
Maaf ya, author baru bisa up lagi dan terimakasih masih setia mampir di cerita author🙏🏻😘😘😘
🐰happy reading😘
Flashback on
''bertahanlah, sayang. Kita akan keluar dari tempat ini. ''ucap andreaz dengan raut wajah cemas melihat wajah arini yang nampak pucat karena menahan sakit di perutnya.
tama juga mengikuti andreaz berlari sambil menggenggam tangan indah yang juga ikut berlari. Tapi, karena banyaknya anak buah pria bertopeng membuat mereka menghentikan langkah mereka.
''indah ! kamu jaga , arini. Biarkan kami menyingkirkan cecunguk ini. "ucap andreaz dengan wajah yang sudah memerah , ia sudah tidak ingin memperpanjang waktu dengan menghindar terus menerus dari kejaran para cecunguk-cecunguk ini. Ia ingin segera membereskan mereka, agar ia segera membawa sang istri ke rumah sakit.
''kamu jaga, kak arini. Biarkan kami membereskan mereka dulu. ''ucap tama dengan lembut. Indah dengan isaknya mengangguk dan langsung menghampiri arini yang terlihat lemas.
andreaz dan tama maju , memberikan bogem kepada anak buah pria bertopeng tersebut. Perkelahian pun terjadi, hingga indah dan arini yang melihat itu hanya bisa berteriak sambil menutup telinga.
''kak, kamu harus kuat demi baby kamu . ''ucap indah yang terus saja menangis karena melihat kondisi sang kakak. Kondisi yang sangat memprihatinkan .
Arini tidak menjawab , ia terus saja memegang perutnya yang terasa semakin sakit sambil mengucap istighfar.
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
Andreaz memukul mereka mem ba bi buta, tama yang melihat musuh sudah tidak berdaya sontak membuatnya menghampiri andreaz dan menghentikan andreaz agar bisa mengendalikan emosinya, bukan kasihan dengan musuhnya hanya saja jika dibiarkan , andreaz akan terus menghajar mereka dan melupakan arini yang harus segera dibawa ke rumah sakit.
''andreaz, hentikan ! Ada yang lebih penting dari pada mengurusi cecunguk-cecunguk ini. Arini harus segera di bawa ke rumah sakit. "ucap tama dengan nada tinggi. Andreaz pun mentikan pukulannya dan menoleh ke arah arini.
"sayang."ucap andreaz lirih. Ia bangkit dan berlari ke arah arini dan indah yang tidak terlalu jauh dari mereka.
andreaz mengangkat tubuh arini, menggendongnya ala bridal style dan membawanya keluar dari gedung tua .
Flashback off
''mah . "ucap andreaz lirih .
"kamu yang kuat, mama yakin istri dan anak mu baik-baik saja. "ucap nyonya rey menguatkan sang anak walaupun ia sendiri tidak yakin akan keadaan sang menantu dan juga cucunya.
detik demi detik berlalu , hingga hampir tiga jam mereka menunggu tapi pintu ruangan operasi pun belum terbuka . terlihat wajah ketegangan dan lelah di wajah andreaz , ia tidak bisa tenang . Bahkan ia tidak ingin makan walaupun nyonya rey sudah memaksanya.
"pah , mama tidak tega melihat anak kita seperti ini. "ucap nyonya rey sedih dalam pelukan sang suami.
tuan david hanya bisa diam tidak berkata apa-apa, ia hanya mengelus kepala nyonya rey agar lebih tenang.
hingga satu jam kemudian , ruangan tersebut terbuka dan keluarlah seorang dokter wanita dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan.
Andreaz sontak berdiri dari duduknya dan langsung menghampiri dokter tersebut.
"dok , bagaimana istri dan anak saya? Mereka baik-baik saja kan?"tanyanya bertubi-tubi.
"alhamdulillah , pak. ibu dan bayinya selamat , tapi karena bayi lahir secara prematur jadi bayi bapak harus di masukan kedalam inkubator karena organ tubuhnya yang belum berfungsi secara normal. "ucap dokter.
"alhamdulillah."ucap tuan david dan nyonya rey lega. Walaupun cucu mereka belum bisa mereka gendong tapi setidaknya cucu mereka selamat.
"lalu , istri saya gimana , dok ?"tanya andreaz .
"istri anda masih belum sadar karena banyak kehilangan darah saat operasi , tapi bapak tenang saja , kami sudah memberi transfusi darah kepada istri bapak . "ucapnya.
"kita tunggu hingga besok pagi, mudah-mudahan istri bapak bisa sadar lebih cepat. "sambungnya.
"alhamdulillah."ucap andreaz sedikit lega .
"baiklah , kalau begitu saya permisi dulu. Dan sebentar lagi istri bapak akan di pindahkan di ruang ICU, dan hanya satu orang saja yang boleh menemani. "ucap dokter lalu pergi.
''baik, dok. Terimakasih. ''ucap tama , dokter pun mengangguk dan pergi dari sana.
setelah semua alat terpasang, para perawat pun pergi dari ruangan tersebut dan menyisakan andreaz.
Andreaz, berniat saat istrinya sadar ia akan langsung membawa istri dan juga anaknya pindah ke rumah sakit milik keluarganya , yang pasti lebih lengkap peralatannya dan ruangannya juga lebih besar . Karena mereka saat ini berada di rumah sakit yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu lengkap peralatannya .
''sayang . ''ucap andreaz lirih, ia rapuh saat melihat belahan jiwanya terbaling lemas seperti ini.
andreaz memegang tangan sang istri lalu mengecupnya pelan, tak terasa wajah dinginnya itu berubah menjadi sendu dan butiran kristal pun jatuh .
''maafkan , aku. Karena selalu saja membuat mu dalam bahaya. ''ucapnya yang merasa sangat tidak becus menjadi seorang suami , ia tidak bisa melindungi istrinya hingga terjadi hal seperti ini.
Lama ia mengajak sang istri berbicara , walaupun arini masih betah menutup matanya tapi andreaz yakin di bawah alam sadar sang istri, pasti ia mendengarkannya.
hingga rasa lelah dan ngantuk menjadi satu, andreaz yang tidak bisa melawan lagi dengan kantuknya akhirnya tertidur dengan tubuh yang masih duduk di atas kursi .
Hingga pagi menjelang, arini juga belum sadar . Dokter menyarankan , agar arini bisa di bawa ke rumah sakit yang lebih besar jika sampai nanti siang ia belum juga sadar.
Ditempat lain, tuan mateo yang semakin kritis membuat sang istri dan juga indah semakin panik. Tama hanya bisa memeluk indah memberikan kesabaran dan ketenangan bagi sang istri agar kuat melewati semua ini.
''kak, papa !"ucapnya menangis dalam pelukan tama.
"kamu tenang, sayang. Kita doakan saja agar papa diberikan yang terbaik . "ucap tama menenangkan sang istri.
Di bawah alam sadar tuan mateo dan arini
Arini dan tuan mateo juga sang ibu yang sudah lebih dulu menghadap sang pencipta, mereka bertemu di taman yang sangat indah , mereka layaknya keluarga yang bahagia . Nampak pakaian sang ibu dan tuan mateo sama, mereka memakai pakaian berwarna putih sedangkan arini ia terlihat sangat cantik tanpa cadarnya. Ia memakai gamis berwarna biru senada dengan hijabnya serta sebuah mahkota di atas kepalanya.
"papa, buk. Kalian mau kemana?"tanya arini yang langsung murung saat melihat tuan mateo dan ibunya berdiri dari kursi taman .
"sayang, maafkan papa. Papa tidak bisa menemani kamu disini selamanya. "ucap tuan mateo tersenyum.
"kenapa, pa? Kalian mau kemana ?"tanya arini .
"sudah waktunya papa ikut ibu pergi, sayang. "ucap sang ibu yang juga tersenyum.
"tidak , buk. aku gak mau ditinggal sendiri lagi. "ucap arini menangis.
"tidak, sayang. Kamu tidak sendiri, masih ada suami dan juga anak mu yang menanti mu. Kembalilah , sayang. Suami mu sudah memanggil mu. "ucap uan mateo , hingga makin lama tuan mateo dan ibunya makin menjauh dan menghilang.
Ia menatap sedih kepergian orang tuanya, tapi tiba-tiba ada sebuah tangan dengan lembut memegang tangannya, dan mengajaknya pergi dari sana.
''ayo, sayang. Kita kembali aku dan putra kita sangat merindukan mu. ''ucap seseorang yang tidak nampak jelas wajahnya.
Arini tidak menolak ajakan seseorang tersebut, ia hanya mengikuti langkah tersebut karena ia pun tak tahu ia akan kemana.
Di ruangan tuan mateo
Nampak alat media berbunyi, menandakan terjadi hal buruk pada tuan mateo.
''pah, pah !!!"teriak sang istri saat monitor berbunyi dan tuan mateo pun seperti orang kejang.
"kenapa, mah. Papa , kenapa?"tanya indah yang baru saja masuk kedalam ruang rawat sang papa .
Saat melihat sang papa yang seperti itu, indah pun ikut berteriak histeris memanggil sang papa.
"pa, papa. "teriak indah .
Tama langsung keluar memanggil dokter.
"dokter !"terik tama .
Dokter pun segera menghampiri tama yang terlihat panik.
"dok, tolong papa mertua saya. Beliau seperti kejang , dok. "ucap tama, dokter pun masuk di ikuti oleh perawat dan langsung memeriksa kondisi tuan mateo.
"maaf, bapak dan ibu silahkan keluar dulu. "ucap perawat tersebut.
"papa."ucap indah terdengar lirih saat tama mengajaknya keluar.