AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
75. persidangan terakhir



Dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asap sudah tersaji di atas meja, aroma coklat kopinya begitu pekat hingga mampu membuat suasana menjadi ikut hangat. Meskipun tidak begitu pagi, tapi area ber-AC ini membuat tubuh sedikit terasa dingin.


Nina mulai menyeruput kopinya dan sesekali menikmati aromanya, Nina bukan penikmat kopi tapi ia juga tidak anti pada kopi. karena saat di kampung dulu, sesekali saat bapaknya meminta di buatkan kopi Nina kerap mencicipinya bahkan tidak segan meminta setengah sisanya dan pasti rasanya lebih nikmat karena ada kasih sayang bapaknya di sana.


"Aku suka sama kopi buatanmu." ucap Dirga tiba-tiba membuyarkan lamunan Nina.


"Ya, aku merasa kopi dan gorengan buatan kamu begitu menggambarkan suasana damai, aku pernah merasakannya dulu saat di kampung."


Nina membulatkan matanya, hingga manik mata hitamnya menatap sempurna pada pria yang tengah menikmati kopinya,


"Mas Dirga pernah ke kampung?" tanya Nina heran.


"Iya dulu saat masih kecil, remaja aku juga sering menghabiskan waktu di kampung saat liburan sekolah. Nenek ku tinggal di kampung, ibu dari mama." jelas Dirga sambil membayangkan moment indahnya saat berada di tempat itu.


"Apa nama kampungnya mas?, siapa tahu kampung kita dekat. Nanti kalau ada waktu kita bisa berkunjung ke sana." tanya Nina antusias. Saat mendengar kata kampung Nina kembali bersemangat, ia seolah-olah tengah mengenang masa indah di kampung bersama keluarganya yang hangat di waktu ia kecil.


"Namanya kampung sumber asri."


"Maksudnya sumber asri kecamatan pesawahan?" Nina kembali memastikan ia khawatir hanya salah dengar karena terlalu berharap kampung mereka sama.


"Iya, kenapa? Apa ada yang aneh?"


"Itu kampung Nina mas," ucap Nina bersemangat, ia sudah bisa membayangkan jika mereka akan berkunjung ke kampung yang sama.


"Benarkah?" Dirga tidak kalah senangnya dari Nina.


"Iya mas, pokoknya nanti kalau ada waktu kita harus main ke sana mas, sekalian nostalgia."


"Pasti."


Lima belas menit sudah mereka berdua di kedai kopi, setalah menghabiskan kopinya mereka pun kembali menuju ke kantor pengadilan.


Tepat saat berada di depan gedung, sebuah mobil yang tidak asing tengah parkir di lahan parkir membuat langkah Nina terhenti.


"Ada apa?" tanya Dirga tidak mengerti.


"Mas Kamal datang mas." ucap Nina.


Melihat kedatangan Kamal dan istrinya, Dirga pun dengan cepat menautkan tangannya di tangan Nina membuat Nina terkejut, meskipun begitu Nina tidak berniat menarik tangannya karena ia sekarang tidak masalah jika pria di sampingnya itu menggandeng tangannya.


Akhirnya Kamal mendekat ke arah mereka bersama Silvi, tentu hal ini pemandangan yang berbeda dari sidang-sidang sebelumnya. Jika bisanya Silvi tidak pernah datang dan Kamal hanya datang dengan pengacaranya, kini bahkan ia tidak melihat batang hidung pengacara Kamal yang biasanya selalu datang di awal dan memprovokasi Nina.


"Selamat pagi pak Kamal." sapa Dirga dengan senyum ramah sambil mengulurkan tangan kanannya yang tidak mengandeng tangan Nina.


"Selamat pagi, maag saya terlambat." ucap Kamal, tapi kini tatapan Kamal malah tertuju pada tangan Nina yang tengah tertaut dengan tangan Dirga.


Kamal mengepalkan tangannya sempurna hingga terlihat otot-otot di tangan itu.


Srekkkk


"Kendalikan dirimu mas." bisik Silvi. Jika tidak dicegah oleh Silvi mungkin saja sekarang sudah pecah perkelahian antara Kamal dan Dirga.


Akhrinya emosi Kamal perlahan mereda, ia meregangkan genggaman tangannya perlahan.


"Di mana pengacara anda? Apa dia merencanakan sesuatu lagi?" tanya Dirga yang sudah sangat penasaran dengan keberadaan pengacara Kamal yang tidak kunjung datang.


"Bukan urusan kamu, ada atau tidak adanya pengacara. Saya yakin akan bisa mendapatkan hak asuh anak-anak." jawab Kamal ketus dan dia pun menarik tangan Silvi mengajaknya masuk meninggalkan Dirga dan Nina begitu saja dan memilih untuk segera duduk di kursi tunggu.


Yang paling membuat Kamal kesal bukan soal pertanyaan Dirga padanya, tapi melihat Nina sedekat itu dengan laki-laki lain membuat perasaanya terluka, entah perasaan apa yang masih tertinggal di dalam hatinya tapi ia tidak suka dengan kedekatan Nina pada Dirga.


"Mas Kamal cemburu sama pria yang bersama Nina? Mas Kamal masih menyimpan perasaan pada Nina?" tanya Silvi dengan suara rendah agar Nina tidak sampai mendengar pembicaraan mereka.


"Kamu bicara apa sih, jangan sembarangan ngomong. Mana ada aku cemburu sama dia." kilah Kamal sedangkan di hati kecilnya ia sendiri bingung dengan perasaan yang menimpa dirinya, ia gundah, kesal bahkan ingin sekali menarik nina.oergi dari tempat itu saat melihat Nina sedekat itu dengan pria lain.


Dirga dan Nina memilih duduk di sudut lain, rasanya malas kalau harus berdekatan dengan mereka.


Akhirnya kini tiba giliran mereka, acara persidangan pun dimulai, Nina dan Kamal duduk berdampingan di berhadapan dengan jaksa dan hakim.


Nina didampingi oleh Dirga di sudut lain sebagai pengacaranya sedangkan Kamal, ia duduk sendiri dan Silvi hanya menemaninya di belakang.


kedatangan pengacaranya semalam hanya ingin memberinya berkas-berkas yang seharusnya hari ini ia jadikan senjata untuk melawan Nina,


Tapi tetap saja, Kamal bukanlah orang yang faham mengenai hukum, berbeda dengan Dirga yang notabenenya lulusan hukum.


Persidangan kali ini bahkan lebih heboh dari pada persidangan beberapa waktu lalu. meskipun tanpa pengacara, Kamal begitu getol membela diri, menyanggah semua bukti yang di tunjukkan oleh Dirga.


Tapi nyatanya semua itu tidak cukup kuat untuk melawan bukti-bukti yang dimiliki oleh Nina apalagi buku-bukti perselingkuhan yang dilakukan oleh kama bahkan sebelum Nina mengandung Putri bungsunya


Ditambah status Nina saat ini yang sudah memiliki seorang suami.


"Ini tidak adil hakim, mereka baru menikah dua hari ini. Apa anda tidak khawatir jika mereka hanya nikah kontak!?"


Hakim sedang membahas hal yang satu minggu lalu dipermasalahkan dalam persidangan, rapi alasan yang dilontarkan oleh Kamal tidak beralasan.


Akhirnya jaksa pun mengetuk palu dan hak asuh anak akhirnya jatuh sepenuhnya ke tangan Nina hingga saat mereka dewasa dan memilih hak untuk tinggal bersama siapa pun yang Mereka inginkan


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


@tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰