
"Maafkan ibu nak, ibu tidak bermaksud membuat kamu tersinggung tapi dia itu suamimu sudah sepantasnya dia tau apa yang m najdi cita citamu" kata Bu Sumi kepada Arini dengan nada lembut
Arini langsung terdiam mendengar alasan ibunya berkata seperti itu
"Tidak apa apa Bu, ibumu benar Arini sudah sepantasnya aku tahu apa yang menjadi impianmu bukankah kita ini sudah suami isteri, aku juga harus tahu apa yang akan kau lakukan kelak nantinya dan itu harus dengan persetujuan dari aku" ucap Devandra membela Bu Sumi
Arini langsung menghela nafas panjang, dia merasa bersalah kepada ibunya kini
"Maafkan saya Bu" ucap Arini pada akhirnya dengan nada pelan
"Tidak apa apa nak, maafkan ibu juga sudah mengatakan apa yang menjadi keinginan kamu sejak lama tanpa persetujuan dari kamu" kata Bu Sumi dengan bijak
Arini menganggukkan kepalanya, suasana kembali menjadi hening seketika hingga Devandra berkata memecahkan keheningan di ruang makan itu
"Mohon maaf kalau saya harus menyela, saya ingin memberi tahukan kalau besok pagi kita akan kembali ke kota, karena ada banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan"
Arini yang mendengar itu langsung terkejut, dia langsung menoleh ke arah Devandra hendak ingin memprotes tapi dia diam saja tidak berkata apapun, Arini juga menyadari kalau mereka sudah tinggal cukup lama di rumahnya sudah saatnya mereka kembali ke kota
"Tidak apa apa nak, kembalilah kalian ke kota ada banyak pekerjaan yang menunggu kalian" kata pak Agus dengan bijak
"Apa ibu sudah sehat?" tanya Arini akhirnya membuka suara menatap ibunya
"Ibu sudah sehat nak, Alhamdulillah lagian ada bapakmu yang menjaga ibumu ibu" jawab Bu Sumi sambil tersenyum melirik ke arah suaminya
"Baiklah kalau begitu Bu" jawab Arini dengan nada lega
"Oh iya mana asisten mu itu dari tadi ibu tidak melihatnya?" tanya Bu Sumi menatap Devandra dengan pandangan bertanya
"Oh dia, semalam pamit langsung pulang kembali ke kota, banyak pekerjaan yang harus dia urus" jawab Devandra
Bu Sumi menganggukkan kepalanya, setelah itu Bu Sumi langsung membantu Arini membereskan piring piring kotor yang ada di meja kantor sementara Devandra kembali menuju kamar mereka
Keesokan harinya, pagi pagi sekali Arini dan Devandra tampak bersiap siap, setelah sarapan pagi mereka sudah ada di depan halaman dengan menenteng sekoper pakaian begitu juga dengan Devandra yang tampak sibuk memasukkan barang barang ke dalam mobilnya
Bu Sumi dan Pak Agus juga sudah ada di halaman depan, mereka berdua ingin mengantarkan anak dan menantunya kembali ke kota
"Hati hati kalian di jalan, kalau lelah beristirahatlah jangan dipaksakan " nasihat pak Agus kepada Devandra dan Arini
"Iya pak " jawab Devandra dengan patuh begitu juga dengan Arini
"Pak Bu kami pamit dulu" ucap Arini kepada Bu Sumi dan suaminya sambil mencium tangan kedua orangtuanya, diikuti dengan Devandra
"Jaga anak saya dengan baik ya nak Devandra, kalau ada masalah selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin jangan sambil emosi karena tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan" ucap pak Agus sambil memberikan nasihat kepada Devandra
"Untuk kamu Arini, dengarkan nasihat suamimu, dan untuk kamu Devandra jangan membuat isteri mu sedih hat, bersabarlah jika ada yang tidak kamu sukai dari isterinya itu" nasihat pak Agus kepada Arini dan Devandra
"Iya pak saya akan menjaga Arini sebaik mungkin" ucap Devandra dengan suara tegas
"Bu kalau ada apa apa kabari Arini secepatnya ya Bu" ucap Arini yang masih mengkhawatirkan ibunya
"Tenang saja nak, itu urusan bapakmu kamu jangan khawatir, rawat saja suamimu itu, kami disini baik baik saja" ucap Bu Sumi dengan bijak
Setelah berpamitan Arini langsung masuk ke dalam mobil Devandra yang dimana Devandra sudah menunggu Arini di dalam mobil, entah kenapa perasaan Arini sangat begitu berat meninggalkan kedua orangtuanya kali ini, berbeda dengan biasanya, apakah kali ini dia pergi dengan status baru yang disandangnya yaitu sebagai nyonya muda Devandra
Dia tidak berani membayangkan bagaimana reaksi dari keluarga Devandra kelak, mungkin dia akan mendapati kemarahan dari kedua orangtuanya Devandra, tapi semuanya sudah terlambat nasi sudah menjadi bubur, dan kini dia akan menghadapi keluarga Devandra meski Devandra ada di belakangnya, tidak terasa tetes air mata jatuh di pipi Arini, entah mengapa kali ini keberaniannya menguap entah kemana
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Devandra kepada Arini, dia merasa Arini saat ini sangat berbeda dari yang sebelumnya
Arini diam tidak menjawab pertanyaan dari Devandra suaminya
"Arini jawab pertanyaan aku" kata Devandra dengan nada mendesak Arini untuk menjawab pertanyaan dirinya
Arini menoleh menatap suaminya dari arah samping, tampak Devandra tengah fokus menyetir mobilnya, Arini menatap wajah Devandra yang terlihat tampan, banyak wanita yang berharap bisa menjadi pendamping hidupnya, apalagi dengan kekayaan orang tuanya yang nomor satu, belum lagi usaha anaknya yang kini semakin bertambah dan berkembang pesat membuat Devandra menjadi pembicaraan di kalangan wanita kelas atas, baik artis, sosialita, gadis gadis bangsawan, model papan atas bahkan gadus gadis kelas atas berharap bisa mendapatkan perhatian lebih dari pria bertampang dingin
Tapi mengapa harus dirinya yang menjadi pilihan hidupnya, apakah dia tidak salah memilih lalu bagaimana dengan tanggapan rekan sejawatnya, keluarganya, mitra mitra bisnisnya jika mengetahui pendamping hidupnya hanyalah sekelas pembantu bahkan pelayan di rumahnya serta tidak lebih dari itu
"Kamu tidak menjawab pertanyaan aku Arini" kata Devandra dengan suara serius menyadarkan Arini dari lamunannya
"Aku aku tidak ada yang aku pikirkan" ucap Arini berbohong kepada Devandra
"Kamu berbohong, nada suaramu tidak mengatakan seperti itu, aku tahu itu dan jangan mengelak" ucap Devandra dengan suara tegas
Kembali Arini menghela nafas panjang, dia mengalihkan pandangannya ke arah samping jendela mobil, menatap pemandangan sawah sawah yang terhampar di luar, dan itu membuat hatinya agak sedikit tenang
"Aku takut" kata Arini pelan pada akhirnya masih memandang ke samping jendela
"Aku masih tidak paham apa motif kamu menikahi aku, namun aku tidak perduli akan hal itu hanya saja aku ragu dengan pernikahan ini" ucap Arini pelan dengan nada sendu
Devandra yang mendengar itu langsung terkejut, dia tiba mengerem mendadak, lalu dia langsung menarik Arini ke dalam pelukannya
"Percaya saja dengan aku, itu saja" ucap Devandra sambil memeluk Arini lalu mencium rambutnya
"Kita akan berusaha dan berjuang bersama demi kebahagiaan rumah tangga kita, dan ingat untuk tidak meragukan apa pun lagi tentang aku" ucap Devandra lagi masih memeluk Arini
Arini hanya diam tidak membalas jawaban dari Devandra, entah kenapa hatinya ingin mempercayai Devandra namun hati sebelahnya berusaha untuk menolak mempercayai Devandra
"Kalau kamu belum siap bertemu dengan keluargaku, kita akan tinggal di apartemen sampai kamu siap bertemu dengan keluargaku bagaimana?" tanya Devandra kepada Arini
Arini menganggukkan kepalanya tanda setuju, benar kali ini hatinya masih belum siap bertemu dengan keluarga dari Devandra, tapi dia juga harus mempersiapkan dirinya bertemu dengan keluarga dari Devandra ,suka atau tidak suka, siap atau tidak siap waktu itu pasti akan mempertemukan mereka juga
"Kita jalan lagi ya" kata Devandra melepaskan pelukannya yang dibalas anggukan kepala Arini, mobil pun kembali melaju menuju kota dimana mereka tinggal