
BRAK!
Suara pintu di dobrak, bertepatan dengan transaksi perdagangan manusia antara penjual yaitu kelompok Fino dengan pembeli. Mata mereka membelalak, terkejut ketika melihat para polisi berseragam, lengkap dengan pistol ditangannya.
"Jangan bergerak!"
"Kalian sudah di kepung!"
"Angkat tangan kalian!"
Mereka yang tidak memiliki persiapan langsung mengangkat tangannya, sedangkan sisanya berlari melalui pintu belakang. Baku tembak pun terjadi, karena mereka juga dipersenjatai dengan pistol.
DOR!
Tembakan pertama membuat gadis-gadis yang akan di jual berteriak ketakutan, mereka segera berlari, berlindung di balik dinding.
DOR!
DOR!
Polisi menembak kaki salah satu dari beberapa orang yang melarikan diri. Akhirnya orang itu jatuh tersungkur dan menggerang karena kesakitan.
"Sial!" umpatnya.
"Diam di tempat!" ucap salah seorang polisi dengan menodongkan pistol.
Tangannya diborgol ke belakang, dan segera di bawa masuk ke dalam kembali.
Beberapa anak buah Fino berhasil melarikan diri, sementara sisanya tertangkap, dan tertembak karena sempat melawan.
DUGH!
Geri menendang tungkak pria bertubuh kurus yang memasuki hutan, hendak kabur.
Pria itu tersungkur, kemudian bangun kembali. Ia membalikkan tubuhnya menatap marah pada Geri. Matanya melotot dengan urat-urat dilehernya yang timbul.
"Siapa kamu?" tanya pria itu, ia memasang posisi sial melawan Geri.
Geri tersenyum sinis menatap pria di hadapannya. Ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan pria itu, melainkan langsung memberikan tendangan pada perut pria itu.
Pria kurus itu memundurkan langkahnya, memegangi perutnya yang sedikit sakit. Geri tidak menendangnya dengan kuat, ia hanya memberikan pancingan pada pria itu agar menyerangnya.
"Kurang ajar!"
Pria itu berlari menuju Geri dengan tinjunya yang hampir mengenai pipi kiri Geri.
"Not bad, kurang memuaskan." cibir Geri.
Apa yang dilakukan pria kurus di hadapannya masih tidak ada apa-apanya. Sebenarnya ia mampu melawannya dalam kurun waktu 1 menit, hanya saja ia ingin sedikit bermain dengan pria kurus itu.
"Hiyaaaaa."
Geri menghindar dari pukulan pria itu, sebaliknya ia memberikan tendangan keras pada telinga kiri pria itu, hingga membuat pria itu pusing, dengan telinga yang berdenging. Tubuhnya lunglai dan tak berdaya, hampir-hampir jatuh ke tanah.
DUGH!
Geri meninju dada pria itu, hingga ia terjatuh di tanah. Melihat pria itu tak berdaya dan hampir pingsan, Geri menyalurkan kekesalannya dengan mematahkan kaki kanan pria itu.
KREAAKK!
Dan melanjutkannya dengan mematahkan tangan kiri pria itu. Pria kurus itu menggerang kesakitan, ia berteriak merasakan sakit karena tulangnya yang patah, dan segera tidak sadarkan diri.
"Cuih!" Geri meludahi punggung pria itu. "Cukup menyenangkan." ucap Geri dengan tersenyum miring.
Geri menghidupkan alar komunikasi yang terpasang di telinganya.
"Pasukan A."
"Pasukan A di sini."
"Masuk ke dalam hutan, tangkap semua mereka semua yang berhasil kabur." perintah Geri.
"Siap."
Pasukan A segera melaksanakan perintah Geri, mereja menyebar ke penjuru hutan untuk menangkap para penjahat yang kabur.
"Pasukan B."
"Pasukan B di sini."
"Siap."
Pasukan B segera berpencar pula, mereka membantu polisi mengumpulkan penjahat yang sudah tertangkap. Kemudian mengamankan para gadis dan sisanya berpencar ke seluruh bangunan untuk mencari organ-organ tubuh manusia, dan tentunya dibantu para polisi.
Sementara itu, Reyhan menatap tajam pria berkulit putih di hadapannya. Namanya Garfi, dia lah yang membeli para gadis itu, untuk di pekerjakan di dalam club miliknya dan sisanya akan dijadikan wanita malam.
"Jangan coba-coba mendekat." ucap Garfi dengan menodongkan pistol di depan Reyhan.
Jarak mereka sekitar 5 meter, cukup untuk melihat wajah masing-masing meskipun gelap di dalam hutan. Bulan purnama sedikit memberikan cahaya bagi keduanya.
Reyhan yang jauh lebih serius dibanding Geri ketika dengan musuhnya langsung menarik tali benang yang berada di genggamannya. Sebuah balok kayu terjun bebas mengenai kepala Garfi. Ia tersungkur, dengan pistol yang terlempar ke depan.
Reyhan langsung mengambil pistol itu, berbalik menodongkannya pada Garfi. Garfi tersenyum kecut sembari mencoba berdiri, ia merasakan darah segar mengalir dari belakang kepalanya.
"Menyerahlah." suara Reyhan yang begitu dingin membuat Garfi ketakutan, ditambah tatapan membunuh dari Reyhan yang sial melahabnya.
"Tolong lepaskan saya, saya tidak ada kaitannya dengan semua ini." ucapnya mencoba tenang dan mengajak Reyhan bernegosiasi.
"Saya bisa berikan apapun yang kamu mau, uang ataupun kekayaan lainnya." ucap Garfi memberikan penasaran pada Reyhan.
Reyhan mendengus dan tersenyum miring.
"Saya tidak butuh harta harammu, saya ingin kamu mendekam di balik jeruji dan merasakan dinginnya lantai penjara." ucap Reyhan.
Garfi menggelangkan kepalanya. Ia terlihat berpikir untuk mencari jalan agar bisa kabur.
Tiba-tiba ia menunduk dengan cepat, mengambil tanah kering dengan tangannya, kemudian melemparkannya tepat di depan wajah Reyhan.
Pergerakan Garfi yang tiba-tiba, membuat Reyhan belum sempat menghindar, alhasil matanya terkena debu tanah yang dilemparkan Garfi. Di saat Reyhan memulihkan pandangannya, Garfi mulai melarikan diri, samar-samar Reyhan mampu melihat kemana arah Garfi kabur. Dengan pandangannya yang kabur dikarenakan mata yang perih, Reyhan menarik pelatuknya.
DOR!
DOR!
Dua kali ia melepaskan tembakannya, tembakan pertama mengenai pundak kanan Garfi, sementara tembakan kedua mengenai paha kanan Garfi.
Garfi langsung tersungkur dan merintih kesakitan, darah segar mengalir membasahi punggung dan kakinya.
Reyhan yang sudah bisa memulihkan pandangannya, datang menghampiri Garfi. Ia menekan luka di paha Garfi dengan kaki kirinya, sementara kaki kanannya menginjak jari-jari tangan Garfi.
"AKKHH!" Garfi berteriak kesakitan.
"Tangan ini yang sudah melempar tanah dan membuat mata saya perih, sementara kaki ini yang mencoba kabur untuk lari dari tanggung jawab." ucap Reyhan dengan dingin. Tatapannya kembali tajam dengan napas yang memburu.
Sebetulnya ide Garfi sudah cukup baik, ia berhasil membuat Reyhan kesakitan karena matanya yang perih, dan mengakibatkan kabur nya pandangan Reyhan. Hanya saja, idenya tadi tidak jauh lebih baik dari kemampuan Reyhan.
"Ini dia buruan malam ini." suara Geri mengalihkan pandangan Reyhan.
"Jangan di bunuh Kak, biarkan dia mengikuti proses peradilan." ucap Reyhan ketika Geri akan menembak kepala Garfi.
"Yah tidak seru." keluh Geri dengan wajah dibuat cemberut.
"Bawa dia." perintah Geri pada anak buahnya.
Mereka kembali ke bangunan terbengkalai dengan membawa Garfi dan beberapa orang yang kabur dan berhasil ditangkap, meskipun tidak semuanya.
"Terimakasih Pak Geri dan Pak Reyhan." ucap seorang komisaris pada Geri dan Reyhan. Mereka berjabatan tangan secara bergantian.
"Sama-sama Pak Baron." ucap Geri.
"Hubungi kami kembali, kami siap membantu." ucap Komisaris Baron.
"Siap, kasus ini masih belum selesai, kami harap kepolisian amanah dalam menangani kasus ini." ucap Reyhan.
"Pasti, pasti itu Pak Reyhan, kami akan mengawal kasus ini hingga selesai, bukti-bukti konkrit ini mampu menjebloskan mereka ke dalam penjara." ucap Komisaris Baron.
Geri dan Reyhan mengangguk.
Malam melelahkan mampu terlewati, kini Geri dan Reyhan kembali pulang setalah berjibaku dengan para penjahat.
Beberapa jam yang lalu, setelah Bimo berhasil mendapatkan lokasi dimana mereka akan melakukan transaksi penjualan para gadis, Bimo langsung memberitahukan Ger. Hingga akhirnya, Geri dan Reyhan yang memang mulai bekerjasama dengan polisi meringkus dan menggagalkan transaksi para penjahat, membebaskan para gadis dan berhasil menemukan ruangan pendingin yang dibuatnya untuk meletakkan organ-organ manusia.
*
*
*