
Nina mengetuk pintu rumah sahabatnya dengan begitu sungkan pasalnya itu sudah sangat larut dan pasti suami sahabatnya itu ada di rumah. Jika biasanya saat berkunjung ia tidak pernah menemui suami sahabatnya, saat ini ia harus bertemu.
Ceklek
Benar saja, kini Mita dan suaminya sudah berdiri di balik pintu.
"Assalamualaikum, Ta, mas." sapa Nina.
"Waalaikum salam, Nina. Larut sekali nggak ada masalah kan?" tanya suami Mita.
"Nggak kok mas, Alhamdulillah."
"Masuklah, aku akan bantu Sasa gendong." ucap mas Bram suami Mita, dia memang orang yang dewasa dan humble tentunya, ia tidak pernah mempermasalahkan jika terkadang Mita terlalu memperhatikan Nina dan keluarganya di banding dirinya, karena mungkin ia juga sadar jika pekerjaannya juga telah banyak menyita waktu.
"Makasih mas, nggak perlu biar Nina aja."
"Baiklah, aku tinggal ke dalam ya."
"Iya mas."
Mita masih berdiri di ambang pintu mengamati mobil yang tengah terparkir di depan pagar rumahnya.
"siapa Nin yang antar?"
Nina pun ikut menoleh ke belakang dan ternyata pria yang ada di dalam mobil itu sama sekali tidak keluar,
"Itu sama atasan."
"Baik banget atasan Sampek mau nganter segala, kalau tidak salah_," Mita kembali berpikir tapi Nina segera membekap mulut Mita dengan kedua telapak tangannya,
"Nggak usah mikir macam-macam deh, kalau mau gosip entar aja. Anak-anak mana?" tanya Nina yang memang terburu-buru, ia tidak mau terlalu lama dan tentunya akan membuat bosnya menunggu terlalu lama.
"Sasa baru tidur tapi kalau Akmal masih nungguin kamu sambil nonton."
Akhrinya Mita mengajak Nina masuk, Sasa memnag sudah tertidur pulas hingga ia harus menggendongnya. Sedangkan Akmal, meskipun sudah mengantuk ia bisa berjalan sendiri.
"Makasih ya Ta, udah jagain anak-anak," ucap Nina yang sudah keluar dari rumah Mita, Mita pun mengantar lagi hingga ke depan.
"Santai aja kalo, sebagai gantinya Lisa antar gue ke rumah sakit."
"Kenapa? Lo sakit?"
"Enggak lah, Lisa jadwalnya periksa debay."
"Ohhhh,"
Setelah berpamitan, Nina pun membawa anak-anak menghampiri mobil.
Tepat saat Nina hampir sampai mobil, Dirga pun keluar dan tersenyum ke arah Mita,
"Itu_, jadi maksud Nina mas Dirga, ya ampun, kenapa nggak kepikiran sih," tiba-tiba Mita tersenyum puas, ia sepertinya baru mendapatkan lotre.
Sedangkan Nina di bantu Dirga masuk ke dalam mobil dengan di bantu Dirga.
Sedangkan di samping mobil, Akmal mengucap matanya tidak percaya, bahkan beberapa kali hingga matanya terasa pedih,
"Om_,"
Baru saja akan menyebutkan namanya, tiba-tiba Dirga memberi isyarat pada Akmal untuk diam dengan menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
"Masuk sayang," ajak Nina begitu ia berhasil masuk meminta Akmal untuk ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang bersamanya.
"Biar Akmal sama aku aja di depan." ucap Dirga berhasil membuat Nina tercengang, tapi saat Nina hendak bertanya, Dirga sudah lebih dulu membantu Akmal untuk masuk ke dalam mobil dan ia pun berlari mengitari mobil kemudian masuk dari pintu lainnya.
Mobil pun mulai melaju meninggalkan rumah Mita, tapi rasa penasaran Nina belum hilang hingga ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Pak, boleh saya bertanya?"
"Tanya aja."
.Perasaan lega menghinggapi Nina, "Pak Dirga kok tahu nama anak saya?"
Pertanyaan itu seketika membuat Dirga kesulitan menelan Salivanya sendiri, ia juga menoleh pada Akmal yang ternyata sudah tertidur pulas.
"Oh itu, tadi kamu sempat menyebutkan nama mereka."
"Benarkah?" tanya Nina yang merasa tidak mengatakan nama anak-anaknya, seingatnya ia hanya mengatakan kalau dia punya dua anak
"Benar! Pasti kamu lupa, kalau tidak salah si cantik itu mananya_," Dirga pura-pura berpikir agar Nina tidak curiga, "Emmm, Sa_, Sasa kan? Iya kan?"
"Jadi benar ya saya mengatakannya?" meskipun tidak merasa menyebutkannya, tapi Nina mencoba untuk percaya.
"Iya lah, kalau enggak bagaimana aku bisa tahu. Kamu nih ada-ada aja."
Akhirnya setalah hampir dua puluh menit mereka sampai juga di rumah.
"Biar aku bantu mengangkat Akmal ya." ucap Dirga menawarkan diri.
"Tidak merepotkan pak?" Nina merasa sungkan.
"Ya enggak lah, kamu buka pintunya dulu ya."
"Baik pak."
Beruntung badan Sasa tidak gemuk jadi Nina tidak kesusahan menggendong Sasa sambil membuka pintu.
,Dirga membopong tubuh Akmal dan membawanya ke kamar, bahkan Dirga tanpa bertanya pada Nina untuk membawa Akmal ke kamar, ia sepeti sudah sangat faham dengan seluk-beluk rumah itu.
"Terimakasih ya pak."
"Sama-sama , nggak masalah.ya sudah aku pergi dulu ya, kamu nggak usah nganter ke depan, temani saja anak-anak."
"Iya pak, tapi saya harus tutup dan kuci pintu dulu kan?.
"Biar aku kunci, nggak pa pa."
"Mana bisa, Iya kalau pak Dirga pemilik rumah," canda Nina membuat Dirga tersadar jika ia hampir saja membuat kelepasan.
"Baiklah, aku pergi ya. Assalamualaikum "
"Waalaikum salam,"
Manik mata Nina masih mengawasi gerak tubuh pria yang begitu baik mengantarnya dan anak-anak hingga sampai di rumah.
"Loh pak, kenapa naik?"
Sepetinya pertanyaan dari nina itu berhasil membuat Dirga sadar akan sesuatu, baru tiga anak tangga ia naiki kakinya pun kembali melangkah turu,
."Maaf, kayaknya saya lupa jalan."
"Jalannya di sana pak. ..?
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰