
Senja berdecak kesal melihat matanya yang menyipit di pantulan cermin akibat semalam terlalu banyak menangis.
"Kenapa hm?" Reyhan melingkarkan tangannya di perut Senja, memeluk hangat Senja dari belakang.
"Bahaya gak sih Mas kalau keluar kamar mata aku kayak gini." ucap Senja dengan wajah lesu.
Kini keduanya sudah mengganti panggilan, dari "saya-kamu" menjadi "aku-kamu". Hal ini mereka sepakati semalam, ketika Senja sudah berhenti menangis.
"Em.. bahaya sih gak, tapi nanti pasti ditanyain Mama." ucap Reyhan dengan mencium ceruk leher Senja.
"Mas Reyhan ada kaca mata?" tanya Senja sembari membalikkan tubuhnya.
Mata sipitnya terlihat menggemaskan bagi Reyhan, ia tertawa melihatnya.
"Kan... ketawa lagi." Senja mencebikkan bibirnya kemudian berjalan menjauh dari Reyhan.
Sudah kesekian kalinya Reyhan tertawa karena mata sipit Senja, lucu katanya.
"Jangan marah dong sayang..." bujuk Reyhan dengan suara lembutnya, ia menahan tangan Senja, membalikkan tubuh Senja agar menatapnya.
"Mas nyebelin tau." Senja tak mau menatap Reyhan.
"Kamu makin gemesin kalau matanya sipit gini." rayu Reyhan dengan tersenyum.
"Mas kalau mau ketawa, ketawa aja deh, gak usah di tahan-tahan gitu." cabik Senja dengan wajah merajuk.
"Astaghfirullah, begini yah kalau istri merajuk." guman Reyhan.
Senja mendelik mendengar gumaman Reyhan.
"Lihat sini." Reyhan membawa Senja kembali ke depan cermin, menatap pantulan wajahnya.
"Kamu itu cantik, gemesin, imut, mata sipit kamu ini gak membuat aura kamu luntur sayang, malah bikin aku makin sayang." ucap Reyhan dengan lembut, ia tidak lagi tertawa ketika melihat mata sipit Senja.
"Berarti kalau aku gak sipit, Mas Reyhan gak sayang sama aku." ucap Senja dengan wajah sedih.
"Ya Allah." desis Reyhan dengan raut wajah lemas.
"Yaudah sini aja deh." Reyhan membawa Senja duduk di ranjang. "Humairahku, kamu itu spesial dengan semua kelebihan dan kekuranganmu, mau sipit, pesek, atau gemuk sekalipun tetap tidak mengurangi rasa sayang dan cinta aku sama kamu." ucap Reyhan dengan lembut.
Senja menunduk malu dibuatnya, pipinya bersemu.
"Kamu itu Humairahku, pipi ini yang menjadi penggagas panggilan itu untukmu." ucap Reyhan dengan penuh kelembutan.
"Mas sering berkata manis begini yah kepada gadis-gadis di luar sana, apalagi Mas kan dosen muda incaran para mahasiswi." ucap Senja.
"Cuma kamu Senja, cuma kamu yang membuat mulut ini sering berkata manis." ucap Reyhan lembut.
Kembali Senja bersemu merah. Ia yang bertanya, ia juga yang tersipu mendengar jawaban Reyhan.
"Mas." panggil Senja.
"Hmm?" Reyhan menatap Senja penuh cinta.
"Amplop cokelat yang Mas ambil semalam katanya mau dibuka pas sahur." ucap Senja.
Reyhan diam mengingat amplop yang ia ambil ketika Senja mengungkapkan semuanya semalam.
Flasback On
"Permisi Pak Reyhan."
Seorang security datang menghampiri Reyhan yang tengah bersiap untuk pulang.
"Ada apa Pak?"
"Ini ada paket untuk Pak Reyhan." ucapnya sembari memberikan amplop cokelat.
"Dari siapa Pak?" tanya Reyhan, ia membolak-balikkan amplop tersebut, namun tak ada nama pengirimnya.
"Tidak tahu Pak, tadi ada laki-laki menggunakan pakaian serba hitam, dia berhenti di depan gerbang kampus, terus menitipkan amplop ini untuk Bapak." jelasnya pada Reyhan.
Reyhan mengangguk mengerti. "Terimakasih Pak."
Reyhan bergegas pulang, ia akan menjemput Senja terlebih dahulu sesuai permintaan Mama Mira untuk berbuka bersama di rumah. Ia hanya menyimpan amplop tersebut di dalam tas kerjanya, dan baru akan di buka ketika di rumah.
Hingga pada saat Senja mandi, Reyhan baru membuka amplop tersebut. Isi dari amplop tersebut adalah beberapa foto Senja yang tengah berbicara bersama Fino ketika di rumahnya waktu itu, dan Foto asing yang tidak terlalu terlihat karena semuanya gelap, hanya sedikit penerangan, membuat Reyhan masih bisa melihat seseorang yang tengah tertidur di ranjang kecil.
Selain beberapa foto, ada sebuah surat yang terlipat dengan rapi. Reyhan membukanya, namun kertas itu kosong, tidak bertuliskan apapun. Satu yang dapat Reyhan simpulkan, pengirimnya ingin ia membenci Senja, atau menginginkan kehancuran rumah tangganya.
Hingga ketika Senja mengungkapkan kejujurannya, baru Reyhan mengerti, bahwa foto gelap dengan penerangan yang minim itu adalah foto Senja ketika malam mengerikan itu.
Flasback Off
"Tapi kayaknya gak jadi deh." ucap Reyhan. "Mending lanjut tidur aja." Reyhan langsung memeluk Senja dan merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Tapi aku penasaran Mas." ucap Senja dalam pelukan Reyhan.
"Bagaimana jika kita memikirkan tentang memiliki seorang baby?" Reyhan mencoba mengalihkan pembicaraan.
Senja mendongak menatap manik mata Reyhan yang tengah menatapnya pula.
"Aku akan bantu kamu menghilangkan trauma itu Senja." ucap Reyhan dengan lembut, seolah paham dengan tatapan khawatir dari Senja.
Senja nampak menimbang apa yang diucapkan Reyhan. Ia jelas tidak bisa menolak permintaan Reyhan. Rasa cintanya pada Reyhan, apalagi setelah Reyhan tetap menerima segala kekurangannya membuat Senja jelas tidak bisa berkata tidak. Akhirnya ia mengangguk dengan tersenyum.
Reyhan tersenyum bahagia, ia memberikan banyak kecupan di wajah Senja.
"Mau di mulai kapan?" tanya Reyhan dengan genit.
"Yah...." Reyhan tersenyum lemas.
"Maaf yah Mas." ucap Senja dengan wajah sendu.
Reyhan terkekeh pelan, sebenarnya ia hanya sedang menggoda Senja dan mengalihkan pikiran Senja dari amplop itu.
"Mas gak marah sayang, gak dapat hari ini, hari lain juga bisa kan." Reyhan menaik-turunkan kedua alisnya bergantian, kembali menggoda Senja.
"Mimpi apa semalam, kenapa jadi berubah begini." gumam Senja, menatap horor Reyhan.
Tok!
Tok!
Tok!
"Kayaknya Mama deh Mas." ucap Senja, ia langsung bangkit dan segera membuka pintu.
"Sayang, biarin aja sayang... ah... Mama ganggu deh." dengan langkah malas Reyhan berjalan menyusul Senja.
"Pagi sayang." sapa Mama Mira dengan tersenyum menatap Senja, bukan Reyhan yang tengah menatap malas sang Mama.
"Loh mata kamu kenapa sayang?" Mama Mira terlihat khawatir melihat mata sipit Senja.
"Senja habis menangis? Kenapa sayang? Reyhan yang jahatin kamu yah?" Mama Mira langsung menatap Reyhan dengan mata melotot.
BHAK!
BHUG!
DUG!
Mama Mira memukul Reyhan tanpa ampun.
"Aw aw Ma, Ma sakit Ma." teriak Reyhan sambil menghindar dari pukulan Mama Mira.
"Ma, Ma, Ya Allah, Ma berhenti Ma, kasihan Mas Reyhan." Senja mencoba menenangkan Mama Mira yang tengah memukuli Reyhan.
"Jangan tahan Mama sayang, anak nakal ini memang harus di kasih pelajaran sayang, supaya gak dzolim sama istri." ucap Mama Mira masih dengan semangat menggebu-gebu.
Reyhan meringis mendengarnya. Memang sangat berbahaya jika sang Mama sedang marah.
"Ma, semalam Senja habis menonton film sedih, makanya sekarang mata Senja bengkak dan menyipit, bukan karena Mas Reyhan Ma, Mas Reyhan gak pernah kasar atau dzolim sama Senja." ucap Senja dengan lembut. Terpaksa ia berbohong, karena Reyhan masih belum memberikan izin untuk berkata jujur pada Mama Mira.
"Benar begitu sayang? Kamu gak lagi coba melindungi anak nakal ini kan?" tunjuk Mama Mira pada Reyhan yang menatap tidak terima.
"Apa lihat-lihat?" Mama Mira mendelik menatap Reyhan.
"Sungguh Ma, Mas Reyhan gak salah, semalam Senja habis menonton film sedih, makanya menangis." ucap Senja lagi.
"Iya sayang, Mama percaya, yaudah yuk turun ke bawah, kita sahur bareng." ajak Mama Mira dengan menggandeng tangan Senja.
Senja menoleh ke belakang menatap Reyhan dengan tatapan khawatir, sementara Reyhan tersenyum dan mengangguk, seolah berkata 'aku baik-baik saja sayang, jangan khawatir.'
***
"Kenapa jalanmu begitu Rey?" tanya Papa Alex.
"Tanyakan pada istri Papa." Reyhan menjawab dengan suara datar.
Papa Alex mengedikkan bahunya, kemudian berjalan mendahului Reyhan.
Sesampainya di meja makan, Mama Mira dan Senja sudah duduk di kursinya masing-masing.
"Reyhan kenapa Ma?" tanya Papa Alex.
"Salah paham Pa, Mama kira dia yang buat Senja menangis, makanya Mama gebukin, Mama kasih dia pelajaran." jawab Mama Mira.
Senja menunduk tak enak hati mendengarnya, karena dirinya Reyhan jadi digebukin Mama Mira.
"Mas." Senja membantu Reyhan berjalan menuju meja makan.
"Maafin Mama yah Rey." ucap Mama Mira, ia jadi tak tega melihat Reyhan kesusahan saat berjalan.
"Sering-sering begini yah Ma, nanti Reyhan larang Senja untuk bertemu Mama." ucap Reyhan.
"Eh kok gitu sih Rey, gak bisa dong, ka.."
"Ma, sebentar lagi imsak, kita sahur dulu." Papa Alex langsung menghentikan omelan Mama Mira sebelum perang dunia ke-3.
"Mas mau makan apa?" tanya Senja, ia sedang mengambilkan nasi untuk Reyhan.
"Apa saja sayang, yang menurut kamu enak." jawab Reyhan dengan lembut. Mama Mira dan Papa Alex sampai terkejut mendengarnya.
"Banyakin makan sayur yah Mas, ini lauknya ikan dan udang." ucap Senja sembari memberikan sepiring makanan pada Reyhan.
"Makan bareng yah, suapin juga." ucap Reyhan dengan suara manja. Senja tersenyum mengangguk.
"Ukhuk!!" Mama Mira tersedak, dengan sigap Papa Alex memberikan minum.
"Pelan-pelan dong Ma." Papa Alex mengelus punggung Mama Mira.
"Reyhan gak lagi kesambet kan Pa?" bisik Mama Mira.
"Dia sudah menemukan pawangnya Ma." ucap Papa Alex.
Akhirnya Reyhan dan Senja makan di piring dan sendok yang sama, dengan saling menyuapi satu sama lain.