
Selepas makan tampak pelayan sibuk bebersih piring piring kotor di meja makan, namun mereka masih duduk bertiga disitu
"Kamu akan menginap apa pulang?" tanya Nyonya Rivanna kepada Devandra
"Malam ini aku akan pulang ke apartemen karena ada yang harus aku urus" Jawab Devandra dengan singkat
"Yah kok kamu pulang sih, kan lagian mamah masih kangen sama kamu" kata Nyonya Rivanna dengan nada kecewa
Devandra yang mengerti mamahnya kecewa karena dia lebih memilih pulang, hanya diam tidak berkata sepatah katapun
"Next time aja ya mah, sekarang Devandra pulang dulu, nanti kalau ada waktu Devandra janji Devandra akan menginap disini" kata Devandra berusaha menghibur Nyonya Rivanna yang masih sedikit kecewa karena ekspektasinya tidak sesuai
Nyonya Rivanna akhirnya hanya bisa mengijinkan Devandra meski dengan berat hati, Tuan Syailendra yang mendengar itu langsung menghampiri anaknya dan menepuk bahunya seraya berkata
"Jangan membuat sedih mamah kamu, lain waktu menginap lah disini meski hanya sebentar saja"
"Iya pah, maafkan Devandra karena Devandra masih banyak pekerjaan yang harus Devandra selesaikan" kilah Devandra kepada Tuan Syailendra, karena tidak mungkin Devandra mengatakan yang sebenarnya kepada kedua orangtuanya kalau dirinya sudah menikah apalagi menikahi seorang pelayan di rumah ini, bisa bisa kedua orangtuanya jantungan
Tuan Syailendra hanya menganggukkan kepalanya
"Apa kamu mau pulang sekarang?" tanya Nyonya Rivanna kepada anaknya
"Memangnya kenapa mah?" tanya Devandra balik menatap mamahnya
"Duduklah dulu, mamah ingin bicara sama kamu sebentar saja"
"Baik mah"
Mereka berdua langsung duduk di kursi ruang keluarga, mereka berdua saling berhadapan sementara Tuan Syailendra duduk di sebelah isterinya juga berhadapan dengan Devandra anaknya
"Apa yang kalian ingin obrolkan?"
"Apa kamu masih punya perasaan dengan Cassandra?" tanya Nyonya Rivanna dengan sangat hati hati, takut menyinggung anaknya
Devandra yang tiba tiba ditanya seperti itu langsung terdiam sesaat, namun dia kembali bertanya kepada mamahnya Nyonya Rivanna
"Kenapa mamah bertanya seperti itu ada apa sebenarnya?"
"Mamah sama papah bermaksud ingin menjodohkan kamu dengan anak dari relasi bisnis papah, namanya Jovanna, dia kebetulan baru lulus kuliah di luar negeri dengan predikat cum laude jurusan bisnis management dan saat ini dia sedang meneruskan bisnis papahnya di bidang perhotelan"
Devandra masih terdiam sesaat, dia bingung harus mengatakan apa, ingin dia bicara sejujurnya namun waktunya masih belum tepat untuk mengatakan kalau dia sudah menikahi seorang gadis dan Cassandra masih belum ditemukan olehnya
Entah kenapa selama ini dirinya masih belum bisa melupakan Cassandra, padahal dia sudah berusaha keras untuk bisa melupakan wanita tersebut bahkan ketika di bertemu dengan Arini, dia merasa seperti menemukan Cassandra di dalam dirinya, yah bola mata dan alisnya seperti Cassandra cinta pertamanya, dan sekarang entah dimana dia berada
"Dev, apa kamu melamun?" tanya Nyonya Rivanna kepada kepada Devandra, sudah berkali kali Nyonya Rivanna memanggil nama dirinya, namun Devandra tidak menjawabnya sama sekali bahkan pikiran Devandra sedang menerawang jauh
"Devandra, kamu dipanggil oleh mamah kamu itu" kata Tuan Syailendra kepada Devandra yang kali ini suaranya agak sedikit keras untuk menyadarkan anaknya dari lamunannya sendiri
"Ah iya mah, maaf" ujar Devandra yang langsung tersentak kaget begitu Tuan Syailendra papahnya Devandra mengejutkan dirinya
"Maafkan Devandra mah, tadi mamah sama papah ingin memperkenalkan Devan dengan anak dari relasi bisnis papah kan?, kalau iya maaf Devan masih belum siap menjalin hubungan yang baru" kilah Devandra kepada kedua orang tuanya
Sekali lagi Devandra berbohong kepada keduanya, dengan mengatakan kalau dirinya masih belum siap menjalin hubungan dengan yang baru
"Apa karena Cassandra?"
"Mungkin saja, lagian Devandra belum ada pikiran ke arah sana dan Devandra minta tolong hargai keputusan Devandra untuk yang satu ini" pinta Devandra dengan suara tegas kepada Nyonya Rivanna
Nyonya Rivanna yang mendengar itu tidak mau menyerah sama sekali, dia sangat ingin melihat anaknya punya pasangan seperti anak dari sahabat sahabatnya yang lain, apalagi Devandra adalah anak satu satunya yang diharapkan punya penerus dari keluarga Syailendra Hartanto
"Cobalah bertemu dulu, lagian ga ada salahnya kan dicoba"
"Maafkan Devandra mah, Devandra tidak mau, Devandra masih belum bisa membuka hati Devandra untuk yang lain lagian Devandra masih ingin fokus dengan bisnis Devandra dan meneruskan usaha papah terlebih dahulu" kata Devandra bersikeras
Belum sempat Nyonya Rivanna berbicara, tangannya Nyonya Rivanna langsung dipegang oleh suaminya Tuan Syailendra sambil menggelengkan kepalanya memberikan kode kepada isterinya untuk menahan keinginan isterinya yang masih bersikeras ingin menjodohkan Devandra dengan Jovanna, Nyonya Rivanna akhirnya mengalah begitu mendapatkan kode dari Tuan Syailendra
"Apa masih ada yang ingin dibicarakan lagi?" tanya Devandra kepada mamahnya Nyonya Rivanna sambil menatap mamahnya dengan pandangan ingin tahu
"Sudah tidak ada lagi, pulanglah kamu atau menginap saja disini" jawab Tuan Syailendra
"Maafkan Devan, bukannya Devan tidak mau menginap atau bermalam disini hanya saja Devan masih banyak pekerjaan yang harus Devan lakukan" kilah Devandra mencoba meyakinkan kedua orang tuanya
Suami isteri itu akhirnya menganggukkan kepalanya, dan tidak lama kemudian Devandra keluar dari rumah besar itu diikuti oleh suami istri hingga sampai teras rumah, lalu kedua suami isteri tersebut masuk ke dalam rumah besar dan mewah itu menuju ke kamar utama
"Kenapa kamu mah?" tanya Tuan Syailendra menatap wajah isterinya yang terlihat sedikit murung, sungguh Tuan Syailendra itu benar benar sangat mencintai istrinya bahkan dia tidak bisa melihat wajah isterinya itu murung atau sedih begitu saja, Tuan Syailendra sangat memanjakan isterinya dan begitu juga dengan isterinya Nyonya Rivanna juga sangat mencintai Tuan Syailendra
"Tidak apa apa pah" jawab Nyonya Rivanna lesu
"Hayo lah mah jujur aja sama papah" desak tuan Syailendra kepada isterinya
Nyonya Rivanna menghela nafas panjang panjang lalu dia berkata apa yang ada di pikirannya
"Masalah Devandra pah"
"Ada apa lagi dengan dia?"
"Mamah takut Devandra tidak ada keinginan menikah hanya karena masih tersimpan di dalam memorinya mengenai Cassandra"
"Oh itu, tenang saja mah ada waktunya kok dia pasti akan membutuhkan pasangan untuk dirinya, mamah jangan khawatir ya lagian nih yah Devandra seperti itu karena masih belum bisa move on dengan masa lalunya itu"
"Tapi kalau pun Cassandra datang, mamah tetap tidak akan setuju Devandra menikah dengan dia, wanita seperti apa yang tiba tiba meninggalkan kekasihnya begitu saja tanpa ada kabar berita apapun" kata Nyonya Rivanna dengan nada geram, dia sangat kesal dengan kelakuan kekasihnya Devandra, andai saja wanita itu ada disini ingin rasanya dia marahin habis habisan wanita itu
"Mah sudahlah, lagian juga orangnya ga ada disini dan masih belum ketemu rimbanya ada dimana, kita lihat saja nanti sekarang tidur yuks sudah malam" kata suaminya Tia. Syailendra sambil mengajak isterinya untuk tidur, Nyonya Rivanna langsung menghampiri suaminya dan membaringkan dirinya di sebelah Tian Syailendra suaminya yang langsung dipeluk oleh oleh suaminya
"Pah, kita tidur aja ya" ajak Nyonya Rivanna kepada suaminya
"Iya sayang" jawab suaminya sambil mencium pucuk kepala isterinya lalu memeluk isterinya dengan pelukan erat, mereka berdua langsung memejamkan matanya dan kemudian langsung tertidur