AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
9. Silvi



“Aku pilih yang ini ya kak,” tampak Sasa mengambil sebuah boneka besar yang bisa mengeluarkan suara. Akmal pun segera melihatnya, hal pertama yang ia lihat adalah bandrol harga. Meskipun belum mengerti sebanyak apa uang empat ratus lima puluh delapan ribu itu, tapi Akmal yakin itu harga yang cukup mahal untuk sebuah mainan. Bahkan mainan mereka tidak ada yang semahal itu.


“Jangan yang ini ya dek, ibuk pasti nggak akan setuju. Ini terlalu mahal.”


“Tapi kan Sasa pengen yang ini kak.”


“Ini kan untuk Keisa, jadi cari yang harganya nggak semahal itu. Nanti kalau adek pengen yang itu, kita nabung ya. Kita beli pas tabungan kita sudah sebanyak itu, sekarang adek pilih yang kecil aja ya.” Akmal berusaha membujuk adiknya yang terus merengek meminta boneka itu. beruntung akhirnya Sasa setuju untuk membeli yang lain.


“Iya kak, Sasa setuju. Lagi pula kan sayang kalau di kasih ke Keisa. Sasa aja nggak punya, nanti deh Sasa mau minta ayah buat belikan boneka itu.”


“Anak pintar,” Akmal mengusap kepala Sasa dengan lembut dan kembali membantu Sasa memilihkan kado untuk keponakannya itu.


Setelah menemukan yang pas, Akmal pun kembali mengajak Sasa menghampiri Nina untuk membayar belanjaannya.


Setelah membeli kado dan membungkukkan sekalian, tidak lupa Nina mengajak anak-anaknya untuk membeli oleh-oleh. Rasanya tidak enak jika datang tanpa buah tangan meskipun tidak ada peraturan tertulis mengenai hal itu.


Hingga tepat jam tiga sore mereka sampai di rumah orang tua Kamal, kakek dan nenek Akmal dan Sasa.


“Buk, itu mobilnya ayah kan. Ayah curang, nggak nungguin kita,” protes Akmal saat melihat sebuah mobil yang mirip dengan mobil ayahnya.


“Mungkin bukan ayah, kak. Hanya mobilnya aja yang sama.” Nina mencoba untuk mengabaikannya dan berpikir positif.


“Enggak buk, itu di bawah kaca belakangnya ada gambar, itu Akmal sama ayah yang gambar.” Akmal menunjuk pada sebuah gambar kecil yang ada di dekat lampu belakang. Mungkin jika tidak di perhatikan dengan seksama, gambar itu tidak kelihatan karena ukurannya kecil.


Deg


Perasaan Nina mulai tidak enak, apalagi terdengar di dalam rumah cukup ramai. Ada canda tawa di dalam dan samar-samar memang ia bisa mengenali satu per satu suara orang-orang yang ada di dalam, dan suara Kamal terdengar jelas.


“Biar aku lihat buk, mungkin itu penjual bakso yang aku pesen tadi.” Ucap seorang wanita yang suaranya cukup jelas terdengar oleh Nina karena wanita itu tengah berjalan keluar.


Grekkk


Hingga pintu kayu itu terbuka lebar dan menampakkan seseorang yang berdiri di ambang pintu, tampak ia terkejut dengan kedatangan Nina dan anak-anak. Tapi bukan hanya wanita itu, Nina pun tidak kalah terkejutnya. Ia mengenali wanita itu, tapi wanita itu tidak cukup dekat hingga bisa berada di rumah itu. selama menjadi menantu di rumah itu, baru kali ini ia melihat wanita itu berada di rumah orang tua Kamal dan tampak begitu akrab dengan keluarga yang lain.


“Nina,” ucapannya tercekat.


Nina yang sudah mengendalikan rasa terkejutnya pun segera menggandeng kedua tangan anaknya dan tersenyum.


“Silvi,”


Baru saja hendak melangkahnya kakinya, tiba-tiba suara seseorang dari dalam menahan kakinya agar tidak terangkat,


“Siapa sayang? Bener tukang baksonya?”


Suara itu datang bersamaan dengan tangannya yang melingkar sempurna di perut wanita bernama Silvi itu dan ia sangat kenal pria itu, dia Kamal mantan suaminya yang belum genap satu bulan bercerai.


Nina bisa merasakan tangannya di genggam erat oleh Akmal yang juga melihat pemandangan itu, sedangkan Nina , bahkan bibirnya tak mampu berucap lagi. Ia masih terlalu syok dengan apa yang ia lihat saat ini sampai ia lupa ada Akmal dan Sasa yang seharusnya juga tidak melihat pemandangan itu.


“Kalian,” bibir Kamal tampak bergetar, “Kalian bagaimana bisa di sini?” tanyanya lagi.


Srekkkk


Tiba-tiba Sasa melepaskan tangannya dari genggaman Nina, ia berlari menghampiri Silvi dan Kamal. Mendorong tubuh Silvi agar sedikit menjauh dari Kamal kemudian memeluk kaki ayahnya itu sambil menangis.


“Bibi jahat, bibi jangan ambil ayahnya Sasa. Bibi pergi, jauh-jauh dari ayahnya Sasa.” Sasa menangis histeris dan dengan cepat Kamal meraih tubuh mungil Sasa dan menggendongnya.


“Sayang, bibi Silvi nggak jahat, dia nggak ambil ayahnya Sasa. Sudah ya sayang nangisnya, kita masuk ya,” Kamal mengusap air mata Sasa dan mengajaknya masuk meninggalkan Silvi yang masih berdiri di ambang pintu.


Sedangkan nina dan akmal masih berada di tempatnya, usia Akmal sudah tujuh tahun. Ia sudah sedikit mengerti dengan apa yang terjadi meskipun pengertiannya tidak seperti orang dewasa.


“Kak,” panggil Nina lirih, meskipun saat ini ia terluka tapi ia tahu putranya lebih terluka.


“Buk, Akmal nggak mau nginep di sini. Kita pulang ya buk.” Rengek Akmal.


“Kita temui mbah putri sama mbah kakung dulu ya, setelah itu kita ke rumah mbah de,” bujuk Nina, pasalnya saat ini Sasa sudah berada di dalam bersama ayahnya, ia tidak mungkin langsung pergi begitu saja.


“Masuk, Nin!” ucap Silvi layaknya seperti tuan rumah.


Nina cukup mengenal silvi karena dia juga salah satu teman dekat Nina, mereka satu sekolah semenjak SMP sama seperti Mita. Hanya saja semenjak menikah dengan Kamal, Nina los kontak dengan Silvi karena yang ia dengar dari teman-temannya, Silvi ikut suaminya merantau sekalian melanjutkan kuliah.


Dan saat ini kehadiran Silvi yang tiba-tiba di rumah orang tuan Kamal masih tidak terpikirkan oleh Nina, apalagi hubungan antara Silvi dan Kamal. Jika tidak salah, ia bisa melihat dengan jelas kalau mereka baru saja berpelukan, dan lagi Kamal, mantan suaminya, ayah dari anak-anaknya baru saja memanggil Silvi sayang. Sejak kapan mereka berhubungan?


“Sil,” selangkah pun Nina tidak bergerak dari tempatnya, ia masih butuh penjelasan dari apa yang baru ia lihat dan ia dengar.


“Kami sudah menikah siri, Nin.” Ucap Silvi, sepertinya ia tahu apa maksud dari Nina.


“Sejak kapan?”


“Enam bulan lalu,”


Nina menarik sebelah sudut bibirnya tipis, sedikit mengecap. Ia tengah menertawakan kebodohannya, kebutaannya. Enam bulan lalu, itu waktu yang cukup lama untuk menjalin sebuah hubungan. Dan ia selama enam bulan, atau bahkan mungkin bulan-bulan sebelumnya ia telah berbagi laki-laki yang sama. Bagaimana bisa?


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...