
Tak terasa tiba waktunya berbuka puasa, Senja kembali menikmati berbuka puasa seorang diri di dalam kamarnya. Sayup-sayup ia mendengar suara takbiran dari masjid yang tak jauh dari perumahan ini. Air matanya tiba-tiba mengalir merasakan kerinduan pada orang-orang terkasihnya. Malam takbiran yang begitu sepi dan sunyi.
Allaahu akbar allaahu akbar allaahu akbar. laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahilhamd
"Besok lebaran, apa besok aku bisa bertemu denganmu Mas..." lirihnya.
Sementara di kediaman Alfarisi, tak ada satupun dari mereka yang keluar kamar. Bahkan untuk berbuka puasa bersama saja sekarang sudah tidak dilakukan. Reyhan cenderung mengurung diri di kamar semenjak Senja hilang. Dan Bintang pun sama, ia masih stay di kamar untuk menenangkan diri dan mencoba memikirkan cara agar bisa menemukan keberadaan Senja.
Ting!
Satu pesan masuk membuyarkan lamunan Reyhan, ia membacanya dengan tatapan dingin.
***
Bella menampar Fino yang kini tengah mabuk dan sedikit kehilangan kesadarannya.
"Bodoh!" umpatnya tertahan. Fino jelas tak merespon, ia tengah asik meminum minuman haram itu, mulutnya tak jelas meracau apapun.
"Bukannya membereskan masalah malah minum di sini." ucap Bella, niatnya ingin berdiskusi dan menemukan jalan keluar malah semakin melihat Fino seperti ini semakin memperburuk keadaan.
"Kalau kayak gini, bisa-bisa Fino menyeretku ke lubang yang sama sepertinya. Sial!" kesalnya melihat Fino.
"Senja, ah... Reyhan breng**k." racaunya dengan sesekali menyumpahi Reyhan, juga memanggil nama Senja.
Seketika Bella tersenyum licik, ia seperti mendapatkan ide baru kali ini.
Dengah bersusah payah dia memapah Fino, kembali menuju perumahan tempat dimana dia menyekap Senja.
"Buka gerbangnya, dan bantu aku membawa bos kalian." ucap Bella pada penjaga.
Pintu gerbanh dibukakan, mereka membantu memapah Fino sampai di ruang tamu.
"Bangun Fin." Bella menepuk-nepuk pipi Fino, hingga mata sayu itu menatapnya.
"Senja." ucapnya ketika melihat Bella di hadapannya, ia mencoba menggapai Bella ingin memeluknya.
"Bangun bodoh! Gue Bella bukan Senja! Sial lo!" ucap Bella mencoba menyadarkan Fino.
"Gue Bella bodoh!"ucapnya lagi, memberikan tamparan pelan di pipi Fino.
"Ngapain lo di sini Bel?" tanyanya pelan, ketika mampu melihat Bella.
"Ada yang perlu lo lakuin untuk kedua kalinya Fino, dan ini harus!" ucap Bella menatap Fino dengan seringainya.
"Apa?" tanya Fino. "Lo mau gue ngelakuin apa lagi hah? Lo gak lihat semua berita di berbagai media? Nama gue hancur dan keluarga gue marah sama gue." ucap Fino lagi dengan terhuyung memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.
"Justru itu Fino, kalo lo lakuin apa yang gue minta, gue yakin, lo pasti akan merasakan kemenangan dan lo bisa membalas semua perbuatan Kak Reyhan sama lo." ucap Bella.
"To the point Bella." ucap Fino.
"Lo harus ngelakuin hal yang sama ke Senja, seperti yang lo lakuin dulu, dengan begitu, Kak Reyhan akan semakin terpuruk, dia akan jijik dengan Senja. Lo bisa balas dendam, dan gue bisa mendapatkan Kak Reyhan." ucap Bella dengan tersenyum miring.
"Lo suka kan ide gue? Sekarang tunggu apalagi, lo datangi Senja, dan mulai membalaskan dendam lo." hasutnya lagi.
Fino dengan langkah gontai dan tidak seimbang mulai menaiki tangga, menuju kamar Senja. Sementara Bella tersenyum senang melihatnya.
"Malam ini, lo akan hancur untuk yang kedua kalinya, dan gue pastiin lo gak akan mampu untuk melanjutkan hidup lo." ucap Bella tertawa puas, membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi pada Senja.
***
"Semua sudah siap?" tanya Geri.
"Siap Bos." jawab mereka serentak.
Kombes Burneo datang menghampiri Geri.
"Kamu yakin malam ini semuanya akan terselesaikan?" tanyanya menatap Geri.
"Pasti Pak, malam ini transaksi akan dilakukan, tempatnya berubah dari yang dijanjikan kemarin, namun bukan berarti rencana yang sudah matang ini akan gagal." Geri menatap jauh ke depan.
"Nanti pasukan kepolisian Bapak bersama dengan Riko, akan menuju lokasi transaksi itu, kabarnya bukan hanya kelompok penjahat Fino di sana, namun ada beberapa kelompok penjahat yang bisa Bapak ringkus sekalian." timpal Reyhan, mendekati keduanya.
"Sementara saya, Kak Geri dan beberapa pasukan akan langsung menuju lokasi tempat dimana istri saya di sekap, agar semuanya dapat diselesaikan malam ini." lanjutnya.
"Baik saya rasa itu pengaturan yang baik, kita dapat menyelesaikan malam ini." ucap Kombes Burneo.
Komber Burneo bersama, Riko dan pasukan kepolisian segera menuju lokasi yang diberikan Geri. Lokasi yang menjadi tempat transaksi gelap Fino dan anggotanya. Penjualan manusia, organ manusia, dan obat-obatan terlarang, ini akan menjadi penyergapan besar-besaran, karena selain menangkap Fino berserta anak buahnya, pihak kepolisian juga akan menangkap beberapa kelompok sindikat penjualan manusia lainnya.
Di lokasi pun sudah menyebar beberapa pasukan elit kepolisian, yang mengawasi pergerakan orang-orang. Terlihat berharap mobil truk mulai berdatangan, orang-orang yang terlihat seperti pengawal atau bawahannya mengangkat kotak-kotak kaca yang berisi organ tubuh manusia. Mereka juga menyeret dan memaksa gadis-gadis muda keluar dari dalam mobil truk, bahkan terlihat banyak yang masih di bawah umur.
Ada beberapa koper yang yang diyakini berisikan obat-obatan terlarang, mungkin beratnya bisa mencapai beratus-ratus kilogram, mengingat tidak hanya satu atau dua koper yang di keluarkan. Semua itu tidak lepas dari pengawasan kepolisian, dan terekam jelas di dalam kamera pengintai yang sudah disiapkan sebelum mereka tiba.
Sementara itu, Bella tersenyum puas ketika melihat Fino sudah benar-benar masuk ke dalam kamar Senja. Ia meninggi teriakan demi teriakan yang akan membuatnya senang. Dan seperti yang ia harapkan, suara tangisan dan teriakan pun terdengar. Kamar yang Senja tempati memang tidak memiliki kedap suara, sehingga memungkinkan siapapun untuk mendengar suara dari dalam.
"Rasakan Senja, perempuan ****** sepertimu memang pantas menerima semua itu. Sejak awal keluargamu telah membuat keluargaku menderita, sekarang rasakan apa yang harus kamu rasakan." Bella tersenyum sinis dengan tetap tidak mengalihkan pandangannya pada kamar Senja.
"Sebentar lagi perempuan ****** itu akan diceraikan Kak Reyhan, dan posisi Nona muda dalam keluarga Alfarisi akan menjadi milikku. Tidak akan ada yang mau menerimamu lagi Senja." ia menyeringai penuh kemenangan. "Perempuan murahan!" desisnya.
***
"Bimo sudah mengirim lokasinya, beberapa pasukan juga sudah mulai berangkat, kita juga harus cepat berangkat dan segera menyelamatkan Senja." ucap Geri pada Reyhan.
"Oke, ayo Kak."
Mobil yang dikendarai Reyhan segera menuju lokasi yang diberikan Geri, ia menyetir dengan kecepatan di atas rata-rata. Dirinya sudah sangat tidak sabar untuk memeluk Senja, membawanya pergi dan tidak akan lengah seperti sebelum-sebelumnya.
"Jadi siapa pemilik jaket yang mengintai Bintang juga Tante Lusi?" tanya Geri dengan tetap menatap jalanan yang tidak terlalu ramai.
Geri menoleh menatap Reyhan setelah beberapa saat Reyhan tidak mendapatkan jawabannya. Dapat ia lihat raut wajah Reyhan berubah menjadi sangat dingin, sepertinya dalang dibalik semua ini tidak hanya Fino, Geri bisa merasakan itu.