Arini

Arini
Bab 7



"Baiklah kalau memang ayah dan ibu Arini sudah setuju saya menikahi Arini, besok atau lusa saya akan menyuruh asisten pribadi saya untuk mengurus berkas berkas saya dan segera mendaftarkan langsung ke KUA disini bagaimana?" kata Devandra sambil bertanya kepada kedua orang tua Arini untuk meminta kepastian dari mereka berdua


"Kalau masalah itu terserah nak Devandra aja baiknya bagaimana" kata Pak Agus dengan suara tegas


"Baik pak, kalau begitu saya urus secepatnya" jawab Devandra kepada pak Agus dengan sopan


Pak Agus menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Devandra


Hari sudah semakin menjelang Maghrib, ibu Sumi meminta ijin untuk kembali ke kamar sementara pak Agus masih berada di ruang tamu bersama dengan Devandra dan Arini


"Nak Devandra jika ingin menginap kamar sudah saya siapkan, Arini tolong tunjukkan kamarnya siapa tahu nak Devandra ingin beristirahat dulu" kata pak Agus sambil memberikan perintah kepada Arini untuk membawa Devandra masuk ke dalam kamar yang sudah disiapkan oleh pak Agus ayahnya


Arini langsung menurut, dia langsung berdiri dan menyuruh Devandra untuk ikut bersama dengan Arini menuju kamar, kamar itu letaknya berdampingan dengan kamar orang tuanya Arini, tidak begitu besar namun bersih dan ada sebuah kipas angin kecil diatas meja, tempat tidur yang hanya cukup ditiduri oleh satu orang saja dan di sisi kanannya terdapat jendela yang bisa dibuka dan ditutup yang di tutup dengan gorden berwana biru sesuai dengan dinding kamar itu


"Masuklah" ucap Arini dengan suara datar kepada Devandra, Devandra melihat ke sekeliling ruangan kamar itu yang tidak terlalu kecil namun nyaman untuk ditempati


"Ini pasti kamar kamu?" tebak Devandra dengan matanya masih menatap ke sekeliling kamar lalu beralih menatap Arini yang sedang berdiri di depan pintu kamar meminta jawaban dari Arini


"Iya, itu memang kamar aku mas" jawab Arini dengan suara pelan menatap Devandra dengan tatapan datarnya, Devandra langsung tersenyum penuh arti kepada Arini


"Berarti kita akan tidur di kamar ini berdua saja?" tanya Devandra masih sambil tersenyum


Arini menatap devandra sambil mengernyitkan keningnya


"Ya tidaklah" jawab Arini tegas, tiba tiba dia teringat malam naas itu bersama dengan Devandra, dan bulu kuduknya langsung merinding sendiri, mengingat kejadian itu wajah Arini langsung memerah seperti buah tomat


"Kamu kenapa?" tanya Devandra yang tiba tiba melihat wajah merah Arini


"Sudah mas, kalau mau beres beres, kamar mandi ada di sebelahnya dapur, Arini keluar dulu " kata Arini, tanpa menunggui jawaban dari Devandra Arini berlalu pergi ari kamarnya


Devandra mencium bau tubuhnya sendiri yang sudah tidak enak lagi


"Sudah bau, belum mandi seharian pula" gerutu Devandra, lalu tiba tiba Arini datang lagi dengan membawa handuk bersih


"Ini ada handuk bersih' masih baru belum dipakai" kata Arini menyerahkan handuk berwarna putih dan sedikit tebal itu ke Devandra, dan Devandra menerimanya dari tangan Arini


"Terima kasih banyak ya" jawab Devandra kepada Arini sambil tersenyum


Arini menatap Devandra, kaosnya yang tadinya rapih kini sudah lusuh, Devandra yang tahu dirinya sedang ditatap oleh Arini hanya bisa tersenyum malu


"Koper aku masih ada di dalam mobil, nanti aku ambilkan" ucap Devandra sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal


Arini hanya menganggukkan kepala lalu berlalu pergi dari hadapannya Devandra tanpa berkata apapun, dia langsung menuju dapur untuk menyiapkan makan malam buat keluarganya


Devandra langsung menuju ke luar, untuk mengambil koper yang dia taruh di dalam bagasi mobil, yang lupa dia ambil tadi siang


Tampak suasana malam hari di tempatnya Arini sangat tenang, semua penduduk sudah masuk ke dalam rumahnya masing masing, anak anak beserta bapak bapaknya dan kaum pria lainnya pergi ke mesjid untuk melaksanakan sholat maghrib dan mengaji disana


Devandra menghembuskan nafasnya sambil menatap langit langit malam, lalu dia langsung mengambil koper kecilnya yang sudah dia siapkan dari rumah, tidak lupa dia meminta asisten pribadinya Wahyu untuk menggantikan dirinya selama dia tidak ada


Devandra langsung masuk ke dalam rumah sambil menjinjing tas koper kecilnya, kembali menuju ke kamar, tak lama kemudian dia pergi menuju ke dalam kamar mandi untuk mandi dan tidak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi, dan langsung berganti pakaian dengan kaos yang nyaman


Setelah dirinya berganti pakaian Devandra langsung berbaring di tempat tidur sambil menatap langit langit kamarnya, sebuah bayangan tiba tiba muncul dari pelupuk matanya, mencoba menghapusnya dengan cara menutup matanya namun bayang bayang itu masih menari sambil tersenyum ke arahnya


"Semoga ini adalah keputusan terbaik, mungkin dengan cara ini aku bisa melupakan dirimu Andria maafkan aku" gumam Devandra lagi dengan suara pelan, matanya terasa sangat berat akibat kelelahan hingga dia tertidur dalam jangka waktu yang panjang


"Bagaimana ,apa sudah kamu bangunkan dia Arini?" tanya Bu Sumi di meja makan dekat dengan dapur sambil menatap Arini yang sedang menyajikan makanan di atas meja makan


"Sudah Bu, hanya saja dia masih belum bangun juga kayaknya dia sangat lelah sekali" jawab Arini dengan suara pelan masih sambil menaruh piring diatas meja, Bu Sumi hanya diam saja masih sambil menatap wajah anaknya yang tengah sibuk menyiapkan makan malamnya


"Kamu nanti tidur di kamar ibu saja" kata Bu Sumi kepada Arini lalu memandang wajah suaminya sambil meminta persetujuan dari suaminya dan suaminya hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju


"Iya Bu" jawab Arini dengan patuh kepada ibunya


"Ayo kita makan" ajak Pak Agus kepada keluarganya untuk memulai makan


"Devandra tidak dipanggil lagi pak?" tanya by Sumi kepada pak Agus suaminya


"Jangan diganggu, nanti juga bangun kalau dia lapar, sisakan saja makanan untuknya nanti" perintah pak Agus kepada Arini sambil memandang Arini yang sedang duduk di hadapannya


"Iya ayah nanti Arini sisakan untuknya" jawab Arini sambil mengambil nasi di dalam centong nasi dan lauk pauknya


Mereka bertiga makan dengan lahap dan dalam keadaan diam sambil menikmati makanan yang tersaji di meja makan, sementara Devandra sendiri masih tertidur lelap karena lelahnya menyetir


"Kamu sudah yakin akan menikah dengan dia?" tanya pak Agus kepada Arini tiba tiba, memandang Arini dengan penuh selidik dan tanda tanya karena hatinya masih diliputi keraguan, dia khawatir anaknya yang semata wayang ini ditelantarkan oleh suaminya apalagi dengan keluarga suaminya yang jelas jelas notabene lebih berada dari keluarganya


Arini hanya diam saja tidak menjawab, dia sendiri hatinya merasa tidak yakin namun jika mengingat malam yang menurutnya naas itu, dia sendiri bingung harus berbuat apa, dia takut jika dia hamil tidak ada yang mau bertanggung jawab apalagi dia sendiri sudah ternoda kesuciannya, biarlah nanti itu akan menjadi urusannya kelak


"Arini yakin ayah, mas Devandra adalah pria yang terbaik untuk Arini dan Arini yakin kalau Arini akan bahagia bersama dengan mas Devandra, ayah dan ibu jangan khawatirkan Arini ya" jawab Arini sambil tersenyum, mencoba meyakinkan kedua orangtuanya jika dirinya baik baik saja menikah dengan Devandra


"Kalau kamu yakin dengan keputusan kamu, kami hanya bisa mendoakan kamu semoga kamu bahagia dan menjadi keluarga yang akur, rukun dan harmonis" jawab Bu Sumi dengan nada pasrah


"Ayah juga sama, karena kami hanya ingin melihat kamu bahagia itu saja nak" kata pak Agus ikut menimpali


"Terima kasih ayah, ibu, Arini janji Arini akan bahagia bersama dengan Devandra" kata Arini sambil berjanji di hadapan kedua orang tuanya


"Kamu sayang kamu nak" jawab Bu Sumi sambil tersenyum sayang kepada Arini


Arini ikut tersenyum walaupun hatinya sangat gundah dengan masa depan dirinya, dia selalu berandai andai jika saja malam naas itu tidak terjadi sudah pasti Arini akan menolak pernikahan ini, sudah pasti Arini tidak mau dengan Devandra karena dia tahu jika menikah dengan orang berada berarti dia harus menerima keadaan dari keluarga Devandra, dan dia sangat yakin pasti akan mendapatkan penolakan yang keras dari keluarga Devandra terutama ibunya Nyonya Meghan


"Arini kamu kenapa nak?" tanya Bu Sumi membuyarkan lamunan Arini, menatap Arini dengan penuh tanya dan rasa khawatir


Arini langsung menoleh ke arah bu Sumi dan sambil tersenyum dia menjawab


"Arini tidak apa apa"


"Ibu lihat kamu tadi sedang melamun" kata Bu Sumi masih dengan pandangan ingin tahunya


"Ibu, Arini tidak apa apa, Arini hanya bingung saja nanti Arini akan menggunakan pakaian apa untuk akad nikah nanti ibu" jawab Arini sambil berbohong


Bu Sumi langsung tertawa begitu mendengar ucapan Arini


"Kamu tahu, kamu pakai pakaian apa saja sudah sangat cantik, karena kamu adalah gadis cantik yang ibu dan ayah punyai" ucap ibunya sambil mengelus rambut Arini yang panjang dan hitam