
Arini terdiam dan tersipu malu mendengar pujian dari sang ibu untuknya
"Kamu tahu nak, kamu itu adalah harta kami yang paling berharga maka dari itu kami menjaga kamu dengan sebaik mungkin, dan kami berharap hidupmu itu bahagia meski ada atau tanpa ada kami, kamu harus bahagia" ucap Ibu Sumi dengan penuh rasa kasih sayang kepada Arini
"Arini akan selalu ingat nasihat ibu kepada saya, dan saya tidak akan mengecewakan ibu atau ayah, saya janji itu" kata Arini dengan hormat, dia sangat terharu dengan kehangatan serta cinta kasih ibunya kepada dirinya, meski tidak diberikan kemewahan dan hidup mereka sangat sederhana,namun Arini sudah sangat bersyukur sekali ibu dan ayahnya mencintai dirinya dengan sepenuh hati, kini dia berjanji akan memberikan uang terbaik buat kedua orangtuanya dan dirinya berjanji akan selalu membahagiakan kedua orangtuanya
"Sudah malam, ayok kita tidur" ajak Bu Sumi sambil menggandeng tangan Arini untuk masuk ke dalam kamarnya, sementara Pak Agus sudah menggelar kasur lantai di lantai kamar dan membiarkan ibu dan anak perempuannya tidur dalam satu ranjang dan di kamar Arini sendiri, Devandra masih terlelap dan tertidur pulas karena kelelahan dan kecapekan
Mata Arini masih nyalang, dia masih belum bisa tidur padahal malam sudah semakin larut, dia menatap wajah ibunya yang semakin hari semakin menua namun sisa sisa kecantikannya masih ada, wajah ibunya sangat cantik, bahkan cara bicara ibunya Bu Sumi terlihat sangat terpelajar dan cara bicaranya juga sangat tertata dan tidak seperti orang kebanyakan lainnya yang dibawah
Bulu mata ibunya juga sangat tebal dengan alis mata yang lentik, belum lagi hidung ibunya yang bangir, dan bibirnya yang tidak terlalu tipis dan tidak terlalu tebal, kulit putih yang mulus yang kini dipenuhi dengan kerutan kerutan dimana mana, seolah garis tua sudah mewarnai umurnya yang sudah tampak tidak muda lagi
Dan Arini mewarisi kecantikan ibunya, Arini kecil sempat bertanya kepada ibunya dulu apakah ibunya dulu mempunyai keluarga seperti kakek dan nenek, karena teman teman Arini yang lain mempunyai kakek dan nenek, namun ibunya menjawab dengan senyuman lalu ibunya mencoba mengalihkan dengan pertanyaan yang lain, hingga Arini sendiri akhirnya enggan menanyakannya kembali toh baginya dengan keberadaan kedua orang tuanya yang menyayangi dirinya dan mencintai dirinya juga sudah lebih dari cukup , begitu pikir Arini akhirnya dia enggan menanyakan keberadaan kakek dan neneknya Arini
Arini menatap ke langit langit kamar, beribu pikiran berkecamuk di dalam otaknya, dia sangat benar benar tidak menyangka semenjak kejadian malam itu, nasib dirinya berubah menjadi tiga ratus enam puluh derajat, seperti roller coaster dimana Devandra anak majikannya berniat untuk menikahi dirinya
Matanya masih belum mengantuk, hingga dia lebih memilih untuk keluar kamar, mengambil air minum, Arini dengan berhati hati bangun dari tidurnya dan dia berusaha tidak mengeluarkan suara apapun agar ayah dan ibunya tidak terbangun, terdengar dengkuran dari Pak Agus ayahnya ketika dia bangkit dari tidurnya dan berjalan berjingkat jingkat menuju ke luar dari kamar tidur orang tuanya
Sesampainya dia di luar kamar kedua orang tuanya, Arini bernafas lega, dia langsung buru buru menuju ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membuang hajatnya dan langsung menuju ke dapur yang letaknya tidak jauh dari kamar mandi, dia langsung mengambil air minum dan meminumnya dengan tandas, matanya mengarah ke tas meja makan, ternyata Devandra masih belum keluar dari kamarnya
Sambil menghela nafas panjang Arini membereskan sisa makanan semalam n menaruhnya di dalam lemari makan, biar nanti besok pagi Arini akan menghangatkan sisa makanan semalam ini untuk dirinya, karena Arini tahu Devandra tidak pernah mau memakan sisa makanan seperti dirinya
Setelah memasukan semua makanan ke dalam lemari makanan, Arini memutuskan untuk kembali ke kamar orang tuanya , dia melirik kamarnya yang berdampingan dengan kamar kedua orangtuanya , terlihat lampu kamarnya masih terang
'Mungkin Devandra lupa mematikan lampu' begitu pikir Arini
Arini yang saat itu ingin membuka kamarnya untuk mematikan lampu kamarnya tiba tiba tidak jadi, dia kembali memutuskan untuk segera menuju kamar kedua orangtuanya dan memutuskan untuk tidur
Pagi menjelang, suara burung gereja bersahut sahutan, sementara Arini sudah terbangun pagi pagi, menjerang air panas dan membuatkan kopi sekaligus teh, dia juga membuat gorengan dan menaruhnya di atas sebuah piring sebagai sarapan paginya, tidak luap dia memanaskan makanan sisa semalam lalu dia taruh di atas meja makan
Semua penghuni rumah masih belum terbangun, Arini sendiri bisa terbangun pagi pagi karena dia memang terbiasa bangun pagi di rumah majikannya, karena dia yang bertugas membangunkan anak majikannya yaitu tuan Devandra dan membereskan pakaian pakaian kotor milik tuan Devandra untuk dicuci setelah itu dia juiga sering membantu di dapur seperti ikut mencuci piring piring kotor jika pekerjaannya sudah selesai dikerjakan
"Pagi Arini" sapa seorang pria dari atas motornya sambil melirik ke arah mobil yang terparkir di teras rumah Arini
'Ternyata dia masih belum pulang' kata pria itu dari dlam hati
Arini langsung menegakkan badannya ketiak dirinya disapa seseorang, dan sambil tersenyum Arini langung menyapa balik
"Pagi mas Anjas, mau berangkat kerja juga?" tanya Arini
Anjas hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum manis ke arah Arini
"Pagi benar mas Anjas berangkatnya?" tanya Arini kepada sahabat kecilnya yang berbeda usia terpaut dua tahun itu
"Lagi banyak pekerjaan Arini, lagian memang setiap pagi aku berangkat jam segini" kata Anjas sambil menatap Arini yang sedang memegang sapu lidi
Arini yang diberitahu Anjas langsung mengangguk anggukan kepala, Anjas menatap Arini dengan pandangan penuh cinta kepada sahabat kecilnya itu, yang sering dia lindungi jika ada yang berusaha menjahilinya, namun semakin bertambah usia, perasaan Anjas kepada Arini berubah menjadi perasaan cinta, namun sayangnya saat itu arini menerima pekerjaan dari seorang teman yang ada di kota untuk menjadi seorang pelayan, Anjas yang saat itu masih belum menjadi apa apa dan belum ada pekerjaan langsung berniat mencari pekerjaan kesana kemari bahkan tidak malu bekerja apapun
Dia masih belum berani bertemu dengan Arini, jika Arini datang menemui Anjas, Anjas berpura pura sibuk dan hanya memberikan waktu sebentar saja, hingga Arini merasa Anjas tidak ingin menemuinya lagi sebagai sahabat lamanya, akhirnya Arini berusaha menjauh dari Anjas agar Anjas tidak terganggu dengan dirinya
Sebenarnya Arini juga memendam perasaan yang sama kepada Anjas, namun Arini malu mengakuinya itu, dia hanya menunggu Anjas yang mengutarakan perasaan Anjas kepada dirinya, Arini berusaha untuk menunggu kehadiran dari seorang Anjas, namun sayangnya sikap Anjas berubah, dia akhirnya memutuskn untuk tidak lagi berharap dengan Anjas yang saat itu dia sudah mendengar jika Anjas sudah menjadi pegawai kecamatan desa, yang dimana semua wanita berlomba lomba medekati Anjas dan mencoba menarik perhatiannya Anjas
Arini yang menyadari itu langsung memilih untuk menjauh, setiap dia datang ke rumahnya, dia tidak pernah keluar kecuali jika ada yang mengharuskan dia keluar dari rumah, Anjas sendiri merasa sangat susah untuk menemui Arini, selalu saja ketika dia ingin menemui Arini di sela sela kesibukannya, Arini sudah pergi untuk kembali bekerja, karena Arini sendiri hanya sebentar di rumahnya dan paling lama hanya satu minggu
Anjas menatap Arini dengan pandangan penuh cinta dan berharap suatu hari nanti dia bisa meminang Arini sebagai istri nya, namun saat ini saingannya sagat sulit karena pria yang ikut dengan Arini ke desa juga mengaku sebagai calon suami Arini
"Mas Anjas kamu kenapa?" tanya Arini memperhatikan Anajs yang sedang melamun sambil memandang dirinya dengan penuih harap
Namun sebelum Anjas menjawab pertanyaan Arini tiba tiba suara dari belakang Arini membuat Arini menjadi kaget
"Sayang kamu bicara dengan siapa disana?" tanya seseorang dari belakangnya Arini dengan nada tajam dan tatapan dingin an siap membunuh