Better Days

Better Days
Keributan



Senja sudah pergi bersama Bintang untuk jalan-jalan. Mereka berdua akan mengunjungi berbagai wisata di kota tersebut. Reyhan sudah memberikan bekal uang cash dan kartu atm jika uang cash yang diberikan kurang. Ia mengharuskan keduanya minimal menghabiskan uang cash yang diberikan, karena Reyhan ingat semenjak menikah ia sama sekali belum pernah menerima notifikasi uang keluar dari kartu atm miliknya. Maka dari itu ia ingin Senja menghabiskannya bersama Bintang.


Sementara itu, Reyhan saat ini sudah berada di perusahaan sang Kakak. Ia datang menemui Geri karena ada hal penting yang harus di bahas.


"Gimana Rey?" tanya Geri.


"Tolong bantu carikan info yang lebih spesifik tentang Fino Kak." ucap Reyhan.


"Mudah itu, tapi kita butuh untuk melihat aktifitasnya selama beberapa hari." ucap Geri.


"Memangnya kenapa?" tanya Geri.


"Ada masalah yang harus di selesaikan, bantu carikan bukti penting juga Kak, kartu memori atau sebuah flashdisk penting yang dia sembunyikan." ucap Reyhan.


"Kau mulai merahasiakan sesuatu Rey." Geri tersenyum miring dengan menutup laptopnya, ia berjalan menuju sofa.


"Aku tidak bisa membaginya Kak, ini masalah harga diri, setelah semua informasi terkumpul sisanya aku yang ngurus." ucap Reyhan.


"Sepertinya bukan masalah biasa, kamu tenang saja Rey, bahkan jika harus membuatnya menderita aku mampu." ucap Geri.


"Aku hanya ingin keadilan Kak, setidaknya memasukkan dia ke dalam penjara." ucap Reyhan.


"Aku jadi semakin penasaran." Geri terkekeh pelan.


"Bisa-bisa darahmu mendidih jika mengetahuinya." ucap Reyhan.


"Aku sudah lama tidak merasakannya, bagaimana rasanya menghancurkan orang lain." ucap Geri dengan smirk di bibirnya.


"Musuhmu kan banyak Kak, jangan usik musuhku."


Geri tertawa mendengarnya. Geri memang menjadi salah satu pembisnis yang memiliki banyak musuh. Bukan hanya dari internal perusahaannya, namun juga eksternalnya. Sejauh ini semuanya dapat ia atasi, meskipun dengan cara yang menyakitkan bagi lawannya.


"Jadi ini rencana pembalasanmu?" tanya Geri.


"Keadilan Kak, boleh juga sih usulan tentang pembalasan." ucap Reyhan acuh.


"Mau ku beri saran?" Reyhan menoleh menatap Geri. "Cepat gantikan posisi Papa, itu akan memudahkanmu untuk bertindak, dari pada menjadi seorang dosen. Aku yakin ini bukan masalah kecil bagimu Rey, maka dari itu saranku cepat gantikan posisi Papa, bila perlu sepulang dari sini kau langsung menemui Papa." lanjut Geri dengan wajah serius.


"Sudah ku lakukan, kau terlambat." Reyhan tersenyum miring menatap Geri, seperti seolah sedang mengejeknya.


"Dasar." Geri mendengus kesal.


"Sewa detektif handal." ucap Geri.


"Sudah, semuanya sudah ku lakukan, tinggal menunggu informasi dari mereka." jawab Reyhan.


"Baguslah, kita memang harus selangkah lebih maju dari musuh kita, mereka licik kita harus lebih licik, tak masalah jika harus melakukan kekerasan, jika kamu tidak bisa melakukannya, serahkan pekerjaan kotor itu padaku." ucap Geri.


Reyhan tersenyum miring dengan menganggukkan kepala.


***


"Mbak bagus gak ini?" tanya Bintang dengan menunjukkan gamis mocca dengan model balon di bagian tangannya.


"Bagus, kamu mau?" tanya Senja.


"Memangnya boleh?" Bintang mengembalikan gamis tadi ke tempatnya.


"Boleh dong." Senja mengambil gamis mocca tersebut dan memberikannya pada Bintang. "Kamu mau beli yang mana aja boleh." lanjutnya dengan tersenyum.


"Tapi harganya mahal." cicit Bintang.


"Udah, pokoknya ambil aja mana yang kamu suka, sekalian untuk baju lebaran kamu, sepatu, tas atau aksesoris lainnya." ucap Senja.


"Kak Reyhan ngasih uang banyak yah?" tebak Bintang.


Senja tersenyum mengangguk. Bintang pun ikut tersenyum senang, akhirnya ia mengambil beberapa gamis tanpa sungkan.


"Mbak bahagia gak nikah sama Kak Reyhan?" tanya Bintang sambil memilih sepatu.


"Kenapa tiba-tiba tanya kayak gitu?" Senja memperhatikan Bintang.


"Cuma mau memastikan aja." jawab Bintang dengan tersenyum. "Jadi apa jawaban Mbak?" tanyanya lagi.


"Bahagia, sangat bahagia." Senja menjawab dengan tersenyum.


Memangnya apalagi yang bisa ia jawab selain kata 'bahagia'. Senja memang sangat bahagia memiliki suami seperti Reyhan. Dan tidak ada penyesalan dalam dirinya karena menerima lamaran mendadak waktu itu. Meskipun ia tidak lagi sempurna seperti perempuan pada umumnya, tapi Reyhan menjadi penyempurna bagi dirinya. Benar-benar memperlakukan ia dengan sangat baik, bahkan untuk sekedar meninggikan suaranya saja Reyhan tidak pernah. Ia sangat menjaga perasaan Senja. Jadi dimana letak tidak bahagianya?


"Bintang ikut bahagia mendengarnya."


Keduanya melanjutkan berbelanja di toko lainnya.


"Bunda tau kamu keluar rumah?" tanya Senja.


"Tau Mbak, kan aku izin dulu sama Bunda." jawab Bintang. "Mbak aku lihat-lihat ke sana yah." Senja menganggukkan kepala.


Sementara Bintang melihat-lihat di sisi kanan, Senja pergi ke sisi kanan untuk melihat gamis lainnya.


DUG


"Astaghfirullah, Maaf-maaf." Senja menunduk mengambil paper bag yang jatuh berantakan.


"Gak punya mata apa lo!" bentaknya dengan keras, hingga beberapa pengunjung toko menatap mereka.


Suara yang begitu familiar di telinga Senja. Senja mengangkat kepalanya, melihat orang yang membentaknya.


"Bella, maaf Bel." ucap Senja.


Senja menghela napas pelan mendengar ucapan Bella yang sangat tidak bersahabat.


"Sekali lagi saya mohon maaf." ucap Senja tidak peduli dengan tatapan Bella yang menatapnya benci.


"Kenapa Mbak?" Bintang datang setelah mendengar suara ribut-ribut.


"Gak ada apa-apa." Senja menggelangkan kepala pelan.


"Dasar cewek murahan, lo tau harga baju gue ini mahal!" Bella menatap sengit Senja. "Harga diri lo aja gak bisa ngebayar kerusakannya." ucap Bella dengan mengeraskan suaranya.


"Sinting." ucap Bintang dengan tersenyum sinis.


"Apa lo bilang?" sentak Bella.


"Sinting, lo itu sinting, gila sih lebih tepatnya." ucap Bintang semakin memancing amarah Bella. Bintang juga sudah mengubah tutur katanya mengikuti gaya Bella.


"Lo mending gak usah ikut campur urusan gue sama cewek murahan ini." ucap Bella.


"Kalaupun ada yang murah disini itu lo, dari cara berpakaian dan tutur kata lo itu membuktikan kalau lo itu murahan, gak pernah sekolah yah?" sindir Bintang.


Senja menghela napas mendengar ucapan Bintang.


"Jangah begitu Dek." tegur Senja.


"Biarin aja lah Mbak, Mbak udah minta maaf tapi dia makin kurang ajar, merasa seperti dewa." ucap Bintang menatap sinis Bella.


Bella menggeram mendengar sindiran Bintang.


"Lawan dong Bel." ucap temannya mengompori Bella.


"Pas banget sama posisinya, di sebelah kiri, kan setan tuh namanya." sindir Bintang, teman Bella menggeram mendengar sindiran Bintang.


"Bintang." tegur Senja.


"Jangan samakan aku sama Mbak yah, aku bukan penyabar." ucap Bintang menatap Senja dengan lembut, kemudian mengalihkan pandangannya menatap Bella dengan tatapan tajam.


"Yang lo sebut cewek murahan adalah Mbak gue, mulut lo kalau mau tetap berfungsi dengan baik maka diam!" ucap Bintang dengan tatapan tajam.


"Didikan pelakor yah begini, sama kayak Bundanya yang sok suci, padahal perusak rumah tangga orang lain." Bella mengeraskan suaranya, memancing pengunjung toko lainnya untuk melihat.


Seketika area toko butik tersebut menjadi sangat ramai, banyak juga bisik-bisik mengenai ucapan Bella sebelumnya. Dan tak jarang, sebagian menatap Bintang juga Senja dengan sinis.


"Lo siapa?" tanya Bintang dengan suara datar.


"Sudah Dek, kita pulang sekarang." Senja menahan Bintang agar tak bersuara lagi.


"Dan kamu Bella, ini uang untuk ganti rugi semua baju-baju kamu yang jatuh karena kesalahan saya, sekali lagi saya minta maaf karena tidak sengaja menabrak kamu." Senja meletakkan satu amplop berisikan uang di atas meja kasir untuk Bella.


"Ayo Dek." Senja menarik tangan Bintang untuk pergi. Ia tidak ingin memancing keributan, apalagi sekarang semua mata memandang ke arah mereka.


"Dasar sok suci! Penakut lo!" teriak Bella.


Bintang yang sudah mulai tenang dan mengikuti langkah Senja kini terhenti. Ia membalikkan tubuhnya kemudian berjalan anggun menuju Bella.


Bintang mengambil salah satu gaun mini milik Bella, dan merobeknya dengan sangat kuat, membuat Senja, Bella dan teman-teman Bella membulatkan matanya, menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan Bintang.


"Sayang banget uang yang di kasih Mbak gue, padahal gaun lo gak ada yang rusak, kalau kayak gini kan impas, bila perlu semuanya aja gue robek." ucap Bintang dengan tersenyum miring.


Bella langsung mengambil paper bag miliknya, menyembunyikannya di belakang tubuhnya.


"Ini baru baju lo, bahkan mulut lo sekalipun bisa gue robek."


Tak ada keramahan dari Bintang, ia sekarang tahu siapa Bella, dan kenapa dia bisa membentak Senja. Alasannya adalah karena hubungan Bunda Lusi dengan Pram, yang Bintang yakini Bella adalah anak Pram.


Mendengar ucapan Bintang tadi, Bella dan teman-temannya memundurkan langkah mereka. Sementara itu Bintang langsung menggandeng tangan Senja untuk meninggalkan toko tersebut.


"Dia anak Pram kan Mbak?" tanya Bintang.


"Pram?" Senja menatap Bintang. "Tau dari mana?" tanyanya.


"Bunda lagi dekat dengan Pram, Dokter yang sudah beristri dan perempuan gila tadi anak dia kan?" ucap Bintang menatap lurus ke depan.


"Bintang tau semuanya Mbak, jadi berhenti menyembunyikan semuanya. Bintang gak suka lihat Mbak sok kuat, padahal Mbak lagi nahan semuanya sendiri kan?" Senja hanya diam mendengarkan ucapan Bintang.


"Kalau Mbak gak mau berbagi, gak apa-apa, tapi Bintang pastikan, Bintang tau semuanya, termasuk alasan Ayah dan Bunda bercerai." ucapan Bintang membuat Senja menghentikan langkahnya.


"Fokus dengan pendidikanmu, jangan campuri urusan Bunda atau Ayah." ucap Senja tak mau dibantah.


"Selalu begitu." helaan napas Bintang membuat Senja memejamkan matanya sejenak.


"Semuanya akan baik-baik saja, Mbak pastikan itu, tapi biarkan semuanya berjalan dengan apa adanya, kamu cukup fokus dengan pendaftaran kuliah kamu, dan sisanya Mbak yang urus." ucap Senja menatap lembut Bintang.


"Dengan sifat lembut Mbak? Mereka akan menindas Mbak, dan aku gak mau itu." ucap Bintang.


"Percaya sama Mbak." Senja mengusap lengan Bintang.


"Kita pulang yuk, sudah ashar, kamu mau buka bareng Mbak atau Bunda?" tanya Senja mengalihkan pembicaraan.


"Ikut buka bareng Mbak aja." Bintang tersenyum menatap Senja.


"Yaudah yuk pulang." ajak Senja, Bintang menganggukkan kepala.


Keduanya seolah melupakan pembicaran yang memanas sebelumnya, dan berjalan beriringan dengan membicarakan hal-hal ringan yang menyenangkan.