
"Ada yang mau saya tanyakan, boleh kamu jawab jujur Senja?" tanya Reyhan dengan serius, tanpa mengalihkan pandangannya terhadap Senja.
Senja diam menatap Reyhan dengan gugup. Pikirannya sudah kemana-mana mengingat siang tadi laki-laki yang merenggut kesuciannya datang ke rumah, menterornya dan mengancam Senja. Entah kenapa Senja yakin Reyhan pasti tahu tentang kedatangan laki-laki tadi di rumahnya.
"Kita harus saling mengenal kan? Jadi anggap saja ini sebagai proses pengenalan kita." ucap Reyhan membuat Senja menganggukkan kepala.
"Ada yang ingin kamu ceritakan kepada saya Senja? Tentang kamu atau hidup kamu?" tanya Reyhan.
"Mas mau tahu yang mana?" tanya Senja balik menghilangkan rasa gugupnya.
Ia sudah menyiapkan mental jika malam ini adalah waktunya Reyhan mengetahui semua yang ia rahasiakan selama ini. Meskipun hatinya berdebar, tubuhnya mulai berkeringat namun sudah Senja tetapkan untuk jujur jika Reyhan bertanya tentang masa lalu nya yang kelam itu.
Reyhan terlihat sangat serius saat menatap Senja.
"Kamu berjanji menjawab apapun yang saya tanyakan?" tanya Reyhan.
"Iya." jawab Senja dengan mantap.
Reyhan terlihat bangkit dari duduknya, berjalan ke arah lemari, mengambil sebuah kotak hitam dan membawanya ke hadapan Senja.
"Buka." ucap Reyhan.
Senja dengan tatapan bingungnya mulai membuka kotak tersebut. Ingatan Senja beralih pada hari dimana teror kotak hitam dengan foto dan cacing di kamar kosannya.
Dengan satu helaan napas, tutup kotak itu terbuka. Senja mengintip dan melihat isi di dalamnya. Tak ia temukan cacing atau sesuatu yang buruk seperti dalam dalam pikirannya.
"Untuk apa kotak kosong ini Mas?" tanya Senja dengan sedikit gugup, menatap raut wajah dingin Reyhan.
"Ini kotak yang sama dengan yang di dalam kosanmu Senja." ucap Reyhan.
Deg!
Senja melebarkan matanya mendengar ucapan Reyhan.
"Bisa jelaskan? Kenapa isinya sangat tidak bersahabat? Dan kenapa hari itu kamu sakit? Ada yang kamu sembunyikan dari saya Senja." ucap Reyhan lagi dengan wajah serius.
Ketika ia datang ke kosan Senja, kotak hitam itu sudah tergeletak di depan pintu kamar kosan Senja. Dengan isi yang masih sama, kecuali foto-foto itu sudah dikeluarkan semua oleh Fara. Reyhan mengambilnya, membuang isi cacingnya ke selokan, dan menyimpan kotaknya. Itulah sebabnya kotak hitam itu bisa ada bersama Reyhan.
"Mau kamu ceritakan pada saya, atau saya yang mencari tahu sendiri?" tanya Reyhan lagi dengan tatapan tajam.
Beberapa jam sebelumnya.
Handphone Reyhan berdering, Geri menelponnya setelah berbuka puasa.
"Wa'alaikumsalam, iya Kak." sapa Reyhan.
"Sudah aku kirim semua informasi yang kamu butuhkan, selebihnya tanyakan pada istrimu langsung." ucap Geri.
Setelah itu panggilan terputus dengan diakhiri salam dari keduanya.
Reyhan segera membuka file yang dikirim Geri. Ia mulai merubah setiap ekspresi wajahnya ketika terdapat informasi-informasi yang menbuatnya terkejut.
"Fino Prasetya, anak dari pemilik mall di kota ini, ada hubungan apa dia dengan Senja." guman Reyhan membaca file di handphonennya.
Kembali ke masa sekarang, Senja terdiam mendengar ucapan Reyhan. Ia masih bingung antara menjelaskan semuanya atau menyimpannya.
"Saya akan katakan sejujurnya Senja, jika ini memang menyulitkanmu. Maaf karena saya mencari tahu semua tentang kamu, tapi ada satu masalah yang tidak bisa saya tembus, dan itu hanya kamu yang bisa membukanya." ucap Reyhan.
"Bukannya saya tidak menjaga privasi kamu, tapi saya juga ingin mengetahui bagaimana kamu Senja." ucap Reyhan. "Saya tahu saya salah, tapi saya hanya ingin mengenal kamu." lanjutnya dengan wajah yang mulai melunak.
"Apa saja yang Mas ketahui tentang saya?" tanya Senja. Suaranya melemah, ia tidak bisa marah pada Reyhan walaupun sudah lancang mencari tahu tentang dirinya.
"Ceritakan semuanya, saya tahu saya telah menikah dengan orang yang memiliki kekuasaan atas diri saya." ucap Senja lagi dengan tersenyum pahit.
"Saya tidak bermaksud begitu Senja."
"Ceritakan Mas." pinta Senja dengan suara pelan, ia menahan air matanya agar tak menetes ketika pikirannya sudah dipenuhi berbagai macam ketakutan.
Reyhan memejamkan matanya dengan tetap bungkam.
"Apa yang Mas ketahui, belum tentu membuat Mas mengenal saya." ucap Senja. Kemudian ia bangkit meninggalkan Reyhan yang mengepalkan tangannya dengan menatap kepergian Senja .
"Saya hanya tahu kamu menyimpan beban berat di pundakmu Senja, bisakah kamu membaginya dengan saya." gumam Reyhan.
Sebenarnya Reyhan sama sekali tidak mengetahui bagaimana kehidupan Senja. Ia hanya membohongi Senja dengan maksud menggretak, ia pikir itu akan bisa membuat Senja jujur mengenai semuanya.
Senja menangis di taman belakang. Bahunya bergetar menahan tangis agar tak bersuara, ia menekuk lututnya dan memeluknya dengan pilu.
"Sakit Ya Allah...." isaknya pilu.
"Maafkan saya." bisik Reyhan dengan memeluk Senja dari belakang.
Reyhan langsung menyusul Senja ketika menyadari apa yang ia lakukan salah. Apalagi ia melihat mata Senja berkaca-kaca ketika Reyhan menggretaknya tadi.
Senja diam ketika Reyhan mengecup pucuk kepalanya dengan lembut.
"Maafkan saya yang menyakitimu." ucap Reyhan pelan.
Senja menggelangkan kepalanya, ia membalikkan tubuhnya menatap Reyhan dengan mata sembabnya.
"Kalau saya mengatakan sesuatu yang melukai Mas bagaimana?" tanya Senja sesenggukan, menatap mata Reyhan dengan tersenyum, menutupi rasa sakit di hatinya.
"Jangan katakan apapun, dan saya tidak akan mencari tahu apapun tentang kamu." ucap Reyhan dengan lembut, menatap Senja. "Saya bohong tentang saya mengetahui siapa kamu." lanjutnya.
Reyhan tidak ingin melukai perempuan yang berstatus istrinya, ia perlu menghormati privasi Senja, tanpa melukai Senja.
"Tapi Mas perlu mengetahui ini." ucap Senja, mencoba melawan rasa takutnya.
Reyhan diam mendengarkan ucapan Senja.
"Setelah ini, semua keputusan Senja serahkan kepada Mas Reyhan, mau mentalak saya, atau hal lainnya." ucap Senja dengan tersenyum lembut.
Reyhan menggelangkan kepalanya mendengar ucapan talak dari Senja. Tidak pernah terlintas sedikutpun di benak Reyhan untuk mengucapkan kata keramat itu pada Senja. Karena sejauh ini, perasaan nyaman saat bersama Senja mulai berubah menjadi cinta, dan Senja sudah menempati ruang khusus di hatinya.
"Sebelumnya tidak ada maksud untuk saya menutupi semuanya dari Mas Reyhan, bukankah sebuah aib harus disimpan rapat-rapat? Pemilik aib sendiri pun tidak diperbolehkan untuk mengatakannya, itulah sebabnya saya tidak mengatakan apapun tentang masa lalu saya kepada Mas." ucap Senja dengan mengusap air matanya, menunduk sebentar sebelum kembali tersenyum menatap Reyhan.
"Kalau begitu jangan katakan apapun, saya tidak akan bertanya apapun lagi, bahkan untuk mencari tahu lebih lanjut pun tidak akan, saya janji itu." ucap Reyhan dengan pasti. Ia tidak tega melihat Senja tersenyum ketika hatinya menolak untuk tersenyum.
Bahkan senyuman itu terlihat menyakitkan bagi Reyhan. Reyhan percaya ada sesuatu yang jauh lebih sakit di balik senyum itu.
"Jangan membuat janji Mas, lagipula, setelah Mas mengetahui semuanya, Mas berhak mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari saya, perempuan yang Mas cintai." ucap Senja.
"Ini bukan sekedar janji, ini tanggung jawab saya, laki-laki itu yang dipegang ucapannya dan tanggung jawabnya. Maka dari itu saya hanya ingin melakukan yang terbaik untuk kamu dan pernikahan kita." ucap Reyhan dengan tersenyum, ia mengecup bibir Senja dengan lembut.
Senja masih tersenyum, jujur ia bahagia mendengar ucapan Reyhan.
"Kalau begitu izinkan saya mengatakan apa yang seharusnya saya katakan sejak awal, besok malam setelah Mas pulang tarawih, saya akan katakan semuanya, kejujuran dari saya." ucap Senja dengan tersenyum, kemudian menyalimi tangan Reyhan.
*
*
*
Maaf sebelumnya Readers, bukan maksud DD tidak teratur dalam menulis, tapi DD lagi sibuk pada proses penyusunan skripsi, maka dari itu DD tidak menargetkan setiap hari apa, atau jam berapa DD akan meng-update cerita ini. Gak apa-apa kok kalau Reader tidak mau baca lagi, karena cerita ini hanya sekedar hobi dari DD, terimakasih (^v^)