
cahaya berusaha memalingkan wajahnya saat air keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. tampak tubuh putihnya terpampang jelas di mata cahaya.
"a... aku, akan ke kamar mandi. kamu silahkan ganti baju, kokoh dan sarungnya sudah aku siapkan di atas tempat tidur. " ucap cahaya gugup. lalu dengan cepat ia berjalan menuju kamar mandi. air yang melihat tingkah cahaya yang seperti itu membuatnya tersenyum serta menggeleng-geleng kan kepala.
bukan tanpa sebab cahaya bersikap seperti itu, ia hanya masih kaget dengan sikap air yang belum ingat dengan dirinya. walaupun ia merindukan pelukan dari tubuh tersebut, tapi ia harus bisa menahan diri untuk tidak melihat tubuh air dan menunggunya hingga air mengingat semuanya.
karena para orang tua sudah pergi, kini tinggal air dan cahaya yang berada di rumah mereka. setelah berminggu-minggu air dan cahaya hidup berdua dengan kondisi air yang masih belum bisa mengingat sang istri.
"aww." air kembali memegang kepalanya yang terasa sakit saat bayangan-bayangan seorang gadis yang melintas dipikirannya. hingga semakin lama bayangan tersebut nampak jelas, wajah cahaya dengan senyum manisnya serta suara lembut saat mereka sah menjadi pasangan suami istri.
"mas, kamu gak apa-apa? " tanya cahaya yang terlihat sangat khawatir. ia hanya bisa bertanya tanpa mau menyentuh air. sebab dirinya tidak ingin mendapatkan penolakan dari air.
"cahaya, mendekatlah. " pinta air dengan lembut sambil menepuk tempat tidur, memberikan isyarat untuk cahaya duduk disampingnya.
cahaya pun mendekat tapi ia tetap memberikan jarak antara dirinya dan sang suami.
"lebih dekat, cahaya. " pinta air lagi.
"tapi." ucapnya yang ragu akan permintaan air.
"kenapa? apa kamu tidak ingin dekat dengan ku? " tanya air.
"bukan seperti itu, aku hanya tidak ingin. " ucapannya terhenti saat air menggenggam tangannya dengan tatapan yang tak biasa.
"mas." ucap cahaya dengan pelan, air matanya sudah tumpah saat air menggenggam tangannya. rindu yang ia rasakan seakan terbalaskan.
"maafkan, mas. karena, mas baru bisa mengingat mu sekarang. mas, sangat merindukan mu. " ucap air dengan mata memerah menahan haru.
"mas, kamu. kamu sudah mengingat ku, mas? " tanya cahaya bahagia.
air menganggukkan kepala, dengan cepat cahaya masuk kedalam pelukan sang suami. melepas rindu yang selama ini ia tahan.
"maaf, sayang. maaf, mas selama ini meragukan pernikahan kita. mas, sudah membuat mu menunggu dan bersedih. " ucap air. ia tak henti-hentinya mengecup kening sang istri lalu membawanya kembali dalam pelukannya.
"mas, tidak salah. semua ini adalah takdir, mas. dan aku bersyukur, kamu sudah bisa mengingat ku kembali. " ucap cahaya yang masih memeluk tubuh air. Tangan air pun tak lepas mengelus kepala cahaya dengan lembut.
hari pun semakin larut, hingga tak terasa keduanya hanyut dalam kerinduan. melepas segala rasa , mengulang malam pertama yang pernah mereka lakukan hingga mereka tertidur tanpa sehelai benang pun.
keesokan paginya
"sayang,ayo kita bersih-bersih.sepertinya matahari akan segera muncul. " ucap air dengan lembut di telinga sang istri.
cahaya bangun dengan ekspresi kaget, saat mendengar ucapan sang suami.
"kamu, mau menggoda ku, sayang? " tanya air dengan menaik turunkan alisnya.
cahaya sadar dengan ucapan suaminya, ia terlihat malu dan dengan cepat menarik kembali selimut yang sudah ia singkirkan.
"gak usah malu, wong aku yo udah sering lihat kok. " goda air.
"maaas." ucap cahaya yang tersipu malu.
"udah yuk, kita bersih-bersih. udah jam lima, kita sudah telat subuhannya. " ajak air.
"gendong." ucap cahaya dengan manja.
"baiklah, tuan putri. " ucap air dengan lembut.
setelah mereka bersih-bersih dan sholat subuh, kini air sedang mengaji sambil menunggu cahaya pagi menyinari bumi. berbeda dengan cahaya yang sibuk dengan urusan dapur. ia sedang membuatkan sarapan untuk dirinya dan sang suami.
"mas, ayo sarapan. " ajak cahaya dengan lembut serta senyum yang tak lepas dari wajahnya. karena kebahagian sang suami itu saat melihat wajah sang istri yang senantiasa senyum kepadanya.
"iya, sayang. sebentar, mas meletakan kitab dulu. "ucap air.
" yuk. "ajaknya dengan menggandeng tangan sang istri keluar dari kamar.
karena rumah mereka yang tidak terlalu besar, hanya hitungan menit mereka sudah berada di meja makan.
" Mmm, wangi banget baunya. "ucau air saat ia melihat nasi goreng yang ada di atas meja.
" mas, mau kopi apa susu? "tanya cahaya.
" air putih aja, sayang. ngopinya nanti aja. "jawabnya.
selesai sarapan , air pun berpamitan untuk pergi ke pesantren" aku berangkat dulu ya, sayang. "ucap air dengan lembut .
" aku, anter sampai depan, mas."ucap cahaya yang juga ikut berdiri dari duduknya.
semenjak air sudah mengingat cahaya, kini kehidupan mereka semakin bahagia.
TAMAT
Maaf reader yang terhormat, karena sudah kehabisan ide. ceritanya sampai disini saja. terimakasih dukungan dan suportnya🙏😘