
Andreaz menyerahkan semuanya kepada tuan david dan mertuanya untuk menyelidiki dalang dibalik kejadian yang menimpa arini. Ia, ingin fokus menjaga sang istri di rumah sakit.
Seperti sekarang, setelah dari restoran bersama papa dan mamanya . Andreaz, kembali masuk kedalam kamar arini, ia tidak bisa berlama-lama untuk meninggalkan sang istri di dalam ruangan tersebut.
Semua orang kembali ke rumah masing-masing dan membiarkan andreaz sendirian menjaga arini. Lagi pula jika mereka tetap di sana, mereka juga tidak bisa apa-apa dan lebih baik mereka pulang istirahat agar besok biaa kembali lagi ke rumah sakit dengan wajah yang fresh dan tubuh yang lebih sehat.
Andreaz , duduk di kursi yang berada disamping ranjang arini. Ia duduk sambil menggenggam tangan arini , karena merasa ngantuk dan lelah , andreaz pun tertidur dengan tangan yang dibuat sebagai bantal kepalanya di atas ranjang arini dengan tangan yang masih setia menggenggam tangan sang istri.
baru akan memasuki alam mimpi, tiba-tiba arini manggil namanya. Dengan cepat ia membuka matanya dan melihat sang istri yang mencoba untuk bangun.
''sayang ! Kamu sudah sadar?''tanya andreaz kaget sekaligus bahagia..
''aku kenapa , mas?''tanyanya sambil memegang kepalanya yang masih sedikit pusing.
''sini biar aku bantu. Kamu jangan terlalu banyak bergerak , sayang. Tubuhmu masih lemas. ''ucap andreaz membantu arini dengan menekan remot kontrol untuk menaikan bagian kepala agar arini bisa menyenderkan tubuhnya dengan nyaman.
''kamu tadi pagi pingsan , sayang. tapi alhamdulilah kamu sudah sadar sekarang. ''ucap andreaz dengan senyum bahagia.
''pingsan ! ?''tanya arini kaget .
''iya, tapi jangan pikirkan itu dulu yang terpenting kamu sudah sadar sekarang. Aku akan panggil dokter dulu. ''ucap andreaz memencet alaram pemanggil yang ada di samping arini.
dokter pun bergegas masuk kedalam ruangan menantu pemilik rumah sakit .
''saya, periksa dulu ya . ''ucap dokter tersenyum ramah . ia sangat kagum dengan kecantikan yang di miliki oleh istri dari anak pemilik rumah sakit ini . saat arini diperiksa oleh dokter , dokter meminta izin agar cadar arini dibuka agar mempermudah dokter dalam memeriksa arini. Tadinya andreaz menolak karena takut ada dokter atau perawat lain yang tiba-tiba masuk dan melihat wajah cantik istrinya.
Dengan berbagai syarat yang di ajukan andreaz, dengan tidak mengambil foto wajah istrinya atau menceritakan kepada orang lain bagaimana cantiknya istrinya itu. Semua dokter dan perawat menyetujuinya dan akhirnya sampai sekarang arini juga masih tidak memakai cadarnya karena masih menggunakan masker oksigen.
''syukurlah, kondisi nona arini sudah jauh membaik dan janinnya juga sehat . sekarang kami akan melepas masker oksigen dari tubuh nona arini . ''dokter menjelaskan keadaan arini.
''dan kemungkinan besok pagi , nona arini sudah boleh pulanga''sambungnya tersenyum.
''kalau begitu saya permisi dulu. 'pamit dokter dan di ikuti oleh perawat yang mendorong tabung oksigen dari kamar arini , karena arini sudah tidak membutuhkan tabung oksigen karena kondisinya yang sudah membaik.
''terimaksih, dok. ''ucap arini pelan lalu tersenyum . Dokter mengangguk tersenyum.
''mas, aku pengen mandi. ''ucap arini dengan suara yang masih lemas.
''aku lap aja ya,sayang.ini sudah malam . ''jawab andreaz dengan lembut.
''gak apakan dilap dulu, besok setelah sampai rumah baru kamu boleh mandi , nanti aku temenin. ''ucap andreaz pelan di telinga arini.
''itu maunya kamu, mas. ''jawab arini tersenyum.
Andreaz ke kamar mandi dan mengambil baskom kecil yang diisi air hangat serta handuk kecil .untungnya ruangan arini adalah ruangan khusus keluarga yang dilengkapi dengan sofa , tv serta alat-alat elektronik lainnya dan juga tempat tidur bagi keluarga yang menunggu,semuanya memang disiapkan oleh tuan david agar , ketika ada keluarganya yang sakit mereka bisa langsung dibawa ke ruangan itu tanpa harus mengganggu pasien yang lain.
''mas, jangan kesana-kesana.''ucap arini risih . Karena andreaz yang tadinya membantunya mengelap tangan serta lehernya menjadi turun kebawah dimana dua bola kenyal arini berada.
''hehehe. hanya sedikit , sayang. Aku merindukannya. ''jawab andreaz tersenyum .
''dasar mesum. ''arini tertawa pelan mendengar suaminya yang merindukan dua bola kenyalnya tersebut.
''mesum juga sama istri sendiri, sah-sah saja untuk di mesumin. ''jawab andreaz lalu mencubit hidung arini gemas.
''tapikan belum selesai, mas. Masa hanya sampai sini. Perut sama belakan belum. ''ucap arini menunjukan perutnya .
''sampai disitu saja , sayang. Aku takut tidak bisa menahannya. ''bisik andreaz, dan itu membuat arini membulatkan matanya mendengar ucapan sang suami dengan Wajah yang sudah bersemu merah .
''jadi sekarang mau tidur, apa lanjut di lapnya?''tanya andreaz menaik turunkan alisnya .
''aku tidur aja, mas. Lebih aman kayaknya. ''jawab arini tersenyum kikuk. Ia bukannya tidak mau , tapi karena merasa kondisinya yang masih belum benar-benar pulih dan lagi mereka masih berada di rumah sakit ,ia takut suaminya itu tidak bisa menahannya.
''ya sudah, aku juga mau tidur. ''ucap andreaz , lalu memberikan ucapan selamat malam dengan mengecup kening arini pelan.
lalu andreaz naik ke atas tempat tidur arini dan ikut tidur disampingnya.
''mas ! ''ucap arini kaget saat andreaz ikut naik ke atas tempat tidurnya dan memeluknya.
''ayo tidur , aku sudah sangat mengantuk. ''andreaz tidak memperdulikan arini yang terlihat kaget karena ia sangat ngantuk dan ingin segera istirahat.
Sebenarnya di sana masih ada tempat tidur yang dikhususkan untuk keluarga , tapi andreaz tidak mau karena baginya tidur didekat sang istri akan terasa lebih nyaman.
melihat suaminya yang sudah memejamkan mata, terlihat dari wajahnya jika sang suami benar-benar lelah . Arini mengelus wajah tampan sang suami yang nampak lelah itu lalu memberikan kecupan di pipinya dan tersenyum.
''good night, my husband. ''ucap arini lirih. Andreaz tersenyum dengan mata tertutup mendengar ucapan selamat malam dari istri tercintanya itu , ia bukannya enggan untuk membalasnya tapi karena ngantuk yang membuatnya tidak bisa membalas ucapan selamat malam dari sang istri.
keesokan paginya, arini dan andreaz yang sudah bangun . Arini juga sudah tampak lebih sehat dan segar dan ia juga sudah kembali memakai cadarnya karena ia tahu semua keluarganya pasti hari ini masuk ke ruangannya untuk menjemputnya pulang .
Dan benar dugaan arini, tidak lama pintu rungan nya terbuka dan nampak ada tuan mateo dan sang istri, tuan david dan nyonya rey serta tama dan indah yang juga ikut masuk ke ruangannya.
Beruntung, ruangan tersebut termasuk luas dna bisa menampung mereka tanpa harus berhimpit-himpitan seperti ruangan biasa yang digunakan oleh pasien kelas bawah.
''papa, ma. ''ucap arini kepada tuan david dan nyonya rey .
''sayang, bagaimana? Apa kamu sudah benar-benar sehat?''tanya nyonya rey.
''alhamdulillah, mah. Sudah, hanya masih lemas sedikit. ''jawab arini dengan senyum.
''syukurlah, kita kesini mau menjemput mu. Andreaz , bilang hari ini kamu sudah di perbolehkan pulang. ''ucap nyonya rey .
''ya, mah. tinggal nunggu , dokter kesini dan melepas infus dari tangan arini. ''sahutnya.
''syukurlah, papa sangat bahagia mendengarnya. ''ucap tuan mateo yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan arini dengan nyonya rey.
''pah ! ''ucap arini tersenyum melihat tuan mateo .
''papa sangat bersyukur kamu sudah kembali sehat, sayang. Papa tidak bisa membayangkan jika kamu kenapa-kenapa, papa pasti akan sangat bersalah. ''ucap tuan mateo menatap sedih putrinya itu.
''tidak, pah. Ini bukan salah siapa-siapa, mungkin ini tadir buat arini . ''ucapnya dengan lembut dan tersenyum memegang tangan sang papa.
''kak, aku sangat bahagia melihat mu sekarang sudah baik-baik saja.''ucap indah yang tiba-tiba mendekat ke arah tempat tidur arini dengan senyum bahagianya.
''iya , deg. Maaf ya gara-gara kakak resepsi mu jadi gagal. ''ucapnya merasa bersalah.
''tidak, kakak jangan bicara seperti itu. Bagiku kesehatan kakak lebih penting . Dan yang lebih penting kami sudah sah. ''ucap indah melirik ke arah tama yang sedang duduk di sofa.