Better Days

Better Days
Sebuah Kisah



"Apa yang mau Papa bicarakan? Sepertinya sangat serius." ucap Reyhan.


Keduanya telah sampai di meja paling pojok, lumayan jauh dari tempat sebelumnya.


"Jangan terlalu tegang Son." ucap Papa Alex.


"Soal pernikahanku?" tebak Reyhan.


Papa Alex tersenyum dengan mengangkat sebelah alisnya. "Kamu cinta dengan Senja?" tanya Papa Alex.


"Belum." jawab jujur Reyhan. " Tapi mungkin karena terbiasa cinta itu akan datang." lanjutnya dengan yakin.


"Apa yang akan kamu lakukan dengan pernikahan tanpa cinta ini?" tanya Papa Alex.


"Menjalaninya dengan sungguh-sungguh dan tidak main-main, karena Papa sendiri tahu Reyhan tidak pernah diajarkan untuk menyakiti perempuan. Lagipula pernikahan bukanlah sebuah permainan." ucap Reyhan.


Papa Alex mengangguk dengan tersenyum.


"Pernah dengar kisah Papa dan Mama?" tanya Papa Alex.


"Sedikit." ucap Reyhan. "Yang aku tahu, Mama dan Papa menikah tanpa cinta, tapi akhirnya bisa langgeng sampai sekarang, dan itu yang ingin aku lakukan sekarang Pa." ucap Reyhan.


Memang dulu pernikahan antara Mama Mira dan Alex tidak berdasarkan cinta. Keduanya menikah dengan perjodohan yang semata-mata dilakukan karena wasiat mendiang kedua kakek, baik dari pihak Papa Alex maupun dan Mama Mira. Dan mau tidak mau keduanya pun menikah, dan menjalani hari-hari tanpa cinta.


Papa Alex tersenyum, kemudian mulai berkisah sedikit tentang masa lalunya.


"Ini akan terdengar menyakitkan, jadi Papa sarankan kamu tidak mengikuti jejak Papa. Mama dan Papa menikah karena perjodohan kedua keluarga. Jelas kami berdua menentang hal itu, namun sekuat apapun kami menolaknya, kasih sayang dan cinta kami kepada kedua orang tua jauh lebih besar. Dan dimulailah kisah pernikahan tanpa cinta itu." Papa Alex menjeda ucapannya, menarik napas pelan, sebelum melanjutkannya.


"Mereka pikir cinta akan datang dengan cepat, apalagi dengan alasan terbiasa, seperti yang kamu ucapkan sebelumnya Rey. Tapi ternyata mereka salah, kamu tahu kenapa?" Reyhan menggelengkan kepala dengan wajah serius masih tetap mendengarkan cerita Papa Alex.


"Karena Papa menyakiti Mamamu." Reyhan mulai menunjukkan tatapan tajamnya, sementara Papa Alex tetap dengan senyumannya.


"Kamu pernah bercerita, bahwa kamu memiliki gadis yang kamu sukai, benar Rey?" Reyhan menganggukkan kepala pelan. "Sama, Papa juga. Masalah itulah yang menyebabkan Papa menyakiti Mamamu, sampai kami hampir berpisah, dan itu semua kesalahan Papa." ucap Papa Alex menatap intens Reyhan.


"Papa selingkuh?" tanya Reyhan.


"Tidak, Papa hanya tidak bisa memberikan kesempatan, ruang dan hati Papa untuk Mamamu, padahal dia sudah sangat berusaha, sampai pada di titik ia begitu jenuh, harus berjuang sendirian, dan ketika itu Papa baru sadar bahwa Mama kamu penting bagi Papa, dan cinta itu ternyata memang sudah ada sejak lama." jawab Papa Alex.


"Dari kisah ini, Papa hanya ingin memberitahu, beri ruang di hati kamu untuk istrimu, ketika ruang itu sudah ada, pasti cinta itu juga ada, ketika kamu memberikan kesempatan pada istrimu dan memberikan pengertian pada hatimu, rasa welas asih itu pasti datang. Dan ketika datangnya terlambat, Papa harap kamu tidak menyesalinya." ucap Papa Alex memberikan wejangan.


"Jika tidak juga timbul perasaan itu, bukan berarti kamu bisa menyakitinya. Dia adalah seorang anak perempuan yang berarti bagi keluarganya, kamu menyakiti dia, sama saja kamu menyakiti keluarganya, dan menyakiti kami, Papa dan Mama." Reyhan kemudian mengalihkan pandangannya pada Senja yang tengah tertawa bersama Mama dan Bunda.


"Baik buruknya dia, kamu yang menutupinya, kekurangannya kamu yang melengkapinya, begitu juga sebaliknya. Tidak cinta bukan berarti bisa menyakitinya, Papa harap Reyhan bisa mengerti dan memahami apa yang Papa maksud." ucap Papa Alex.


"Reyhan paham Pa. Terimakasih karena sudah mengajarkan semuanya pada Reyhan. Reyhan akan berusaha menjaga amanat yang Papa dan Mama berikan." Papa Alex tersenyum dan menepuk pundak Reyhan dengan tatapan bangga.


Kini keduanya berjalan menuju meja sebelumnya, melihat keakraban itu sedikit membuat Reyhan memberikan ruang. Hatinya menghangat bersamaan dengan senyum dan tawa dari Senja.


***


"Pulang dulu yah sayang, besok kita bertemu lagi, setelahnya kita bisa berbuka dan sahur bersama setiap hari." ucap Mama Mira. "Mama rasa gak rela deh ninggalin anak gadis Mama Pa." dengan wajah cemberutnya Mama Mira mengadu pada Papa Alex.


"Mama takut Senja dia apa-apain gitu sama Reyhan." Reyhan membulatkan matanya. Disini siapa yang menjadi anaknya, Senja atau dirinya. Ia hanya bisa diam dan menggelengkan kepalanya.


Geri yang sudah berada di dalam mobil mulai merasa jenuh, pasalnya dari setengah jam yang lalu sang Mama belum juga mau pulang. Sedangkan Bunda sudah sejak beberapa menit yang lalu pulang.


"Ma." panggil Geri. "Ayo pulang, ini sudah hampir tengah malam, kasihan Senja, semakin lama mangulur waktu, malah membuat Senja sakit karena kurang istirahat, lagian Reyhan dan Senja butuh waktu berdua Ma." teriak Geri.


Mama Mira memanyunkan bibirnya, menatap Senja yang tengah tersenyum. "Senyum yang manis." ucap Mama Mira.


"Ayo Ma." ajak Papa Alex.


"Kali ini Mama benar-benar pulang, kamu baik-baik yah sayang, bilang kalau Reyhan macam-macam oke." ucap Mama Mira.


Keduanya saling memberikan pelukan perpisahan.


"Daah.." lambaian tangan Mama Mira bersamaan dengan melajunya mobil meninggalkan hotel.


"Ayo masuk." ajak Reyhan.


***


Senja menelan salivanya dengan susah payah. Kini ia sedang duduk di sisi ranjang, sedangkan Reyhan masih berada di dalam kamar mandi.


"Belum tidur, kenapa?" tanya Reyhan berjalan keluar kamar mandi menuju sisi ranjang sebelahnya, kemudian membaringkan tubuhnya.


"Gak nyaman yah?" tanyanya lagi.


"Belum terbiasa Mas." jawab Senja pelan.


"Berbaringlah, ini guling untuk memberi batas antara kamu dan saya." Reyhan menepuk sisi di sebelahnya, meminta Senja untuk membaringkan tubuhnya, dan segera tidur. Dengan perlahan Senja membaringkan tubuhnya di samping Reyhan.


Senja yang mulai rileks pun lebih cepat terlelap, sementara Reyhan masih menatap langit-langit kamar, sebelum memiringkan tubuhnya menatap wajah teduh Senja ketika tidur.


"Tidur pun masih menggunakan jilbab." gumam Reyhan dengan tersenyum.


"Aku seperti tidak asing dengan suaramu Senja." perlahan ia pun tertidur menyusul Senja ke alam mimpi.


Entah karena tidak berarti atau memang tidak terlalu memperhatikan, Reyhan masih tidak sadar dengan nama lengkap Senja, ketika ia mengucapkan qabul, menjadikan Senja istrinya.


***


"Lo kalau lagi ada masalah pasti ke mabuk-mabukan, gimana mau dapet jodoh yang baik coba." ucap seorang pria tersebut kemudian mendudukkan dirinya di samping Bella yang tengah mabuk berat.


"Diem Lo." dengan mata sayu dan badan lunglai Bella masih meneguk habis minumannya.


"Lo kenapa sih Bel?" tanya pria itu.


"Gue ditinggal nikah." jawab Bella dengan suara parau.


Pria itu tertawa di tengah-tengah dentuman musik dan kerlap-kerlip lampu.


"Gue itu sayang sama dia, cinta sama dia, tapi malah dia nikah sama cewek lain, apa sih kurangnya gue!" Bella meracau banyak hal, dengan memukul pria di sampingnya.


Pria tersebut menggelangkan kepala sambil mencoba menangkis pukulan tangan Bella.


"Kita sama Bel, ini kayaknya hari patah hati buat gue sama lo." gumamnya menatap Bella.


Ia kemudian memapah Bella menuju mobilnya, dan membawa Bella menuju hotel. "Dasar, gue mau seneng-seneng malah lo nyusahin gue Bel." monolognya sembari menutup pintu mobil. Kemudian melajukan mobilnya menuju hotel terdekat.


"Gila berat juga lo Bel." Ia memapah Bella yang masih meracau tidak jelas masuk ke dalam salah satu kamar hotel.


"Rey... Sini, temenin aku." Bella menarik pria tersebut, dan me*agut bi*irnya dengan paksa.


Pria tersebut mencoba melepaskan pegangan tangan Bella pada tubuhnya, sambil terus menyadarkan Bella.


"Bel, sadar Bel, gila nih cewek kalo mabuk, Bel sadar woy." masih tidak menggubris, Bella kini telah merobek paksa kemeja pria tersebut, sedang dirinya pun sudah mulai tak ber*usa*a.


"Rey.... aku jauh lebih baik dari wanita manapun, aku bisa kasih kamu apapun Rey." racau Bella.


Melihat pemandangan di hadapannya, membuat pria tersebut tidak membuang-buang ksempatannya, mulai terbuai dan menikmati setiap sentuhan Bella. Hingga hal yang tidak diinginkan pun terjadi.


Tanpa memperdulikan racauan Bella tentang Reyhan, pria tersebut sudah mengambil milik Bella. Dan malam itu, Bella yang tidak sadar mengira pria tersebut adalah Reyhan.