
Waktu adzan maghrib sebentar lagi. Alhamdulillah semua masakan sudah tersaji di atas meja. Sambal pete pesanan Papa Alex, sup tomat ikan patin dengan udang crispy pesanan Reyhan. Untuk sayurnya ada lalapan timun, rebusan bayam dan kol.
Senja kini tengah membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi. Ia sendiri bingung kenapa di dalam kamar Reyhan baju-baju gamis panjang yang seukuran dengannya dan sudah tersedia dengan berbagai warna dan model pula. Walaupun ia sering berpikir bukan tidak mungkin jika semua sudah disiapkan sejak jauh-jauh hari. Mengingat keluarga Reyhan pun bukan seperti keluarga sederhana lainnya.
"Mas gak mandi?" tanya Senja sembari merapikan bentuk jilbab segi empat panjang yang ia kenakan.
"Enggak." jawab Reyhan sambil terus memandangi Senja yang terlihat menggemaskan di matanya. Baru ia sadari betapa mungil, dan lucunya perempuan yang sudah ia nikahi beberapa hari yang lalu itu.
"Mas sakit?" Senja berjalan mendekati Reyhan, kemudian menyentuh kening Reyhan yang suhunya normal.
"Biar saya siapkan air hangat yah Mas." ucap Senja.
"Gak usah, saya memang jarang mandi sore, biasanya nanti sebelum tidur." ucap Reyhan dengan masih memandangi Senja.
"Oh...iya-iya." Senja manggut-manggut mendengar penjelasan Reyhan. "Tapi itukan gak bagus untuk kesehatan." gumam Senja yang masih di dengar Reyhan.
"Iya, mulai besok saya akan membiasakan mandi sore yah, gak malam lagi." ucap Reyhan membuat Senja tersenyum kikuk karena malu gumamannya didengar.
"Aneh yah Mas gamisnya?" tanya Senja. Keningnya berkerut ketika melihat Reyhan tidak melepaskan pandangannya dari dirinya. "Kayaknya emang saya gak cocok pake gamis model ini yah Mas." lanjutnya dengan wajah cemberut.
"Biar saya ganti saja bajunya." ucap Senja kemudian berbalik bermaksud ingin mengganti gamisnya.
Reyhan mencekal pergelangan tangan Senja, menuntunnya berdiri di hadapannya seperti semula.
"Gamisnya cocok sama kamu, jangan di ganti yah." ucap Reyhan dengan lembut.
Senja diam mendengarnya. Apa yang salah dengan Reyhan pikirnya. Sebelum menikah seperti ada jarak di antara mereka, yah memang sebelumnya Senja juga turut memberikan jarak itu. Tapi setelah menikah, jarak itu seolah semakin terkikis. Bahkan tanpa disadari kini sifat dingin dan datarnya Reyhan menjadi jarang terlihat oleh Senja. Kini malah sering tersenyum.
"Ayo ke bawah, 5 menit lagi adzan." ajak Reyhan, dan kembali ia menautkan jari besarnya, ke jari-jaru kecil milik Senja.
Benar adanya kini tautan jari itu menjadi rutinitas harian mereka, karena Reyhan terlihat lebih sering menggandengnya.
Di bawah Mama Mira sedang mengobrol bersama Bella. Setengah jam yang lalu Bella sudah datang dengan membawa buah-buahan. Ia beralasan sudah mengikhlaskan Reyhan dan ingin mengenal istri Reyhan karena baginya Reyhan adalah seorang Kakak, begitu juga istrinya. Sesungguhnya hanya dia yang tahu bagaimana isi hatinya sendiri.
"Dimana istri Kak Reyhan Tante?" tanya Bella dengan raut wajah penasaran. Ia clingak-clinguk mencari sosok perempuan yang menjadi istri Reyhan.
"Masih di atas bareng Reyhan, bentar lagi turun." ucap Tante Mira. "Nah itu mereka." ucap Tante Mira ketika melihat Reyhan dan Senja berjalan beriringan menuruni tangga.
Bella langsung berdiri dari duduknya, raut wajahnya tidak bisa dibohongi bahwa memang ia begitu penasaran dengan istri Reyhan. Karena memang ketika hari pernikahan Reyhan ia tidak datang. Dengan penuh senyuman Bella sedikit berlari ingin menyambut Reyhan.
Namun ketika sudah di bawah tangga, wajah penuh senyuman itu kini semakin memudar, terlihat menahan marah dan kekesalan dalam dirinya.
"Senja." desisnya menahan marah di hatinya.
Tatapan Bella berhenti ketika melihat Reyhan yang dengan lembut menggandeng tangan Senja.
"Berani-beraninya." tangan Bella terkepal, mencoba meredamkan amarahnya. Ia tidak ingin terlihat buruk hanya karena tidak bisa menahan diri untuk memaki Senja saat ini.
"Cantiknya mantu kesayangan Mama." Mama Mira tersenyum melihat kedekatan anak dan menantunya.
"Maaf lama Ma." ucap Senja tak enak hati.
"Gak papa sayang, namanya juga pengantin baru." ucap Mama Mira membuat Senja tersenyum malu.
"Hai Kak Reyhan." sapa Bella.
Reyhan menoleh dengan wajah datar tanpa membalas sapaan Bella.
"Oh hai, lo cewek yang waktu itu ikut berbuka bersama kan?" ucap Bella, pura-pura menebak.
"Yah." Senja hanya menjawab seperlunya dengan tersenyum.
"Gak nyangka ternyata kamu istri Kak Reyhan, selamat yah untuk pernikahan kalian." ucapnya kemudian memeluk Senja dengan tiba-tiba.
"Dan harusnya waktu itu gue datang untuk menghancurkan pernikahan kalian." bisiknya pada Senja, kemudian ia melepaskan pelukannya dan tetap tersenyum menatap Senja.
"Terimakasih." ucap Senja dengan tersenyum pula.
Mama Mira tersenyum melihatnya, ia pikir Bella akan marah atau kecewa. Ternyata bayangannya salah, Bella bahkan memeluk dan tersenyum pada Senja. Yang tidak Mama Mira tahu adalah Bella sedang bersandiwara saat ini.
"Ayo kita ke ruang makan, Papa sudah menunggu di sana." ajak Mama Mira.
Sesampainya di ruang makan Reyhan dengan lembut menarik kursi dan mempersilakan Senja untuk duduk di sampingnya. Melihat kelembutan Reyhan dalam memperlakukan Senja membuat Bella iri dan marah.
"Seharusnya aku yang di sana, bukan cewek murahan itu." Bella menatap benci Senja.
Melaksanakan tugas pertamanya sebagai seorang istri, Senja mengambilkan nasi dan lauk yang diinginkan Reyhan dan melayani Reyhan dengan telaten.
"Kamu juga makan." Reyhan mengambilkan udang crispy, meletakkannya di piring Senja.
Senja tersenyum dengan menganggukkan kepala. Bella yang melihatnya menahan kekesalan dalam dirinya, tangannya sudah terkepal di bawah meja. Ia yang berhadapan dengan kedua sejoli itu harus bisa menahan dirinya.
"Gimana kabar Mama kamu Bel?" tanya Mama Mira.
"Baik Tante, kapan-kapan aku ajak Mama ke sini." jawab Bella.
"Iya boleh Bel, waktu di pernikahan Reyhan dan Senja kemarin Mama sama Papa kamu tidak ada datang, padahal udah Tante undang loh, kamu juga gak datang." ucap Tante Mira.
"Iya Tante, kemarin memang lagi pada sibuk kayaknya, jadi gak bisa datang ke pernikahan Kak Reyhan." ucap Bella.
***
"Bunda jadi mau ikut ke Jawa kan? Kita lebaran bareng di rumah Mbah." tanya Bintang sambil menikmati menu berbuka.
Ketika semua keluarga sudah kembali ke Jawa, ia memang tidak ikut pulang. Katanya mau pulang ke Jawa bareng Bunda Lusi, sekalian Bunda mudik untuk ikut lebaran bareng bersama keluarga besar.
"Jadi dong, beberapa hari lagi kita ke jawa, sekitar H-7 sebelum lebaran. Tapi sebelumnya kita menemui Mbak kamu dulu, kita pamit sama Mbak." jawab Bunda.
"Bunda, boleh Bintang tanya sesuatu" ucap Bintang.
"Mau tanya apa?" tanya balik Bunda.
"Siapa laki-laki yang kemarin malam datang ke sini?" tanya Bintang. "Dan kenapa Ayah gak tinggal bareng sama kita?" tanyanya lagi.
Bunda menghentikan kegiatan makannya. Ia menghela napas berat, terlihat raut wajah khawatir bercampur bingung.
"Bunda sama Mbak lagi nyembunyiin sesuatu kan?" tebak Bintang yang tak kunjung mendapat jawaban dari Bunda.
"Bunda gak mau cerita? Bunda mau Bintang yang cari tahu sendiri?" ucap Bintang sedikit memaksa.
Sifat keras kepala Bintang dan tak sabaran membuat ia mendesak semua yang ia tanyakan harus dijawab. Karakter inilah yang berbanding terbalik dengan Senja. Jika Senja tidak mampu menyuarakan keinginannya, atau pendapatnya, maka Bintang lebih mampu menyampaikan apa yang dia inginkan atau apa yang dia tidak suka.
"Biar Bintang tebak, Bunda tidak lagi bersama Ayah, dan laki-laki yang semalam datang ke rumah itu adalah orang yang lagi dekat dengan Bunda, benar begitu?" tebak Bintang.
Bunda diam tidak menjawab.
"Kata orang kalau diam berarti iya, sekarang Bintang tanya lagi sama Bunda, apa penyebab Bunda dan Ayah berpisah? Dan bagaimana latar belakang laki-laki yang sedang dekat dengan Bunda sekarang?" cerca Bintang lagi.
Kini Bunda semakin tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
"Bunda tolong jawab pertanyaan Bintang dong, Bintang sudah SMA, bukan lagi anak kecil yang apa-apa harus di jaga, semuanya di tutup-tutupi. Bunda cuma membagi masalah dengan Mbak Bila, apa Bunda tahu Mbak pasti sakit memikul beban sendirian. Tolong jelaskan semuanya pada Bintang Bunda."
"Bintang, ada sesuatu yang memang seorang anak tidaklah harus tahu Nak." ucap Bunda dengan lembut.
"Bintang anak Ayah dan Bunda, jelas apapun yang berhubungan dengan kalian berdua adalah urusan Bintang. Gak adil kalau Bintang harus hidup tanpa tahu masalah yang terjadi." ucap Bintang.
Bunda menghela napas pelan, ia mengangguk kepala. Memang benar apa yang diucapkan Bintang.
"Ada alasan yang tidak bisa dijelaskan, tapi yang jelas, Bunda dan Ayah tidak bisa untuk kembali bersama." ucap Bunda.
Tidak mungkin Bunda mengatakan semuanya. Bunda tidak ingin Bintang membenci Ayahnya. Karena seburuk-buruknya seorang Ayah dia tetaplah Ayah bagi anak-anaknya. Sifat dan karakter Bintang yang berbeda dengan Senja, membuat Bunda lebih terbuka dengan Senja, lagipula sudah hampir 6 tahun Bintang tidak tinggal bersama Bunda, itulah sebabnya Bunda lebih suka membagi masalahnya dengan Senja.
Bintang mengangguk.
"Bintang tunggu alasannya, kapanpun itu." ucap Bintang. "Lalu laki-laki itu?" tanyanya lagi.
"Iya memang Bunda sedang dekat dengan dia, tapi hanya sebatas Kakak dan Adik, tidak lebih, sebatas saudara." jawab Bunda dengan gugup.
"Saudara?" Bintang memicingkan matanya tidak percaya.
"Iya."
Bintang tidak lagi bertanya, ia sudah sedikit mendapatkan informasi yang diinginkannya. Untuk informasi lebih lengkapnya, ia berjanji akan mencari tahu sendiri agar semuanya clear.
"Bunda gak mau cerita, Mbak juga pasti gak akan mau cerita, biar Bintang cari tahu semuanya sendiri." batin Bintang.
"Maafkan Bunda, Bintang."