
Mendengar Devandra berteriak sedemikian rupa, membuat handphone Nyonya Rivanna hampir mau terjatuh
"Devandra, telinga mama ga budeg tahu!' seru Nyonya Rivanna merasa kesal dengan anaknya sendiri Devandra
"Nyonya Rivanna yang terhormat, saya jauh lebih kaget daripada anda, saya itu masih normal dan masih menyukai wanita namun belum saatnya saya harus membuka hati terhadap wanita, beri saya waktu untuk menjelaskan semuanya" ucap Devandra dengan nada jengkel kepada mamahnya Nyonya Rivanna
Nyonya Rivanna yang mendengar Devandra berkata seperti itu langsung terdiam
"Lalu kapan kira kira kamubakan siap?" tanya Nyonya Rivanna yang suaranya kembali normal
"Mah please..."
"Mamah ingin melihat kamu menikah dan punya pendamping, biar kamu tidak sendirian lagi Devandra"
"Kasih aku waktu mah"
Nyonya Rivanna menghela nafas panjang, sangat sulit menyuruh anaknya yang semata wayang itu untuk berkenalan dengan gadis gadis bahkan dengan Anita saja dia tidak tertarik
"Mah apa masih ada keperluan lain?"
"Kenapa memangnya?"
"Aku masih banyak pekerjaan"
"Ya sudah kalau begitu"
Nyonya Rivanna langsung menutup handphonenya sambil menghela nafas panjang
"Anak itu benar benar deh" keluh Nyonya Rivanna sendirian, lalu dia kembali berlalu dari tempatnya yang sekarang di halaman belakang rumah dan dia kembali melanjutkan aktivitas pekerjaannya
Sementara itu di apartemen, tempat dimana Arini dan Devandra tinggal, Arini sedang sibuk membuatkan makan siang untuk dirinya, sambil bersenandung kecil dia menyiapkan bahan bahan makanan, rencananya hari ini dia akan membuat masakan yang simpel simpel saja, baru nanti sorenya dia akan memasak masakan yang sedikit banyak
Sementara itu Devandra di kantornya setelah mendapatkan Telok. dari Nyonya Rivanna kembali dia menghela nafas panjang, Bryan yang melihat itu langsung mengerti dan dia langsung tersenyum simpul ke arah Devandra
"Pasti mamah mu menyuruh untuk menikah, dan wanita tadi yang mau dijodohkan sama mamah kamu ke kamu" tebal Bryan
"Bukan hanya itu saja, dia malah menyangka aku ini penyuka sesama jenis, memangnya dia pikir aku ini apa" ujar Devandra dengan nada sewot dan sedikit kesal, Bryan yang mendengar itu langsung tertawa terpingkal-pingkal, dia tidak menyangka Nyonya Rivanna mengatakan kalau anaknya sendiri penyuka sesama jenis, mendengar Bryan yang tertawa seperti mentertawakan dirinya, Devandra langsung melirik tajam ke arah Bryan dan membuat Bryan langsung terdiam
"Aku akan bicarakan masalah ini dengan Arini, mamah harus tahu kalau aku sudah menikah dan kita harus siap dengan segala konsekwensinya yang ada" ucap Devandra dengan nada serius
"Nah itu baru benar, masalah nanti biar bagaimana nanti toh lama lama juga akan ketahuan, untuk apa disembunyikan" ucap Bryan kepada Devandra dengan nada serius
Sore harinya Devandra pulang cepat, sesampainya di depan pintu apartemen, Devandra menyembunyikan bel dan dibuka oleh Arini isterinya, Arini sambil tersenyum langsung membawakan tas kerjanya Devandra ke dalam
"Duduk dulu mas" ucap Arini sambil menyuruh Devandra untuk duduk di sofa, dan Arini pergi ke ruang dapur mengambil air putih dingin untuk diberikan kepada Devandra, Devandra langsung menerima segelas air putih dingin dan meminumnya hingga habis dan diberikan lagi kepada Arini untuk dibawa ke dapur
"Ada apa?" tanya Arini menatap Devandra yang saat itu tengah memejamkan matanya, Arini langsung menghampiri Devandra dan duduk di sebelahnya
"Kamu ga tukar pakaian dulu?" tanya Arini kepada Devandra
"Ada yang ingin aku bicarakan kali ini "
"Apa itu?"
Devandra menghela nafas panjang sambil menatap Arini dengan tatapan seriusnya, membuat Arini bertanya tanya tidak biasanya Devandra bersikap seperti ini, ruangan kembali sunyi tidak ada yang bicara hanya suara detak jam yang terdengar, sementara Devandra masih saja terdiam belum berbicara apa apa
"Katakan Mas, ada apa ?" tanya Arini dengan nada lembut kepada Devandra, Devandra langsung menatap Arini dengan tatapan lembutnya
"Arini gimana kalau kita bilang saja ke mamah kalau kita sudah menikah" ujar Devandra kepada Arini sambil menatap Arini dengan tatapan yang dalam
"Maksud mas apa?" tanya Arini yang masih tidak mengerti maksud perkataan Devandra
"Begini, mamah aku sudah menyuruh aku untuk menikah, dan tadi pagi seorang wanita datang diutus oleh mamah ku untuk menemui aku tujuannya adalah menjodohkan wanita itu ke aku" cerita Devandra hati hati
Arini yang mendengar itu tampak terkejut, namun dia buru buru menghapus rasa terkejutnya itu karena dia sadar kalau pernikahan ini belum ada yang tahu termasuk dari keluarga Devandra sendiri
"Jadi aku ingin pernikahan kita diumumkan ke keluarga aku, biar mereka mengetahui kalau kita sudah menikah, bagaimana menurutmu?" tanya Devandra menatap serius wajah Arini yang terlihat resah, Arini masih terdiam
"Masalah resiko kita tanggung bersama, kita hadapi bersama, yang penting kita tidak sembunyi sembunyi lagi, lagian nanti juga mau sembunyi sampai kapanpun pasti akan ketahuan juga" ucap Devandra mencoba meyakinkan Arini, Arini berpikir bahwa ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Devandra toh nanti pada akhirnya akan ketahuan juga, ini hanyalah masalah waktu saja dan lagi ada Devandra sekarang yang sudah menjadi suaminya, dan Arini yakin Devandra pasti akan membantunya mengahadapi keluarga Devandra
Namun di hati Arini ada sebersit rasa takut di dalam hatinya, namun buru buru dia menghapus rasa takut tersebut, lalu Arini menoleh ke arah Devandra, dia berkata kepada Devandra sambil tersenyum
"Baiklah aku setuju, kita akan mengumumkan itu di keluarga mas, dan aku berharap keluarga mas mau menerima aku"
Devandra yang mendengar itu langsung tersenyum, dia tahu Arini pasti tidak akan menolak hanya saja dia harus diberikan pengertian dan keyakinan
"Jadi kira kira kapan, kamu akan mengumumkan pernikahan kita mas?" tanya Arini menatap Devandra dengan penuh rasa ingin tahu
"Minggu depan kalau tidak ada halangan" putus Devandra kepada Arini, Arini hanya menganggukkan kepalanya menerima keputusan dari suaminya Devandra
"Ya sudah sana mandi dulu, aku sudah siapin makan malam buat kita" ucap Arini menyuruh Devandra untuk mandi, dengan patuh Devandra naik ke lantai dua untuk mandi dan berganti pakaian, sepeninggal Devandra mandi Arini langsung bersiap siap menuju ke meja makan untuk menyiapkan peralatan makan seperti piring dan sendok, tidak lupa Arini mengisi dua gelas air putih dingin beserta teko yang sudah diisi air
Devandra yang sehabis mandi langsung menuju ke meja makan, disana dia melihat Arini sedang sibuk mengatur makanan untuk makan malam mereka, begitu melihat Devandra Arini langsung tersenyum dan menyuruhnya duduk, Arini langsung melayani suaminya mengambilkan nasi beserta lauk pauk, melihat masakan Arini perut Devandra tiba tiba langsung merasa lapar
Arini yang melihat Devandra menelan ludah berkali kali langsung tersenyum
dan memberikan piring yang sudah berisi makanan ke arah Devandra
"Makanlah" kata Arini kepada Devandra, dan Arini mengambil piring dan mengambil nasi beserta lauk pauk untuk dirinya sendiri, dan mereka makan dalam diam sambil menikmati makan malam mereka