
Senja di tarik paksa oleh Bella, sedangkan Riani telah pingsan akibat pukulan yang Bella berikan. Sementara Bimo, ia sedang di luar, menunggu kedatangan Reyhan dan Geri. Alhasil kini Bella mampu membawa Senja untuk ikut bersamanya dan Fino.
"Lepaskan Bella! Lepaskan tanganku!" teriak Senja, ia mencoba menghentakkan tangannya agar cekalan tangan Bella terlepas.
"Lo harus mati Senja, lo harus menderita, kalau lo hancur, orang-orang disekitar lo akan ikut hancur." ucap Bella dengan tersenyum miring dan tetap menarik Senja.
Senja tak ingin menangis lagi, cukup sudah ia dengan katakutan, dan traumanya. Meski rasanya begitu sulit dan sakit, namun sebisa mungkin Senja akan melawannya. Selalu diam dan bersikap baik pun tidak akan menyelesaikan masalahnya.
Senja memandang sekelilingnya, ia mencari apa saja yang bisa membantu dirinya untuk melepaskan diri dari Bella. Tangan kirinya menggapai vas bunga yang berada di nakasnya. Kali ini tanpa meragu, Senja memukul pergelangan tangan Bella.
PRANG!!
Bella berteriak kesakitan, kini cekalan tangannya terlepas. Ia memegang pergelangan tangannya yang memar dan berdarah akibat vas bunga yang dipukulkan Senja. Sementara Senja mencoba untuk keluar dari kamar tersebut. Ia terpaksa harus meninggalkan Riani yang sudah tidak sadarkan diri.
"Maafkan aku Riani." batinnya menatap nanar Riani yang tergeletak tak sadarkan diri.
"Akkhhh sakit!, BRENG**K! Senja!! Kurang ajar lo!!" Bella berlari mengejar Senja, dengan tangan yang masih menekan mukanya agar darahnya tidak keluar banyak.
Namun sayang, ia kehilangan jejak Senja. Senja menghilang dari pandangannya.
"FINO!!" teriak Bella memanggil Fino yang entah pergi kemana.
"Maaf Nona, Tuan Fino pergi untuk transaksi, Tuan berpesan untuk Nona menunggu jemputan yang sudah Tuan kirim." ucap pengawal yang tiba-tiba datang setelah mendengar Bella berteriak memanggil Fino.
"Breng**k!" umpatnya kesal. Fino tidak mendengarkannya, ia lebih memilih pergi ketimbang mengurus Senja.
Darahnya mendidih mengingat Senja yang mulai berani melawannya, ia merasa tidak terima Senja kabur dan mampu melukai dirinya.
"Kerahkan semua pengawal di rumah ini, cari perempuan tawanan itu, cari sampai dapat! Sekarang!" ucapnya memberikan perintah pada pengawal tersebut.
"Baik Nona."
Pengawal tersebut segera memberitahukan pada teman-temannya, agar mencari keberadaan Senja yang menghilang. Kemungkinan Senja tidak akan pergi jauh, ia masih berada di sekitar rumah ini, karena pengawasan dan pengamanan rumah yang ketat.
"Tunggu lo Senja, lo pasti akan habis ditangan gue!" teriak Bella penuh emosi.
Sementara itu Senja kini sedang bersembunyi di halaman belakang. Ia masuk ke dalam suatu kotak yang berada di dalam tanah, di sana ada cerobong sepanjang 3 meter yang tembus ke luar pagar. Cerobong ini membantu Senja mendapatkan oksigen agar tidak kesulitan bernapas.
Kemarin sore, Senja baru mengetahui tempat ini, setelah iseng-iseng mencari udara segar karena bosan di kamar terus-terusan. Dan disinilah dia sekarang, bersembunyi untuk sementara waktu dari kejaran Bella.
"Mau apa kamu Bella." Senja beringsut kebelakang, sesekali ia melihat Riani yang merintih kesakitan akibat cekikan Bella.
BUGH!
Bella memukul kepala Riani menggunakan balok yang ia pegang di tangan kanannya, mengakibatkan Riani pingsan dengan darah yang mengalir di kepalanya. Sungguh Senja ingin menolong Riani, namun rasa takutnya kembali menguasainya. Belum lagi kata demi kata yang diucapkan Bella, mampu membuat traumanya merenggut kewarasannya selama beberapa menit. Hingga tangan Bella yang menariknya dengan kuat menyadarkannya.
"Lo itu murahan Senja, lo itu kotor, lo gak pantas berada di samping Kak Reyhan, lo gak pantas menerima semua cinta dari Kak Reyhan. Lo emang gak punya malu, lo itu udah gak suci lagi Senja." ucap Bella secara terus menerus.
"Tubuh lo ini sudah disentuh dengan banyak laki-laki, lo pikir cuma Fino aja, hah? Ada banyak laki-laki yang sudah menyentuh dan menggilir tubuh lo hingga lo sadar dan hanya menemukan Fino tengah menikmati tubuh lo itu." ucapnya lagi dengan suara pelan namun mampu menyentuh trauma dan psikis Senja.
"Lo tuh hina Senja, lo hina! Lo perempuan murahan dan lo gak pantas bersanding dengan Kak Reyhan!" teriaknya menekankan setiap kata-katanya.
Bella senang, sangat senang, melihat Senja yang hanya mampu bersembunyi dibalik ketakutannya. Ia teramat bahagia menyaksikan kehancuran Senja di depan matanya. Melihat Senja menangis dan berteriak histeris membuatnya seperti berada di atas awan.
Ia berjalan mendekati Senja. "Dan lo tahu Senja, semua ini karena dosa-dosa orang tua lo, juga karena lo merebut kebahagian gue, Kak Reyhan."
"Gue yang udah buat lo digilir banyak laki-laki, dan membuat Fino merekam hubungan panas kalian malam itu." bisiknya di akhiri dengan suara tawa.
Senja menangis dengan menggelengkan kepalanya, ia menutup telinganya, kilasan-kilasan malam mengerikan itu kembali bermunculan. Dan yang lebih menyakitkan lagi, ternyata semua ini ulah Bella, Bella dalang dibalik semua ini.
Senja terisak dengan menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Ia masih tidak menyangka jika semua yang terjadi karena ulah Bella. Tangannya menutup kedua telinganya, mengingat perkataan Bella tentang dirinya yang digilir oleh banyak pria. Apa dirinya sudah sekotor itu.
"Ya Allah......" isaknya.
"Jadi semua ini ulah Bella." lirihnya.
***
"Bos, Tuan." hormat Bimo ketika melihat kedayangan Geri dan Reyhan.
"Senja dimana?" tanah Reyhan. Itu kalimat pertama yang ia tanyakan.
"Ada apa Bim?" tanya Geri.
"Keadaan Nona sedang tidak baik-baik saja, Nona hampir dilecehkan oleh Fino." ucap Bimo dengan hati-hati.
"Fino." desis Reyhan. Tangannya mengepal mendengar ucapan Bimo.
Mereka segera memasuki rumah Fino. Namun langkah Reyhan terhenti ketika melihat mobil yang dia kenali. Tangannya semakin terkepal kuat.
***
Fino sampai di lokasi, ia segera menghampiri anak buahnya. Terlihat di lokasi Joni dan Heru juga ikut hadir, namun kali ini mereka bertugas sebagai mata-mata Reyhan, bukan anak buah Fino. Sehingga yang mereka lakukan saat ini mengamati setiap pergerakan Fino dan anak buahnya.
"Target sudah datang." ucap tim kepolisian, ia mengawasi melalui teropong jarak jauh.
"Fino sedang bersama dengan anak buahnya, dan kini melangkah masuk ke dalam gedung." ucapnya lagi.
"Pasukan mulai menyebar! Masuk perlahan ke dalam gedung, gantikan posisi semua penjaga di dalam gedung." perintah Kombes Burneo.
Riko dan tim khusus bergerak seolah mereka adalah tamu di dalam gedung itu. Riko menyamar sebagai pengusaha prostitusi dan beberapa tim khusus menyamar menjadi pengawalnya. Mereka bergerak seolah mereka memang akan membeli gadis-gadis muda yang diperjualbelikan.
"Acara sudah dimulai, segera masuk ke dalam." lapor Riko menggunakan handsfree pada Kombes Burneo dan tim lainnya.
"Sial! Benar-benar kotor." ucap Riko ketika melihat sekitar. Banyak sekali barang-barang yang jelas haram dijual di sini. Belum lagi ia melihat gadis-gadis muda yang hanya mampu menangis ketika di tarik paksa dan tawar dengan harga fantastis oleh banyak orang untuk dijadikan pemuas nafsu belaka.
Riko pun terpaksa harus ikut membeli dengan tawaran harga mahal demi penyemarannya. Sesekali ia ikut mengobrol bersama agar tak menimbulkan kecurigaan. Sementara tim khusus mencoba untuk mencari dimana letak penyimpanan organ dalam manusia dan beberapa gadis-gadis muda lainnya.
"Semua penjaga sudah dilumpuhkan, segera masuk ke dalam semua tim." ucap Riko.
Tadi saat ia sedang mengobrol bersama para penjahat, tim khusus yang bertugas mengawal Riko mencari celah untuk bisa meninggalkan ruangan tersebut. Mereka segera melumpuhkan seluruh penjaga di lantai atas, agar memudahkan tim kepolisian lainnya untuk masuk ke dalam gedung tersebut.
***
"Baik Tuan-Tuan sekalian, kita masuk ke puncak acara, yaitu pelelangan. Barang bagus yang tentu tidak akan mengecewakan Tuan-Tuan semuanya."
Para petugas segera mengeluarkan barang lelang tersebut. Sebuah kotak besar berwarna hitam, dengan rantai di kedua sisinya. Kemudian kotak tersebut di buka dan terlihatlah seorang gadis cantik dengan mata sembab, sangat nampak ia habis banyak menangis. Matanya menatap kosong, sudah sangat pasrah dengan nasibnya yang menjadi barang pelelangan, yang pastinya berujung menjadi pemuas nafsu belaka.
Riko melihatnya dengan lekat, ada rasa tertarik dalam dirinya. Memandang wajah cantik nan teduh itu hatinya bergetar. Namun pandangan yang kosong, wajahnya yang menyiratkan kesedihan membuat Riko ikut sakit. Tubuh gadis itu terekspos dengan penuh, karena saat ini ia hanya menggunakan pakaian dalam saja. Kulit putih mulusnya membuat siapapun yang memandang bergairah, seakan ingin memakannya hidup-hidup.
"Baiklah, harga kita mulai dari 20.000 USD."
"30.000 USD."
"50.000 USD."
"100.000 USD."
"200.000 USD."
"200.000 USD, ada lagi yang lebih tinggi?" tanya sang pembawa acara.
"300.000 USD."
"300.000 USD, ada lagi yang lebih tinggi?"
"Nampaknya tidak ada lagi?"
"500.000 USD." suara lantang itu mengalihkan pandangan semua orang.
Riko berteriak tanpa beban, seolah hal biasa yang sudah ia lakukan, padahal kini beberapa orang nampak tidak percaya dengan penawaran Riko. Uang 500.000 USD keluar dengan percuma hanya karena seorang gadis yang menjadi barang lelangan. Nampaknya ada yang salah dengan Riko saat ini.
"Wow sangat tinggi, baiklah harga sudah di tetapkan 500.000 USD untuk Tuan Felix." ucap sang pembawa acara. Yah begitulah, Riko mengganti namanya menjadi Felix dan ia datang menggunakan identitas paslu, tidak mengekspos dirinya.
Tatapan tajam Riko bertemu dengan tatapan sayu tak bersemangat milik gadis bermata biru itu. Seolah ia tidak mempermasalahkan dengan siapa dirinya akan dibeli.
"Apa yang dilakukan Riko." ucap Kombes Burneo.
"Nampaknya ia tertarik dengan gadis lelangan itu." ucap Jico.
Mereka yang tengah memantau dan mendengar apa yang diucapkan Riko hanya menggelengkan kepalanya. Tidak menyangka akan ada hal yang membuat mereka terkejut.