
Arini langsung terdiam begitu mendengar suara dari belakang dirinya, apalagi suaranya terasa begitu sangat dingin di telinga Arini
"Apa yang sedang kalian berdua lakukan disana?" tanya Devandra lagi sambil menatap tajam ke arah Anjas dan Arini, dan meminta jawaban dari mereka berdua
"Memangnya kenapa, apa yang kami lakukan itu bukan urusan anda kan" kata Anjas tersenyum menyindir ke arah Devandra
"Akan menjadi urusan saya, karena sebentar lagi Arini akan menikah dengan saya, paham kamu" ucap Devandra dengan suara ketus kepada Anjas
Anjas yang mendengar itu langsung menatap Arini dengan pandangan yang tidak percaya
"Apa itu benar Arini?" tanya Anjas menatap Arini, meminta jawaban yang jujur dari Arini, Arini hanya menghela nafas panjang
"Arini kenapa kamu tidak menjawab pertanyaannya dia" tanya Devandra dengan suara tajam
Sementara Anjas masih menunggu jawaban dari Arini
"Arini apa itu benar?" tanya Anjas menatap lembut Arini berkata dengan nada pelan agar Arini mau menjawab pertanyaan itu
"Itu benar mas, aku sebentar lagi akan menikah dengan dia" jawab Arini dengan suara sedih, hatinya tiba tiba memburuk tapi dia hanya bisa menjawab yang sebenarnya
"Kamu jangan bohong Arini, aku tahu kamu pasti dipaksa kan sama dia" kata anjas tidak terima ambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah Devandra
Sementara Devandra hanya tersenyum meledek Anjas
"Jawab aku Arini, kamu berbohong karena kamu takut sama dia, dan karena dia yang memaksa kamu untuk menikah dengannya iya kan?" tanya Anjas kepada Arini, Arini hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya, dia merasa bersalah kepada Anjas, bersalah karena dia masih menyimpan perasan itu, dan bersalah karena telah mengecewakan Anjas meski Anjas tidak tahu kalau dirinya masih menyimpan rasa cinta itu
"Aku tidak berbohong mas, aku benar benar serius, kami akan menikah dan mungkin sebentar lagi aku akan menjadi isterinya" kata Arini sambil menahan butiran air mata bening yang akan keluar dari bola matanya yang indah
Tiba Tiba Devandra memeluk tubuh Arini dan mencium rambut hitam panjang Arini
"Sudahlah, kamu jangan lagi berharap Arini mau berpaling dari kamu, sekarang dia sudah punya akui dan ingat jangan berpikir untuk mendekatinya lagi, kalau itu sampai ketahuan sama aku, maka siap siap saja karir kamu akan hancur" ucap Devandra dengan suara dingin dan terselip nada mengancam di dalamnya
"Mas kamu.." kata Arini sambil berbalik menghadap Devandra, mata mereka saling bertatapan, tampak mata Devandra yang dingin mengancam Arini, jika dia membelanya maka Devandra tidak akan segan segan untuk menghancurkan karir Anjas tanpa ampun
Akhirnya Arini memilih untuk diam, dia kembali lagi menatap Anjas dengan tatapan sedihnya
"Maafkan aku" kata Arini pelan, berharap Anjas mendengarkan ucapannya, namun sayang jarak yang terlalu jauh tidak membuat Anjas bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Arini
"Sekarang tunggu apa lagi ? Semuanya sudah jelas kan, Arini kamu masuk ke dalam" perintah Devandra kepada Arini, ingin rasanya Arini menentangnya namun dia tidak berani, akhirnya dia menurut untuk masuk ke dalam rumah dan kini tinggallah Devandra dan Anjas saling berhadapan satu dengan yang lain
Mereka berdua terdiam sejenak, lalu Anjas lah yang pertma kali memutuskan untuk membuka suara
"Aku cuman mau kasih tahu ke kamu, jangan biarkan Arini menangis, jangan biarkan Arini menyesali apa yang sudah menjadi keputusannya untuk menikahi mu, dan jika itu terjadi akulah yang pertama kali akan merebutnya dari kamu, paham kamu?" kata Anjas dengan suara tegas dan sambil sedikit mengancam ke arah Devandra
"Satu hal lagi, aku hanya bisa berharap keputusan kalian itu adalah salah" kata Anjas menatap Devandra dengan tatapan tajam dan Devandra membalas balik tatapan tajam dari Anjas, lalu dia langsung tersenyum dingin
"Kamu tenang saja, aku tidak akan membuat Arini merasa menyesal untuk menikah dengan aku, dan ancaman kamu tidak akan berarti buat saya, paham kamu" kata Devandra dengan nada suara yang benar benar tidak senang
Anjas terdiam, menatap rumah Arini dan dia berharap Arini mau keluar untuk dirinya dan meminta agar menolong dirinya untuk tidak menikahi pria yang kini ada di hadapannya yang sedang mengancam keberadaannya
"Kamu berharap apa?" tanya Devandra dengan suara mengejek ke arah Anjas, Anjas tidak membiarkan dirinya terprovokasi oleh ucapan Devandra dia langsung menyalakan motornya dan pergi meninggalkan rumah Arini dengan hati yang tidak lagi sama dengan yang dulu, kini hatinya terasa begitu hampa, beribu penyesalan menggelayuti hatinya, harusnya dari dulu dia tidak menghindari Arini, harusnya dari dulu dia menyatakan perasaannya kepada Arini dan kini semuanya sudah terlambat dan waktu juga tidak bisa mengembalikan semuanya namun mungkin waktu juga yang akan menyembuhkan perasaannya
Arini yang mendengar pembicaraan antara Anjas dan Devandra di balik pintu, langsung menangis sedih ternyata selama ini perasaannya bersambut, ternyata selama ini harapannya juga tidak salah, hanya saja dia tidak terlalu berani berterus terang saat itu, tapi apa daya nasi sudah menjadi bubur, sekarang dia adalah milik Devandra dan dia juga harus belajar mencintai Devandra sebagai suaminya kelak
Arini langsung masuk ke dalam kamar mandi, begitu Devandra mau berjalan masuk ke dalam rumahnya, disanalah dia menumpahkan kesedihannya, tidak ingin orang satu rumah tahu kalau dia sedang menangis, sengaja dia menyalakan air keran kencang kencang agar tidak ada orang yang mendengar dia menangis sedih penuh penyesalan
Cukup lama juga Arini berada di dalam kamar mandi,hingga akhirnya ada seseorang yang mengetuk pintu kamar mandi dari luar
"Arini apa kamu didalam?" tanya Devandra sambil mengetuk pintu kamar mandi dengan tidak sabar
Arini yang mendengar suara Devandra mengetuk pintu kamar mandi, buru buru dia menghapus air matanya dan mencuci wajahnya dengan sabun
"Arini" panggil Devandra tidak sabar
"Iya sebentar" jawab Arini dari dalam
Dia buru buru membasuh wajahnya yang merah dan sembab karena habis menangis dan setelah dirasa yakin wajahnya tidak begitu memerah lagi, dia pun langsung memutuskan keluar dengan berjalan sambil menundukkan kepalanya
Melihat sikap Arini yang tidak biasanya itu, Devandra langsung mencegat jalan Arini lalu memegang bahunya dengan cengkraman yang kuat hingga Arini mengaduh kesakitan lalu mendongakkan matanya ke wajah Devandra
"Kamu menangisi apa?" tanya Devandra dengan suara dingin
"Tidak aku tidak menangisi apa apa, mata aku kelilipan sabun makanya aku tadi buru buru cuci muka, dan kamu tahu rasanya perih sekali" kata Arini berbohong
Devandra langsung menatap tajam kepada Arini, berusaha mencari kebohongan didalam diri Arini
"Kamu kenapa sih, kayak ga percaya sama aku" gerutu Arini kepada Devandra
Namun belum sempat Devandra menjawabnya, pak Agus ayah dari Arini memergoki mereka berdua di depan kamar mandi
"Sedang apa kalian berdua disitu?" tanya Pak Agus kepada Devandra dan Arini dengan memandang mereka berdua curiga dan menatap mereka berdua secara bergantian untuk meminta penjelasan kepada Mereka berdua yang seperti terpergok sedang berbuat mesum didepan kamar mandi itu