
Di tempat lain,
Silvi sudah tidak sabar menunggu kedatangan suaminya. Hari ini seharusnya sang suami pulang. Ia pun menunggu si teras setelah memastikan putranya tidur.
Tidak lupa ia juga memakai baju terbaiknya, sebuah baju tidur yang setengah transparan berwarna merah dengan belahan dada yang rendah.
Akhirnya setelah menunggu hampir setengah jam di teras rumah dengan udara yang lumayan dingin, yang di tunggu datang juga.
Sebuah mobil berhenti tepat di depan teras mereka, dan Kamal keluar dari mobil itu dengan senyum yang merekah.
"Assalamualaikum," sapanya dan langsung di sambil pelukan oleh sang istri.
"Waalaikum salam, mas." ucap Silvi dengan nada manjanya.
"Kenapa di luar?"
"Nungguin mas lah."
"Di luar dingin loh sayang, sebaiknya kalau menunggu di dalam aja sayang.,"
"Nggak pa pa, aku kan nggak sabar pengen segera ketemu sama mas, emang mas Kamal nggak kangen sama aku?"
"Ya kangen dong sayang." ucap Kamal sambil memeluk erat sang istri, bibirnya pun mulai berselancar ke leher dan dada Silvi, mendorong tubuh wanita itu hingga terjerembab di atas sofa. Dengan begitu tergesa-gesa ia menindih tubuh Silvi dengan tangan yang mulai berselancar sedangkan tangan Silvi begitu lincah melepaskan baju dan celana yang dikenakan oleh sang suami,
"Ahhh, ayo mas, aku sudah nggak tahan," ucap Silvi dengan suara sensualnya membuat Kamal semakin bersemangat.
Hingga akhirnya mereka benar-benar tanpa sehelai benang pun, beruntung Sakila sudah tidur hingga mereka bisa melakukan tampan ada rasa was-was.
Setelah setengah jam akhirnya mereka saling berpelukan di atas sofa, dengan sebuah selimut tipis yang menutupi tubuh mereka.
"Bagaimana? Ada Nina bisa melakukan seperti yang aku lakukan mas?" tanya Silvi dengan tangan yang mengusap-usap dagu sang suami.
"Nina mana bisa seperti ini, dia terlalu kaku."
Silvi tersenyum penuh kemenangan, setidaknya ia menang satu kosong sekarang.
Kemudian tangan Silvi beralih ke dada berbulu Kamal dan mulai memainkan tangannya di sana,
"Oh iya mas, mas tahu nggak kalau ternyata kontrakan Nina itu yang rumah besar itu," ucapnya dengan manja.
"Nggak lah, Nina bilang ke aku katanya Nina hanya bersih-bersih di rumah besar itu."
"Kayaknya Nina bohong deh mas,"
"Maksud kamu?"
"Kalau hanya bersih-bersih, trus ngapain aku di suruh masuk di sana kemarin, trus dia juga nyuguhin Silvi minuman. Dia seperti tuan rumah di rumah itu."
"Benarkah seperti itu?"
"Iya mas, dan aku khawatirnya gini mas. Takutnya uang yang mas kasih bukan buat biaya pendidikan Akmal dan Sasa, tapi malah dibuat Nina untuk bersenang-senang sendiri, sewa rumah dengan harga mahal, bergaya elit untuk menggaet pria kaya. Kemudian Akmal dan Sasa akan terabaikan."
Kamal benar-benar merasa geram, jika benar seperti itu ia benar-benar tidak menyangka jika mantan istrinya itu akan mengabaikan anak-anaknya demi kehidupan yang enak.
"Aku akan ke sana besok,"
"Mas mau ngapain?"
"Ya memperingatkan dia."
Sekali lagi Silvi tersenyum dengan penuh kemenangan, ia berhasil membuat sang suami kesal dengan mantan istrinya. Ia juga tidak suka juga Nina tinggal di rumah yang jauh lebih besar dari kontrakan tempatnya tinggal saat ini.
***
Akhrinya acara selesai tepat jam sembilan malam.
Nina pun memilih membantu yang lain untuk beres-beres hingga jam menunjuk ke angka sepuluh malam.
Sebenarnya ia tidak yakin bisa kembali sendiri ke kantor untuk mengambil motornya, tapi ia juga tidak enak jika numpang pada teman-temannya.
Akhrinya setelah semua selesai, ia pun memutuskan untuk menunggu taksi yang lewat. Ia memilih berjalan hingga ke ujung jalan besar. Tapi hampir setengah jam ia berdiri di bahu jalan, nyatanya tidak ada satupun taksi yang lewat.
Hingga tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya, dan Nina tidak tahu itu mobil siapa. hingga pemilik mobil pun menurunkan kaca mobilnya agar Nina bisa melihat siapa yang ada di dalam,
"Pak Dirga?" entah berapa mobil yang pria itu miliki, jika dilihat perusahannya tidak begitu besar tapi mobilnya jarang terlihat sama dalam satu Minggu membuat Nina tidak bisa mengenalinya.
"Hahhh?"
"Ayo masuk, kamu mau berdiri di situ sampai besok pagi?"
"Hahh?" ternyata Nina masih gagal fokus.
"Masuklah! Apa perlu aku turun dulu baru kamu masuk?"
Dengan cepat Nina mengibaskan tangannya, "Jangan pak, saya masuk!"
Pintu terbuka dari dalam hingga Nina tinggal masuk, ia pun duduk di samping kemudian dan kembali mereka duduk hanya berdua saja.
"Di mana rumah kamu, biar saya antar sampai rumah."
"Nggak usah pak, antar ke kantor saja."
"Kenapa?"
"Motor saya di sana."
"Motornya di ambil besok saja."
"Tapi saya harus jemput anak-anak juga pak."
"Nggak pa pa, di jemput sama saya saja."
"Seriua pak nggak pa pa? nggak ngrepotin bapak?"
"Memang aku bisa melakukan pekerjaan apa selarut ini,"
Memang benar, ini sudah sangat larut. Tidak ada orang yang bekerja di jam selarut ini meskipun dia sangat sibuk. Ini sudah jam setengah dua belas, dan Nina juga tidak yakin anak-anaknya masih terjaga sekarang, pasti akan sangat sulit membonceng anak-anak nya yang sudah setengah tidur.
Dengan pertimbangan panjang itu akhirnya Nina setuju.
"Baiklah pak, tapi harus ke rumah sahabat saya dulu ya pak, nggak pa pa kan?"
"Harus berapa kali sih bertanyanya," tampak Dirga mulai kesal membuat Nina merasa bersalah.
"Maaf pak,"
"Beri saya arahan rumahnya,"
"Baik pak,"
Akhirnya setelah memberi arahan, belok kanan kiri, lurus, mentok, serong dan sebagainya. Mereka pun sampai di depan pagar rumah yang lumayan besar meskipun tidak sebesar rumah yang ditinggali Nina saat ini,
"Kamu yakin rumah teman kamu di sini?" Dirga tampak begitu terkejut.
"Iya pak, ini rumah sahabat saya."
"Kenapa aku tidak menyadarinya," gumam Dirga lirih tapi masih bisa di dengar oleh Nina,
"Kenapa pak, bapak kenal sama pemilik rumah ini?" tanya Nina curiga.
"Ahhh itu," Dirga bingung harus menjawab apa, "Ini, siapa yang tidak kenal dengan dosen muda dengan segala prestasinya itu. Ya jelas lah saya kenal, tapi belum tentu mereka kenal." ucapnya kemudian memberi alasan pada Nina.
"Oh iya ya pak, memang suami teman saya itu dosen."
"Ya sudah masuklah, saya akan menunggu di sini."
"Baiklah, sebentar ya pak."
Nina pun segera turun dari mobil dan meninggalkan Dirga sendiri di dalam mobil. Ia tidak sabar ingin bertemu dengan anak-anaknya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...