Arini

Arini
kecemasan semua orang



Acara resepsi di batalkan atas permintaan indah, karena ia tidak ingin bersenang-senang sedangkan kakaknya berada di rumah sakit. Tama pun mengiyakan keinginan indah karena ia pun ikut merasa tidak enak kepada tuan mateo dan andreaz jika ia akan tetap melanjutkan acara resepsi mereka.


Para tamu pun dibubarkan karena resepsinya dibatalkan, semua tamu memaklumi hal itu dan merekapun pulang.


''kamu yang tenang , sayang. Kita doakan saja semoga tidak terjadi sesuatu yang berbahaya kepada kakak mu. ''ucap tama menenangkan sang istri yang sedang terisak memikirkan arini.


tuan mateo juga tak kalah sedihnya dengan indah, tapi ia berusaha tegar agar indah dan istrinya tidak terlalu bersedih.


''sabar ya, mas. Semoga arini tidak kenapa-kenapa. ''sang istri mengelus pundak tuan mateo memberikan semangat .


saat sampai di rumah sakit, indah langsung berlari tanpa menghiraukan panggilan dari tama. walaupun mereka beda ibu tapi sayang indah sangat besar kepada arini , ia sangat bahagia saat mengetahui mempunya kakak dari istri pertama papanya. Jadi ,saat mengetahui arini yang tiba-tiba dibawah ke rumah sakit membuat ia kaget dan sedih.


Merekapun sampai didepan ruangan arini, di sana sudah ada tuan david , tuan mike dan juga nyonya rey yang sedang menunggu dokter keluar.


Andreaz mondar mandir didepan pintu ruangan arini, karena ia tidak diperbolehkan masuk oleh dokter .


''jeng . ''panggil istri tuan mateo , nyonya rey menoleh.


''gimana, arini?''tanya istri tuan mateo.


''belum tahu, jeng. Dokter sampai saat ini belum keluar. ''ucap nyonya rey yang terlihat sedih. Istri tuan mateo mengangguk mengerti, ia juga sedih mendengar arini dibawah ke rumah sakit.


''david, gimana arini?''tanya tuan mateo yang terlihat sangat khawatir dengan keadaan putrinya itu.


''masih menunggu dokter keluar. ''jawab tuan david. Ia menepuk punggung besannya itu agar bersabar.


tuan mateo tertunduk lemas , baru saja putrinya itu bahagia sekarang ia sudah diuji lagi .


''kak ! ''ucap indah lirih menatap ruangan arini yang terhalang oleh kaca .


''sudah, sayang. Lebih baik kita doakan saja , supaya kakak mu tidak kenapa-kenap. ''tama menenangkan snag istri , indah berhamburan ke pelukan tama, ia terus terisak sedih melihat kakaknya di kerumuni oleh banyak dokter.


''kamu yang sabar, papa yakin istrimu wanita yang kuat dan ia pasti melewati masa-masa sulitnya. ''ucap tuan mateo menghampiri andreaz yang sedang terduduk lesu dilantai.


Tidak lama kemudian dokter keluar, andreaz langsung berdiri menghampiri sang dokter. Semua orang pun ikut menghampiri sang dokter.


''bagaimana , dok. Keadaan istri saya?''tanya andreaz.


''alhamdulillah, keadaan nona arini baik-baik saja. Beruntung nona arini segera dibawa kesini jika terlambat sedikit saja bis membahayakan nyawa nona arini serta janinnya. ''jelas dokter.


''apa saya boleh menemui istri saya , dok?''tanya andreaz.


''boleh , tuan. Tapi hanya satu orang saja , karena nona arini masih dalam pengawasan kami. ''sahut dokter tersenyum ramah.


''oh iya, tuan. boleh saya bicara dengan anda sebentar. ''ucap dokter kepada tuan david.


''baik, dok. Saya akan ke sana. ''sahut tuan david, dokter pun pergi dari sana.


''mah, papa ke ruangan dokter dulu. ''ucap tuan david dan dijawab anggukan oleh sang istri.


andreaz masuk kedalam ruangan arini, ia sedih melihat sang istri yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.ia duduk di kursi yang berada didekat ranjang arini.


''sayang, maaf aku tidak bisa menjaga mu dengan baik. ''ucapnya lirih sambil menggenggam tangan arini dengan lembut. Butiran bening keluar dari mata andreaz, walaupun ia laki-laki yang dingin ketika berada diluar tapi hatinya akan rapuh saat melihat orang yang ia sayangi terbaling lemah seperti ini.


ditempat lain


Tuan david sudah masuk kedalam ruangan dokter dan sedang duduk berhadapan dengan dokter tersebut.


''jadi apa yang mau dokter katakan. ''ucap tuan david.


tuan david masih mendengarkan dengan baik perkataan dokter tanpa mencela omongannya.


''lebih baik , anda dan keluar lebih menjaga dengan ketat nona arini agar hal seperti ini tidak terulang lagi. ''sambungnya.


''berarti maksud, dokter. Ada orang yang berusaha mencelakai menantu saya?''tanyanya .


''mungkin, tuan. Karena dari yang kami lihat nona arini keracunan zat kimia yang sangat berbahaya dan itu tidak mungkin dilakukan oleh nona arini dengan sengaja, apalagi nona arini tergolong orang yang imannya kuat tidak mungkin ia melakukan hal yang sudah pasti dosanya sangat besar. ''jelas dokter.


Tuan david menganggukkan kepalanya , ia menyetujui ucapan dokter yang menangani menantunya itu. Apa yang dikatakan dokter benar adanya , berarti ia harus mencari tahu siapa yang sudah nekat berbuat seperti itu kepada menantunya .


''jadi , bagaimana keadaan menantu saya sekarang?''tanya tuan david.


''kita tinggu sampai nona arini sadar dan kami akan memeriksanya lagi, baru bisa memastikan apa nona arini sudah lebih baik atau sebaliknya. ''ucap dokter.


''baiklah , kalau begitu saya permisi dulu. Terimakasih. ''ucap tuan david dan keluar dari ruangan tersebut.


''sama-sama, tuan. ''jawabnya tersenyum ramah.


tuan david kembali keruangan arini, saat sampai di sana ia langsung di hampiri sang istri dengan rentetan pertanyaan.


''pah ! Apa kata dokter, arini baik-baik aja kan , pah ?''tanya nyonya rey penuh kekhawatiran.


''mama , tenang dulu. Arini baik-baik saja. ''ucap tuan david merangkul pundak sang istri.


''tapi, pah. Kenapa papa lama banget di ruangan , dokter elsa. Gak ada yang papa sembunyikan ?''tanya nyonya rey penuh selidik.


''gak , mah. Lebih baik sekarang kita ke masjid dulu , kita berdoa buat arini. ''ajak tuan david .


''baiklah, kalau begitu mama ajak tuan mateo dan keluarganya serta tuan mike untuk ke masjid. ''ucap nyonya rey .


Semua orang akhirnya pergi ke masjid, tadinya indah tidak mau pergi dari sana karena ia sangat mengkhawatirkan kondisi sang kakak. Tapi akhirnya tama bisa membujuk istrinya itu agar membiarkan andreaz saja yang menemani arini. Lagian mereka juga tidak bisa menemui arini karena andreaz masih belum keluar dari ruangan itu dan dokter pun menyarankan hanya satu orang saja yang boleh masuk. Jadi percuma juga jika mereka berdiam diri di sana.


"sayang, lebih baik kita makan. Karena sejak tadi kita belum makan sedikitpun. " ucap tama dengan lembut.


"benar , sayang. Lebih baik kalian makan karena sejak ijab kobul selesai kalian belum makan sama sekali. " sahut sang mama .


"ya sudah, jeng.lebih baik kita juga ikut makan , karena tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini. ''ajak nyonya rey, mereka juga belum bisa menemui arini dan juga mereka belum makan setelah ijab kobul tadi pagi.


''baiklah, jeng. Kalau begitu kita ke restoran dekat sini saja . ''sahut istri tuan meteo.


''ayok, sayang. ''ajak tama , indah terus saja bersedih rasanya ingin makan pun tidak berselera walau cacing sudah berdemo didalam sana .


merekapun pergi ke restoran yang berada tidak jauh dari rumah sakit, mereka sebenarnya juga tidak berselera untuk makan karena memikirkan kondisi arini. Betapa banyak orang yang menyayangi arini.


''tama, lebih baik ajak istri mu pulang. Kasihan dia , seharian belum istirahat. ''ucap tuan mike.


''ya benar, sayang. Lebih baik kalian pulang, istirahatlah di rumah. ''sahut nyonya rey menyetujui perkataan tuan mike.


''tidak, pah. Aku masih ingin menunggu , kak arini sampai dia sadar. ''ucap indah menolak pulang.


''indah, apa kamu tidak kasihan dengan suami mu . Kalian pengantin baru , lebih baik kalian pulang. papa akan memberi kabar jika kakak mu sudah siuman. Lagian disini juga banyak orang yang menjaga kakak mu. ''ucap tuan mateo dengan senyum terpaksa.


''sudah , tama. Kamu ajak istri mu pulang. ''sekarang tuan david yang juga ikut bicara.


''baik, pah. Kalau begitu kita pamit pulang dulu. ''ucap tama lalu menggandeng tangan indah. Karena semua orang memintanya untuk pulang dan beristirahat , indah dengan terpaksa mengikuti kemauan keluarganya dan juga ia memikirkan tama yang baru sehari menjadi suaminya , pasti tama menginginkan dirinya malam ini, karena malam ini adalah malam pertama mereka.