Better Days

Better Days
Bayangan Kelam



"Lepaskan, tolong lepaskan saya, saya mohon, jangan lakukan itu pada saya, hiks."


"Tolong lepaskan!"


"Lepaskan saya, hiks hiks."


"Saya mohon."


"Tolong jangan lakukan itu, hiks, tolong lepaskan saya."


Senja terbangun dengan napas terengah-engah, keringat bercucuran, dengan mata yang basah karena menangis. Mimpi yang hadir setiap malam, selalu mengganggunya. Bagai mimpi buruk yang selalu menghantuinya. Hal yang tidak pernah ia inginkan, bahkan untuk sekedar membayangkannya saja tidak pernah. Namun takdir berkata lain, sesuatu menimpanya, musibah yang setiap perempuan pasti tidak ingin mendapatkannya.


Dengan napas yang tak beraturan, Senja mendudukkan dirinya, menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Ia menangis dengan mengeratkan lilitan selimut pada tubuhnya. Duduk meringkuk dengan memeluk lututnya.


"Kenapa bayangan-bayangan itu selalu datang, hiks." ucapnya dengan suara lemah dan isak tangis yang belum berhenti.


Lampu yang tetap hidup ketika ia tertidur pun tidak bisa membuat mimpi dan bayangan kelam itu menghilang. Sekuat apapun ia mencoba untuk melupakannya, namun semua itu gagal, bayangan kelam itu selalu hadir menghantuinya. Ke manapun Senja pergi ia selalu ikut, tak sedetik pun meninggalkan Senja. 


Puncaknya adalah ketika malam hari, Senja selalu merasakan sesak di dadanya. Dan beginilah reaksi yang akan ditimbulkannya. Menangis, berkeringat, dengan napas yang tak beraturan.


Setelah menghabiskan beberapa menit untuk menangis kini Senja sudah mulai merasa tenang, walaupun masih memikirkan mimpi- mimpi yang selalu datang setiap malam.


Ia mengambil handphone di samping tempat tidurnya, waktu sudah menunjukkan pukul 3:00 dini hari, ia memilih untuk melaksanakan shalat malam. Mungkin ini cara Allah membangunkan dirinya, untuk selalu beribadah kepada-Nya.


***


"Pagi-pagi udah kusut aja tuh muka, kenapa Bro? Masih galau mikirin gadis pujaan hatimu itu?" tanya Riko sambil mendudukkan dirinya di samping Reyhan yang tengah berjibaku dengan beberapa laporan.


"Sotoy, sok tau kamu Rik." ucap Reyhan tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop di hadapannya.


"Karena aku tahu makanya aku tidak asal bicara, gimana perkembangannya? Dari semua gadis yang bernama Maura itu apa ada gadis yang kamu cari?" tanya Riko lagi sambil memasukkan camilan ke dalam mulutnya.


"Aku menyerah." ucap Reyhan tiba-tiba.


Riko tersedak mendengarnya, cepat-cepat ia mengambil segelas kopi milik Reyhan, dan meminumnya sampai tandas tak tersisa.


"What?" ucap Riko dengan melongo. "Kenapa?" tanyanya.


"Secepat itu kamu menyerah hanya karena susah mencari gadis pujaanmu itu? Katanya mau berjuang sampai titik darah penghabisan, mana buktinya Rey?" lanjutnya tidak terima dengan keputusan Reyhan.


Reyhan terdiam sejenak sebelum menjawab rentetan pertanyaan dari Riko.


"Aku bukan menyerah untuk mengharapkan dia Rik, aku hanya menyerah untuk mencarinya." ucap Reyhan.


"Kalau kamu tidak mencarinya, bagaimana bisa Mauramu akan datang dengan sendirinya tanpa adanya usaha darimu Rey." ucap Riko.


"Aku tahu itu, tapi jika aku mengejarnya, mencarinya tanpa henti, bukan tak mungkin dia akan semakin menjauh dariku."


"Inginku saat ini adalah fokus memperbaiki diriku Rik. Kemarin aku bertemu dengan ustadz Kamil, dia bilang mungkin Maura belum bisa melanjutkan ta'aruf itu, atau bahkan tidak bisa melanjutkannya. Maura sedang mendekatkan diri kepada Allah, maka dari itu, aku juga akan mendekatkan diriku pada-Nya."


"Bukankah ketika kita menginginkan makhluk ciptaan-Nya kita harus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta? Itulah yang sedang aku lakukan kini Rik. Jika pun Maura dan aku tidak berjodoh, Allah pasti akan memberikan jodoh yang lebih baik, yang telah Dia siapkan untukku." 


"Aku akan mendukung penuh apapun keputusanmu, selagi itu positif dan baik untukmu. Tapi ingat Rey, terkadang cinta pun perlu diperjuangkan." ucap Riko setelah selesai mendengarkan alasan dari Reyhan.


"Iya, terimakasih selalu mendukungku." ucap Reyhan.


"Bagaimana dengan tantangan dari tante? Apa masih berlanjut?" tanya Riko.


"Yah masih." jawab Reyhan.


"1 minggu." jawabnya.


"Astaga, serius? Wah... aku tidak bisa berkata apa-apa Rey." ucap Riko.


Reyhan terkekeh mendengarnya. Ia mengambil cangkir yang berisikan kopi miliknya, berniat meminumnya. Namun ketika menyentuh bibirnya, setetes pun kopi sudah tidak ada lagi. Reyhan melongos kesal dengan menatap Riko. Sementara yang ditatap hanya bisa memberikan senyum pepsodent.


"Buatkan yang baru, aku tidak mau tahu." ucap Reyhan dengan memberikan tatapan mengerikan pada Reyhan.


"Yaelah Rey dikit doang, tadi kan aku tersedak karena berita yang kamu berikan." ucap Riko memberikan alasan.


"Aku tidak mau tahu Rik, buatkan sekarang, kerjaanku masih banyak, sementara aku butuh asupan tenaga, kau harus bertanggungjawab karena menghabiskan kopi milikku." ucap Reyhan tan mau tahu.


Perkara segelas kopi pun masih berlanjut, hingga akhirnya Riko menyerah dan pergi ke dapur untuk membuatkan Reyhan segelas kopi.


Obrolan keduanya masih berlanjut, hingga siang hari yang mengharuskan Riko kembali ke kantor untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.


***


"Alhamdulillah yah Bil, akhirnya besok seminar kita bisa dilaksanakan, semua berjalan lancar sesuai dengan yang kita harapkan." ucap Fara dengan tersenyum bahagia.


"Iya Alhamdulillah Far, Allah memudahkan jalan kita untuk melaksanakan agenda kebaikan ini." ucap Senja.


Fara melihat ekspresi murung Senja, mmebuatnya bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan sahabatnya itu.


"Kamu kenapa Bil? Lagi ada masalah? Cerita dong Bil, jangan dipendam sendiri." tanya Fara sambil menatap wajah Senja.


"Gak ada kok, aku gak ada masalah kok, tapi mungkin memang kurang enak badan aja Far." jawab Senja dengan tersenyum.


"Yakin?" tanya Fara kembali, mencoba memastikan ucapan Senja.


"Iya yakin dong." ucap Senja dengan tersenyum, mencoba meyakinkan Fara yang terlihat khawatir.


"Pokoknya kalau kamu ada masalah, cerita yah Bil, aku gak mau lihat kamu sedih, dan mendam semua sendiri." ucap Fara.


Senja hanya tersenyum dengan menganggukkan kepala.


Ting!


Suara notifikasi dari handphone Fara.


"Anak-anak panitia ngabarin, katanya ngajak kita makan bersama di ruang auditorium." ucap Fara.


Senja diam tidak menjawab, ia terlihat sedang melamun, memikirkan suatu hal.


"Bil!" Fara memanggil Senja yang tidak meresponnya.


"Eh, iya Far?" tanya Senja.


Fara menghembuskan napas pelan, dengan gelengan kepala, sebelum menjawab pertanyaan Senja.


"Anak-anak panitia ngajak kita makan bersama di auditorium." jawab Fara.


"Kayaknya gak aku gak bisa deh Far, soalnya lagi ada keperluan lain." ucap Senja dengan tidak enak hati, karena harus menolak ajakan Fara.


"Iya gak apa-apa, nanti biar aku titipkan salam aja ke anak-anak." ucap Fara dengan tersenyum.


Keduanya berpisah di kampus. Karena ada keperluan lain, sehingga mengharuskan Senja untuk meninggalkan kegiatannya bersama Fara.