
Sesuai janji Reyhan, ia kembali masuk ke dalam ruang istirahat untuk membangunkan Senja. Langkah besarnya sudah sampai di sisi ranjang, terlihat Senja yang begitu pulas ketika tidur. Takut menganggu Senja yang tengah beristirahat Reyhan dengan perlahan dan hati-hati membaringkan dirinya di samping Senja, kemudian memiringkan tubuhnya menatap Senja. Tangannya terulus untuk mengusap peluh keringat di dahi Senja. Sepertinya ruangan istirahat tanpa AC itu membuat Senja kepanasan ketika tidur.
5 menit berlalu, Reyhan juga tak kunjung membangunkan Senja. Entah apa yang ia pikirkan ketika sibuk memandangi wajah Senja yang Tenga tertidur itu. Lama kelamaan rasa kantuk pun menyerangnya. Reyhan yang tak sadar kini ikut tidur dengan posisi tangan memeluk Senja. Sepertinya ia juga sangat kelelahan menghadapi tamu undangan yang lumayan banyak.
***
"Maaf Nyonya, Nona Senja sedari tadi belum keluar dari ruang istirahat, setengah jam yang lalu kami juga melihat Tuan Reyhan yang masuk ke dalam ruangan istirahat, tapi tak kunjung keluar juga. Kami jadi belum bisa merias Nona Senja." ucap MUA yang di sewa Mama Mira untuk merias Senja.
"Waduh." Riko sudah tersenyum jahil seperti mendapat bahan ejekan untuk Reyhan nanti.
"Biar saya lihat mereka dulu, kamu tunggu di ruang make up yah." ucap Mama Mira.
"Baik Nyonya." MUA itu kemudian permisi kembali ke ruang make up.
"Kayaknya dua-duanya sama-sama kecapekan Mbak." ucap Bunda Lusi.
"Aku rasa juga gitu Mbak, yaudah kita lihat aja dulu." ajak Mama Mira pada Bunda.
Mama Mira dan Bunda Lusi berjalan menuju ruang istirahat. Ketika keduanya membuka pintu, senyum terlukis di bibir mereka, melihat Reyhan tidur dengan memeluk Senja. Tidur keduanya begitu nyenyak, membuat Mama Mira dan Bunda Lusi mengurungkan niatnya untuk membangunkannya. Dan akhirnya memilih untuk segera keluar dari ruangan tersebut, dengan berjalan dan menutu pintu pelan-pelan tanpa menimbulkan suara
Beberapa menit setelah Mama Mira dan Bunda Lusi, Senja mulai bangun, ia mencoba merenggangkan tubuhnya, namun begitu sulit, terasa sempit dan sesak. Perlahan ia membuka matanya dan begitu terkejut ketika mendapati Reyhan tidur di sampingnya dengan posisi memeluk dirinya. Hal itu membuat Senja mendorong tubuh Reyhan, dan beringsut ke belakang dengan wajah yang sedikit tegang.
Sementara itu Reyhan yang di dorong Senja langsung terbangun merasakan tubuhnya bergeser. Ia membuka matanya dan menatap Senja yang tengah duduk dengan menatapnya.
"Oh ternyata kamu sudah bangun." Reyhan mendudukkan dirinya dengan mengusap wajahnya. "Sepertinya saya ketiduran ketika ingin membangunkanmu." lanjutnya dengan menatap Senja.
"Yasudah ayo bangun dan bersiap untuk acara selanjutnya." Reyhan langsung bangkit dan mengajak Senja.
Senja yang mulai tenang dan tidak lagi tegang kini menganggukkan kepala, kemudian turun dari ranjang dan berjalan mengikuti Reyhan.
***
Acara kembali berjalan lancar, Reyhan dan Senja pun terlihat seperti pasangan serasi lainnya, bahkan mungkin sekarang mereka menjadi couple goals yang banyak diinginkan di luar sana. Yah tapi itu hanya yang terlihat, tidak tahu saja bagaimana kisah pernikahan keduanya nanti.
"Selamat Bila, Kakak bahagia melihat kamu menikah." ucap Kak Hana pada Senja. Kini mereka tengah mengobrol berdua.
"Sama-sama Kak." Senja tersenyum menatap Hana. "Kak, maaf yah Bila tidak mengabari Kak Hana jauh-jauh hari, dan maaf soal ta'aruf itu, Bila sudah tidak bisa melanjutkannya." ucap Senja dengan tidak enak hati.
"Kakak paham Bila, jangan meminta maaf, kamu tidak salah, jodoh sudah ada yang mengatur." Kak Hana tersenyum lembut menatap Senja.
Ustadz Kamil pun sekarang lagi mengobrol ringan bersama Reyhan.
"Terimakasih sudah datang ustadz." ucap Reyhan dengab tersenyum.
Ustadz Kamil mengangguk dan tersenyum.
"Rey, ada yang ingin saya bicarakan." wajah ustadz Kamil kembali serius.
"Tentang Maura ustadz?" tanya Reyhan.
Ustadz Kamil mengangguk. "Kamu tahu kan pernikahan bukan sesuatu yang bisa dibuat mainan." Reyhan menganggukkan kepala. "Saya harap Reyhan bisa perlahan melupakan Maura, dan fokus dengan pernikahan Reyhan sekarang." lanjut ustadz Kamil.
"Iya ustadz, doakan Reyhan bisa menjalankan kewajiban Reyhan sebagai seorang suami untuk Senja." ucap Reyhan.
Reyhan terdiam, entah respon apa yang harus ia berikan ketika mendengar gadis yang ia cari sudah menjadi istri orang lain. Dirinya pun sudah menjadi suami orang.
Helaan napas terdengar dari Reyhan, sementara itu ustadz Kamil menatap Reyhan dengan tatapan yang sulit di mengerti.
"Saya senang dan terkejut mendengarnya ustadz." ucap Reyhan dengan di akhiri kekehan pelan darinya.
"Rey, ada yang harus kamu ingat, jodoh sudah ada yang mengatur, pernikahanmu sekarang itu yang terpenting, sayangi dan muliakan istrimu, dia juga seorang istri yang berhak untuk dicintai bukan?" Reyhan menganggukkan kepala mendengar nasihat ustadz Kamil.
"Iya ustadz." Reyhan mengangguk dengan tersenyum.
Karena ini bulan ramadhan, maka tidak ada acara makan-makan ketika siang hari, namun saat sudah adzan maghrib semua tamu undangan sudah bisa menikmati makanan yang telah disiapkan.
Kini waktu menunjukkan pukul 20:00 WIB. Pesta sudah selesai sejak satu jam yang lalu, Reyhan dan Senja berada di hotel yang sudah di sewa sebelumnya. Pihak keluarga lainnya pun sudah kembali pulang dan beristirahat di tempat masing-masing.
Senja dan Reyhan sama-sama diam, keduanya lebih terlihat canggung dari sebelumnya. Apalagi kini Reyhan terlihat kembali dingin usai berbicara bersama ustadz Kamil. Melihat hal itu Senja yang bingung harus melakukan apa hanya diam dan memilih untuk membersihkan dirinya di kamar mandi. Sementara Reyhan duduk termenung dengan wajah datar dan dinginnya di sofa.
"Mas." panggil Senja yang sudah selesai membersihkan dirinya. Kini ia mengenakan baju tidur lengan panjang berwarna peach dengan jilbab sorong panjang sebatas perut warna biru.
Reyhan menoleh menatap Senja yang berdiri di sisi sofa. Ia kemudian mengangguk dan langsung membersihkan dirinya pula di kamar mandi.
"Aneh, tadi hangat, kenapa sekarang jadi dingin lagi." gumam Senja sambil menatap punggung Reyhan yang perlahan menghilang di balik pintu.
Senja memilih duduk di sisi ranjang dengan memainkan ponselnya. Beberapa menit kemudian Reyhan keluar dengan balutan handuk di pinggangnya, membiarkan dada bidangnya terekspos. Senja secara spontan memalingkan wajahnya ketika melihat hal itu.
"Tunggu saya selesai ganti baju, nanti kita makan malam di bawah." ucap Reyhan.
"Iya Mas." jawab Senja masih dengan posisi memalingkan wajahnya.
Reyhan yang melihatnya hanya tersenyum dengan menggelengkan kepala. Reyhan menggunakan t-shirt warna putih dengan celana pendek selutut berwarna hitam, terlihat begitu tampan. Ia berjalan mendekati Senja dan duduk di sampingnya. Kemudian menepuk pelan pundak Senja, membuat Senja menoleh dan menatapnya dengan bingung.
"Tolong keringkan rambut saya." pinta Reyhan dengan tersenyum. Senja membeo sesaat sebelum ia mengangguk dengan patah-patah.
Kegiatan mengeringkan rambut berlangsung beberapa menit, sampai rambut Reyhan tidak lagi meneteskan air, walaupun tidak terlalu kering.
"Terimakasih." ucap Reyhan.
"Em." Senja mengangguk dengan tersenyum lembut.
"Ayo ke bawah, kita makan malam." ajak Reyhan.
"Tunggu Mas, saya ganti rok dulu." Senja kemudian berlari menuju koper miliknya, mengambil rok berwarna senada, memakainya dengan cepat.
"Kenapa ganti pakai rok?" tanya Reyhan saat Senja berjalan mendekatinya.
"Gak suka pakai celana di tempat umum atau di depan orang asing." jawab Senja, Reyhan mengangguk paham.
Reyhan kemudian meraih tangan Senja menggandengnya seperti biasa. "Ini akan menjadi rutinitas harian kita." ucap Reyhan sambil mengangkat jari yang saling bertautan.
Senja diam dengan tetap mengikuti kemana Reyhan akan membawanya. Ia menikmati tautan tangan milik Reyhan, besar tangan Reyhan membuatnya merasa aman saat berada di sampingnya.