Arini

Arini
Bab 25



Selama di mobil Devandra masih berpikir mengenai wanita yang dia lihat tiba tiba


"Mengapa dia begitu mirip dengan Cassandra?" tanya Devandra dalam hatinya


"Apa mungkin Cassandra sudah pulang ke tanah air?" tanya Devandra lagi dari dalam hatinya


Devandra tidak menyadari jika kecepatan mobilnya terlalu lambat hingga mobil mobil yang di belakangnya membunyikan klakson untuk dirinya, hingga ada satu mobil yang mencoba menyalip dari arah sebelah kiri dan memakinya lewat jendela mobil dengan cara mengklakson kencang kencang, hingga Devandra merasa terkejut dan menambah kecepatan mobilnya


Tiba dia sampai di rumah, Devandra disambut oleh pelayan dari depan pintu


"Selamat malam Tuan" sapa pelayan rumah itu


"Malam " jawab Devandra dengan nada singkat dan memberikan tas kerja ke pelayan tersebut untuk menaruhnya di dalam kamarnya


"Mama sama papa ada?" tanya Devandra kepada pelayan yang menerima tas kerjanya itu


"Oh iya mereka sudah berkumpul di ruang keluarga tuan" ucap pelayan tadi kepada Devandra dengan nada sopan


"Baik terima kasih, kau pergilah" perintah Devandra dengan nada yang tegas kepada pelayan itu, pelayan itupun pergi meninggalkan Devandra dengan membawa tas kerja Devandra, sementara Devandra sendiri langsung menuju ke ruang keluarga


Di ruang keluarga, tampak kedua orangtuanya Devandra sedang asyik berbincang bincang, begitu melihat anak semata wayangnya datang, Nyonya Rivanna langsung menyambut kedatangan anak laki laki kesayangannya itu


"Anakku sayang, kemana saja kamu itu, sudah hampir seminggu loh kamu tidak ke rumah ini?" tanya Nyonya Rivanna kepada Devandra sambil memeluk anaknya


"Malam ma, maaf ma Devan sibuk Minggu Minggu ini ada banyak yang harus Devan kerjakan" jawab Devandra sambil mencium kedua pipi mamahnya Nyonya Rivanna


"Tapi kamu harusnya menelpon dong nak kalau tidak sempat datang ke rumah" ucap Nyonya Rivanna kepada Devandra dengan nada sedikit protes


"Iya mah Devan mi ga maaf sekali lagi tapi kan sekarang Devan sudah ada di rumah" ucap Devandra sambil mendekati papahnya yang sedang menonton televisi


"Malam pah" sapa Devandra kepada Tuan Syailendra


"Malam juga, gimana perusahaan sejauh ini?" tanya Tuan Syailendra kepada Devandra dengan nada serius


"Semuanya berjalan dengan lancar dan tidak ada kendala apapun pah, bahkan perusahaan mengalami kemajuan pesat saat ini, saham kita naik tinggi pah" ucap Devandra sambil duduk di sofa berhadapan dengan ayahnya Tuan Syailendra


Tuan Syailendra menganggukkan kepalanya dengan puas, dia cukup senang dengan kinerja anaknya, Tuan Syailendra merasa tidak salah menaruh kepercayaan terhadap Devandra apalagi ada Ryan yang selalu membantunya


"Papah senang mendengarnya, ingat jangan sampai lengah kadang musuh selalu mengintai kita" ucap Tuan Syailendra yang sedang memberikan nasihat kepada anaknya


"Baik pah, Devandra akan selalu ingat nasihat dari papah" jawab Devandra


"Kalian ini kalau ketemu selalu saja membicarakan masalah kerjaan melulu apa tidak ada yang lain, ayah sama anak sama aja" protes Nyonya Rivanna kepada mereka berdua


"Loh papah ingin kita membicarakan apa, drama Korea yang mamah Gandrungi itu atau sinetron azab?" tanya Tuan Syailendra kepada isterinya Nyonya Rivanna


"Ya sudah kamu tanyakan sendiri saja sama anaknya itu, siapa tahu aja dia mau menjawabnya" ujar Tuan Syailendra yang langsung berdiri dari tempat duduknya


"Papah mau kemana?" tanya Nyonya Rivanna kepada suaminya


"Mau makan, laper papah" jawab Tuan Syailendra singkat lalu berlalu dari ruang keluarga menuju ke ruang makan yang terletak di seberang ruang keluarga


"Dasar papah mu itu yah, selalu saja cuek kalau masalah pernikahan" ketus Nyonya Rivanna, Devandra yang mendengar mamanya ngedumel dari belakang hanya bisa menggelengkan kepalanya


"Mah, Devandra cuman mau bilang kalau Devandra tidak mau dijodohkan lagi dan percayalah kalau sudah waktunya Devandra pasti akan membawa pasangan untuk dikenalkan sama mamah" kata Devandra dengan suara tenang namun terdengar serius dan tidak main main


"Tapi Devandra, mamah ingin menimang cucu, dan satu lagi mamah ingin calon isterinya adalah jelas" ucap Nyonya Rivanna sambil memperingatkan Devandra mengenai kriteria calon isteri yang akan diterima di keluarga mereka


"Maksud mama apa?" tanya Devandra pura pura tidak mengerti menatap ke arah Nyonya Rivanna meminta penjelasan


"Calon isteri kamu itu harus ada bibir bebet dan bobot, ingat kita ini keluarga terpandang dan terkaya di kota ini, jangan sampai kamu mendapatkan calon isteri yang dibawah kelas sama kamu, mamah khawatir dia tidak bisa mengikuti pergaulan kelas atas kita " kata Nyonya Rivanna memberikan penjelasan kepada Devandra


'Deg' jantung Devandra tiba tiba berdetak kencang begitu mendengar perkataan dari mamanya, Devandra akhirnya mengurungkan niatnya untuk memperkenalkan Arini kepada mamanya, khawatir mamahnya tidak menyukai Arini karena Arini yang berbeda golongan dari mereka


"Devandra kamu dengar mamah kan?" tanya Nyonya Rivanna kepada Devandra yang setengah melamun


"Eh iya mah, Devandra akan mencari yang terbaik buat Devandra dan keluarga Devan sendiri, doakan saja ya mah" kata Devandra kepada Nyonya Rivanna


Sebelum Nyonya Rivanna berbicara lagi, Devandra langsung menyela terlebih dahulu untuk mengalihkan pembicaraan mamahnya sendiri


"Mah Devand lapar, Devand nyusul papah yah ke ruang makan, mamah mau ikut tidak?" tanya Devandra kepada Nyonya Rivanna


"Ya sudah mamah ikut" jawab Nyonya Rivanna sambil berdiri dari duduknya, mereka berdua pun pergi ke ruang makan menyusul ayahnyabyang sudah siap di meja makan


"Lama sekali sih kalian darimana saja, ditungguin juga dari tadi" kata Tuan Syailendra protes kepada isterinya


"Maafin mamah lah, mamah itu lagi berdiskusi mengenai pasangan Devandra, lagian papah juga ga sabaran banget sih mau makan" kata Nyonya Rivanna setengah protes kepada suaminya


"Loh papah kan lapar mah, masa orang lapar harus nunggu kalau papah pingsan bagaimana?" tanya Tuan Syailendra sambil menatap isterinya itu


"Tinggal diangkut ke ruang sakit lah pah, masak dibiarkan saja nanti mamah disangka isteri yang durhaka kepada anak dan suaminya " balas Nyonya Rivanna sambil menaruh nasi ke atas piring yang disodorkan oleh Tuan Syailendra kepada isterinya


"Pah ngomong ngomong ada ga kolega papah yang punya anak yang siap buat dijodohkan, kalau ada kenalan sama Devandra pah" kata Nyonya Rivanna mengusulkan calon isteri untuk Devandra kepada suaminya


"Mah bisa ga pembicaraan ini kita tunda, mama kan tahu kalau papa lagi makan papah paling males membahas begituan di meja makan" ucap Tuan Syailendra dengan nada protes, Tua Syailendra langsung menaruh sayur bening dan daging bistik ke atas piringnya


Akhirnya Nyonya Rivanna terdiam begitu suaminya berkata seperti itu, dan akhirnya mereka pun langsung menikmati hidangan makan malam itu dalam kondisi hening tanpa ada suara yang ada hanyalah suara dentingan sendok yang mewarnai makan malam mereka di meja makan