
1 jam yang lalu
"Maafkan aku Mas, aku harus melakukan ini, demi keselamatan semua orang."
Senja menatap layar ponselnya, ia meremasnya dengan kuat, dan menghela napas pelan. Ia menatap Fino dan menyerahkan ponselnya.
"Good Baby, ini jauh lebih baik." ucap Fino dengan seringainya.
"Sekarang masuklah." ucap Fino mengajak Senja untuk masuk ke dalam mobilnya.
Saat Fino ingin menyentuh tangannya, dengan cepat Senja menjauh dan menatapnya dengan tajam. Ia menahan seluruh ketakutannya meskipun berhadapan dengan Fino secara langsung. Ia harus menahan tatapan lapar dari Fino demi hal yang harus ia selesaikan.
"Jaga batasanmu!" ucap Senja.
Fino tertawa sinis.
"I like that Baby, kau terlihat lebih liar dari pertama kita bertemu." ucap Fino dengan tersenyum miring.
"Mari masuk ke dalam mobilku, aku tidak akan melakukan apapun." Fino berbicara dengan lembut tanpa melepaskan tatapannya dari Senja.
Senja memicingkan matanya, jelas ia tidak aman saat ini, tapi apa yang bisa ia lakukan, ketika nyawa orang lain jauh lebih penting dari pada nyawanya.
"Bukankah kamu tidak punya pilihan lain Baby." lagi, Fino seolah berbisik pada Senja.
Senja memejamkan matanya sejenak dengan helaan napas pelan, sebelum kemudian berjalan memasuki mobil milik Fino.
"Good girl." ucap Fino dengan senang.
Sementara itu Reyhan kini sedang kacau, ketika nomor telepon milik Senja tidak bisa dihubungi. Merasa sia-sia ia langsung menghubungi pak Hanif, supir pribadi keluarga Alfarisi.
"Assalamu'alaikum, halo Pak."
"Wa'alaikumsalam, iya Tuan ada apa?" tanya Pak Hanif langsung, karena memang tidak biasa Reyhan akan menghubunginya jika bukan sebab hal penting
"Pak Hanif sedang bersama istri saya?" tanya Reyhan to the point.
"Maaf tidak Pak, saya sedang mengisi bensin di pom bensin Tuan, sedangkan Nona sedang belanja bersama Bik Imah, tadi Nona sendiri yang minta saya untuk pergi mengisi bensin Tuan, memangnya ada apa?" jawabnya.
"Yasudah Pak, terimakasih." tanpa menunggu ucapan Pak Hanif, Reyhan langusng mematikan sambungan telepon.
Reyhan menambah kecepatan mobilnya, bersamaan dengan panggilan masuk dari Bik Imah.
"Wa'alaikumsalam, iya Bik?"
"Tu-tuan, ma-maaf, Nona, No-nona hilang." ucapnya di seberang telepon.
"Ya Allah." desis Reyhan.
"Posisi Bik Imah dimana?" tanya Reyhan.
"Di supermarket dekat rumah Tuan."
Reyhan langsung mematikan handphonenya, ia sangat khawatir dengan keadaan Senja. Bahkan kecepatan mobilnya yang tidak wajar pun tidak ia hiraukan.
Tak butuh waktu lama, Reyhan sudah sampai di supermarket, ia langsung turun dari mobil dan berjalan menghampiri Bik Imah yang berdiri di parkiran dengan wajah khawatirnya.
"Bagaimana bisa Bik." tanya Reyhan dengan wajah khawatir dan marah.
"Ma-maaf Tuan." hanya itu yang mampu Bik Imah katakan.
"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa istri saya hilang?" tanya Reyhan dengan sedikit berteriak.
Bik Imah menunduk tidak berani menatap Reyhan. Hari pertama bekerja langsung mendapatkan kejadian yang tak terduga.
"Ta-tadi saya izin ke toilet Tuan, sa-saat kembali, Nona sudah tidak ada, tinggal trolinya saja yang tersisa." ucap Bik Imah dengan gugup dan takut.
Wajah khawatir, dingin dan datar milik Reyhan sangat kentara terlihat.
"Tuan." Pak Hanif yang baru datang langsung berlari dan menghampiri Reyhan.
"Baik Tuan."
Reyhan berjalan dengan cepat memasuki supermarket, pengunjung yang ramai sedikit menyulitkannya dalam berjalan.
"Permisi." ucap Reyhan menyapa petugas keamanan.
"Iya, ada yang bisa saya bantu Pak?" tanyanya dengan sopan.
"Saya mau lihat rekaman CCTV di supermarket ini." ucap Reyhan menyampaikan maksud dan tujuannya.
"Maaf Pak tidak bisa, karena kebijakan keamanan di sini melarang pengunjung untuk melihat CCTV kecuali petugas dan pemilik supermarket." jawabnya masih dengan sopan.
"Tapi saya perlu melihat rekaman CCTV nya." ucap Reyhan. "Jadi saya mohon tolong izinkan saya melihatnya." lanjutnya.
"Mohon maaf sekali lagi Pak kami....."
"Istri saya hilang di supermarket ini, saya perlu melihat rekaman CCTV nya, saya bukan ingin mencuri atau merampok di sini, saya perlu melihat penyebab hilangnya istri saya." dengan cepat Reyhan memotong ucapan petugas tersebut.
Petugas tersebut terdiam, kemudian menganggukkan kepala.
"Baik Pak, mari ikuti saya." ucapnya kemudian.
Petugas tersebut membawa Reyhan dan Pak Hanif ke pantai atas menuju ruangan CCTV.
"Silakan Pak." petugas tersebut mempersilakan Reyhan dan Pak Hanif masuk.
Reyhan masuk dan mendudukkan dirinya di samping petugas.
"Tolong perlihatkan CCTV di dalam dan di luar supermarket, pada pukul 11:00 siang tadi." ucap Reyhan.
Layar monitor menampakkan kejadian 1 jam sebelumnya, terlihat Senja yang tengah berbelanja, semua nampak normal. Hingga tidak lama kemudian Bella datang, sedikit terlihat wajah Senja yang terkejut namun kembali normal. Bella dan Senja nampak mengobrol, sementara Bik Imah terlihat tengah memilih bahan masakan.
Detik demi detik berlalu, Bella pun sudah tak terlihat, ia keluar dari supermarket, sementara Senja menatap ponselnya dengan wajah sendu, kemudian keluar dari supermarket bersamaan dengan datangnya sebuah mobil. Bik Imah juga sudah izin untuk ke toilet sebelum Senja keluar dari supermarket.
"Fino." desis Reyhan, ia menatap layar monitor yang menampakkan seorang laki-laki keluar dan tersenyum menatap Senja.
Reyhan kembali melihat ketika Senja Menyerahlah handphonenya pada Fino dan ikut masuk ke dalam mobil milik Fino.
***
"Apa maksudmu Rey?" tanya Geri ketika mendengar dan melihat semua bukti hilangnya Senja.
"Kenapa Senja dengan sukarela ikut pergi bersama Fino Kak?" tanya Reyhan dengan wajah khawatir.
"Pasti ada alasan di baliknya." ucap Geri, ia juga bingung dengan apa yang ia lihat.
"Aku pulang dulu Kak." Reyhan langusng bangkit dan bergeges pulang. Ada yang harus ia periksa di rumah, terutama kamarnya.
Sampai di rumah Reyhan segera bergegas ke kamar. Ia memeriksa setiap inci di dalam kamarnya. Hingga matanya menatap sebuah kertas yang terlipat di bawah bantal milik Reyhan.
Assaalamu'alaikum Mas.
Ketika Mas menemukan surat ini, Mas pasti sudah sangat kaget dan khawatir, maaf telah membuat Mas menjadi memikirkanku. Maaf juga karena sudah membuat Mas marah karena kelakuanku.
Mas, mohon jangan marah atau membenciku, sungguh aku hanya mencintaimu Mas, sungguh aku tidak pernah berselingkuh ataupun mendua darimu. Ada alasan kenapa aku ikut pergi dengannya, sampai harus menutupi rasa takut dan traumaku.
Sengaja aku pilih supermarket sebagai tempat terakhirku, agar Mas dapat melihat semua yang terjadi, agar Mas tidak terlalu mengkhawatirkanku.
Mas... jangan khawatir dengan keadaanku, aku baik-baik saja, tolong tetap selidiki dan kumpulkan bukti-bukti kejahatan Fino beserta orang-orangnya, juga lebih berhati-hatilah dengan orang sekitar Mas Reyhan.
Aku akan kembali setelah kita berhasil membuat keadaan aman, dan aku yakin Mas Reyhan bisa menjemput aku pulang kembali. Aku akan menunggu sampai waktu itu tiba.
Semoga Allah selalu menjaga dan melindungi Mas Reyhan.
Salam hangat dan cinta dari istrimu, Senja Maura Tsalsabila. Ingat nama aku Mas :)