
Assalamu'alaikum Readers, maaf sekali lagi DD sering banget menghilang. DD gak bisa update terus atau sesuai jadwal seperti author lainnya. Akhir bulan September sampai dengan Oktober DD sakit, jadi tidak bisa menulis cerita ini. Awalnya DD kena demam biasa, berlanjut pada malaria. Awalnya sudah membaik, sampai pada akhir masa pemulihan DD sakit lagi.
Dengan gejala yang berbeda, namun tetap dengan demam. Awalnya dikira malaria lagi, tapi setelah demam 5 hari dan tidak ada perkembangan, masih muntah dan tidak bisa menerima makanan juga minum, DD langsung di bawa ke rumah sakit. di sana DD di ambil darahnya dan diperiksa, yang hasilnya ternyata terjangkit penyakit DBD, dan harus di rawat beberapa hari.
Setelah keluar dari RS pun masih masa pemulihan dan harus kontrol ke RS, jadi itulah yang menyebabkan DD tidak bisa update. Kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan inilah yang menjadi salah satu penyebab DD tidak bisa menulis lanjutan ceritanya. Selain itu skripsi DD juga belum di kerjakan karena sakit, jadi DD selesaikan skripsi dulu sampai bimbingan baru melanjutkan nulis cerita ini. Sekali lagi maafkan DD karena hal yang tidak menyenangkan ini. Dan DD mau bilang gak apa-apa kalian tidak memfavoritkan cerita ini, takutnya kalian kecewa dengan DD dan terlalu lama menunggu 🙏.
...----------------...
"Sebenarnya siapa yang kau cari Rey?" tanya Riko.
Tangan kirinya berpegangan pada pintu mobil, sementara wajahnya bolak balik antara menatap jalanan dan Reyhan yang tengah fokus menyetir dengan kecepatan di atas rata-rata. Rasanya jiwa Riko ingin melayang saat ini karena jantungnya sungguh tidak aman akibat cara mengemudi Reyhan.
"Rey." panggil Riko.
"Reyhan!" panggilnya lagi dengan meninggikan suaranya.
"Istriku." jawab Reyhan dengan suara dingin dan datar.
"Ada apa dengan Senja?" tanya Riko lagi.
"Ceritanya panjang Rik, yang jelas sekarang dia pergi, dan aku harus menemukan dimana dia." ucap Reyhan.
"Pergi?" kening Riko mengkerut mendengarnya.
Nyatanya Senja memang pergi dengan sendirinya bersama Fino. Reyhan melihat tak ada adegan paksaan atau penculikan dari cctv. Senja memang pergi dengan keinginannya sendiri, entah apa yang menjadi penyebabnya Reyhan masih tidak tahu.
Reyhan memarkirkan mobil di titik lokasi terakhir kali mobil yang ditumpangi Senja terlacak. Ia bergegas turun dan melihat sekeliling, begitu juga dengan Riko.
"Ternyata ini tempat penyewaan mobil Rey." ucap Riko ketika membaca papan nama di depan gedung tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya salah satu pegawai di sana.
Reyhan diam menatap sekeliling tempat itu.
"Bapak mau menyewa mobil kami bisa berikan mobil yang bapak mau, sesuai dengan selera bapak." ucapnya lagi.
"Saya sedang mencari seseorang, mobilnya terakhir kali berada di sini." ucap Reyhan.
"Boleh tahu siapa Pak?" tanyanya dengan sopan.
"Ini nomor plat mobilnya." Reyhan memberikan secarik kertas yang bertuliskan nomor plat mobil yang dikendarai Senja.
"Baik, mohon ditunggu sebentar Pak." pegawai tersebut masuk untuk memeriksanya.
Beberapa saat kemudian.
"Ada Pak, mari." Reyhan dan Riko berjalan mengikuti pegawai tersebut.
"Ini mobil yang bapak cari." ucapnya dengan menunjuk pada mobil yang terparkir tak jauh dari posisi Reyhan dan Riko sebelumnya.
"Boleh saya lihat cctv dan cek ke dalam mobilnya?" tanya Reyhan.
"Mohon maaf Pak sebenarnya ada apa yah?" tanya pegawai tersebut, ia tidak mungkin memberikan akses begitu saja untuk Reyhan.
"Saya sedang mencari istri saya, dan terakhir mobil yang dikendarai istri saya berhenti di sini, maka dari itu, saya meminta izin untuk memeriksa data peminjam mobil, cctv dan kalau bisa isi di dalam mobil tersebut." jelas Reyhan dengan helaan napas.
Lagi-lagi dadanya sesak ketika mengingat Senja. Bisa ia bayangkan bagaimana Senja harus menahan ketakutan ketika bersama Fino.
"Baik Pak, mari ikut saya." ucap pegawai tersebut.
"Tolong cek area sekitar Rik, jika ada sesuatu hal tentang Senja tolong amankan." ucap Reyhan.
Riko mengangguk paham.
Reyhan kemudian berjalan mengikuti pegawai tersebut untuk melihat rekaman cctv.
"Satu jam yang lalu mobil tersebut sudah kembali, sesuai dengan batas penyewaan, dia menyewa selama 1 jam, setelah itu tak terlihat menggunakan mobil kami kembali. Ini Pak, silakan di lihat." ucapnya sembari menjelaskan.
Reyhan melihat Senja yang diam saja ketika Fino mengajaknya keluar dan masuk kembali ke dalam mobil lainnya. Ia benar-benar mengikuti kemanapun Fino mengajaknya pergi, hanya saja ia terlihat seperti mayat hidup, merespon Fino saja tidak.
"Tolong putar ulang cctv dan berhenti di menit ke 13." ucap Reyhan.
Pegawai tersebut melakukan apa yang Reyhan minta ia menutar kembali rekaman cctv dan berhenti di menit yang diminta.
Reyhan melihat Fino yang tengah membukakan pintu mobil setelah menunggu jemputan selanjutnya selama 2 menit kemudian.
"Apa di sini ada cctv untuk tempat parkir depan?" tanya Reyhan.
"Ada Pak, sebentar saya putarkan." ucao pegawau tersebut, sembari mengarahkan kursor mouse pada rekaman cctv di tempat parkir sesuai permintaan Reyhan.
"Ini informasi mengenai si penyewa mobil Pak, nama, alamat dan nomor teleponnya, barangkali bapak juga membutuhkannya." ucap pegawai tersebut sembari menyerahkan buku daftar orang-orang yang menyewa mobil di tempat mereka.
Reyhan menerimanya dan membacanya, sebelum ia foto agar memudahkannya mencari informasi dimana Fino membawa Senja pergi.
"Terimakasih." ucap Reyhan dengan tulus pada pegawai tersebut.
Mereka keluar dari ruang cctv, menemui Riko yang tengah memeriksa mobil yang telah digunakan Senja dan Fino sebelumnya bersama pegawai lainnya.
"Gimana?" tanya Reyhan.
Riko menggelengkan kepalanya. "Kami gak menemukan apapun." jawab Riko.
Reyhan mengangguk mengerti, memang Fino tidak akan semudah itu untuk meninggalkan suatu bukti dengan teledor. Nampaknya ia akan lebih bekerja keras saat ini.
"Terimakasih telah membantu saya, mengizinkan saya untuk melihat cctv dan isi mobil yang digunakan istri saya." ucap Reyhan pada pegawai yang membantunya tadi.
"Sama-sama Pak."
Setelahnya Reyhan dan Riko kembali pulang, kali ini keduanya menuju rumah utama, karena mau tidak mau ia harus menberitahukan pada Mama Mira dan Papa Alex, sekalian untuk meminta bantuan Geri.
***
"Aku dipindahkan di rumah ini." gumam Riani menatap rumah di hadapannya.
"Nona silakan masuk, Tuan Fino sedang menunggu di dalam." ucap salah satu pengawal.
"Hidupku tidak akan pernah bebas sampai kamu mati Fino." gumam Riani dengan mata bencinya menatap ke dalam rumah sembari kakinya berjalan memasuki rumah itu.
Riani mendudukkan dirinya di hadapan Fino, ia sudah terbiasa bersikap tidak sopan ketika bersama Fino. Lagipula pikirnya kenapa harus bersikap sopan pada laki-laki yang sudah menghancurkan hidupnya.
"Kenapa memindahkanku ke rumah ini?" tanya Riani to the point.
Fino menyesap minuman berakohol dengan pandangan sayu, nampaknya ia mulai sedikit mabuk.
"Apa kau tuli sekarang?" Riani bertanya dengan sengit, tatapannya menatap sinis ke arah Fino.
Fino berganti menatapnga balik dengan tatapan yang tajam pula, meski sedikit mabuk.
"Jal*ng tidak tau diri." ucap Fino.
"Kau yang membuatku menjadi jal*ng Fino, ingat itu!"
Perdebatan yang sama ketika Fino bertemu dengan Riani.
"Karena wanita sepertimu pantasnya memang menjadi jal*ng, paham!" Fino meninggikan suaranya menatap nyalang Riani.
Riani menatapnya bencu, kemudian memalingkan wajahnya, mencoba untuk tetap terbiasa dengan kata demi kata yang menyakitkan, yang selalu Fino ucapkan, meskipun ia selalu mendapat kebutuhan nafsunya yang selalu terpenuhi dari Riani.
"Mulai sekarang kamu akan tinggal di sini, bukan karena aku peduli denganmu, tapi untuk tugas lainnya, biar nanti Jack yang akan menjelaskan." ucap Fino dengan suara datar. Sementara Jack yang berdiri di samping Fino hanya mengangguk patuh.
"Setelah semuanya selesai temui aku di kamar utama." ucap Fino, setelahnya ia pergi meninggalkan Riani dan Jack.
Riani menghela napas lelah, sembari menyandarkan dirinya. Jelas ia tahu maksud perintah terakhir dari Fino.
"Mulailah untuk menjelaskan Jack, Tuan terhormatmu itu akan semakin menyiksaku jika aku lama menemuinya." ucap Riani.
"Begini Nona, di rumah ini selain Nona dan Tuan, ada gadis lainnya, gadis inilah yang harus Nona jaga, atau Nona temani, supaya tidak merasa sendirian di sini." ucap Jack, mencoba menjelaskan.
"Cih! Jadi selain menjadi jal*ng tugasku adalah menjaga wanita simpanan si br*ngs*k." ucap Riani.
"Siapa gadis itu?" tanyanya pada Jack.
"Namanya Nona Senja, saya yakin Nona sudah tidak asing dengan nama itu." ucap Jack.
"Jadi dia." Riani terdiam ketika mendengar nama Senja.
Ia ingat kejadian dimana Senja kehilangan kehormatannya. Bagaimana ia tidak ingat, ia melihat bagaimana dengan liciknya Fino merencanakan hal gila itu, merenggut kesucian gadis baik-baik tanpa rasa bersalah sedikutpun. Seperti Fino pertama kali melakukannya hal itu padanya.
"Dia di rumah ini?" tanya Riani memastikan.
"Iya Nona." jawab Jack.
"Kapan dia tiba?" tanya Riani lagi.
"Tadi siang Nona." jawabnya lagi.
"Baiklah, kamu boleh pergi Jack." Jack menganggukkan kepala kemudian pergi meninggalkan Riani.
Ia tampak tak tenang dengan helaan napas yang berat, sebelum melangkahkan kaki menuju kamar utama sesuai perintah Fino.