejujurnya hubungan Senja dengan sang Ayah tidak begitu dekat, apalagi dengan Dandra. Ada konflik yang tak terlihat di antara mereka, mengharuskan Senja memberikan senyuman meskipun hatinya tidak menyukai hal itu.
"Ada, masuk aja." ucapnya dengan mempersilakan Senja untuk masuk.
Senja mengangguk dengan langsung masuk ke dalam rumah, ia berjalan menuju kamar belakang, tempat biasanya Ayah Bayu istirahat.
"Assalamu'alaikum Ayah." ucap Senja memberi salam.
"Wa'alaikumsalam, Nduk." Ayah Bayu tersenyum menyambut Senja.
"Sama siapa ke sini?" tanyanya sambil membawa Senja duduk di sisi ranjangnya.
"Di antar pak supir." jawab Senja. "Ini untuk Ayah." Senja memberikan buah tangan untuk Ayah Bayu.
"Apa ini?" tanyanya dengan membuka bungkusan tersebut.
"Tadi Senja buat bolu pisang, ini juga ada gulai ayam, sama buah-buahan." jawab Senja.
"Loh kok banyak banget Nduk." ucapnya tak enak hati.
"Gak apa lah Ayah, lagipula ini memang sengaja Senja siapkan untuk Ayah." ucap Senja.
Ayah Bayu tersenyum dengan menganggukkan kepala. Ia kemudian meletakkan bungkusan tadi di atas meja.
"Gimana kabar suamimu?" tanyanya.
"Alhamdulillah baik Yah, tadi Mas Reyhan juga titip salam untuk Ayah." ucap Senja.
"Iya, alhamdulillah."
"Ayah sendiri gimana? Masih sering sakit jantungnya?" tanya Senja.
"Ya begitulah Nduk, kadang kumat, kadang gak kumat." ucap Ayah Bayu.
"Obatnya jangan telat diminum Yah, jaga pola makan juga." ucap Senja.
"Iya." Ayah Bayu tersenyum.
"Ini untuk pegangan Ayah, maaf Senja baru bisa kasih sedikit untuk Ayah. Ini untuk Ayah beli obat, atau keperluan lainnya." ucap Senja, sembari memberikan amplop putih berisi uang tunai untuk Ayah Bayu.
"Gak usah lah Nduk." tolak Ayah Bayu.
Senja kembali memberikan amplop putih tersebut. "Terima yah Ayah, ini juga dari Mas Reyhan."
"Terimakasih Nduk." Ayah Bayu menangis menerima pemberian Senja.
"Jangan nangis Ayah." Senja memeluk Ayah Bayu, mengusap lembut punggung Ayah Bayu.
"Ayah merasa gagal menjadi seorang Ayah, harusnya Ayah yang memberikan kalian nafkah, ini malah Ayah nyusahin kamu Nduk." ucapnya dengan pilu.
Senja menangis dalam diamnya. Dengan cepat ia hapus air matanya, tak ingin membuat Ayah Bayu semakin berkecil hati.
"Makasih sekali lagi Nduk." ucapnya melepaskan pelukannya.
Senja mengangguk dengan tersenyum.
Entah sebenci atau sekecewa apapun ia terhadap Ayah Bayu, satu yang tidak bisa dihapuskan, Ayah Bayu adalah Ayahnya. Kewajiban seorang anak tetap ada pada dirinya. Itulah kenapa ia masih menghormati dan menyayangi Ayah Bayu, meskipun dibeberapa alasan ia kadang membenci Ayah Bayu, namun tak dapat ia ungkapkan.
"Yaudah Ayah, Senja pulang dulu yah, kapan-kapan Senja main lagi ke sini, Ayah juga kapan-kapan main ke rumah." ucap Senja mengakhiri perbincangan keduanya.
"Iya, hati-hati di jalan yah Nduk."
Ayah Bayu mengantar Senja sampai depan pintu, melihat Senja pulang meninggalkan halaman rumahnya, sebelum kembali masuk ke dalam.