Arini

Arini
Bab 33



Dalam perjalanan pulang, tampak suasana di dalam mobil terasa sangat sunyi dan sepi, Devandra sibuk fokus dengan menyetir mobil sementara Arini melihat ke samping kaca, tidak ada yang diobrolkan pada saat itu semuanya sibuk dengan pikirannya masing masing


Arini berpikir mengenai kemungkinan Devandra akan meninggalkan dirinya saat Devandra sudah menemukan wanita yang benar benar dicintainya dan dia hanya dijadikan sebagai pelampiasan dari Devandra sekarang ini, Arini sadar Devandra masih belum mencintainya hanya sebatas menghargai dirinya, tapi harusnya Arini tidak boleh berpikir seperti itu, dia harusnya bersyukur telah diangkat derajatnya oleh Devandra


Arini menghela nafas panjangnya ada satu sisi merasa dia telah dibohongi tapi di sisi lain dia merasa siap atau tidak siap harus menerima semuanya meskipun itu adalah yang terburuk sekalipun


Selama perjalanan menuju ke apartemen tidak ada perbincangan sama sekali diantara mereka berdua, semuanya sibuk tenggelam dalam pikirannya masing masing, Devandra sibuk fokus menyetir sementara Arini sibuk dengan pikirannya sendiri alih alih sambil menikmati perjalanan mereka berdua di malam hari


"Kita sudah sampai" ucap Devandra sambil memarkirkan mobilnya di bassement, membuyarkan lamunan Arini yang saat itu dia tidak menyadari jika dirinya telah sampai kembali ke apartemen mereka, tanpa banyak cakap Arini melepaskan sabuk pengamannya dan kemudian membuka pintu mobilnya, dia berjalan terlebih dahulu tanpa bicara sepatah katapun


Arini tidak menyadari jika tidak ada Devandra disebelahnya karena dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga tiba tiba lengannya ditarik oleh Devandra yang membuat Arini langsung terkejut hingga berteriak kaget, matanya membelalak terkejut begitu Devandra menarik dirinya dan kini mereka berdua berhadapan saling berdekatan satu sama lain, saling menatap pandangan Arini terkunci di bawah tatapan tajamnya Devandra


"Kenapa kamu?" tanya Arini menatap Devandra, dia mencoba menenangkan hatinya yang berdegup kencang


"Kamu yang kenapa?" tanya Devandra balik menatap Arini dengan tatapan tajamnya


"Aku tidak apa apa" kilah Arini berbohong


Devandra yang tidak percaya dengan jawaban Arini, masih menatap Arini dengan tatapan tajamnya mengunci Arini disana dan membuat Arini terdiam seribu bahasa


"Jawab aku Arini, aku tidak suka dengan kebohongan" ujar Devandra pada akhirnya, mendengar Devandra berbicara seperti itu membuat Arini langsung tersenyum sinis, memberanikan diri membalas menatap Devandra


"Tidak suka dengan kebohongan katamu, bagaimana dengan mas sendiri?" tanya Arini sarkas kepada Devandra


"Apa maksudmu?" tanya Devandra balik


"Mas kenapa mas ga cerita mengenai Cassandra kepada saya,kenapa mas menutupi itu dari saya?" tanya Arini menuntut jawaban dari Devandra, berharap Devandra bercerita yang sebenarnya sehingga dia tahu dimana letak posisinya dia sekarang ini


"Kita tahu kalau kita belum saling mencintai satu dengan yang lain tapi yang namanya rumah tangga tidak ada yang harus dibohongi apalagi ditutup tutupi mas, saya sadar siapa saya dan saya tahu posisi saya apa" ucap Arini dengan nada lirih


"Boleh saya bertanya sesuatu sama mas?" tanya Arini kepada Devandra menatap Devandra berharap Devandra mau jujur terhadap dirinya


"Apa kamu masih mencintainya dan masih mengharapkan dia kembali?" tanya Arini menatap Devandra sambil menuntut jawaban dari Devandra, dan dia berharap saat itu Devandra menyangkalnya atau berkata tidak sama sekali tapi Arini sadar dia tidak berhak mengharapkan hati dari seorang Devandra


Devandra yang mendengar pertanyaan dari Arini tampak sedikit terkejut, dia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan tiba tiba seperti ini namun dia segera menutupi rasa terkejutnya secara cepat sebelum Arini menyadarinya


Devandra masih terdiam sementara Arini masih menatap Devandra menuntut penjelasan dan jawaban yang jujur dari suaminya yang sekarang ini berada di hadapannya


"Kita naik ke atas dulu, kita bicarakan masalah ini di apartemen" ucap Devandra berusaha mengulur ukur waktu, untuk memikirkan jawaban yang setidaknya tidak menyakiti hati Arini yang sekarang sudah menjadi isterinya itu


Arini dengan patuh berjalan disamping Devandra dengan tangan yang digenggam oleh Devandra, mereka berdua berjalan dalam diam, Devandra menekan tombol lift yang langsung terbuka di hadapan mereka berdua, Arini langsung digandeng masuk ke dalam dan dia hanya menurut saja


Di dalam lift mereka kembali terdiam, Arini menatap angka angka yang menyala dan untungnya tidak ada menekan tombol lift baik dari luar maupun dari dalam, sehingga lift bergerak terus naik ke atas, hingga tiba di lantai tempat dimana Arini dan Devandra tinggal


Devandra melepaskan genggaman tangannya, dia membuka pintu lift dan masuk ke dalamnya diikuti oleh Arini Dar belakang, begitu pintu apartemen ditutup, Arini langsung berjalan menuju ke ruang tengah menatap Devandra yang berjalan menghampiri dirinya


"Katakan kepada aku mas sekarang, biar aku tahu dimana posisi aku sekarang saat ini" ucap Arini dengan nada suara tegas menatap Devandra sambil dia berharap Devandra berkata kalau hanya dirinya saat ini yang ada di hatinya, namun buru buru Arini menepis itu semua, dan menghapus harapan itu karena dia tahu itu pasti tidak akan pernah mungkin


"Mas" panggil Arini kepada Devandra yang masih menunggu jawaban dari seorang Devandra suami yang dinikahinya seminggu yang lalu


"Maafkan aku Arini, kamu benar saat ini aku masih belum melupakan dirinya, bahkan saat ini aku masih mencari keberadaan dia dimana" jawab Devandra jujur mengakui semuanya


Arini memejamkan matanya dan kemudian dia menghela nafas panjang, akhirnya dia tahu perasaan Devandra terhadap dirinya, entah dia harus sedih atau bahagia mendengar jawaban jujur dari Devandra, Arini kembali terdiam dia tidak tahu harus berkata apa hingga akhirnya dia menghela nafas panjang lalu berlalu dari hadapan Devandra, dia pergi menuju ke kamar tanpa berkata sepatah kata apapun dari mulutnya


Arini butuh waktu untuk berpikir jernih saat ini dan dia sedang tidak ingin diganggu, Devandra yang berteriak memanggil dirinya tidak digubris sama sekali oleh Arini, Arini tetap melangkah maju menuju ke kamarnya meninggalkan Devandra seorang diri di ruang tengah yang tengah menatap punggung Arini


Arini duduk di tepi tempat tidur, memandang ke sekeliling kamar dia mengingat kembali peristiwa yang baru saja terjadi, pertemuan Arini dengan keluarga Devandra dan bagaimana kata kata yang dikeluarkan oleh keluarga Devandra dan kenyataan bahwa Devandra masih belum bisa melupakan gadis yang bernama Cassandra itu, tanpa terasa air matanya kini keluar kali ini dia merasa jalan yang akan dia lalui tidaklah mudah, akan ada tantangan dan rintangan yang harus dia hadapi untuk bisa mempertahankan pernikahannya yang terlihat tampak rapuh itu


Kali ini dia sadar dimana posisinya kini berada, dan dia harus menempatkan dirinya sebagai isteri yang mungkin akan siap ditinggalkan oleh suaminya begitu wanita dari masa lalunya kembali datang, berkali kali Arini menghela nafas panjang dan mengusap air mata yang keluar dari pelupuk matanya, harusnya dia sudah siap dengan hatinya sejak dia menikahi seorang pria tampan kaya dan berkuasa yang bernama Devandra, karena dia menyadari tidaklah mungkin Devandra menikahi dirinya hanya karena ketulusan hati dari seorang Devandra tapi karena dia ingin berusaha melupakan wanita masa lalunya, namun sayangnya itu tidaklah mudah bagi seorang Devandra saat ini