Better Days

Better Days
Tatap Mataku



PLAK!


Bella memegang pipi sebelah kirinya, terasa panas dan perih menjalar. Namun tak sedikitpun ia menangis. Sebaliknya Ia menatap Pram dengan tatapan benci.


CUIH!


Bella meludah di hadapan Pram. Tak ada rasa hormat sedikitpun ia tunjukkan untuk Pram.


"Masih mau nampar gue? Tampar aja, sampai lo puas!" teriak Bella pada Pram yang kini tengah menatapnya tajam.


"Meskipun lo sujud di kaki gue, gue gak akan pernah ngehormati lo sebagai orang tua gue." ucap Bella dengan tatapan Benci.


"Bahkan kalaupun lo mati, itu akan menjadi moment kebahagian dalam hidup gue, apalagi gundik lo itu, selingkuhan lo!"


Darah Pram mendidih mendengar ucapan Bella. Suasana berbuka puasa yang diharapkan menjadi hangat malah menjadi begitu memanas dan mencekam.


"Lihat, lihat anak kurang ajar yang kamu bela-bela Yumi." ucap Pram pada Yumi yang tengah menangis melihat hubungan anak dan suaminya yang tidak pernah membaik.


"Dan anak kurang ajar ini selalu mempelajari apa yang orang tuanya contohkan." ucap Bella dengan menatap sinis.


Pram mengangkat tangannya, berniat menampar Bella kembali.


"Cukup Mas!" teriak Yumi, menahan tangan Pram.


"Dari dulu aku tidak pernah meminta apapun Mas, bahkan aku tidak pernah mengeluh tentang perselingkuhan kamu itu, meskipun kamu sering mengelaknya. Cukup aku yang kamu sakiti Mas, jangan anak-anakku!" teriak Yumi dengan wajah memerah pada Pram yang menatapnya dengan tajam.


"Ini yang membuat aku benci untuk pulang ke tempat sampah ini." ucap Pram membuat Bella mengegerang marah.


"Maka tidak usah pulang, pergi jauh dari kehidupan kami!" ucap Bella.


"Bella." Yumi menenangkan Bella, memeluk dan mengusap punggung Bella.


Pram membanting vas yang berada di dekatnya, kemudian pergi meninggalkan rumah.


"Siapa yang peduli dengan orang tua brengsek kayak lo." teriak Bella pada Pram.


***


"Gak mau nginap Dek?" tanya Senja memastikan keputusan Bintang.


"Enggak Mbak, nanti aku jadi nyamuk beneran kalau lama-lama di sini." canda Bintang, membuat Senja dan Reyhan terkekeh.


"Yaudah kalau kamu mau pulang, tapi biar di antar sama supir yah, motornya besok pagi biar di antar ke rumah." ucap Reyhan.


"Iya Kak." Bintang mengangguk setuju.


Reyhan segera meminta Pak supir untuk mengantar Bintang pulang.


"Titip salam untuk Bunda." pesan Senja dengan memeluk Bintang.


"Pak bawa mobilnya pelan-pelan saja yah, yang penting selamat sampai tujuan." ucap Senja pada Pak supir sembari melepaskan pelukannya pada Bintang.


"Siap Non."


Mobil melaju pelan meninggalkan halaman rumah, Senja menatapnya hingga tak terlihat lagi.


"Masuk yuk, udara malam semakin dingin." ucap Reyhan merangkul pinggang Senja.


Senja tersenyum menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.


Reyhan dan Senja mendudukkan diri di sisi ranjang. Kini keduanya malah terlihat canggung satu sama lain, sama-sama diam hingga hanya suara jangkrik yang terdengar. Helaan napas pelan terdengar dari Senja, sedangkan Reyhan pun terlihat sedang gelisah.


"Sayang."


"Mas."


Keduanya tersenyum kikuk setelahnya.


"Mas duluan." ucap Senja.


"Em.. bagaimana yah ngomongnya." Reyhan mendekatkan dirinya pada Senja. "Apa itu...kamu... anu...." Reyhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Senja menatapnya dengan bingung.


"Itu... apa kamu sudah selesai? Ah bagaimana ini."


"Sudah Mas, aku sudah mandi wajib tadi sore." ucap Senja yang mengerti kemana arah pembicaraan Reyhan.


Reyhan tersenyum malu mendengarnya. Kenapa jadi dia yang malu?


"Mas, malam ini aku milikmu sepenuhnya, hati ini, juga tubuh ini milikmu." ucap Senja pelan, menatap Reyhan dengan tersenyum.


Reyhan mendekatkan wajahnya pada Senja, dan mendorong pelan pundak Senja, hingga Senja berbaring di atas ranjang.


"Mas..." Senja memejamkan matanya sejenak. "Bantu aku untuk menghilangkan rasa takut dan trauma itu Mas." ucapnya pelan.


Senja sudah siap untuk memberikan apa yang menjadi hak Reyhan, dan yang menjadi kewajibannya. Meski ingatan itu akan mengganggunya, namun sebisa mungkin ia akan menahannya.


Reyhan memandang wajah Senja. Terlihat kekhawatiran dan ketakutan yang begitu jelas. Ia mengelus dan mengusap lembut wajah Senja.


"Tatap mataku Senja, jangan palingkan wajahmu meskipun itu hanya satu detik. Biar kamu merasakan besarnya cintaku untukmu." ucap Reyhan dengan lembut.


Senja mengangguk patuh, ia pun menatap mata Reyhan yang menatapnya dengan penuh cinta. Ia memperhatikan Reyhan ketika membacakan doa-doa dengan berbisik.


Darahnya berdesir seirama dengan jantung yang berdetak lebih cepat, ketika Reyhan mulai memberikan kecupan di seluruh wajahnya, dan men**um lembut bibirnya disertai bacaan doa yang dilantunkan Reyhan.


"Bernapas sayang." Reyhan mengusap bibir Senja yang basah karenanya.


"Aku akan melakukannya dengan lembut, aku tidak akan menyakitimu." lanjutnya.


Senja memejamkan matanya, tangannya meremas sprei karena ingatan itu muncul dan mengganggunya.


"Percaya padaku sayang, buka matamu, dan tatap mataku." Senja mengangguk, ia kembali mencoba menatap Reyhan.


Reyhan tersenyum melihatnya, ia melanjutkan kegiatannya dengan penuh kelembutan, meskipun awalnya begitu sulit, memerangi trauma dan rasa takut Senja namun akhirnya penyatuan cinta mereka terlaksana. Senja benar-benar memberikan apa yang harus ia berikan sejak lama. Malam dingin ini menjadi malam yang begitu hangat untuk keduanya.


Senja merasakan kelembutan penuh cinta dari setiap sentuhan Reyhan, yang membuatnya merasa nyaman dan mulai melupakan traumanya ketika bersama Reyhan. Ia juga mematuhi perintah Reyhan untuk tidak memalingkan wajahnya pada Reyhan, tatapan keduanya tidak pernah terputus meskipun Senja sesekali memalingkan wajahnya karena merona.


"Terimakasih sayang."


Senja mengangguk lemah dengan tersenyum. Entah kenapa tiba-tiba air mata menetes membasahi lengan Reyhan yang menjadi bantal tidurnya.


"Kenapa menangis." ucap lembut Reyhan mengusap air mata Senja. "Apa aku menyakitimu? Ada yang sakit sayang?" tanya Reyhan khawatir.


"Aku merasa berdosa karena memberikan kekuranganku padamu Mas." ucap Senja pelan.


"Dimana letak kekurangan dan dosa itu Sayang? Aku bahagia malam ini karena mu, jadi jangan menangis, justru ini menjadi ladang pahala untukmu dan untukku." ucap Reyhan. Ia memeluk tubuh mungil yang tertutupi selimut itu.


"Jangan mengingatnya lagi, lupakan masa lalu itu, aku akan berikan semua kebahagiaan untukmu Senja, bahkan seluruh hidupku akan aku berikan untukmu." ucap Reyhan dengan lembut, ia mengecup pucuk kepala Senja.


"Terimakasih Mas, karena sudah menerima ku dengan seluruh kekurangan ku." ucap Senja.


Reyhan memejamkan matanya sejenak.


"Kamu tahu sayang... ketika aku mengucapkan ijab qabul di depan seluruh keluarga kita, penghulu dan para saksi, maka artinya adalah aku tanggung dosa-dosamu dari orang tua kamu, dari tidak menutup aurat hingga meninggalkan sholat. Semua yang berhubungan dengan kamu, aku tanggung dan bukan lagi orang tua kamu yang menanggung, serta akan aku tanggung semua dosa calon anak anakku. Jika aku gagal maka aku suami fasik, ingkar, dan aku rela masuk neraka. Aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku." ucap Reyhan.


"Ya Allah." desis Senja.


"Aku menerima dirimu, sebagiamana kamu diciptakan sayang." akhirnya dengan penuh cinta.


Senja mengeratkan pelukannya pada Reyhan. Ia menelungkupkan wajahnya di dada Reyhan.


"Ingatkan aku Mas, ajarkan aku, dan bimbing aku, agar diri ini tidak merasa rendah ketika bersanding denganmu." ucap Senja.


Karena tidak mudah bagi seorang perempuan menghilangkan rasa minder dalam dirinya. Merasa rendah dan tak layak dengan kekurangannya. Apalagi dalam kasus ini Senja merupakan korban peme*****an, hingga ia merasa rendah ketika tidak bisa memberikan keper*****nya pada Reyhan seperti istri-istri pada umumnya.


Reyhan mengangguk dengan memeluk Senja.


"Akan aku berikan seluruh cintaku padamu Senja, hingga kamu menghilangkan rasa takutmu dan hanya mengingat juga merasakan kebahagian ketika bersamaku." ucap Reyhan dengan pasti.


"Aku mencintaimu Mas." Senja tersenyum menatap Reyhan.


"Aku juga mencintaimu Humairahku."


*


*


😁 Aduh... bagaimana yah ini, maaf kalau tidak memuaskan bagi para readers. Semoga kalian menikmati ceritanya. Happy reading readers...(^~^)